
Setelah puas menyusu Fathir tertidur dalam dekapan Ditha. Perlahan-lahan Ditha meletakkan Fathir ke dalam bocah bayi.
Kini Fathir sudah dijawab oleh Lidya dan Mrs. Wolter di kamar rawat inap yang sudah disediakan untuk Catherine kalau dia sadar nanti.
*****
Di ruang ICU
Tit... Tit... Tit...
Bunyi alat kedokter yang ada di samping tempat tidur Catherine. Dari tadi malam semuanya menunjukkan tanda - tanda yang baik dan normal hanya saja yang punya badan masih terlelap dan tersesat dalam mimpi panjangnya.
"Maaas Rafaaaa... tunggu aku. Aku ingin pulaaaaaang" teriak Catherine di alam mimpi.
Air matanya tanpa terasa menetes dari sudut matanya.
Tepat pukul sebelas, waktu jenguk hanya satu jam dan yang boleh masuk hanya dua orang. Kalau mau melihat harus bergantian dan harus menggunakan pakaian khusus.
Rafa mempersilahkan Mommy dan Daddy Catherine lebih dahulu karena mereka pasti sudah tidak sabar. Dia kan tadi malam sudah sempat melihat Catherine.
Mr. dan Mrs. Wolter sudah masuk ke dalam ruang ICU.
"Honeeey Mommy datang.. Kamu harus kuat sayaaang, kamu tidak sendiri. Semua keluarga teman - temanmu menunggu di luar. Mereka sangat menyayangi kamu" Air mata Mrs. Wolter mengalir deras.
"Sweetheart... Apakah kamu sangat mengantuk sehingga kamu tidak mau membuka mata kamu? Daddy datang ke Indonesia untuk menagih janji kamu. Bukannya kamu berjanji akan membawa kami ke Bali" ujar Mr. Wolter.
"Honeeeey... bangun sayaaang. Apakah kamu tidak ingin melihat Fathir. Putra kamu nak? Dia sangat tampan, persis seperti kamu, hidungnya, kulitnya. Hanya mata dan alisnya yang seperti Rafa. Dia bayi yang sempurna sayang" sambung Mrs. Wolter.
"Sebentar lagi suami kamu akan kesini. Dia sedang bersiap - siap. Dengarlah suaranya nak, dia sangat mencintaimu. Dia benar-benar rapuh tanpa dirimu di sisinya. Daddy melihat dia benar-benar pria yang bertanggungjawab dan penuh kasih sayang. Tak salah Daddy menyerahkanmu kepadanya. Apakah kamu tidak mau bertemu suami kamu?" tanya Mr. Wolter.
Air mata Catherine kembali menetes
Tit.... Tit....
"Kami tidak bisa belama-lama sayang, mereka yang diluar sana juga ingin melihat kamu. Waktu kami hanya sebentar. Nanti sore kami datang lagi ya.." ujar Mrs. Wolter.
"Jangan terlalu nyenyak tidurnya sayaaang, ingatlah kami di sini. Kamu jangan terlalu jauh bermimpi. Daddy takut kamu lupa jalan pulang" ujar Mr. Wolter.
"Daaah honey... kami pergi dulu ya" Mrs. Wolter dan Mr. Wolter mencium kening Catherine bergantian.
Tak lama masuk Rafa.
"Hai My Cat, apakah tidur kamu nyenyak? Pasti sangat nyenyak sampai kamu tidak mau terbangun. Sayang pleaseeee.... aku menunggu kamu di sini. Jangan terlalu lama mimpinya ya, Fathir membutuhkan kamu. Kami kangen kamu sayaaang. Kangen senandung kamu, kangen tawa kamu dan kangen marah kamu" Rafa menyeka airmatanya sendiri.
"Kamu tau sayaaang, Fathir kini tidak sendiri. Dia punya Ibu Susu dan saudara susuan. Aku meminta Ditha untuk menyusui Fathir" ucap Rafa semangat.
"Hahaaa.. lucu ya, Sitha tidak bisa tidur tanpa senandung dangdut kamu. Kini Fathir menjadi saudara susuan Sitha. Mungkin takdir mereka menjadi saudara sayaang. Cepatlah bangun, biar kita bisa mengajarkan Fathir untuk bersaudara dengan Sitha. Aku yakin mereka akan saling meyayangi sama seperti baby tripletnya Ela dan Fajar" ungkap Rafa mencoba memancing kesadaran istrinya.
