Find The KEY

Find The KEY
Ep. 8



"Hebat kamu El" puji Rafa saar Ela kembali duduk di dekat mereka di pinggir arena pertandingan.


"Habis tuh cowok awalnya takut banget dekat-dekat aku. Sepele dia karena aku wanita, belum tau dia siapa Ela" jawab Ela.


"Sepertinya dia lihatin kamu terus dari tadi" ucap Rafa.


"Masih penasaran kali, pengen ngalahin Ela" sambut Aby.


"Belum tau dia, kita aja jarang menang kalau bertanding dengan cewek sableng ini" bisik Rafa pada Aby.


Aby dan Rafa saling tersenyum.


"Hei kenapa kalian senyum-senyum? Masih ngelirik cewek itu?" tanya Ela kesal.


Ela seperti mendapatkan saingan, biasanya kedua pria ini hanya milik dia seorang. Perhatian mereka biasanya hanya untuk Ela seorang.


Kakak dan sahabatnya ini selalu setia menemani dan memenuhi semua permintaannya, tak sudi dia kalau ada seorang wanita yang mengalihkan pandangan mereka.


"Kami lagi senyumin kamu kok, kamu lucu saat kesal" hibur Rafa sambil mengelus kepala Ela yang tertutup jilbab.


Sontak Ela senang karena kembali mendapat perhatian dari dua pria terdekatnya.


Pertandingan persahabatan antara dua Dojang sudah selesai, tidak ada pengumuman kalah maupun menang.


Seluruh murid Dojang berdiri dan saling berjabat tangan. Saat sedang berhadapan dengan lawan bertandingnya tadi entah mengapa pria itu melewati Ela bergitu saja, dia tidak mau menjabat tangan Ela.


Sinting nih anak, sudah selesai bertanding masih panas dia. Jabat tangan aja gak mau. Batin Ela merasa kesal.


Setelah selesai latihan Geng ERASADIS berkumpul.


"Hebat kamu hon bisa mengalahkan lawan kamu tadi" puji Disil.


"Hon...hon.. serasa jadi merk kendaraan aku" celetuk Ela.


"Btw lawan kamu tadi cakep lho El, tau gitu aku minta tolong mintain nope nya sama kamu" ucap Ditha.


"Males minta nomor hpnya, cowok pendendam gitu" jawab Ela.


"Pendendam gimana?" tanya Rafa penasaran.


"Pas terakhir kita salaman dia gak mau jabat tangan aku. Apa coba namanya kalau gak dendam?" ucap Ela.


"Eh tapi cewek yang bersama dia tadi cantik lho" sambut Disil.


"Lo merhatiin juga?" sambung Aby.


"Ya iyalah" jawab Disil bangga.


"Dasar pria dimana-mana sama aja, gak bisa lihat cewek bening dikiiiit aja udah pada ijo tuh mata" cibir Ela.


"Iya, kami juga gak kalah bening dari dia" sambut Sintia.


"Kalian itu beda" jawab Rafa.


"Beda dari mana?" jawab Ditha penasaran.


"Halaaah emang benar kata pepatah, gajah di pelupuk mata tak tampak, semut diseberang lautan tampak" ucap Ela.


"Betul sama juga seperti rumput tetangga terlihat jauh lebih hijau dari rumput sendiri" sambung Sintia.


"Kalian itu kan sahabat kami, dari kecil setiap hari kami liat dan sudah kami anggap seperti saudara. Mana mungkin kami selera, makanya tadi aku bilang kalau kalian itu beda" jawab Rafa.


"Tapi bagiku tetap my honey yang paling cuantik sejagad raya" ucap Disil ingin memeluk Ela.


"Heleeeh gombal" elak Ela.


"Yuk ah kita pulang" ajak Aby.


Sebelum pulang mereka menyempatkan makan bakso di dekat Dojang Aby, Ela dan Rafa latihan. Geng ERASADIS terlihat kelaparan.


"Eh eneng datang lagi" sapa si tukang bakso.


"Iya Pak, mau makan bakso laper" jawab Ela.


"Pak saya mau pesan baksonya enam, yang sa.." ucap Ela.


