Find The KEY

Find The KEY
Ep. 178



"Waaaaah romantis banget pasangan pengantin ini ya para penonton" teriak pembawa acara.


"Jadi pengen cepat - cepat nikah ni hahaha.. " sambungnya kembali.


"Berarti Geng ERASADIS tinggal satu orang lagi ya Mbak Ela yang belum menikah?" tanya pembawa acara.


Ela menganggukkan kepalanya.


"Jangan lupa ya kalau yang terakhir menikah panggil saya lagi" goda pembawa acara.


Langsung Ela tertawa dan mengacungkan jempolnya kepada pembawa acara.


"Bagaimana kalau kita minta Geng ERASADIS untuk tampil kembali?" Pembawa acara memberikan penawaran.


"Maaf.. kami tidak ada persiapan. Mungkin ide kamu bisa kami fikirkan kalau sahabat kami yang terakhir menikah" jawab Ela.


"Benar ya Mbak Ela, jadi gak sabar menantikan waktu itu" ucap pembawa acara.


Rafa yang mendengar itu langsung wajahnya memerah.


Duh kenapa aku jadi merasa malu begini ya karena menjadi yang terakhir menikah. Batin Rafa.


"Dengan tuh Bro, pembawa acaranya saja udah gak sabar pengen lo cepat nikah. Buruan samperin tuh si Keket sebelum di samber orang lain" senggol Disil.


"Bener, kamu gak lihat tuh si Jimmy dari kemarin mencoba deketin si Keket. Mana orangtua Keket juga kayaknya udah setuju banget" sambut Aby.


"Kejelekan kamu itu terlambat menyadari cinta kamu bro. Dulu waktu Ela pergi baru lo merasa kehilangan kan? Makanya lo jadi illfeel sama Mak Lampir. Disaat Ela hatinya telah terisi pria lain baru lo nyatain cinta. Kali ini jangan sampai terlambat bro. Mumpung Keket masih jomblo. Entar disambar orang lagi gigit jari lo" sindir Disil.


"Kami berkata begini karena kamu adalah sahabat kami. Pastilah kami lebih setuju kamu yang jadian sama Keket dari pada si Keket sama bule jenggotan Jimmy oh Jimmy itu" potong Aby.


Rafa melirik ke arah Catherine yang sedang asik ngobrol dengan Jimmy. Mereka terlihat sangat akrab dan dekat.


Nyeeeees... ada ketakutan dan keresahan dalam hatinya. Rafa meraba pelan dada kirinya.


Apa yang sedang aku rasakan, mengapa aku sakit hati melihat mereka sedekat itu. Mereka bisa tertawa lepas seperti itu hanya dengan obrolan ringan. Apa aku takut kehilangan ya? Tapi ketakutan seperti apa yang aku rasakan. Takut aku gak dapat jodoh lagi atau aku memang takut Keket yang direbut orang. Ucap Batin Rafa.


"Kita janji deh Rafa, waktu lo nikah. Kita - kita akan membuat satu pertunjukan meriah khusus buat kamu" ucap Disil.


"Betul, aku setuju" sambut Aby.


"Kalian tenang saja, akan tiba saatnya. Gak perlu terburu - buru. Jodoh tidak akan lari kemana" balas Rafa.


"Tapi harus usaha bro jangan pasrah, keburu di embat orang" sanggah Disil kesal mendengar jawaban Rafa.


"Btw Sin misi kita sudah berjalan?" tanya Disil.


"Seep.. udah beres. Koper Ela sudah aku kosong kan dan diisi mukena dan kain sarung saja. Kita tinggal tunggu teriakan Ela besok pagi saat sarapan" jawab Sintia.


"Mantab" sambut Disil.


"Mas jangan keterlaluan isengnya, ingat aku lagi hamil nanti anak kamu dengar. Katanya gak mau anaknya mirip Ela" ucap Ditha memperingatkan.


Disil mengelus perut Ditha yang mulai membuncit.


"Sayang kamu kalemnya kayak Mama aja dan baik budi seperti Papa" ucap Disil.


"Ueeeek.. cem elo di bilang baik budi" sindir Rafa.


"Ucapan adalah doa bro, jadi suka - suka aku donk mau berkata apa" bantah Disil.


"Sak karepmu lah Dis" potong Rafa kesal.


Di atas pelaminan Fajar sedang mengirim pesan kepada Jimmy.


Bos


Jimmy kamu bawa koper yang ada di kamar ya, trus ada tas tenteng berisi pakaian ganti kami nanti di pesawat


Jimmy


Jimmy menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku jasnya.


"Miss Catherine saya pamit sebentar ya, ada suatu urusan yang harus saya kerjakan" ucap Jimmy kepada Catherine.


