
Seminggu sudah Fajar kembali ke London, hari - hari Ela terasa sangat sepi. Tidak ada pesan dari Fajar yang masuk menanyakan kabarnya atau menggodanya.
Ela merasa sangat rindu tapi dia malu untuk memulai duluan. Walaupun Ela pemberani tapi urusan cinta dan perasaan Ela sangat sensitif.
Dia lebih memilih diam dan terluka dari pada harus mengungkapkan perasaannya. Seperti perasaannya pada Rafa dulu.
Weekend ini Ela melepas rindu dengan Fajar. Dia berencana akan berkunjung ke taman belakang hotel untuk melukis.
Pagi - pagi setelah selesai sarapan pagi Ela membawa peralatan melukisnya ke dalam mobil. Alexa dan Aditya yang memperhatikan anak gadisnya seminggu ini tidak bersemangat tiba - tiba terkejut melihat wajah cerah Ela pagi ini.
"Kamu mau kemana sayang?" tanya Alexa.
"Aku mau melukis Ma" jawab Ela.
"Dari semua yang kamu bawa Mama tau sayang kalau kamu akan pergi melukis tanpa kamu bilang. Mama cuma mau nanya kamu mau kemana melukisnya?" tanya Alexa dengan lembut.
"Mau ke taman belakang hotel tempat Kak Aby dan Kak Key nikah Ma" jawab Ela dengan cuek.
"Biarin aja Ma, paling juga mau melepaskan kerinduannya sama Fajar karena sudah seminggu di tinggal ke London?" sambut Aditya.
Ela sangat terkejut mendengar perkataan Papanya.
"Papa kok ngomong gitu?" tanya Ela penasaran.
"Apa yang Papa dan Mama gak tau tentang kamu sayang? Kamu aja yang gak pernah mau cerita terbuka sama Papa dan Mama tentang perasaan kamu" jawab Aditya.
"Cerita apa?" tanya Ela pura - pura tidak mengerti.
"Dulu waktu anak Mama dan Papa ini patah hati sampai harus terbang ke London Mama dan Papa taunya karena tidak sengaja mendengar pembicaraan kamu dan Aby di kamar. Trus untuk yang kedua kalinya anak Mama dan Papa ini jatuh cinta kami juga harus mendengarnya tanpa sengaja saat di hotel menunggu kamu pulang yang tiba - tiba saja menghilang dari pesta" jawab Alexa.
"Jadi Mama dan Papa sudah tau semuanya?" tanya Ela tak percaya.
"Bukannya sudah Papa bilang tadi, apa yang tidak kami ketahui tentang kamu sayaaang" ulang Aditya.
"Semuanya?" tanya Ela.
Alexa dan Aditya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Iya semuanya" jawab Alexa.
"Dulu aku suka sama Rafa?" tanya Ela lagi.
"Iya" jawab Aditya singkat
"Dan sekarang sukanya sama Fajar" sambung Alexa.
"Mamaaaa" ucap Ela.
"Elaaaa" balas Alexa.
"Iiiiih Mamaaaa" Alexa berlari meraih Mamanya dan memeluknya.
"Anak Mama sedang jatuh cinta rupanya" goda Alexa.
"Kamu itu sama persis seperti Mama kamu, pas ada orangnya sok jual mahal, giliran orangnya pergi baru sadar. Ibarat lagu dangdut kalau sudah tiada baru terasaaaa" ledek Aditya.
"Iiiiiih Papa" ucap Ela dan Alexa bersamaaan.
Aditya memeluk dua wanita yang paling dia sayangi dalam hidup ini.
"Kamu sekarang sudah dewasa sayang. Suka sama seseorang itu wajar jadi jangan malu. Adakalanya mengungkapkan perasaan itu penting dari pada di pendam bisa jadi bisul kan bahaya" goda Aditya.
"Jelek amat perumpamaannya Pa. Jangn bisul ah" sambut Alexa.
"Yah begitulah maksud Papa. Lebih baik di ungkapkan biar jelas. Diterima ya syukur di tolak ya harus terima dengan lapang dada yang penting jelas jawabannya dari pada di simpan terus sampai kapanpun jadi penasaran. Ujung - ujungnya kamu sendiri yang merasakan sakit" nasehat Aditya.
"Ingat kisah Rasulullah? Siti Khadijahlah yang pertama kali mengirim utusan untuk melamar Rasul. Walau dia seorang perempuan dia tidak malu mengungkapkan isi hatinya" sambung Aditya.
Ela terdiam ketika mendengar nasehat Papanya.
