
Ela selesai bersih - bersih dan ganti baju tidur di kamarnya kemudian dia berbaring di atas tempat tidurnya.
Dia masih kesal karena larangan Mamanya tadi untuk bertemu dengan Fajar sampai hari pernikahan mereka.
Ela gak mau merasakan merindu lagi karena kemarin waktu seminggu mereka tidak ketemu saat Fajar ke London rindunya minta ampun.
Dia menjadi galau dan kesepian. Benar kata Om Dilan rindu itu berat. Biar dia saja yang nanggung.
Mmm... harus cari jalan nih gimana caranya bisa ketemu Fajar diam - diam. Batin Ela.
Ela meraih hpnya dan mencoba menghubungi calon imamnya.
"Assalamu'alaikum My Princess. Kamu sudah sampai? kok lama banget baru ngabari aku?" tanya Fajar gak sabar.
"Wa'alaikumsalam. Panjang banget nanyanya. Satu - satu donk" jawab Ela.
"Kamu sudah di rumah?" tanya Fajar.
"Sudah" jawab Ela.
"Kok lama banget, aku gak percaya. Video call yuk" ajak Fajar.
"Gak mau ah, aku gak pakai jilbab" balas Ela.
"Wah makin seru donk, kamu lagi pakai baju tidur sexy ya?" goda Fajar.
"Nggak... gak mau ah. udah telepon aja atau tidak sama sekali" ancam Ela.
"Duh calon istri aku ngambek. Iya deh, apapun untuk kamu. Kenapa lama ngabarin aku My Princess. Aku nungguin lho dari tadi sampai gak bisa tidur" ucap Fajar.
"Ih receh. Gak mempan rayuannya. Tadi waktu aku sampai semua pada ngumpul di rumah jadi aku ngobrol dulu sama mereka" jawab Ela.
"Emang siapa aja yang yang ngumpul?" tanya Fajar penasaran.
"Papa, Mama, Kak Aby, Kak Keysha, Keket dan Rafa" jawab Ela.
"Oooh kirain semua teman - teman kamu juga ikut kumpul" balas Fajar.
"Fa.. " panggil Ela.
"Faaaaa" ucapnya lagi.
"iiih Faaaa.. kamu udah tidur ya" teriak Ela.
"Belum, tapi aku malas jawab kalau kamu lupa panggilan untuk aku" ucap Fajar ngambek.
"Eh iya lupa. Mas" ujar Ela.
"Coba ulang?" pinta Fajar.
"Maaaas... " panggil Ela.
"Nah gitu donk, mulai sering-sering di praktekkan biar terbiasa. Ada apa My Honey?" goda Fajar.
Andai Fajar bisa melihat wajah Ela, pasti dia akan melihat wajah Ela merah merona karena panggilan lembut Fajar barusan.
"Kamu ada gak dibilangin Mama soal pingitan?" tanya Ela.
"Pingitan, apaan tuh? Apakah sejenis makanan ringan?" tanya Fajar penasaran.
"Bukan, kata dasarnya pingit. Jadi itu artinya kita tidak boleh bertemu dulu sampai hari pernikahan kita" jelas Ela.
"Maksud kamu kita gak bisa ketemu gitu sampai hari pernikahan kita?" tanya Fajar untuk memperjelas.
"Iya" jawab Ela cepat.
"Mama gak ada tuh bilang sama aku. Dan aku tidak akan setuju. Masak ada acara gituan? Yang lain juga sepertinya gak ada seperti itu. Keysha dan Ryza, mereka boleh - boleh aja ketemuan. Gak ada larangan. Masak kita dilarang?" protes Fajar.
"Aku juga udah bilang gitu sama Mama tapi Mama tetap kekeh melarang kita. Katanya untuk mencegah terjadi hal seperti tadi siang karena kata Mama kalau mau nikah cobaannya banyak" jelas Ela.
"Kalau kita ketemu sembunyi - sembunyi gimana?" tanya Fajar.
"Ada CCTV hidup di sekeliling kita" jawab Ela.
"Kalau aku ada si Keket. Kamu ada Kak Key dan Ryza" jawab Ela.
"Waah gawat ini. Cepat kamu pakai jilbab sekarang. Aku mau pandangin wajah kamu sebelum di larang" pinta Fajar.
"Aku lagi mager, ni udah pewe tiduran. Lagian tadi Mama cuma bilang gak boleh ketemuan aja kok. Gak ada larangan video call dan teleponan" jawab Ela.
