Find The KEY

Find The KEY
Ep. 115



"Papa kok bisa tau?" tanya Fajar.


"Om kok tau???" tanya yang lainnya.


Mati kamu Din... Din... senjata makan tuan. Batin Kevin dan August.


"Haaa... Mm... waktu kita sarapan pagi bersama setelah pernikahan Aby dan Keysha kalian kan cerita kalau Kamu dan Ela terjebak di lift. Setelah kejadian itu Papa mengecek rekaman cctv di lift jadi Papa bisa tau apa yang terjadi saat itu" jawab Omar


Omar menghembuskan nafas lega dan menatap Kevin dan August.


Huff.... hampir saja ketahuan kalau aku yang merencanakan jebakan itu. Bisa di tendang habis - habisan aku sama semua anak muda yang ada di sini karena telah mencelakakan Ela sampai dia menangis seperti itu di lift. Batin Omar.


"Semua sudah jelas sekarang, kalau begitu kami kembali ke kantor ya. Kamu selesaikan urusan kamu dengan Ela. Tapi sabar jangan memaksakan diri seperti yang Aby katakan. Nanti si anak tengil itu menghilang lagi baru kamu tau rasa" ucap Kevin mengalihkan pembicaraan menjadi penyelamat Aladin.


"Iya, Papa pergi dulu. Kamu tenangkan dulu fikiran kamu dan pulihkan tubuh kamu yang lemas karena mabok darat" sambung Omar.


"Om pergi ya" sambut August.


Para petinggi Barrakh Corp pergi meninggalkan ruang kerja Ela. Saat di lift mereka sempat saling ngobrol.


"Hampir saja Din... Din.. Mulutmu kok gak bisa di rem. Rasanya aku ingin suruh Jin menghilang dan bekap bibir kamu yang luar biasa itu" goda Kevin.


"Keceplosan aku Bu, gak sadar ngalir aja tadi" bela Omar.


"Aku sesak nafas Din, kalau sampai ketahuan habis kita di amuk anak muda itu rame - rame" sambut August.


Mereka meninggalkan ADS Butik dan kembali ke kantor Barrakh Corp.


Sementara itu di Dojang tempat biasa Ela, Aby dan Rafa latihan.


Ela masuk ke dalam Dojang dengan tergesa - gesa.


"Tumben kamu datang siang El?" tanya sang pelatih.


"Iya Sabouem. Lagi butuh sansak nih. Tanding yuk saboeum?" ajak Ela.


Sang pelatih yang sudah kenal lama dengan Ela mengetahui sifat Ela sejak dulu. Pasti saat ini mood Ela lagi gak bagus, dia kelihatan sangat emosi. Nah kalau sudah begini pertandingan akan lebih asik. Ela akan menjadi lawan yang kuat dan seimbang. Fikirnya.


"Ayok, sudah lama juga aku gak tanding sama kamu. Sana ganti baju kamu dan lakukan pemanasan terlebih dahulu" perintah pelatih.


"Oke Saboeum" jawab Ela.


Ela membawa baju taekwondonya ke ruangan ganti pakaian. Kemudian dia segera melakukan pemanasan beberapa menit.


Setelah merasa cukup panas dia segera menghadap sang pelatih.


"Sudah siap pemanasannya?" tanya sang pelatih.


"Sudah. Mari kita bertanding" ajak Ela


Mereka mengambil posisinya untuk bertanding. Ela dan sang pelatih mengambil kuda - kuda.


Ela melakukan serangan dan tangkisan begitu juga dengan sang pelatih. Pertarungan terlihat sangat panas dan seimbang. Banyak para anak didik yang menyaksikan pertandingan itu.


Mereka memberikan sorak - sorak dan teriakan penyemangat untuk Ela dan Pelatih mereka.


Pertarungan berlangsung sengit keduanya tidak ada yang mau mengalah. Terlihat keringat sudah membasahi pakaian mereka.


Lebih setengah jam mereka bertanding dan akhirnya Sang Pelatih memberikan tendangan yang tepat ke arah tubuh Ela sehingga membuat Ela jatuh tersungkur.


Pertandingan berakhir dengan kekalahan Ela. Sang pelatih mengulurkan tangannya dan menarik Ela untuk bangkit. Kemudian mereka memberikan salam hormat tanda pertandingan telah usai.


"Sepertinya kamu sangat kesal terlihat dari kerasnya serangan kamu tadi. Apa ada masalah?" tanya Sang Pelatih penasaran.


"Aku lagi kesal sama cowok Saboeum" jawab Ela.


"Aby atau Rafa?" tanya Pelatih penasaran.


"Tidak keduanya" jawab Ela singkat.


"Lantas?" lanjut Pelatih memancing cerita Ela, karena kalau tidak dikeluarkan Ela pasti akan kesal seharian.


"Sabouem ingat gak waktu dulu saat kami SMU Saboeum mengundang Dojang teman Saboeum untuk pertandingan taekwondo dengan murid Dojang sini?" tanya Ela.


