
Oeeeek.... oeeeeek....
Krincing... krinciiiiing....
"Ada apa itu? Kok pada ribut?" tanya Sena penasaran.
Yang lain juga melirik ke arah pintu kamar Ditha. Tak lama keluar Sisil dan Disil bersama-sama. Sisil sedang menggendong bayi mungil dalam gendongannya sedangkan Disil sedang memegang krincingan.
"Cup.. cup.. sayang. Krinciiiing... krinciiiing... diam ya" ucap Disil berusaha mendiamkan anaknya. Dia belum berani menggendong bayi mungil itu.
"Apa tuh Dis yang kamu pegang?" tanya Aby penasaran.
"Nih kerincingan" jawab Disil sambil memperlihatkan mainan anaknya.
"Oalaaaah si Bambaaaaang dari dulu hobbynya gak berubah kemana mana bawa kerincingan" ledek Ela.
"hahaha bener kamu El" sambut Sintia.
Anggota Geng ERASADIS langsung ketawa ingat pentas seni mereka saat SMU.
"Tadi dia senang dengar ini, pas nangis langsung diam. Tapi sekarang kok nggak mempan ya" ucap Disil heran.
"Mungkin kamu kurang gocek kali" ujar Rafa.
"Jangan terlalu dekat ke telinganya Dis, putri kamu masih terlalu kecil, baru juga satu hari. Pendengarannya masih sensitif" nasehat Sisil.
"Ayo bambang tunjukkan ke ahlian kamu. Goyang maaaaang" Ela memberi semangat.
"Dis aku yang nyanyi kamu yang goyang ya" ujar Catherine semangat.
"Oke Ket" balas Disil.
"Bang toyiiiib... eh bang toyiiiib kenapa gak pulang.. pulang. anakmu.. anakmu.. panggil.. panggil namamu.. " Catherine mulai bernyanyi.
Disil memainkan kreceknya dan berjoget. Mulailah dia menambilkan goyangan favoritnya mulai dari goyang ngebor, goyang itik, goyang pinggul sampai goyang patah - patah.
"Hahahaha..... "
semua tertawa melihat kolaborasi Catherine dan Disil. Ruangan itu menjadi ramai dan riuh dengan tawa mereka.
"Goyang senggol.. goyang senggol oh asiknya.. goyang senggol goyang senggol oh serunya... " Catherine mengganti lagunya.
"Dasar anak - anak itu sudah pada tua gak berubah juga. Si Disil lagi udah punya anak masih sableng" oceh Sandy.
Herannya semakin riuh ruangan itu anak Disil semakin adem, diam dan tertidur.
"Waaaaah bahayaa iniiii.... " ucap Disil.
"Kenapa Dis?" tanya Rafa yang sudah berhenti nyanyi.
"Anakku doyan lagu dangdut seperti istri kamu" jawab Disil.
"Emang kenapa dengan lagu dangdut, gak ada salahnya kan?" protes Catherine.
"Ya gak masalah sih tapi kan beda server sama emak dan bapaknya" balas Disil.
"Makanya kamu jangan suka ejekin istriku waktu anak kamu dalam kandungan. Ketularan kan hobbynya suka lagu dangdut" sindir Rafa.
"Tapi lebih bahaya kamu bro" ucap Disil.
"Kenapa aku yang bahaya?" tanya Rafa bingung.
"Kalau anak aku adem dengar suara istri kamu nangis, aku bisa pinjem istri kamu jadi baby sitter anakku" jawab Disil.
"Enak aja, berani gaji berapa lo sama istri gue. Enak aja istriku yang lagi hamil di jadiin baby sitter" protes Rafa.
"Yee siapa suruh, Si Keket sendiri tadi yang nawarin mau nyanyi" balas Disil.
"Udah.. udah.. jangan ribut. Nanti anak kamu bangun dan nangis lagi" ucap Sisil.
"Gak apa-apa Ma, ada si Keket. Tinggal suruh nyanyi lagi" jawab Disil.
"Gile lo, emangnya istri gua pengamen" balas Rafa.
Sisil membawa anaknya Disil kembali ke kamar dan meletakkannya ke box bayi.
Ditha sudah mulai belajar turun dari tempat tidur dan berjalan walau dengan pelan - pelan.
"Yank gak apa - apa kamu jalan? Gak sakit? Ngilu aku ngebayanginnya?" tanya Disil.
"Nggak Mas tenang aja asal pelan - pelan" jawab Ditha pelan.
"Itulah enaknya kalau melahirkan normal, proses penyembuhannya lebih cepat. Makanya sebisa mungkin lahiran normal. Yah walau tidak bisa dipaksakan. Kalau memamg membahayakan buat si Ibu dan si bayi, lebih baik operasi" ungkap Alexa.