"Semua ada di tangan kamu, apapun yang kamu lakukan selama itu untuk kebaikan dan menuju jalan kebaikan Papa Mama akan mendukung kamu" ucap Alexa.
"Iya, hati - hati ya sayang. Semoga secepatnya ketemu Fajar ya" goda Aditya.
"Aaaah.. Papaaaaa" teriak Ela mencubit lengan Papanya.
"Udah ah. Ela pergi ya Ma, Pa. Kalau si Keket nyariin bilang Ela melukis ke teman hotel. Daaaa.." Ela segera berlari menuju mobilnya dan melaju ke arah hotel.
Tak sampai satu jam Ela sudah sampai ke Hotel. Dia segera berjalan menuju taman belakang hotel dan membawa semua peralatan melukisnya.
Sampailah Ela di taman dan di pinggir danau buatan. Ela menatap taman dengan tatapan sedih, dia teringat saat dia dan Fajar berjalan di taman ini.
Hey Pria Menyebalkan, bukannya kamu berjanji akan menemaniku melukis di sini? Mana janji kamu? Kamu lama banget di Lodon. Katanya kapan pun aku mau datang ke sini kamu akan bersedia menemaniku. Tapi saat ini aku sendiri yang ada di sini.
Ela menarik nafas panjang. Karena moodnya yang kurang baik beberapa kali dia merobek kertas gambarnya karena dia salah memainkan kuasnya.
Huh kenapa salah terus sih. Umpat Ela. Akhirnya Ela menenangkan diri dan mulai menggambar lagi. Ela menatap ke arah danau buatan yang sengaja di rancang di dekat taman untuk menambah ke asrian pemandangan taman di belakang hotel.
Suasananya sangat tenang, kicau burung dan gemercik air dan sepasang angsa yang berenang ditambah wanra warni bunga - bunga di sekitar taman menambah cantiknya pemandangan di sini.
Ela mulai fokus melukis satu demi satu bagian - bagian taman ini. Ela terlihat mulai serius menggambar. Sehingga dia tidak perduli dengan sekelilingnya.
Kuas gambar Ela mulai menari - nari di atas kertas gambaranya menambah hidupnya lukisan Ela. Lukisan yang penuh warna.
Tanpa Ela sadari ada seseorang yang sedang memperhatikannya dengan seksama.
cekrek... cekrek...
Orang tersebut mengambil beberapa foto Ela yang sedang asik melukis. Kemudian dia melihat hasil jepretannya dan tersenyum.
Dia terlihat puas dengan hasil jepretannya. Kemudian kembali memperhatikan wanita yang sedang melukis itu dari jauh.
Satu jam berlalu Ela telah menyelesaikan lukisannya.
"Akhirnya selesai juga...." ucapnya senang.
"Hey angsa buat orang iri aja. Ngapain kalian bermesraan di situ" Ocehnya sendiri.
"Hey... kalian jangan berciuman di situ. Ada aku hey.. aku kan belum cukup umur" teriak Ela sambil menutup matanya dengan kedua matanya.
Tanpa dia sadari wajahnya terkena cat dari lukisan yang menempel di tangannya membuat wajah Ela jadi penuh dengan warna warni.
Seseorang yang dari satu jam tadi sudah memperhatikan Ela yang sedang melukis jadi tertawa karena mendengar ocehan Ela barusan.
Sudah besar begitu masih ngaku belum cukup umur. Ucap sesorang itu. Dia kemudian berjalan menuju ke arah Ela dengan perlahan - lahan.
Begitu dia ada di dekat Ela seseorang itu mencoba memegang pundak Ela.
Ela yang terkejut secara refleks memutar dan memelintir tangan orang tersebut kemudian mengunci tangannya ke leher orang tersebut.
Alangkah terkejutnya Ela ketika mengetahui siapa orang yang sedang di kunci pergerakan tubuhnya.
"Kamu....."
.
.
BERSAMBUNG
Selamat berbuka buat para readers yang menjalankan ibadah puasa.
Jangan minta up terus donk, pagi saya kerja, sore merangkap ibu rumah tangga, ini juga bulan puasa mau ibadah dan persiapan lebaran masak kue lebaran 😜
Kueku gosong karena keasikan ngetik 🤣🤣
Harap maklum yaaah.. sebisa mungkin aku up setiap hari karena pada dasarnya aku juga gak suka klo lama2 up. Kalau baca novel upnya lama rasanya gimanaaa gitu sampai lupa sama cerita sebelumnya.
Sabar ya.. ini adalah cobaan 😁