Find The KEY

Find The KEY
Ep. 227



Senin disore harinya , lima pasang pasutri saling bersahabat yang terjaring dalam group Geng ERASADIS sedang duduk di ruang tunggu dokter kandungan.


Waktu tidak terasa lama menunggu karena mereka asik ngobrol. Para lelaki lagi asik membicaran suku bunga, nilai investasi sampai sepak bola. Sedangkan para wanita lagi asik membicarakan tentang pengalaman mereka ketika hamil, suka dukanya sampai ke acara foto maternity.


"Eh guys seru nih, nanti waktu kita foto maternity bareng yuk?" ajak Ela.


"Boleh.. boleh... " jawab Keysha.


"Iya seru tuh kita foto berlima dengan perut membelendung gini" sambut Catherine.


"Ada ide kita pakai kostum apa? " tanya Ditha.


"Belum ada sih, tapi jangan sampai suami kamu si bambang itu tau ya Tha. Ntar dia suruh kita pakai baju drum band" jawab Sintia.


"Kalau dia kasih ide gitu, aku paksa dia yang jadi mayoretnya pakai rok mini, trus bulu kakinya wajib di waxing biar mulus" potong Ela.


"Hahahaha... jadi lucu ngebayangin Disil" tawa Keysha.


"Ada apa yank, kok aku merasa tadi namaku di sebut - sebut?" tanya Disil penasaran, samar - samar dia mendengar namanya di sebut, untung tidak sampai tiga kali bahaya.


"Nggak ada Mas" jawab Ditha cepat.


"Ih kuping palsu, pendengaran kamu kudu di benerin. Makanya kalau dapat gaji beli korek kuping pakai magnet biar gitu masuk eek kuping kamu langsung nempel" sambung Ela.


"Emang ada korek kuping seperti itu El?" tanya Disil lugu.


"Ada khusus buat kamu, hey bambang sejak kapan eek kuping kamu terbuat dari besi bisa nempel di magnet?" ucap Ela kesal.


"Hahahaha... kena kamu bro, Ela di lawan" celetuk Rafa.


"My Princess is the best" puji Fajar sambil mengacungkan jempolnya ke arah istrinya


"Preeeeet" balas Disil kesal.


"Udah sana ngobrol urusan pria aja, gak usah dengerin omongan emak - emak coming soon" ucap Ela.


"Yeeee siapa juga mau dengerin obrolan kalian yang gak jauh dari gaun, model, sketsa, kain. Pusing aku dengerinnya gak kelar - kelar. Sampai rumah juga masih bahas itu. Apa gak cukup waktu di butik 1x 10 jam dalam sehari" protes Disil.


"Enak aja 1x 10 jam, eh bambang kami ini pemilik Butik. Dengar 'PEMILIK', jadi suka - suka kami donk mau masuk dan pulang jam berapa. Sirik bilang aja" lawan Ela.


"Iya deh susah lawan emak - emak coming soon" balas Disil.


"Udah Dis, ngapain lo lawan Ela, dari dulu juga gak pernah menang. Gak ada kapoknya" ucap Aby mengingatkan.


Mereka kembali ke pembicaraan sebelumnya.


"Guys nanti pelan - pelan kita fikirkan kostum yang akan kita pakai. Masih ada waktu kan?" ucap Ela memulai pembicaraan lagi.


"Masihlah, nanti pas aku dan Ditha hamil tujuh bulan aja, kamu lima bulan, Catherine dan Sintia hamil tiga bulan. Aku rasa masih cukup waktunya. Masih ada waktu sekitar satu atau dua bulan lagi" jawab Keysha.


"Kita buat itu ajang balas dendam pada mereka karena pembicaraan mereka di group kemarin. Enak aja kita dijadikan bahan hayalan tingkat tinggi mereka sampai bocorin jadwal kunjungan" sambung Ela lagi.


"Betul... betul... betul... " sambut Sintia.


"Ih Sintia dari dulu upin ipinnya gak hilang - hilang" protes Ditha.


"Hahaha... iya ya.. persis upin ipin" tawa Keysha pecah.


"Siapa sih upin ipin?" tanya Catherine penasaran.


"Nanti sampai rumah kamu tanya Rafa, bilang kamu ngidam pengen lihat upin ipin" bisik Ela.


"Hahahaha... amit - amit" Keysha, Sinta dan Ditha tertawa sambil mengelus perut mereka karena geli membayangkan kepala upin ipin yang botak.


Tingkah laku mereka yang kompak itu membuat Catherine semakin pesaran dan bertekad ingin menjalankan ide yang barusan dikatakan Ela.


