
"Aku kok tidak pernah melihat Ryza di kantor Barrakh Corp?" tanya Aby.
"Tugasku nomaden By, sesuai dimana aku dibutuhkan. Biasanya waktuku lebih lama di London membantu Fajar mengurus perusahaan disana" jawab Ryza.
"Fajar putranya Pak Omar Barrakh ya?" tanyq Aby.
"Iya, dia sepupuku" balas Ryza.
"Jadi Fajar itu di London? Sama donk, adik kembarku dia juga tinggal disana" ungkap Aby.
"Kamu sering ke sana?" tanya Ryza.
"Tidak terlalu. Dulu waktu masih kuliah sering, setiap liburan aku pasti kesana menemaninya kembaranku tapi semenjak aku menjalankan perusahaan baru sekali aku mengjenguknya disana" jawab Aby.
"Kalau kamu sedang disana jangan lupa hubungi aku, siapa tau aku juga sedang disana jadi kita bisa janjian ketemuan. Aku akan ajak kamu main disana" ucap Ryza.
"Wah seru sepertinya" balas Aby sambil tersenyum.
"Lain kali asik juga kalau kita janji ketemuan bareng rame-rame By. Sepertinya seru ngobrol dengan kalian. Maklumlah kamu dulu kuliah di London jadi tidak banyak memiliki teman di sini. Aku dan Keysha sangat senang bisa berkenalan dengan kalian semua" ungkap Ryza.
"Boleh, lain kali kita atur waktunya ya" balas Aby.
"Sudah hampir larut malam By, kita harus segera memulangkan para cinderella ini sebelum jam dua belas teng. Nanti mereka di culik sama penyihir jahat" ucap Disil bercanda.
Sontak yang mendengarnya tertawa.
"Sebenarnya kamu bukan takut sama penyihir jahat Dis tapi takut kena marah Om Sandy karena kelamaan mulangin anaknya" jawab Sintia.
"Tau aja dek Sintia" balas Disil ceria.
Ditha mencubit pinggang Disil
"Aduh sakit lho dek Ditha jangan cubit-cubit babang" ucap Disil.
"Jangan teriak-teriak bambaaang, malu dilihat yang lain" oceh Ditha.
"Babang bukan bambang" Disil mengkoreksi ucapan Ditha.
Yang lain tertawa melihat tingkah mereka.
"Maaf Ryza, Key beginilah kalau jalan barang Disil selalu jadi biang kerok keributan dimana pun berada. Maklumin aja yah, dia emang suka bercanda" ucap Aby.
"Gak apa-apa By kami suka kok, Disil lucu hahaha" Jawab Keysha.
Akhirnya mereka pamitan dan undur diri dalam pesta tersebut. Seperti biasa para lelaki akan mengantarkan pasangan pesta mereka lebih dahulu baru kemudian mereka pulang kerumah masing-masing.
********
Esok harinya di ADS Corp.
Rafa masuk keruang kerja Disil dengan wajah yang tidak bisa di tebak Disil.
"Sepertinya kamu lagi ada masalah Raf?" tanya Disil.
"Gini Dis, aku mau curhat sama kamu tentang wanita. Kamu kan lebih dekat dan tau banyak tentang wanita. Aku mau tukar fikiran dengan kamu" ucap Rafa serius.
Disil yang melihat wajah Rafa seperti itu jadi tidak tega untuk menggodanya.
"Mau tukar fikiran apa Raf?" tanya Disil.
Kini mereka sudah duduk di sofa yang ada diruangan Disil.
"Lho ada apa dengan hubungan kalian, bukannya selama ini baik-baik saja?" tanya Disil penasaran.
"Itu hanya kelihatan dari luarnya saja Dis, dalamnya aku merasa tidak baik. Sudah lama aku merasa hubungan kami ini hambar. Dulu aku merasa karena kesibukan kami yang sama-sama kuliah jadi aku tidak terlalu mempersoalkannya tapi saat ini kami sama-sama bekerja. Orangtuaku sering mendesak aku untuk segera menikah tapi aku belum yakin menjalani hubungan serius dengan Lisa.
"Kamu masih mencintainya kan Raf?" tanya Disil.