"Maaf neng bisa ditulis aja biar bapak gak lupa. Neng pasti mau nyebutin satu-persatu pesanannya kan? kemarin tiga mangkok aja Bapak gak ingat neng apalagi ini enam mangkok. Dicatat aja bisa gak neng pesanannya" potong si Bapak.


Sontak sahabatnya yang lain tersenyum melihat wajah si Bapak yang kebingungan. Untung aja si Bapak sempat motong perkataan Ela. Kalau saja Ela tidak di cegah pasti udah panjang itu ocehannya menyebutkan pesanan mereka satu persatu.


"Sini hon, biar babang aja yang tulis pesanan kita" ucap Disil.


"Berhenti memanggilku Hon, Disiiil. Aku bukan merk kendaraan. Lagian sok banget lo nyebut-nyebut babang, secara umur gua lebih tua beberapa bulan dari elo" jawab Ela kesal.


"Iya deh Mbak Hon" jawab Disil.


"Disiiiiil" teriak Ela kesal.


"Udah-udah... sekarang kita mau makan apa mau liatin kalian berantem?" Rafa menengahi.


"Iya, kalau mau berantem kenapa gak di Dojang aja tadi sekalian bertanding?" sambung Aby.


"Mana aku menang By, aku gak suka taekwondo. Kalau aku mau udah dari dulu aku ikut berlatih sama kalian. Aku kapok pernah sekali ikut latihan sama kalian waktu kecil, satu malam aku gak bisa tidur karena seluruh badanku pegal-pegal semua" jawab Disil.


"Ya gimana gak pegal, elo sih sok kejagoan. Baru sekali latihan udah berani-beraninya ngajak Ela bertanding, ya habislah lo di hajar sama dia" ledek Aby.


"Namanya usaha pengen menaklukkan my honey bunny sweety..." ucap Disil.


"Cih... gelay gua" jawab Ela.


"Udah neng pesanannya?" tanya Tukang bakso.


"Eh udah nih Pak" jawab Sintia sambil menyerahkan catatan pesanan mereka.


Wajah tukang bakso langsung mengkerut melihat daftar pesanan mereka.


Ternyata bukan tiga orang ini saja yang aneh pesanannya, tiga teman mereka lainnya juga gak kalah anehnya. Untung gak ada yang pesan bakso gak pakai mangkok. Mau di tuang kemana bakso beserta rekan-rekannya. Batin si tukang bakso sambil menelan salivanya.


"Apa sulit soalnya Pak?" tanya Sintia.


"Soal apa Sin?" tanya Ditha bingung.


"Tuh si Bapak baca daftar pesanan kita seperti lagi baca soal ujian, wajahnya kucel banget" jawab Sintia.


Sontak Disil, Ela dan Rafa tertawa, sedangkan Aby hanya santai melihat tingkah teman-temannya.


Bapak Tukang Bakso segera membuat enam mangkok pesanan mereka yang beraneka ragam. Ada yang minta gak pakai bawang goreng, gak pakai daun sop, ada yang gak pakai kecap, gak pakai saos bahkan ada yang minta baksonya udah dibelah jadi empat.


Gak kebayangkan yang mesan begitu malas banget makan bakso bulat. Tukang Bakso sampai menggelengkan kepala membaca pesanan mereka satu persatu.


Mau ditolak katanya nolak rezeki, mending diikutin aja deh, mudah-mudahan mereka jadi pelanggan tetap disini. Doa Tukang Bakso.


"Pak catatannya mending disimpan aja, siapa tau besok-besok mereka datang lagi makan bakso kemari" bisik istri si Tukang Bakso memberi ide.


"Iya juga ya bu, atau besok sekalian Bapak laminating aja kali ya bu biar gak rusak trus Bapak tempel di gerobak bakso kita" jawab si Bapak dengan berbisik juga.


"Benar juga tuh Pak, itung-itung tolak bala. Siapa tau bisa bawa rezeki Pak" sambung istrinya.


Ini yang aneh yang mesan bakso apa si tukang baksonya ya?


Sepertinya authornya nih yang aneh 🤣🤣


.


.


BERSAMBUNG