
"Sudah.. sudah... jangan kalian marahin mereka. Anak-anak pergi ke dalam dan main di kamar bermain ya. Opa mau bicara sama Papa Mama kalian" ucap Omar yang baru masuk ke dalam rumah bersama Kevin dan August.
Sontak personil ERASADIS terdiam karena kedatangan para tetua Barrakh Corp.
"Silahkan duduk Pa, Om Kevin dan Om August" ucap Fajar menghentikan keheningan diantara mereka.
Omar, Kevin dan August duduk di sofa, di ikuti yang lain.
"Sebentar aku ke dapur dulu ya mau siapkan minuman" ujar Ela.
"Gak usah El, kamu duduk saja. Kami tidak haus" tegas Omar.
Perkataan Omar itu membuat para anggota Geng ERASADIS terdiam.
Wah jadi serius nih ceritanya, gara- gara anak- anak pengen liburan kami yang di sidang. Batin Ela.
"Jadi begini, tadi siang sepulang sekolah F3STER datang ke rumah Papa. Sebelumnya jangan kalian salahkan mereka atas apa yang mereka katakan kepada Papa karena mereka tidak sengaja mengatakannya dan memang karena mereka menahannya. Saat kami ngobrol tiba-tiba suara perut mereka berbunyi. Jadi Papa tanya apa kalian lapar? Mereka menganggukkan kepala dan berkata kami lapar sekali Opa dari tadi pagi belum makan, bahkan Shaby dan Sitha tidak makan dari tadi malam. Tega sekali kalian menghukum mereka seperti itu?" tanya Omar dengan suara yang sedikit menggelegar.
"Kami tidak menghukum mereka Pa, mereka sendiri yang melakukan aksi mogok makan" jawab Fajar.
"Yah itu karena kalian egois sebagai orang tua. Kalian sibuk dengan urusan kalian masing - masing tanpa memikirkan perasaan anak kalian. Dunia anak - anak itu masih bermain. Kalian tuntut mereka untuk berprestasi dan mereka sudah buktikan. Lantas apa hadiah untuk mereka?" sambung Kevin.
"Hargai setiap jerih payah dan perjuangan anak kalian agar mereka termotivasi untuk berbuat hal yang lebih baik lagi. Mereka akan lebih rajin dan lebih berprestasi. Jangan kalian fikirkan urusan pekerjaan.... pekerjaaaan terus" August menimpali.
"Ada kalanya materi itu bukan segalanya. Kehangatan keluarga, dan kenang - kenangan mereka saat mereka masih anak - anak itu perlu kalian ciptakan. Kelak saat mereka besar mereka akan mengingat masa - masa kecil mereka yang bahagia. Bukankah kami sebagai orang tua juga dulu melakukan hal yang sama pada kalian?" ujar Omar.
Fajar, Keysha dan Ryza tertunduk. Masa kecil mereka memang sangat indah. Setiap liburan orangtua mereka pasti akan mengajak mereka jalan - jalan. Dan Setiap mereka berprestasi, mereka pasti akan mendapatkan hadiah dari orangtua mereka. Saat itu mereka senang sekali mendapatkan hadiah tersebut.
"Tapi Pa kalau kami semuanya pergi bersama - sama, kantor bagaimana? Kan gak bisa di tinggalkan begitu saja tanpa ada yang mengaturnya?" ucap Fajar.
"Mengapa kalian tidak membicarakannya kepada kami?" tanya Omar.
"Kami sudah punya rencana Pa, untuk membicarakan hal ini kepada Papa. Hanya waktunya saja yang belum tepat. Sembari itu kami ingin melihat seteguh apa anak - anak berjuang untuk mendapatkan keinginan mereka" ungkap Keysha.
"Maaf Pa, aku yang memberi saran seperti ini. Tapi bukan kami tidak memberi makan mereka, malah tadi pagi aku masak makanan favorit mereka untuk menggoda mereka agar mereka goyah dan membatalkan aksi mereka. Tapi ternyata mereka tetap melanjutkannya" ungkap Ela.