"Silahkan Mr. Jimmy" balas Catherine sambil tersenyum ramah.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang tak pernah lepas dari mereka berdua. Dan terlihat seseorang itu sangat kesal dengan kedekatan mereka.


Seseorang itu tak lain adalah Rafa. Entah mengapa Rafa semakin takut kehilangan sejak para sahabatnya memperingatkan.


Sial perasaan apa ini? Memang sifat Keket gak jauh beda dengan Ela, sama - sama gila. Tapi Keket tampilannya lebih feminim tidak seperti Ela yang tomboy abis.


Selera humor dan emosi mereka juga hampir sama, aku beberapa kali melihatnya ketika Keket bertemu Lisa.


Apakah aku mulai menyukai Catherine atau aku mencari sosok Ela dalam dirinya. Jelas secara tampilan mereka sangat berbeda. Karena Catherine adalah wanita bule. Tubuh mereka juga berbeda. Keket lebih langsing dan tinggi seperti model. Maklumlah dia kan bule.


Duh.. kenapa malam ini dia terlihat sangat cantik ya, apalagi dalam balutan gaun dan jilbab. Udah hampir kayak orang Arab tuh anak. Hidungnya yang mancung, bibirnya yang tipis dan matanya yang besar dan lentiknya mulu matanya.


Rafa menelan salivanya. Tiba - tiba alarm dalam otaknya berbunyi.


Gawat fikiranku sudah merambat entah kemana. Bisa - bisanya aku berfikiran sejauh itu. Batin Rafa.


Catherine berpindah tempat duduk di sebelah Mamanya.


"Honey dari tadi Mom lihat kamu begitu akrab ngobrol dengan Jimmy. Apakah ada sesuatu yang lain di antara kalian. Mom melihat tatapan Jimmy selalu melirik ke arah kamu dan Mom lihat dia selalu berusaha mendekati kamu" ucap Mrs. Wolter.


"Kami hanya teman Mom, saat di London beberapa kali kami pernah ketemu waktu Princess mengadakan perayaan busana di TBF Hotel. Dulu Mr. Jimmy adalah asisten Fajar yang saat itu menjabat sebagai General Manager di TBF Hotel. Sejak Fajar menjabat jadi CEO Barrakh Corp Mr. Jimmy yang menggantikan posisinya di TBF Hotel" jawab Catherine.


"Waaah prestasi yang bagus. Berarti dia seorang pria yang mapan dengan jabatan yang bagus honey. Perlu kamu pertimbangkan" dukung Mrs. Wolter.


"Tapi aku masih betah di Indonesia Mom, aku belum mau cepat - cepat kembali ke London" bantah Catherine.


"Apakah ada alasan lain yang membuat kamu ingin berlama-lama di sini honey?" tanya Mrs. Wolter pura-pura.


"Maksud Mommy?" tanya Catherine penasaran. Sepertinya Mommynya mengetahui sesuatu.


"Came on, Mommy tau apa yang ada dalam hati dan fikiran kamu. Lelaki itu kan?" Mrs. Wolter memberikan isyarat dan melirik ke arah Rafa.


Persis saat itu Rafa juga sedang menatap Catherine. Tatapan mereka bertemu dan sesaat saling mengunci. Tapi Catherine tidak tahan dalam keadaan seperti itu. Dia segera melempar tatapannya ke arah lain.


"Ada apa dengan dia Mom?" tanya Catherine pura-pura.


"Ayolah nak, Mommy tau kamu menyukainya. Dari kemarin Mommy perhatikan kamu selalu menatapnya" ungkap Mrs. Wolter.


"Moooom... " ucap Catherine.


Mrs. Wolter menggenggam lembut tangan Catherine.


"Siapapun pilihan kamu Mommy akan mendukungnya. Pria itu juga baik Mommy perhatikan. Dia sangat sopan dan juga tampan. Kalau kamu bahagia dan menyukainya, kejarlah" dukung Mommy Catherine.


"Tapi Mom dia menyukai Ela" jawab Catherine jujur.


"Ela kan sudah menikah, tidak mungkin dia merusak pernikahan wanita lain yang tak lain adalah sahabatnya. Saat ini dia pasti sedang galau dan patah hati jadi butuh obat untuk menyembuhkan perasaannya. Waktu yang tepat untuk kamu masuk sayang. Percayalah pada Mommy, dia membutuhkan seseorang saat ini" nasehat Mrs. Wolter.


Catherine kembali melirik ke arah Rafa yang sedang asik ngobrol dengan Aby dan Disil.


"Semoga apa yang Mommy katakan benar" sambung Catherine.


"Ayo honey kamu harus semangat dan berjuanglah mendapatkan cinta kamu" balas Mrs. Wolter.


"Terimakasih Mom, I love you" ungkap Catherine.


.


.


BERSAMBUNG