
Setelah Ela dan Fajar keluar dari ruangan pemeriksaan kini giliran pasien selanjutnya.
Sebelum memanggil nama pasien selanjutnya terlebih dahulu sang perawat melirik ke arah Disil lagi.
"Kenapa Sus, ketagihan mendengar suara saya?" goda Perawat.
"Maaaas" panggil Ditha mengingatkan.
"Panggilan ke empat" panggil Disil.
"Ibu Sintia Anggara" panggil Perawat.
"Ya Sus, itu istri saya" jawab Ryza.
"Guys...Aku kira Ryza emang udah mau gantian sama Sintia, soalnya dia udah ngerasa gimana jadi wanita hamil. Sudah lebih menjiwai" ledek Disil.
Mendengar perkataan Disil yang lain langsung tertawa karena memang Ryza yang mengalami mabok darat hamil mudanya Sintia.
"Ih Bambang sirik amaaaat, aku doain semoga anak kedua kamu yang mabok darat" ucap Sintia.
"Aamiin" jawab yang lain berjamaaah.
"Waaah gawat ini kalau kalian semua mengaminkan" jawab Disil takut.
"Rasain.. Yuk sayang" Ajak Ryza yang lebih dulu berdiri dan menarik tangan istrinya lembut.
Ryza dan Sintia masuk ke ruang pemeriksaan.
"Selamat sore Ibu Sintia Anggara ya?" sapa Dokter ramah.
"Iya Dok" jawab Sintia.
"Ini baru kunjungan pertama ya?" tanya Dokter.
"Iya Dok" jawab Sintia singkat.
"Baik, ada yang bisa saya bantu Bu?" Dokter bertanya.
"Saya sudah test pack beberapa hari yang lalu Dok dan hasilnya positif hamil" ungkap Sintia.
"Alhamdulillah, kapan haid terakhir bu?" tanya Dokter lagi.
"Harusnya minggu lalu saya sudah datang bulan" jawab Sintia.
"Berartinya kehamilan Ibu usianya sudah lima bulan ya" balas dokter sambil mencatat penjelasan Sintia.
"Yuk Bu naik ke atas tempat tidur" ajak Dokter.
Sintia mengikuti intruksi Dokter dan membuka pakaian di bagian perut. Perawat mengoleskan gel dan Dokter segera meletakkan alatnya.
Ryza dan Sintia langsung melihat ke arah layar monitor dengan sangat antusias.
"Bener nih Ibu hamil, lihat Pak Bu ini bayi kalian. Masih kecil sekali namanya juga baru lima minggu" ucap Dokter.
"Alhamdulillah" jawab Ryza.
"Ada keluhan Bu selama hamil?" tanya Dokter lembut.
"Saya gak ada Dok" jawab Sintia.
"Wah hebat donk Ibu. Biasanya wanita hamil muda mengalami mual dan muntah di tiga bulan pertama kehamilannya bahkan ada yang lebih malah" ucap Dokter menjelaskan.
"Yang mengalami itu saya Dok, bahkan beberapa hari yang lalu saya sampai di rawat di rumah sakit karena pingsan dan tubuh saya lemas kurang tenaga akibat mual dan muntah - muntah" ungkap Ryza.
"Waaaah itu namanya sindrom kehamilan simpatik Pak. Bapak cinta banget ya sama Ibunya sampai rela berbagi tugas" puji Dokter sambil tersenyum ramah.
"Gak apa - apa deh Dok, asalkan istri dan anak - anak saya sehat" jawab Ryza.
"InsyaAllah bayi kalian sehat" ucap Dokter.
"Bayinya ada berapa Dok?" tanya Ryza penasaran.
"Satu Pak, kenapa Bapak pengen bayinya lebih dari satu seperti Ibu Ariella dan Bapak Fajar ya?" Dokter balik bertanya.
"Ya siapa tau Dok" jawab Ryza.
Dokter tersenyum.
"Gak apa - apa ya Pak bayi di dalam cuma satu, jangan kecewa yang penting sehat kan" ucap sang Dokter.
"Iya Dok, saya gak kecewa kok. Malah sangat senang Allah sudah menitipkan bayi mungil itu di rahim istri saya" balas Ryza.
"Syukurlah kalau begitu, sudah selesai Bu" ujar Dokter.
Perawat membersihkan gel yang ada di perut Sintia. Kemudian mereka kembali ke kursi masing-masing.
"Ini saya tuliskan resep untuk Ibu ya, isinya vitamin dan penguat kandungan. Diawal kehamilan biasanya sangat rawan jadi kita bantu takut terjadi hal - hal yang tidak di inginkan. Dan Ibu di awal kehamilan ini jangan terlalu banyak kerja dan banyak fikiran. Boleh olahraga tapi jangan yang terlalu keras ya. Sementara hindari nenas dan durian. Karena makanan tersebut sedikit berbahaya untuk wanita hamil muda" Dokter menjelaskan.