"Sikap anak itu adalah cerminan orangtuanya. Coba kamu berkaca pada diri kamu sendiri. Seandainya kamu berada di posisi mereka apa yang akan kamu lakukan?" tantang Omar.
Ela tertunduk.
"Aku akan melakukan hal yang sama Pa, tetap mogok makan sampai permintaanku di kabulkan" jawab Ela.
"Maksud kamu memang benar Ela. Kamu ingin melihat keteguhan hati mereka untuk memperjuangkan keinginan mereka kan. Tapi lihat juga tuntutan mereka seperti apa. Kalau membahayakan bagi mereka mungkin kamu bisa membuat alternatif lain. Kalau mereka ke sekolah dalam keadaan lapar tentu mereka tidak akan bisa konsentrasi saat belajar. Apalagi tadi mereka sedang ujian kan?" ucap Kevin.
"Iya Om" jawab Ela.
"Kalian harus bisa menempatkan posisi kapan harus keras pada anak, kapan harus tegas dan kapak harus lemah lembut. Tarik ulur, terlalu keras bahaya bisa patah. Terlalu lembut juga bahaya mereka akan menjadi besar kepala" sambung August.
"Yang terakhir hati - hatilah dalam bersikap, karena anak - anak kalian akan mencontoh apa yang dilakukan orang tuanya. Yakinlah itu, kalau kalian tidak percaya kalian bisa mengetesnya pada anak kalian. Berhati - hati juga dalam berkata-kata. Anak-anak kalian itu adalah anak-anak yang cerdas dan pintar jangan sampai mereka salah melihat dan mendengar. Jangan bangun dinding yang tinggi sebagai pembatas diantara kalian dan anak-anak kalian. Mereka adalah darah daging kalian. Kesuksesan dalam hidup bukan hanya harta. Harta yang abadi itu adalah anak-anak. Kalau kalian berhasil mendidiknya menjadi anak-anak yang baik kalian akan selamat dunia dan akhirat. Tapi sebaliknya kalau didikan kalian salah, jangan di akhirat di dunia pun kalian akan mendapatkan balasan atas apa yang kalian tanam" tegas Omar.
"Coba renungkan apa yang kami katakan ini. Kalau ada perkataan kami yang salah coba kalian perbaiki. Kami juga hanya manusia biasa yang tidak lepas dari khilaf. Tapi tujuan kami datang ke sini hanya ingin melihat kalian mendidik anak-anak kalian, cucu - cucu kami dengan baik" ujar August.
"Kalian mengertikan apa yang kami katakan ini?" tanya Kevin.
"Mengerti Pa" jawab Keysha dan Aby.
"Mengerti Om" jawab yang lainnya.
"Urusan kantor biar Papa dan Om - Om kalian yang urus selama kalian pergi. Kalian juga By, Om rasa Papa kalian juga mau melakukan hal yang sama dengan kami" ujar Omar.
"Sebenarnya Papa juga sudah berkata seperti itu Om. Kami dari ADS Coro sebenarnya sudah aman hanya tinggal keluarga Barrakh. Mereka belum ada kesempatan untuk membicarakannya dengan Om" jawab Aby.
Omar melirik ke arah putranya.
"Ya sudah Fa, semua sudah ada jalan keluarnya kan. Jangan lagi kamu siksa anak-anak kamu dengan mogok makan. Kamu tau saat makan siang tadi semuanya makan dengan lahap. Mereka sempat berenang tadi di rumah Papa dan Mama kamu memasukkan mereka Cake, semuanya habis di makan mereka. Sudah seperti anak yang tidak makan tiga hari" Sindir Omar.
Membuat Geng ERASADIS terdiam malu dengan perbuatan anak mereka.
"Sudah beres semua kan. Sekarang kami haus. Kamu sudah bisa menghidangkan minuman untuk kami El" perintah Kevin.
"Baik Om, akan segera di siapkan" Ela bangkit dan berjalan ke dapur untuk menyiapkan minuman para tetua keluarga Barrakh.
Sore yang indah, mereka mendapatkan ilmu yang banyak tentang mendidik anak dari orangtua mereka.
.
.
BERSAMBUNG