
Di tempat lain...
Ryza sedang dalam perjalanan mengantarkan Sintia pulang ke rumahnya.
"Aku sangat senang hari ini Sin bisa mengetahui kehebatan Geng kalian dan juga bisa mengetahui satu lagi rahasia tentang kamu" ucap Ryza memulai pembicaraan.
"Rahasia apa, aku gak punya rahasia apa-apa" jawab Sintia.
"Ada dan aku baru mengetahuinya hari ini. Ternyata kamu pinter banget nyanyi. Suara kamu bagus tadi saat bernyanyi" puji Ryza.
"Biasa aja ah Ry" balas Sintia malu.
"Sin gak terasa ya sudah lama kita saling kenal. Aku sudah tau banyak tentang pribadi kamu dan keluarga kamu. Kamu juga aku rasa sama. Secara tidak langsung karena hubungan Aby dan Keysha keluarga kita bisa saling kenal" ucap Ryza.
Ryza menepikan mobilnya, dia tidak bisa lagi menahan perasaannya. Saat ini juga dia harus mengungkapkan isi hatinya kepada Sintia.
Jantung Sintia berdetak semakin kencang, entah mengapa Sintia mulai tau kemana arah pembicaraan Ryza malam ini.
"Sin semakin aku mengenal kamu aku merasakan kecocokan antara kita. Kamu berhasil mengetuk hatiku yang sejak dulu merasa sepi Sin. Kamu membuat hari-hariku kini lebih berwarna. Setiap saat aku selalu memikirkan kamu dan tidak ingin jauh darimu. Beberapa kali aku kembali ke London tapi aku tidak bisa melupakan kamu Sin, aku semakin merindukanmu. Maaf aku bukanlah orang yang romantis, aku tidak pintar mencari tempat yang menciptakan suasana romantis. Aku selalu melakukan apa yang saat ini ada dalam fikirkanku. Aku tidak bisa menyimpannya lagi Sin. Aku menyukaimu, maukah kamu menerima perasaanku?" ungkap Ryza.
Sintia terdiam, dia tidak menyangka dalam keadaan dan situasi seperti ini Ryza akan menyatakan perasaannya.
"Apa aku terlalu terburu-buru Sin?" Tanya Ryza lembut.
Sintia menggelengkan kepalanya.
"Kamu tidak mau menerima perasaanku Sin?" tanya Ryza lagi.
"Ng.... aaku... aku juga merasakan yang sama Ry" ucap Sintia lalu dia tertunduk, malu.
"Terimakasih Ya Allah" Ryza mengusap wajahnya dengan kedua telapak tanggannya.
"Terimakasih Sintia, aku janji aku akan segera melamar kamu. Dan aku pastikan kamu tidak pernah melupakan moment itu Sin" ucap Ryza bahagia.
"Saat itu aku ingin kamu menjawab kembali pertanyaan aku tadi ya Sin dengan segenap perasaan yang kamu rasakan" Pinta Ryza.
"Iya Ry, aku akan menunggu kamu" jawab Sintia.
"Alhamdulillah, aku senang sekali Sin. Akhirnya nanti malam aku bisa tidur dengan tenang dan bermimpi indah" ucap Ryza menggebu-gebu.
Sintia tersenyum melihat tingkah Ryza seperti itu.
"Udah ah, sudah mau maghrib nanti shalat maghribnya ketinggalan" balas Sintia.
"Beres calon makmum. Babang tamfan siap menjadi imam kamu kelak" jawab Ryza sambil menggoda Sintia.
Wajah Sintia semakin bersemu merah.
Ryza kembali menghidupkan mobilnya kemudian melaju menuju rumah Sintia dengan hati yang senang karena perasaannya sudah berbalas.
Dia akan secepatnya mempersiapkan lamaran yang romantis untuk kekasih hatinya itu.
Bye...bye.. jomblo. Aku akan segera menikah. Teriaknya dalam hati.
*****
Sementara itu di mobilnya Rafa.
"Raf" panggil Ela.
"Hemmm" jawab Rafa sambil serius menjalankan mobilnya.
"Benar apa yang Om Kevin katakan tadi saat di pesta?" tanya Ela.
Deg... jantung Rafa berdenyut. Akhirnya tiba juga saat dimana dia harus mengatakan ini pada Ela. Bukan Rafa ingin merahasiakan statusnya dari Ela tapi dia masih ragu dengan perasaannya sendiri.
Apakah ini perasaan yang nyata atau hanya rasa rindu karena telah lama tidak bertemu atau malah ini hanya pelarian dari hubungannya dengan Lisa. Rafa tidak ingin dia terbawa suasana karena teman-temannya sepertinya semua sudah menemukan pilihan mereka masing-masing dan yang tersisa hanya mereka berdua.
"Yang mana El?" tanya Rafa pura-pura tidak mengerti.
"Kamu gak usah pura-pura Raf, aku yakin kamu tau kemana arah pertanyaanku?" desak Ela.
"Aku beneran gak tau El" elak Rafa lagi
"Ck... itu lho perkataan Om Kevin yang mengatakan kalau Lisa itu mantan pacar kamu. Berarti kamu sudah putus sama Lisa? Kapan? Mengapa?" tanya Ela tak sabar.