"Saat ini terlalu banyak yang ingin bertemu kamu. Aku janji, kalau nanti sore sepi. Aku akan meminta izin kepada Dokter untuk membawa Fathir kepada kamu di sini. Pasti kamu senang kan, Fathir juga sangat senang bertemu dengan kamu" ujar Rafa tersenyum.
Tiba - tiba Rafa melihat jari - jari tangan Catherine bergerak.
"Sayaaang... sayang... kamu banguuun...?" Rafa segera menekan tombol urgent di dekat tempat tidur Catherine.
Tak lama datang seorang dokter dan perawat mendekat ke arah Catherine berbaring.
"Ta.. tangan istri saya bergerak Dok" ungkap Rafa penuh semangat.
"Oh ya.. Bagus Pak, saya rasa Bapak berhasil merangsang daya sadar Ibu Catherine. Bapak ingat terakhir Bapak bicara tentang apa?" tanya Dokter ingin tau.
"Saya bilang saya akan membawa anak kami kepadanya? Apakah boleh Dok?" tanya Rafa.
"Nanti saya akan bicarakan dengan dokter anak terlebih dahulu ya Pak. Kalaupun di izinkan bukan saat ini. Mungkin saat waktu jenguk berikutnya" jawab Sang Dokter.
"Gak apa- apa Dok yang penting istri saya bisa menunjukkan tanda - tanda kemajuan" balas Rafa lebih lega sedikit.
"Berarti rangsangan Ibu adalah anaknya ya Pak, biar saya diskusikan dengan Dokter anak. Ibu sudah menunjukkan kemajuan yang pesat" sambung Dokter.
"Alhamdulillah My Caaaaat" Rafa mencium tangan istrinya yang tadi sempat bergerak.
"Kami keluar dulu Pak, silahkan lanjutkan kembali menjenguk Ibu Catherine" ujar dokter.
"Baik Dok, terimakasih" balas Rafa.
Rafa keluar ruang ICU dan dengan tergesa-gesa memanggil Ditha.
"Dis, aku izin masuk ke dalam bersama Ditha ya. Ada yang mau kami bicarakan dengan Ditha kepada Catherine" pinta Rafa.
Ditha masuk bersama Disil.
"Ada apa Raf?" tanya Ditha.
"Tadi aku bicara tentang Fathir, Catherine menunjukkan reaksi. Tangannya bergerak" lapor Rafa.
"Oh ya?" tanya Ditha takjub.
"Kamu cerita tentang Fathir juga ya. Aku mau lihat lagi reaksi My Cat" jawab Rafa.
"Oke Raf, aku coba" balas Ditha.
"Hay Ket, ini aku Ditha, Mamanya Sintia anak asuh kamu. Kalau gak dengar suara kamu bernyanyi Sitha tidak akan bisa tidur. Kini takdirku berganti Ket, sekarang aku yang menjadi Ibu Susu Fathir anak kamu. Fathir tampan banget Ket, badannya gembul, kulitnya putih seperti kamu. Nyusunya jago banget. Baru satu hari umurnya, daya isapnya kuat banget. Kamu gak pengen banget Ket, lihat dan nyusuin Fathir sendiri?" tanya Ditha.
Ditha tak bisa menahan air matanya. Tapi dia berusaha tidak terisak agar suaranya jelas terdengar Catherine.
"Bangun Ket, Fathir dan Sitha membutuhkan kamu. Kini mereka sudah bersaudara. Saudara asuh dan saudara satu susuan. Nanti kalau kamu bangun, setuju gak kalau Sitha juga panggil kamu Mommy dan Fathir memanggilku Mama? Seru kan Ket kita langsung punya anak dua? Bisa saling berbagi" ucap Ditha sambil menahan isak tangisnya.
Tangan Catherine bergerak lagi. Kali ini bukan hanya satu jari tapi sudah mulai satu... dua.. tiga jari.
Rafa terlihat sangat senang dengan kemajuan Catherine. Dia memberi kode kepada Ditha dengan menunjuk kearah tangan Catherine yang bergerak.
Ditha terkejut dan hampir menjerit, untung dia segera menutup mulutnya. Mata Ditha melotot dan bibirnya tersenyum bahagia.
Benar kata Rafa, kalau dipancing bicara tentang Fathir, Catherine akan memberikan reaksi. Ya AllaaaaH... berilah kesembuhan untuk Catherine... Anakku dan anaknya sangat membutuhkan kehadirannya. Doa Ditha tulus dalam hati.
.
.
BERSAMBUNG