Find The KEY

Find The KEY
Ep. 66



Geng ERASADIS masih asik makan bakso langganan mereka.


"Guys.. malam ini tidur di rumah kami yuks. Besok kan weekend" ajak Ela.


"Boleh.. boleh.. aku masih kangen kamu" ucap Sintia.


"Iya aku mau" sambut Ditha.


"Aku sih iyeeees" ujar Disil.


"Kalau aku mah tinggal kepleset udah nyampe" jawab Rafa.


"Oke fix. Tapi jangan ada yang gangguin aku nanti malam ya" Aby memberi peringatan.


"Cieeee.. yang mau mesra-mesraan" goda Ela.


"Huuusss... aku tuh mau bicarain tentang rencana pernikahan aku dan Keysha" jawab Aby.


"Iya deeh yang mau nikah" sindir Ela.


"Udahan yuk, udah hampir malam. Kita pulang dulu ambil baju baru go ke rumah Aby dan Ela" ajak Disil.


Akhirnya mereka bubar. Disil mengantar Sintia dan Ditha ke rumah mereka untuk mengambil baju kemudian ke rumahnya setelah itu baru lanjut ke rumah Aby dan Ela. Sudah lama mereka tidak kumpul lengkap seperti hari ini.


Mereka sampai di rumah Ela dan Aby sekitar jam delapan malam. Aditya dan Alexa sudah mempersiapkan makan malam untuk menyambut kedatangan Ela dan teman-teman.


Mereka makan malam bersama setelah itu naik ke lantai dua ruang favourite mereka.


"Raf main gitar donk, biar nyanyi kayak dulu. Udah kangen nih" pinta Ela.


"Oke. Mana gitarnya By?" tanya Rafa.


"Di kamar, ambil sendiri gih" perintah Aby.


Rafa masuk ke kamar Aby mengambil gitar.


"El kapan main ke butik?" tanya Ditha.


"Mulai besok aku akan ke sana, kan kita mau rancang gaun nikah kamu sayaang" jawab Ela.


"Buatin princess aku gaun yang cantik ya El" pinta Disil.


"Yoi bro... tenang saja, nanti aku buat Ditha jadi ratu sungguhan deh khusus buat kamu. Asal kamu bersedia siapkan dananya dua kali lipat" goda Ela.


"Aaah parah lo, untuk sahabat sendiri minta biaya" lawan Disil.


"Yeaaaah zaman sekarang gak ada yang gratis. Yang penting fuluuuus" Ela memajukan bibirnya.


"Bibirmu deeek" Aby mengusap wajah Ela.


"iiiiih kena jigong tangan kakak" ucap Aby pura-pura jijik.


"Salah sendiri kenapa sentuh-sentuh bibir sexsehku ini" jawab Ela.


"Dek, sepertinya kerjaan kamu nambah ni. Gaun untuk Keysha juga tolong buatin ya. Kamu bisa gak? Kan jaraknya seminggu dari pernikahan Ditha dan Disil" pinta Aby.


"Bisa-bisa... kan ada Sintia yang bantuin aku. Di Butik juga ada tim jahit yang bisa bantuin" jawab Ela.


"Iya By nanti aku bantuin" sambung Sintia.


"Aku juga kan bisa bantuin By. Nanti kita kerjanya rame-rame deh" ucap Ditha.


"Besok kakak ajak Keysha main ke Butik ya biar kita rancang modelnya dan ukur badannya. Buat kakak iparku aku kasi diskon deh.. Kakak kan wuorang kayaaah" goda Ela.


"Tenang... aku akan beri kamu tiga kali lipat" balas Aby.


"Ciyuuuuuus... Cumpaaaah??" Ela mengedipkan matanya


"Biasa aja lo dek, gak usah main mata gitu" ucap Aby.


Tak lama Rafa keluar dari kamar Aby dengan membawa gitar di tangannya.


Mereka duduk di sofa dan ada yang duduk lesehan di lantai. Rafa mulai mengambil nada gitarnya.


genjreng... genjreeeeng...


"Mau nyanyi apa?" tanya Rafa.


"Pura-Pura Lupa Raf, lagunya Petrus Mahendra. Aku suka dengar lagu ini di London" pinta Ela.


"Oke.. sebentar ya. Aku yang main kamu yang nyanyi" ucap Rafa.


Rafa mulai memetik gitarnya.


Pernah aku jatuh hati


Padamu sepenuh hati


Hidup pun akan kuberi


Apa pun 'kan kulakui


Tapi tak pernah ku bermimpi


Kau tinggalkan aku pergi


Tanpa tau rasa ini


Ingin rasa ku membenci


Tiba-tiba kamu datang


Saat kau telah dengan dia


S'makin hancur hatiku


Jangan datang lagi cinta


Bagaimana aku bisa lupa?


Padahal kau tau keadaannya


Kau bukanlah untukku


Jangan lagi rindu cinta


Ku tak mau ada yang terluka


Bahagiakan dia, aku tak apa


Biar aku yang pura-pura lupa


Hmm, hmm (oh)


Tiba-tiba kamu datang


Saat kau telah dengan dia


S'makin hancur hatiku


Jangan datang lagi cinta


Bagaimana aku bisa lupa?


Padahal kau tau keadaannya


Kau bukanlah untukku


Jangan lagi rindu cinta (rindu cinta)


Ku tak mau ada yang terluka


Bahagiakan dia, aku tak apa


Biar aku yang pura-pura lupa


Jangan datang lagi cinta


Bagaimana aku bisa lupa?