"Oh iya.. aku ingat. Apa hubungannya dengan kekesalan kamu?" desak sang pelatih.


"Dia berasal dari Dojang itu dan waktu itu aku yang tanding melawan dia dan aku menang. Setelah itu kami bertemu lagi tujuh tahun kemudian dalam sebuah pertandingan persahabatan antara tim dia dan tim Kak Aby. Lagi - lagi aku bertanding dengan dia dan aku menang" ungkap Ela.


"Kalau kamu yang menang terus, apa yang membuat kamu kesal? harusnya kamu senang donk bisa mengalahkannya?" ucap sang pelatih.


"Dia punya alergi kalau dekat wanita pasti muntah. Menurut dia hanya ada satu wanita yang bisa berdekatan dan menyentuhnya dan pada akhirnya wanita itu yang akan menyembuhkannya. Nah menurut dia wanita itu adalah aku" ungkap Ela.


"Itu artinya kamu adalah jodohnya" tembak Pelatih Ela langsung.


"Aaah Saboeum jangan bicara seperti itu donk. Masalahnya aku benci sama cowok itu. Aku gak suka, dia itu arogan dan ngeselin lah pokoknya. Suka mancing - mancing aku supaya berantem setiap bertemu dengannya. Masaaak tadi dia melamar aku di hadapan teman - temanku dan juga dihadapan Papa dan Omnya" sambung Ela.


"Waaah lelaki yang pemberani donk. Dia tidak malu mengungkapkan isi hatinya di hadapan orang banyak" goda Pelatih sambil tersenyum. Dia lucu melihat wajah kesal Ela. Ela adalah murid kesayangannya. Dari dulu Ela mempunya prestasi yang unggul melebihi para murid laki - laki di Dojangnya. Disamping itu Ela juga anak yang ceria dan suka bercerita sehingga dia merasa dekat dengan Ela. Bahkan dulu sering curhat seperti sekarang ini.


"Dia memang pria gak tau malu Sabouem. Kesal banget lihatnya. Pengen aku tendang aja tadi tuh cowok. Tapi sayangnya di sana ada Papa, Om dan saudaranya. Dan juga ada Kak Aby dan teman - temanku yang lain. Gak mungkin aku asal main tendang sama dia" jawab Ela.


"Kalau begitu kamu tantang saja dia bertanding dengan kamu secara resmi. Kamu bisa melampiaskan kekesalan kamu padanya. Beres kan?" Sang Pelatih memberi ide.


"Waaaah bener.. bener.. Saboeum emang TOP deh. Pinter banget kasih ide" sambut Ela antusias.


"Tapi kalau nanti dia yang menang kamu harus berlaku adil El, kamu pertimbangkan lamaran dia pada kamu. Menurut Saboeum dia pria yang bertanggung jawab, gentlemen dan pemberani. Di hadapan orang banyak dia berani melamar kamu. Itu artinya dia serius dan memang sungguh - sungguh dengan kamu" nasehat pelatih.


"Gitu ya Saboeum?" tanya Ela polos.


"Hey... kamu itu sudah besar, sudah jadi wanita cantik. Belajarlah menyelesaikan masalah secara lemah lembut jangan seperti ini. Menyelesaikan masalah ala laki - laki. Saboeum harap ini kali terakhir kamu menyelesaikan masalah kamu secara jantan setelah itu harus secara betina ya" ucap Pelatih lemah lembut sambil mengelus kepala Ela yang tertutup jilbab. Dia sudah menganggap Ela sebagai anaknya sendiri.


"Kayak binatang aja ada jantan dan betinanya" ledek Ela.


"Maksud Saboeum, selesaikan masalah kamu secara lemah lembut jangan pakai kekerasan, pukulan dan tendangan. Sudah saatnya mungkin kamu berubah, jadilah wanita seutuhnya. Mungkin memang dia jodoh yang di kirim Tuhan untuk kamu. Dia masa depan kamu kelak" nasehat pelatih


Ela terdiam mendengar perkataan pelatihnya. Dia tidak menyangka menemukan jawaban dan ketenangan di sini. Tadi awalnya dia datang ke sini hanya untuk melepaskan kekesalannya pada Fajar cowok pendendam itu.


Entah mengapa kata - kata sederhana dari pelatihnya mampu masuk ke relung hatinya yang paling dalam.


"Pelan - pelan coba kamu renungkan apa yang saboeum katakan tadi. Sudah saatnya kamu dewasa dalam menyikapi suatu hal jagan bawa emosi. Sesuatu yang di selesaikan dengan emosi itu pasti akan berakhir dengan tidak baik" sambung pelatih.


"Baik Saboeum. Kalau begitu aku mau pulang saja. Mau mandi dan istirahat dan mencari ketenangan" jawab Ela.


Ela pamit dari Dojang dan pulang ke rumahnya.


.


.


BERSAMBUNG