Find The KEY

Find The KEY
Ep. 34



Disil dan Ditha udah sampai di Mall yang mereka tuju. Sebelum mencari kado terlebih dahulu mereka makan di restourant seafood.


"Dis kamu pesan seperti biasa kan?" tanya Ditha.


"Iya Tha" jawab Disil


Ditha memesan makanan favourite mereka. Ditha sudah tau makanan kesukaan Disil karena mereka sudah lama bersahabat.


Setelah selesai makan mereka berjalan mencari kado untuk teman kuliah Disil, Aby dan Rafa yang akan menikah minggu depan.


"Kadonya mau digabung atau sendiri-sendiri Dis?" tanya Ditha.


"Sebentar ya Tha, aku tanya Aby dan Rafa dulu" jawab Disil.


Disil mengelurkan hpnya dan mengirim pesan pada kedua sahabatnya.


Disil


Guys.. Aku lagi cari kado sama Ditha buat pernikahan Boy sabtu ini. Kalian mau kadonya digabung atau cari sendiri-sendiri?


Aby


Gabung ajalah Dis, aku gak sempat cari lagi.


Rafa


Idem. Lagian kalau di gabung kan kadonya bisa dapat yang lumayan.


Disil


Kalau begitu kami cari dulu ya


Aby


Oke bro


Rafa


Yoi. Hati-hati


"Apa kata mereka Dis?" tanya Ditha.


"Mereka bilang gabung aja Tha. Apa ya kira-kira kado yang bagus?" tanya Disil.


"Mmm... gimana kalau jam tangan couple aja Dis?" Ditha memberi ide.


"Bagus juga tuh saran kamu" jawab Disil.


"Ya udah, yuk kita cari" ajak Ditha.


Disil dan Ditha berjalan menuju toko jam terbesar di dalam Mall tersebut dan memilih jam tangan dengan merk terkenal yang akan mereka jadikan kado.


"Hai Dis" sapa seorang wanita.


"Eh hai... maaf ya siapa?" tanya Disil.


"Aku Bela, lupa?" wanita yang bernama Bela itu balik bertanya.


Disil benar-benar lupa dimana dia kenal wanita ini, tapi dia mencoba berbasa-basi agar wanita itu tidak tersinggung.


"Oh iya Bela. Apa kabar?" tanya Disil. Sebenarnya dia lagi kesal dan malas ngeladenin orang lain karena masih kefikiran sama cowok yang tadi berbicara dengan Ditha di Butik.


"Baik. Kamu?" tanya Bela.


"Baik" jawab Disil singkat.


"Sama siapa Dis, pacar?" tanya Bela penasaran.


"Iya" balas Disil cuek.


Deg... jantung Ditha serasa berhenti berdetak.


"Sorry ya aku mengganggu, kalau begitu aku duluan ya" ucap Bela yang tampaknya kecewa.


"Ok Bel. Bye..." balas Disil


Wanita yang bernama Bela itu melangkah pergi meninggalkan Disil dan Ditha. Ditha melirik kearah Disil.


"Kenapa Tha?" tanya Disil.


"Kog kamu jawab iya tadi?" Ditha balik bertanya.


"Yang mana?" Disil pura-pura tidak tahu.


"Itu lho waktu dia nanya pacar" jawab Ditha.


"Biar aja, biar dia gak ganggu kita. Terbuktikan dia langsung pergi" ucap Disil acuh.


"Iya Dis tapi aku gak mau ah punya banyak musuh. Lihat lirikannya saja tadi seram banget, udah serasa aku pelakor yang ketangkap basah sama pacar orang" balas Ditha.


"Cuek aja gak usah diambil hati. Nanti juga kamu terbiasa" ucap Disil.


Apa maksud Disil terbiasa? Kog aku jadi berharap lebih ya. Tolong Dis jangan begini. Aku takut terluka. Batin Ditha.


Disil sudah selesai memilih jam tangan untuk kado mereka dan sudah di bungkus.


"Tha pilih yang kamu suka" perintah Disil.


"Ha... nggak ah Dis, aku lagi gak butuh" tolak Ditha.


"Eh kayaknya seru juga kalau kita beli jam tangan couple ya, ntar kalau lagi video call sama Ela kita tunjukin biar dia iri" Ucap Disil.


"Dis jangan ah" tolak Ditha merasa segan.


"Udah tenang aja, lagian jarang-jarang kan aku kasih sesuatu pada kamu. Anggap ini juga hadiah dari aku" ucap Disil.


Tak lama karyawan tadi membawa jam tangan yang diminta Disil.


"Bagus ya, kamu suka?" tanya Disil lembut.


"Suka" jawab Ditha senang.


"Oke Mbak saya ambil satu lagi yang ini. Gak usah dibungkus langsung kami pakai saja" perintah Disil.