Padahal kau tau keadaannya


Kau bukanlah untukku (oh-oh-oh)


Jangan lagi rindu cinta (oh)


Ku tak mau ada yang terluka


Bahagiakan dia (bahagiakan dia), aku tak apa


Biar aku yang pura-pura lupa, ooh


Bahagiakan dia, aku tak apa


Biar aku yang pura-pura lupa


Ela bernyanyi dengan serius dengan suara merdunya.


Membuat Ditha dan Sintia saling memandang, juga Aby dan Disil yang juga saling lirik. Mengapa Ela minta nyanyiin lagu ini? Nyanyinya bareng Rafa lagi.


Apakah perasaan Ela selama lebih enam tahun ini masih ada kepada Rafa? Apa saatnya mereka bersatu sekarang? Apalagi mereka tau saat ini Rafa sudah sendiri walau Ela belum memgetahui status baru kandasnya kisah asmara Rafa.


Tak ada yang berani komentar, mereka hanya menikmati permainan gitar Rafa dan suara merdu Ela yang sedang bernyanyi.


Mereka bernyanyi mengulang nostalgia dan kebersamaan mereka beberapa tahun yang lalu. Lagu-lagu kenangan diputar kembali.


Aby and the geng bernyanyi bergantian, ada lagu kocak, lagu sedih dan lagu bahagia. Malam ini mereka sangat bahagia. Berkumpul bersama dalam keadaan lengkap.


Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Ditha dan Sintia sudah masuk ke kamar Ela karena mereka sudah mengantuk. Begitu juga dengan Aby dan Rafa yang baru masuk ke kamar Aby untuk tidur.


Ela yang masih mengalami jetlag belum bisa menutup matanya masih bermain gitar di temani Disil. Kini hanya mereka berdua yang tersisa di ruangan itu.


"El aku mau menanyakan sesuatu, boleh?" tanya Disil.


"Boleh. Tumben kamu sopan banget pakai minta izin dulu. Biasanya langsung main hajar aja" jawab Ela.


"Aku mau bertanya sedikit tentang sesuatu yang bersifat pribadi" ucap Disil serius.


Ela menghentikan permainan gitarnya.


"Kamu mau tanya apa?" tanya Ela penasaran.


"Aku teringat malam terakhir kita perpisahan di sini sebelum kamu pergi ke London. Malam itu kamu menolak cintaku dan kamu bilang kalau kamu sudah menyukai pria lain. Kamu ingat?" tanya Disil.


"Aku ingat. Kamu lelaki yang pertama kali menyatakan cinta padaku" jawab Ela.


"Iya tapi kamu tolak" sindir Disil.


"Jadi marah ni sekarang? udah mau nikah juga" balas Ela.


"Nggak kok aku gak marah. Perasaan aku ke kamu perlahan hilang El dan pelan-pelan Ditha sudah mengisi hatiku. Saat aku merasa ada saingan baru aku sadar aku takut kehilangannya" jawab Disil jujur.


"Waaah... co cweeet" balas Ela.


"Lanjut ya... boleh aku tebak siapa pria yang kamu suka?" tanya Disil hati-hati. Takut Ela tersinggung.


"Siapa coba? Emangnya kamu tau?" tanya Ela penasaran.


"Tau. Maaf ya El saat kamu tidak ada aku pernah masuk ke kamar kamu mencari album foto kenangan kita. Aby menyuruhku mencari di rak meja belajar kamu. Saat aku ingin mengambilnya tanpa sengaja aku menjatuhkan diary kamu dan aku membacanya. Saat itu aku tau semua, ternyata laki-laki yang kamu sukai itu Rafa" ungkap Disil.


Ela terdiam mendengar pengakuan Disil.


"Sudah lebih enam tahun kamu lari darinya. Mencoba menghilang dari kami semua hanya untuk mengelak dari perasaan kamu pada Rafa. Kenapa kamu gak cerita ke aku sih El? Aku tau gimana sakitnya cinta bertepuk sebelah tangan karena aku juga pernah merasakannya. Tapi kamu pasti merasa lebih sakit karena melihat orang yang kamu cinta jalan bersama wanita lain. Aku sahabat kamu El kenapa kamu pendam sendiri?" tanya Disil.


"Maaf Dis, saat itu tidak mungkin aku bilang sama kamu. Karena aku baru menolak perasaan kamu. Lagian kalau aku cerita kamu bisa bantu apa? Toh Rafa juga sudah pacaran sama Lisa" jawab Ela.


"Iya juga sih tapi setidaknya kan kalau kamu cerita perasaan kamu bisa sedikit lega, gak sakit karena memendamnya?" ucap Disil.


"Sudahlah Dis, semua sudah berlalu" balas Ela.


"Sekarang bagaimana perasaan kamu padanya?" tanya Disil.


Rafa hendak mengambil hp nya yang tertinggal di luar, saat dia ingin membuka pintu kamar tanpa sengaja dia mendengat pembicaraan Disil dan Ela.


"Apa tidak salah apa yang baru saja aku dengar?" ucap Rafa pelan.


.


.


BERSAMBUNG


Semangat pagi readers..... Semoga hari ini cerah ya untuk kita semua.


Ngopi yuk.. cangkir mana cangkir?