"Haaah.. syukurlah. Nanti kita fikirkan gimana caranya biar kita bisa ketemuan ya. Okey?" ucap Fajar.
"Okey. Ya udah aku tutup ya teleponnya. Aku udah ngantuk. Kamu juga pasti capekkan karena kejadian tadi siang?" tanya Ela.
"Iya, ya udah kita tidur ya. Met tidur My Princess.. mimpi indah ya, mimpiin aku" ucap Fajar di akhir telepon.
"Sama - sama My Prince" balas Ela.
"Apa tadi? ulang - ulang" pinta Fajar.
"Tidak ada siaran ulangan.. dadaaaaa.. Bye, good night. Assalamu'alaikum" ucap Ela kemudian dia mematikan hpnya.
"Awas kamu ya Princess, nanti aku culik kamu baru tau rasa. Haaaa.. beberapa hari ini gak ketemu kamu pasti sepi banget. Baru ketemu tadi aja aku udah rindu" Ucap Fajar pelan.
Fajar menarik gulingnya dan menutup matanya, tak lama dia pun terlelap dalam mimpi indah.
Sementara di teras depan rumah orangtua Ela.
"Kamu mau pulang Raf?" tanya Catherine.
"Iya" jawab Rafa.
"Ooh.. ya udah hati - hati ya" ucap Catherine.
"Eh Ket, maaf ya yang tadi. Bukannya aku mau mempermalukan kamu di depan yang lain tapi aku memang... mmm" ucap Rafa ragu - ragu.
"belum bisa move on dari Ela?" tebak Catherine.
"Kok kamu tau?" tanya Rafa.
"Semua juga tau Raf, lupa ya si Lisa bilang apa waktu di acara nikahannya Sintia?" jawab Catherine mengingatkan.
"Hehehe iya ya.." balas Rafa merasa canggung.
"Santai aja Raf, aku ngerti kok. Jalani aja, kalau emang jodoh gak kemana. Kalau nggak juga kita masih bebas mencari yang lainnya. Aku gak masalah kok, jangan merasa terbebani. Mereka hanya ingin mendapatkan pahala dari menjodohkan kita. Biarkan saja usaha mereka. Allah Maha Tau mana yang terbaik buat kita" ungkap Catherine.
"Aku kok jadi malu sama kamu Ket, padahal kamu baru berapa lama jadi muallaf tapi kamu sepertinya lebih santai menanggapinya dan yakin banget akan kehendak Allah" puji Rafa.
"Aku masih harus banyak belajar Raf. Kapan - kapan ajari aku ya" pinta Catherine.
"InsyaAllah akan aku bantu sebisa mungkin. Bagaimana pun kamu kan sahabat dari sahabat aku. Pasti akan aku bantu" ujar Rafa meyakinkan.
"Terimakasih Raf" balas Catherine.
"Oh iya Ket, kemarin aku buka - buka buku lama di lemari nemu buku yang bagus untuk kamu. Nanti kalau aku ke sini aku bawa deh biar kamu baca. Mudah - mudahan bisa nambah ilmu kamu dan semoga aku mendapat pahala dengan mempermudah dan memperlancar kamu belajar agama" ucap Rafa.
"Aamiin. Makasih Rafa, aku tunggu ya bukunya" jawab Catherine.
"Ya sudah aku pulang ya, dah malam. Assalamu'alaikum" Rafa pamit.
"Wa'alaikumsalam Raf, hati - hati ya" balas Catherine.
Rafa berjalan ke arah rumahnya. Catherine memandangi Rafa hingga jauh sampai bayangannya hilang dari pandangan Catherine.
Seandainya kamu bersedia jadi imam aku pasti kamu lebih banyak dapat pahalanya Raf. Entah mengapa hatiku selalu mencari keberadaan kamu tapi aku sadar perasaan kamu masih kuat pada Ela dan aku tau tidak semudah itu kamu melupakan Ela. Setelah aku tau ternyata sudah sangat lama kamu mengabaikan Lisa. Itu artinya kamu juga sudah sejak dulu menyukai Ela hanya saja kamu tidak menyadarinya.
Semoga Allah mendengarkan doaku. Aku butuh kamu untuk penguatku dan memimpin aku ke jalanNYA. Batin Catherine lirih.
Catherine menutup pintu dan segera masuk ke dalam kamarnya.
.
.
BERSAMBUNG