
Pagi-pagi sekali Ela dan Sintia sudah datang bersama Aby dan Ela mengantarkan satu koper yang berisikan pakaian Ditha dan Disil.
Ting..tong...
Bunyi bel kamar Disil dan Ditha.
"Siapa Mas?" tanya Ditha saat melihat Disil mengintip dari layar monitor pintu kamar hotel.
"Siapa lagi kalau bukan biang kerok" ucap Disil.
"Kamu di kamar aja biar aku buka pintu dulu" ucap Disil yanh berjalan ke arah pintu kamar mereka.
Ini adalah kamar suite room yang disediakan pihak hotel khusus untuk pasangan suami istri yang ingin honeymoon setelah pernikahan mereka.
Kamar ini dilengkapi dengan fasilitas yang lengkap seperti ruang tamu, dapur dan kamar yang sangat besar.
Disil segera membuka pintu kamar dan masuklah empat sahabatnya yang telah sukses mengerjai mereka tadi malam.
"Nih kami bawain koper kalian" ucap Rafa sambil menyerahkam koper yang mereka bawa kepada Disil.
"Ditha mana?" tanya Ela sambil celingak celinguk ingin mengintip ke dalam kamar.
"Eits... jangan masuk, dia gak pakai baju gara-gara kalian. Kalau sampai dia masuk angin karena ulah kalian awas ya" ancam Disil.
"Yeee... Ditha masuk angin juga karena ulah kamu semalaman habis kami bantai" oceh Ela.
Aby dan Rafa senyum-senyum melihat tingkah Disil yang malu.
"Kalian duduk saja dulu aku mau kasi koper ini ke Ditha" ucap Disil sambil membara koper yang diberikan Rafa tadi.
"Btw sarung kamu bagus ya Dis" goda Aby.
Disil mengacungkan cari tengahnya ke arah teman-temannya membuat teman-temannya tertawa puas.
"Hahahahaha....." tawa mereka bahagia.
Tak lama Disil dan Ditha sudah keluar dari kamarnya dengan pakaian lengkap.
"Mana barang-barangnya Tuan Putri dan Raja dua hari?" tanya Rafa.
"Nih..." Disil memberikan koper mereka kepada Rafa.
Hari ini sesuai janji mereka, mereka akan membantu Ditha dan Disil pindah ke apartemen mereka.
Pagi-pagi mereka sudah berkumpul untuk mengambil koper mereka di rumah orangtua Ditha kemudian menjemput pasutri yang baru menikah kemarin baru mengantar mereka ke apartemen mereka.
Mereka mengendarai dua mobil Disil dan Ditha naik di mobil Disil yang tadi di bawa Rafa. Sedangkan Aby, Rafa, Ela dan Sintia naik di mobil Aby.
Tak sampai satu jam perjalanan mereka sudah sampai di apartemen milik Disil dan Ditha. Mereka turun dengan membawa barang-barang Ditha yang tadi mereka jemput dirumah orangtua Ditha.
Geng ERASADIS membantu Ditha dan Disil merapikan apartemen mereka. Para lelaki mengangkat barang-barang berat sedangkan yang wanita lagi nyusun pakaian di kamar Ditha dan Disil.
"Tha enak menikah?" tanya Sinta penasaran.
"Nggak. Nyesal aku" jawab Ditha.
Membuat Ela dan Sintia terkejut.
"Serius lo Tha?" tanya Ela sambil menatap wajah sahabatnya.
" Serius, nyesal gue kenapa gak dari dulu" jawab Ditha sambil tertawa.
"Aaah asem lu" Ela menepuk bahu Ditha. Dia sempat terkejut tadi.
"Aku kira tadi malam kamu di gebukin sama Disil. Masak baru sehari nikah udah nyesal" ucap Sintia kesal.
"Becanda guys..." jawab Ditha sambil tersenyu.
"Kenapa Sin kamu tanya begitu. Kamu pengen nikah juga?" tanya Ela penasaran.
"Kemarin sore sepulang dari acara kalian saat di mobil Ryza ngungkapin perasaannya padaku" ungkap Sintia.
"Ow yaaah?" tanya Ela dengan mulut yang masih terbuka dan mata melotot.
"Woo nyamuk masuk tuh" goda Ditha.
Ela tersadar dan langsung menutup mulutnya.
"Aku sih iyeeees" jawab Sintia pura-pura cuek dualam hati udah terbang.
"Cius kamu jawab gitu?" Ditha tidak percaya.
"Ya nggak lah Tha... aku kan bukan Ela yang bisa jawab sesantai itu" jawab Sintia.