"Iya Dok, terimakasih. Akan saya ingat" jawab Sintia.
"Untuk saya ada tidak Dok resepnya?" tanya Ryza.
"Terimakasih Dok" balas Ryza.
Setelah Dokter selesai menulis resep Ryza dan Sintia undur diri keluar.
"Sus pasien terakhir ya setelah itu kita istirahat shalat maghrib" perintah Dokter.
"Baik Dok" jawab Perawat yang langsung berjalan keluar menyusul Ryza dan Sintia yang barusan saja keluar dari ruang pemeriksaan.
"Terakhir" ucap Disil begitu melihat Perawat keluar dari ruangan Dokter. Membuat Perawat tersebut tersenyum malu - malu.
"Ibu Catherine Wolter" panggil Perawat.
"Yup, saya Sus" jawab Catherine.
"Yuk Mas" ajak Catherine dan Rafa segera menyambutnya. Mereka jalan bergandengan masuk ke dalam ruangan pemeriksaan.
"Selamat sore Ibu, Bapak" sapa Dokter yang sedikit terkejut melihat pasiennya adalah wanita bule.
"Sore Dok" jawab Catherine dan Rafa kompak.
"Ibu dan Bapak masih teman - teman dari Ibu Keysha, Ditha, Ela dan Sintia?" tanya Dokter penasaran.
"Iya Dok, mereka semua sahabat kami dan kami adalah pasangan tterakhir yang ingin memeriksakan kehamilan istri saya" jawab Rafa.
"Waaah hebat banget persahabatannya bisa kompakan gitu ya sampai hamilnya pun bisa barengan. Pasti seru" puji sang Dokter.
"Silahkan duduk Pak, Bu" ucap Perawat.
Catherine dan Rafa duduk di kursi tepat di depan meja dokter.
"Silahkan Pak, Bu, ada yang bisa saya bantu?" tanya Dokter ramah.
"Sabtu kemarin saya test kehamilan Dok pakai test pack dan hasilnya alhamdulillah positif" lapor Catherine.
"Alhamdulillah. Kapan Ibu terakhir datang bulan?" tanya Dokter.
"Lima minggu yang lalu" jawab Catherine.
"Berarti usia kandungan Ibu lima minggu ya, sama donk dengan Ibu Sintia" balas Dokter.
"Iya, seingat saya kemarin kami datang bulannya juga barengan" sambung Catherine.
"Ibu hebat banget ya bahasa Indonesianya bisa lancar gitu" puji sang Perawat yang dari tadi udah penasaran pengen bertanya.
"Enam tahun Sus belajarnya sama Ela. Dia kuliah di London trus pulang ke Indonesia saya di ajak eh ketemu sama suami saya ini yang tak lain adalah sahabat dari kecilnya" ungkap Catherine.
"Kecantol cowok Indonesia ya Bu, jadi betah tinggal di Indonesia" sambut Dokter sambil tersenyum.
"Yah begitulah Dok" balas Catherine dengan senyum malu - malunya.
"Mari Bu kita periksa" ajak Dokter.
Catherine naik ke atas tempat tidur untuk di periksa. Setelah perawat mengoleskan gel ke perut Catherine dokter mulai melakukan pemeriksaan.
"Alhamdulillah Bu, Pak ini bayi kalian" Dokter melingkari penampakan kecil di layar monitor.
"Mas anak kita" air mata Catherine kembali mengalir.
"Iya sayang, kamu senang?" tanya Rafa.
Catherine menganggukkan kepalanya.
"Ibu ada keluhan selama hamil?" tanya Dokter.
"Gak ada Dok, alhamdulillah gak ada mual, makan juga enak" jawab Catherine.
"Wah alhamdulillah ya Bu, enak sekali hamilnya" puji Dokter.
"Tapi dia jadi cengeng dok, sebentar - sebentar mewek, lama lagi dieminnya. Padahal sebelumnya gak gitu" Rafa ikut bercerita.
"Biasa maklum wanita hamil perasaannya lebih sensitif, Bapak harus banyak - banyak bersabar ya" jawab Dokter.
"Jadi Dok anak kami laki - laki atau perempuan?" tanya Rafa polos.
"Maaaaaaas"
.
.
BERSAMBUNG
Hai readers.. udah lama gak nyapa kalian..
Selamat hari libur tapi tetap semangat ya baca cerita saya, jangan lupa like dan komentnya agar saya lebih semangat tulis ceritanya.
Yang mau berbaik hati kasi hadiah bunga, kopi dan vote juga sangat boleh. Sayyya syuka itu 🥰🥰
Terimakasih sudah menjadi pembaca setia novel - novel saya 🙇♀️🙇♀️