"Satu -satu donk El tanyanya" goda Rafa.
"Okey... Kamu beneran sudah putus dari Lisa?" tanya Ela.
"Iya.." jawab Rafa singkat.
"Tiga bulan yang lalu" jawab Rafa lagi
"Kenapa putus?" tanya Ela.
"Kami sudah tidak ada kecocokan lagi El" jawab Rafa berusaha sesantai mungkin.
"Tujuh tahun jawabnya hanya itu Raf? Aku gak percaya apa yang kamu bilang. Aku tau kamu bukan laki-laki yang seperti itu Raf. Pasti karena ada sesuatu kan?" desak Ela.
"Gak ada El cuma karena itu" Rafa masih fokus melihat ke depan.
"Hey lihat aku. Tatap mataku, katakan apa alasan kalian putus?" tanya Ela.
"Aku tau kamu Raf, kamu lebih memilih disakiti dari pada menyakiti. Aku kenal kamu sejak lahir Raf?" tanya Ela.
Rafa menarik nafasnya panjang tepat saat lampu lalu lintas berwarna merah. Rafa memandang ke arah Ela, dan menatap matanya.
"Haaaah baiklah... Lisa menyukai orang lain" jawab Rafa.
"Who?" tanya Ela tak percaya.
"Sudahlah El tak perlu kamu pertanyakan siapa orang yang Lisa sukai. Sekarang semua sudah jelas, tidak ada lagi kecocokan antara kami berdua. Tidak ada lagi yang bisa dipertahankan" pinta Rafa.
"Sekarang aku tanya pada kamu. Kamu masih menyukainya Raf?" tanya Ela.
"Untuk apa mencintai seseorang yang sudah tidak menyukai kita lagi El? Untuk apa dipertahankan?" tanya Rafa.
"Yah tapi kan kamu masih bisa memperjuangkannya Raf, tujuh tahun adalah waktu yang lama untuk melupakan semua kenangan kalian bersama-sama. Masak iya bisa hilang begitu saja?" tanya Ela tak percaya.
"Bisa saja El, mungkin dia bosan dan aku juga lelah" jawab Rafa.
"Tapi aku tau kamu Raf, I know you?" ucap Ela.
"Manusia bisa saja berubah El. Banyak faktor yang bisa merubah perasaan seseorang. Karena waktu, karena sudah terbiasa dan bisa jadi karena ada orang lain yang bisa merubahnya. Tidak ada yang tau kapan hatinya akan berbalik El" ucap Rafa meyakinkan.
"Tapi Raf" ucap Ela
"Sudahlah El, gak usah di bahas lagi. Sudah hampir maghrib. Kita pulang dan lupakan pembicaraan ini. Aku dan Lisa sudah selesai. Oke?" pinta Rafa.
Lampu lalu lintas sudah berganti hijau, Rafa melajukan mobilnya lagi menuju kompleks perumahan mereka.
"Ada yang bisa aku bantu Raf untuk kalian?" tanya Ela lagi.
Dia merasa masih mempunyai beban pada hubungan Rafa dan Lisa. Ela tau bagaimana dulu Rafa menyukai Lisa, mengejarnya saat masih SMU dan Ela yang membantu semua usaha Rafa itu. Ela tau Rafa sangat bahagia saat itu.
Dan sekarang Ela ingin Rafa tetap bahagia walau tidak bersama dengannya. Ela ingin membantu Rafa dan Lisa untuk memperbaiki hubungan mereka. Mumpung baru tiga bulan, masih belum terlalu lama.
"Tidak ada El, tidak ada yang perlu kamu bantu. Ini sudah menjadi keputusanku. Biarlah Lisa mencari kebahagiaannya pada orang lain, bukan padaku" ucap Rafa.
Ela terus menatap wajah Rafa yang fokus menatap jalanan.
Please El, jangan memaksa untuk membantuku lagi seperti dulu. Karena perasaanku pada Lisa tak lagi sama. Justru saat ini aku bimbang terhadap perasaanku padamu. Jangan menatapku seperti itu El. Aku tidak tahaaan. Teriak batin Rafa.
"Nah sekarang kita sudah sampai, buruan gih turun dan mandi. Nanti keburu waktu maghrib habis. Aku juga mau bersih-bersih. Gerah seharian pakai baju ini" ucap Rafa
Ela membuka pintu mobil Rafa dan segera turun.
"Makasih ya Raf. Daaaah" Ela berjalan meninggalkan mobil Rafa.
Rafa menatap kepergian Ela dari sisinya.
Mengapa hatiku sakit melihat wajah kamu seperti itu El? Perasaan apa ini Tuhaaaan.... Teriak batin Rafa.
Rafa memukul stir mobilnya, kemudian melajukan mobilnya menuju ke rumahnya.
.
.
BERSAMBUNG
Selamat pagi 😊
Ngopi yuk... ngopi 😉
mana kopinya???? kiriman aku kopi donk 😁
jangn lupa bahagia ya
Terimakasih