"Woi.. aku malah belum pernah jawab ucapan cowok seperti itu" potong Ela.
"Trus.. truuuuus" desan Ditha.
"Nabrak donk terus - terus" kekeh Ela.
"Aku bilang kalau aku juga punya perasaan yang sama. Karena kemarin kami sedang di dalam mobil dia janji akan melamarku dengan suasana yang lebih romantis. Aku udah gak sabar menunggu waktu itu" ungkap Sintia senang.
"Aku turut bahagia ya Sin" peluk Ditha.
"Aku juga bahagia melihat sahabat aku semua sudah bahagia" Ela memeluk Ditha dan Sintia.
"Nah sekarang tinggal kamu El. Gimana hati kamu sekarang. Kamu sudah tau kan Rafa sudah putus sama Lisa?" tanya Sintia.
"Serius El, kamu udah tau? Kapan?" Tanya Ditha terkejut.
"Kemarin waktu di pesta pernikahan kamu. Papanya Keysha gak sengaja nyebut Lisa sebagai mantan pacar Rafa" jawab Sintia.
"Ow yah?" Ucap Ditha.
"Trus kamu udah tanya Rafa apa alasan mereka putus?" tanya Sintia ingin tau.
"Sudah, waktu kami jalan pulang dari pesta kamu kemarin Tha" jawab Ela.
"Rafa kasih tau alasan dia putus?" tanya Ditha. Sintia dan Ditha saling tatap.
"Kata Rafa sudah tidak ada kecocokan antara mereka lagi. Jelas aku tidak percaya, masak pacaran tujuh tahun putusnya karena alasan itu doank. Akhirnya dia bilang kalau Lisa menyukai orang lain" ungkap Ela.
"Kamu pasti tanya siapa orangnya?" tebak Sintia.
"Ya iyalah Ela gitu lho, kalau udah nanya orang udah kayak polisi introgasi penjahat" sambut Ditha.
"Aku tanya sih tapi Rafa gak mau kasih tau. Apa Lisa selingkuh ya?" tanya Ela.
Sintia dan Ditha saling memberi kode untuk tidak menjawab pertanyaan Ela, karena penyebab Rafa dan Lisa putus adalah Aby. Lisa menyukai Aby yang merupakan sahabat pacarnya sendiri.
"Kami gak tau persis El. Yang kami tau mereka udah putus. Kami segan tanya-tanya sama Rafa. Kamu kan tau kami gimana orangnya. Diantara kita kan kamu yang paling dekat dengan dia" jawab Sintia.
"Jadi gimana El? Sekarang kan Rafa udah putus. Kamu gimana sama Rafa? Apa kamu masih menyukai Rafa?" Tanya Ditha hati-hati.
"Entahlah... tapi sekarang aku sudah enjoy jalan dengan Rafa persis sama dengan yang aku rasakan kalau aku jalan sama Disil" jawab Ela.
"Itu artinya kamu sudah nganggap Rafa hanya sahabat?" selidik Sintia.
"Aku juga gak tau pasti. Tapi getaran-getaran di hatiku sepertinya sudah tidak terasa lagi. Aku merasa legaaaa berkumpul dengan kalian semua. Tidak ada perasaan yang tertahan seperti dulu lagi. Tapi aku belum yakin apa rasa itu sudah hilang atau tidak. Aku bingung" ungkap Ela.
Kini Sintia dan Ditha yang memeluk Ela.
"Ariella sayang... apapun keputusan yang kamu ambil kami akan mendukung kamu. Yang penting kamu bahagia. Ikuti kata hati kamu" nasehat Ditha.
"Betul.. betul.. betul..." jawab Sintia.
Mereka tertawa karena ucapan Sintia, jadi teringat waktu malam perpisahan Ela sebelum berangkat ke London. Sintia bicaranya sudah kayak ipin upin.
"Tapi aku masih yakin kalau Rafa masih menyukai Lisa. Aku tau Rafa, dia laki-laki tipe setia. Sulit melupakan seseorang yang dia suka" ucap Ela.
"Sudahlah El biarkan saja semua berjalan seperti air mengalir, bukannya itu yang kamu katakan dulu? Kalau jodoh tidak akan kemana. Kalau memang Lisa jodoh Rafa mereka pasti akan ketemu lagi. Dan kalau ternyata kamu jodohnya pasti ada jalan" nasehat Ditha.
"Betul... betul... betul..." sambut Sintia.
Dan mereka tertawa bersama.
.
.
BERSAMBUNG