"Oke nanti sampai rumah aku akan minta pada Mas Rafa" jawab Catherine.


Tak lama keluar seorang perawat dari ruang praktek dokter.


"Ibu Keysha Barrakh" panggilnya.


"Panggilan di mulai" sambut Disil.


"Iya Sus, saya" jawab Keysha.


Keysha dan Aby masuk ke dalam ruang rawat praktek dokter. Tiga puluh menit kemudian keluar pasutri pertama.


"Panggilan kedua" ucap Disil.


"Ibu Ditha Aulia" panggil perawat.


"Saya Sus" Ditha berdiri dan berjalan masuk ke ruangan praktek dokter ditemani Disil.


Tiga puluh menit kemudian mereka keluar, sebelum perawat memanggil nama selanjutnya terlebih dahulu Disil memanggil.


"Bersiap - siap panggilan ke tiga" ucap Disil.


"Ibu Ariella Putri Gunadi" panggil Perawat sambil tersenyum karena sudah tiga kali dia memanggil pasti di dahului oleh Disil panggilannya.


"Saya Sus, yuk yank" jawab Ela sambil memanggil suaminya. Fajar langsung menggandeng tangan istrinya mesra.


"Gitu Dis, kalau lihat istri hamil mau bangkit dari tempat duduk kamu harus bantu. Berat tauk bawa anak kamu di dalam perutnya. Ini malah di ejekin bawa drum band" lirik Ela pada Disil.


Yang lain tersenyum mendengar sindiran Ela.


"Iya My honey bunny sweety" jawab Disil kesal.


"Lho istrinya Bapak itu kan Ibu Ditha, kok panggil honey sama Ibu?" tanya Perawat bingung.


"Biasa Sus, penggemar lawas" jawab Ela cuek.


"Ungkit terooooos" balas Disil.


Fajar terkejut mendengar ucapan istrinya dan balasan dari Disil.


Jadi Disil dulunya juga penggemar istriku? Bukan cuma Rafa tapi Disil juga? Waaah bahaya nih, My Princess banyak penggemarnya. Batin Fajar berusaha setenang mungkin.


Sesampainya di ruang praktek dokter.


"Apa kabar Ibu Ariella? Ada keluhan dengan kehamilannya" sapa dokter ramah.


"Seperti biasa dok, selalu lapar" jawab Ela singkat.


"Itu adalah hal lumrah Bu, apalagi bayi yang di dalam ada tiga. Jadi tingkat lapernya kali tiga juga" balas Dokter sambil tersenyum.


"Tapi kalau terus - terusan begitu, badan saya kayak gentong donk Dok" protes Ela.


"Ibu mau seperti gentong sementara selama sembilan bulan saja atau mau anak - anaknya seperti lidi. Ayo pilih mana?" goda Dokter kandungannya.


"Gak apa - apa deh Dok, emaknya aja yang jadi gentong" jawab Ela.


Fajar tersenyum mendengar jawaban istrinya yang rela jadi gentong demi anak - anaknya.


"Ayo Bu naik ke atas tempat tidur, udah kangen kan mau lihat dedek bayinya?" tanya dokter.


"Kangen banget Dok" jawab Fajar yang terlihat lebih antusian.


Dengan cekatan Fajar membantu Ela naik dan berbaring di atas tempat tidur pemeriksaan.


Perawat mengoleskan gel ke atas perut Ela kemudian dokter meletakkan alatnya.


"Alhamdulillah anak - anak Bapak dan Ibu sehat semua. Tuh aktif banget anaknya di dalam. Dari kandungan saja udah pada kompak. Lihat nih tangannya saling bergandengan" tunjukkan dokter.


"Sayang - sayang Papa Mama sampai kalian besar tetap seperti itu ya nak, saling menyayangi dan akur" Bisik Fajar ke perut Ela.


"Aamiin... " jawab Ela bahagia. Tanpa terasa air matanya mengalir.


Sejak hamil dia merasa begitu banyak mukjizat yang Allah berikan padanya. Sama sekali dia tidak menyangka bisa hamil anak kembar tiga. Mamanya saja dulu hanya mengandung anak kembar dua, dia dan kakaknya Aby.


Dan sejak hamil dia mulai mengetahui dengan jelas proses pertumbuhan manusia di dalam kandungan secara nyata dan tak lain ada di dalam perutnya sendiri.


"Kenapa kamu menangis sayang?" tanya Fajar lembut.


"Aku bahagia Mas" jawab Ela.


"Terimakasih ya Allah, terimakasih My Princess" ucap Fajar sambil menatap wajah istrinya penuh dengan kasih sayang.


.


.


BERSAMBUNG