"Aku gak tau Dis. Hubungan kami terasa hanya sebuah kebiasaan dan keharusan saja. Seperti orang pacaran lainnya, makan bareng, pergi bareng dan datang bareng di acara-acara seperti tadi malam. Sepertinya tidak lebih" jawab Rafa.
Disil sangat terkejut mendengar jawaban Rafa.
"Kalian sudah pacaran enam tahun lho Raf. Itulah kalau pacarannya kelamaan rasanya udah gak greget lagi kan?" tebak Disil.
Rafa hanya menaikkan bahunya.
"Sudah berapa lama kamu merasakan hal ini?" tanya Disil.
"Aku tidak tau pastinya Dis tapi yang jelas sudah lama" Jawab Rafa.
"Wah bahaya ini Raf. Coba kamu tanya hati kamu, apakah kamu masih mencintai Lisa apa tidak. Kalau jawabannya rasa itu sudah tidak ada aku sarankan akhiri saja hubungan ini. Jangan kamu lanjutkan kehubungan yang lebih serius Raf apalagi sampai ke jenjang pernikahan. Bisa bahaya" nasehat Disil.
Rafa terdiam dan mendengarkan baik-baik nasehat sahabatnya itu.
"Kamu juga coba perhatikan sikap Lisa pada kamu, apakah dia juga masih mencintai kamu?" tanya Disil.
"Dia juga sering uring-uringan Dis saat aku ajak pergi bersama seperti tadi malam. Alasannya selalu saja sedang tidak enak badan dan ingin cepat-cepat pulang" jawab Rafa.
"Coba kamu bicarakan baik-baik sama Lisa kemana arahnya hubungan ini mau dibawa. Ingat usia kita sudah menginjak dua puluh empat tahun. Secara usia kamu sudah pantas menikah, ekonomi juga sudah mapan, pasangan sudah ada. Jadi pastikan dia mau atau tidak melangkah ke depan. Jangan kaliam biarkan hubungan kalian ini berjalan hanya karena kebiasaan dan keharusan. Pastikan rasa yang ada di hati kalian. Dan putuskan jalan terus atau cukup hanya disini" nasehat Disil.
"Baiklah Dis aku akan mengikuti nasehat kamu. Maaf kalau aku curhatnya sama kamu karena menurutku kamu lebih berpengalaman soal wanita. Aku kan dari SMU dekatnya sama wanita ya hanya Lisa kalau kamu kan banyak selir-selir seliweran di keliling kamu. Hanya tinggal menunggu ratunya saja datang" ucap Rafa.
"Ratunya udah datang kok" ucap Disil.
Ups.. aku keceplosan, padahal sudah janji sama Ditha jangan bocor dulu.
"Ow yah, siapa? Kok aku tidak tahu ya. Padahal kemana-kemana kamu ajaknya si Ditha melulu. Kasihan dia gak punya kesempatan dekat sama cowok. Kalau kamu sudah ketemu Ratu kamu kenalin tuh si Ditha sama pria baik-baik. Biar dia menemukan pangeran hatinya" ucap Rafa.
Enak saja ngenalin Ditha sama pria lain. Aku nih pangeran hatinya. Batin Disil.
"Nanti juga kamu akan tau, belum saatnya go public. Tunggu saja pengumuman dari aku. Siap-siap saja kalian akan aku langkahi duluan. Kamu sama Aby hahaha" ucap Disil senang.
"Jangan lupa pelangkahannya. Aku mau minta barang mahal ah sama kamu" goda Rafa.
"Matre kamu. Aku tinggal tanya Ela nih, kalau kira-kira aku nikah dia mau pulang gak ya. Kalau dia tetap gak mau pulang aku akan ancam dia. Aku tidak akan nikah sebelum dia pulang. Biar tau rasa tuh anak betah amat lama-lama disana" ucap Disil kesal.
"Iya, kangen banget sama tuh anak. Sejak dia pergi rasanya sepi ya Dis. Kalau gak kan suaranya udah menggema dimana-mana" sambut Rafa.
"Nanti aku ke butik ah... aku mau video call sama dia dan Ditha" ucap Disil.
"Aku ikut ya Dis, aku juga kangen sama anak satu itu" sambung Rafa.
.
.
BERSAMBUNG
Aku kasi Bonus Up sebelum tidur ya...
Yang kangen Ela persiapkan diri Anda 😀