"Iya ya Ma, aku jadi semangat untuk melahirkan normal" ucap Ela.
"Kamu siap sayang? Anak kita kan tiga yang mau keluar. Pasti sakitnya lebih panjang" sambut Fajar.
"Aku usahain kuat Mas, aku akan berjuang demi anak - anak kita" balas Ela.
Fajar mengenggam mesra tangan istrinya.
"Sitha Ayu Prayoga Pa" jawab Disil.
"Yang artinya?" tanya Rafa.
"Putri Disil dan Ditha yang cantik sedangkan Prayoga nama keluarga besarku" ungkap Disil.
"Waaah bagus namanya Dis, gak nyangka kamu pinter buat nama" puji Sintia.
"Nama cucu kami siapa By?" tanya Alexa.
"Nama putra kami Shaby Perdana Gunadi" jawab Aby.
"Yang artinya?" tanya Rafa kembali.
"Putra pertama dari Keysha dan Aby dari keluarga Gunadi" ungkap Aby.
"Keren" puji Kevin.
"Panggilannya Shaby kan kak?" tanya Ela.
"Iya" jawab Aby singkat.
"Sedangkan anak kamu Dis, pasti panggilannya Sitha" tebak Rafa.
"Untung digabungin nama kalian berdua bagus. Coba kalau si Rafa sama Si Keket. Nama anaknya Raket" ledek Ela.
"Hahahaha..... " tawa yang lainnya.
"Enak saja. Nama gabungan kami juga bagus kok" jawab Catherine.
"Emang udah punya?" tanya Ryza.
"Udah donk. Ada dua nama untuk cowok dan cewek" jawab Rafa.
"Wah hebat donk" puji Aby.
"Yang pusing si Ela. harus nyediain empat nama" ucap Disil.
"Kok empat? anaknya kan tiga?" tanya Sintia penasaran.
"Yah kalau anaknya dua cowok satu cewek. Berarti butuh tiga nama. Nah kalau dua cewek satu cowok. butuh satu nama lagi kan buat cadangan" jawab Disil.
"Yakin kamu jenis kelamin anaknya begitu? Kalau semuanya cowok gimana? atau sebaliknya semua cewek?" tanya Ryza.
"Berarti butuh enam nama donk" balas Disil.
"Tenang Dis, kami yang punya anak kok kamu yah repot sih. Semua ke khawatiran kamu sudah kami persiapkan jauh - jauh hari" jawab Fajar.
"Iya, Bapaknya aja gak pusing kok malah kamu yang repot" sambung Ela.
"Aaah terserah kalian lah" balas Disil.
"Kapan rencana mau aqiqah Dis?" tanya Sandy.
"Secepatnya Pa, diusahakan sebelum usia Sitha tujuh hari. Sunahnya kan begitu kalau semua sudah tersedia dan tidak ada penghalang lebih baik di segerakan" jawab Disil.
"Bagus itu" balas Dimas.
"Tapi syukurannya mungkin tunggu umur Sitha dua bulan aja Pa, sekalian kami syukurannya di rumah baru" sambung Disil.
"Iya ya lebih enak dan lebih luas kalau di rumah sendiri. Kalau di apartemen sempit" sambung Dimas.
"Waaah hebat kamu ya anak muda, masih muda sudah punya rumah sendiri" puji Kevin.
"Ah biasa aja Om, Aby dan Keysha juga kalau mau bisa secepatnya. Cuma untuk apa toh di rumah Tante juga sepi hanya mereka berdua dan para asisten rumah tangga" balas Disil.
"Kalian kapan mau syukurannya?" tanya Aditya kepada Aby.
"Bagaimana minggu depan saja sekalian aqiqah. Di rumah kami saja besan?" ucap Kevin.
"Gak usah besan kan jadi ngerepotin, mereka kan tinggal di rumah kami" tolak Aditya.
"Cucu sendiri kok repot. Biar adil, mereka tinggal di rumah kalian tapi syukurannya diadain di rumah kami. Bagaimana?" tanya Kevin.
"Bagaimana By? Kalau Papa dimana pun sama saja. Yang penting anak kamu harus segera di aqiqah" sambut Aditya.
"Iya Pa, kami setuju. Ya kan yank?" tanya Aby kepada Keysha.
"Iya Mas.. " jawab Keysha.
Oeeek.. oeeeek...
"Aku ke kamar dulu ya, waktunya Shaby mimik cucu" pamit Keysha.
.
.
BERSAMBUNG