Disil membuka jam tangan yang dia pakai dan meletakkannya kedalam kotak jam tangan yang baru, kemudian memakai jam tangan couplenya bersama Ditha.


"Pakai donk Tha biar kompak. Nanti setiap kamu pergi bersamaku kita pakai jam tangan ini ya" ucap Disil.


Ditha pun melakukan hal yang sama, melepas jam tangan yang dia pakai dan menggantinya dengan jam tangan yang baru.


Dis... mengapa perhatian kamu berlebih hari ini, aku bisa pingsan Dis karena over dosis. Batin Ditha.


"Selfie yuk Tha, tunjukin jam tangan kamu" pinta Disil.


Ditha dan Disil berdiri berdekatan sambil menunjukkan jam tangan couple mereka yang baru.


"Senyuuuuum" perintah Disil.


Cekreek...


"Naaah cantik kan?" ucap Disil.


Disil menunjukkan hasil selfie mereka kepada Ditha. Ditha jadi merasa senang di dalam hati.


"Kita pulang yuk, udah malam. Nanti aku di semprot om Sandy karena kelamaan mulangin kamu" ajak Disil.


"Okey" jawab Ditha.


Disil dan Ditha kemudian berjalan menuju mobil Disil di parkir setelah itu mobil melaju menembus malam menuju rumah Ditha.


Hari ini Disil merasa senang bisa jalan dan makan bareng bahkan membeli jam couple bersama Ditha.


Aku kog seperti anak ABG lagi jatuh cinta ya.. Rasanya lampu-lampu jalanan ini terlihat seperti bunga-bunga yang bertebaran di taman. Batin Disil.


Disil aneh banget malam ini, tadi saat keluar dari Butik wajahnya ketat banget, sekarang malah terus tersenyum. Nih anak lagi sakit kali ya? Batin Disil.


Tak lama sampai juga mereka dirumah Ditha. Rupanya ada Sandy yang sedang menunggu di depan rumah.


"Malam Om, maaf aku kelamaan ya mulangin Ditha" sapa Disil.


Untung Om Sandy sahabat Papaku, aku yakin dia gak bakal marah. Jangan pasang wajah seram wahai calon mertua. Lho kog jadi keceplosan nih. Batin Disil.


"Nggak Dis, Om bukan lagi nungguin Ditha. Tadi dia udah pamit kok kalau lagi keluar sama kamu. Om lagi nunggu Deo dan Theo lama banget pulanya. Sudah lewat jam malam. Besok mereka kan harus sekolah" jawab Sandy.


"Emang mereka kemana Pa?" tanya Ditha.


"Tadi katanya mau belajar bareng dirumah temannya siapa tadi namanya Papa lupa. Haaa iya si Faisal, Papa khawatir mereka naik sepeda motor. Takutnya malah kebut-kebutan" Ucap Sandy cemas.


"Mau saya bantu cari mereka Om?" Disil menawarkan bantuan.


"Mau kita cari kemana Dis, alamat rumah temannya om gak tau" balas Sandy.


Tak lama dua anak kembarnya sudah kembali berboncengan naik sepeda motor.


"Kalian kenapa lama banget pulangnya, sudah lewat jam malam ini" Bentak Sandy marah.


Buset calmer ngeri juga kalau marah. Disil terkejut dalam hati.


"Sorry Pa, ban motor tadi kempes kami harus dorong dulu cari tambal ban terdekat" jawab Deo.


"Kenapa gak kabari Papa dulu. Buat orangtua cemas saja" ucap Sandy masih marah.


"Hp Deo mati Pa habis batre, Hp Theo ketinggalan" jawab Theo.


"Ada saja alasan kalian, sudah masuk saja istirahat. Sudah malam, besok kalian harus sekolah" perintah Sandy.


Deo dan Theo kemudian memasukkan sepeda motornya ke dalam garasi kemudian mereka masuk kedalam rumah.


"Kalau begitu aku pamit dulu ya Om, sudah malam" ucap Disil pamit pulang.


"Eh Iya Dis, hati-hati" jawab Sandy.


"Makasih ya Tha udah nemani aku cari kado tadi, jangan lupa malam minggu nanti temani aku undangan" ucap Disil pada Ditha.


"Ok Dis. Ingatkan lagi ya hari Sabtu siang takutnya aku lupa" jawab Ditha.


"Sep... Pulang ya Dith.. Om... Assalamu'alaikum" ucap Disil.


"Wa'alaikumsalam" jawab Sandy dan Ditha bersamaan.


Yaaah Si Om masih setia disini, masuk napa Om. Aku kan mau pamit mesra sama Ditha. Gak asik ah si Om, kayak gak pernah muda. Batin Disil.


Akhirnya Disil masuk ke dalam mobil dan melaju menuju rumahnya.


.


.


BERSAMBUNG