
Sesampainya di Rumah Sakit Catherine segera dilarikan ke UGD. Perawat dan Dokter segera memeriksa tekanan darah Catherine.
"Tekanan darah istri anda naik Pak, diatas normal dan ini sangat membahayakan bayi yang ada di dalam perutnya" ucap Dokter kepada Rafa.
"Lakukan yang terbaik Dok, tolong selamatkan istri dan anakku" jawab Rafa.
"Kita harus menghubungi Dokter Kandungan. Kami sudah menyuntikkan obat penurun tekanan darah. Setelah itu kita tunggu intruksi dari Dokter Kandungan. Silahkan Bapak menunggu di ruang tunggu ya" perintah Dokter.
"Baik Dok" jawab Rafa.
Rafa segera keluar menemui mertua dan anaknya.
"Apa kata Dokter Raf?" tanya Mr. Wolter tak sabar.
"Tekanan darah Keket naik Mom. Mereka sedang menghubungi Dokter kandungan" jawab Rafa.
"Ya Tuhaaaan.. Apa yang harus kita lakukan Raf?" Mrs. Wolter terlihat sudah panik.
"Kita menunggu Dokter kandungan dulu Mlmt dan teruslah berdoa untuk Catherine dan bayi kami" pinta Rafa.
Mr Dan Mrs. Wolter beserta Fathir duduk di ruang tunggu dengan wajah tegang. Begitu juga dengan Rafa yang dari tadi berjalan mondar mandir menunggu panggilan dari Dokter atau perawat.
"Bapak Rafa Rahardian" panggil perawat.
"Ya Sus" jawab Rafa.
"Silahkan temui Dokter Pak" ucap Perawat tersebut.
"Mom, Dad, sayang Papa ke dalam dulu. Terus berdoa untuk Mommy kamu ya. Dad tolong hubungi Papaku dan pinta mereka ke mari membawa semua keperluan Catherine untuk lahiran" ucap Rafa.
"Baik Raf" jawab Mr. Wolter.
Rafa segera berlalu mengikuti perawat yang memanggilnya tadi. Kemudian berjalan menuju ruangan Dokter kandungan.
"Bapak Rafa, apa yang kita takutkan akhirnya terjadi. Mengapa bisa tiba - tiba tekanan darah Ibu Catherine naik lagi? Padahal baru saja beberapa hari yang lalu semuanya baik - baik saja" tanya Dokter.
"Aku tidak tau Dok. Mungkin karena hari ini Mommy dan Daddy nya akan pulang ke London membuat hatinya tidak tenang dan mengakibatkan tekanan darahnya jadi tenang" jawab Rafa.
"Kita harus segera melakukan operasi Pak untuk mencegah hal - hal yang berbahaya. Kalau terlalu lama bayi bapak bisa keracunan dan yang lebih kita takutkan Ibu Catherine akan mengalami kejang" ungkap Dokter.
"Tolong Dok lakukan yang terbaik untuk istri dan anakku" pinta Rafa.
"Kami usahakan semaksimal mungkin Pak tapi kalau seandainya harus memilih?" tanya Dokter.
"Selamatkan istriku" tegas Rafa.
"Baik, silahkan Bapak ke ruangan administrasi untuk menandatangi persetujuan operasi. Kami akan menyelamatkan Ibu dan bayinya" ucap Dokter.
"Terimakasih Dokter" balas Rafa.
Rafa segera ke ruangan administrasi dan menyelesaikan semua berkas yang diperlukan. Setelah itu dia menemui mertua dan anaknya di ruang tunggu.
"Mom, Dad kita ke ruangan operasi sekarang. Sebentar lagi Keket akan di operasi" ucap Rafa.
"Mommy..... " Fathir mulai menangis.
"Sayang... kita harus kuat. Bukankah sejak awal Papa sudah katakan pada kamu. Jangan berhenti bedoa untuk Mommy dan adik kamu. Pintalah kepada Allah agar mereka berdua selamat" tegas Rafa.
"Baik Dad" jawab Fathir.
Mereka segera berjalan menuju ruang operasi dan menunggu di depan ruangan tersebut. Tak lama Reza dan Lidya datang bersama Aby, Aditya dan Alexa.
"Mengapa bisa jadi seperti ini Raf?" tanya Lidya yang mulai menangis.
"Saat di jalan menuju Bandara Keket merasa sangat pusing, wajahnya pucat dan keringat dingin. Kami langsung membawanya ke rumah sakit. Saat di periksa tekanan darah Catherine tinggi dan bisa berbahaya untuk dia dan bayi yang ada di dalam kandungannya Mom. Dokter sempat menyuruhku memilih... Dan aku memilih Keket" ungkap Rafa dengan wajah sedih.
"Ya Allah naaaak" Lidya memeluk Rafa.
"Kamu harus kuat Raf, Fathir butuh kamu" hibur Reza.
Operasi baru di mulai. Mereka menunggu di luar dengan ketegangan yang luar biasa. Kejadian sepuluh hampir sebelas tahun yang lalu terulang kembali.
"Bagaimana Keket?" tanya Ela.
"Masih di dalam" jawab Aby.
"Ya Allah Keeet. Kamu harus kuat" Ela menangis dan memeluk Mrs. Wolter.
"Tolong doakan Catherine Elaaa" pinta Mrs. Wolter.
"Aku selalu mendoakannya Mommy. Catherine pasti kuat. Dia sangat menginginkan seorang putri. Dia pasti akan bertahan demi anak - anaknya" jawab Ela.
"Aunty.... " Fathir menarik baju Ela.
"Sayaaaang... kamu pasti sangat takut saat ini ya. Sini Aunty peluk" ucap Ela
Ela menundukkan tubuhnya dan memeluk Fathir.
"Kamu terus berdoa ya sayang untuk Mommy kamu. Mommy kamu itu sangat kuat, dia bisa melahirkan anak sehebat kamu. Sebentar lagi kamu akan punya adik perempuan" hibur Ela.
"Aku takut aunty... " ungkap Fathir menangis..
"Selama ada Allah jangan pernah takut nak. Ingat Allah selalu bersama kita, dia akan mendengar doa - doa kita. Jadi kamu jangan berhenti berdoa ya" jawab Ela
Satu jam menunggu akhirnya operasi selesai. Dokter keluar dari ruang operasi.
"Dok bagaimana istri dan anak saya?" tanya Rafa dengan penuh ke khawatiran.
"Alhamdulillah operasinya berhasil Pak. Istri dan anak Bapak selamat. Ibu Catherine masih belum sadar di ruang pemulihan dan putri Bapak harus masuk inkubator karena lahir prematur" jawab Dokter.
"Alhamdulillah..." sambut seluruh keluarga dan sahabat Rafa dan Catherine.
"Bisa saya melihat putri saya?" tanya Rafa.
"Silahkan anda datang ke ruang bayi" jawab Dokter.
"Terimakasih Dok. Terimakasih banyak" Rafa menjabat tangan Dokter dengan erat pelepasan rasa takut, khawatir dan tegang.
"Sama - sama Pak. Saya permisi dulu" ucap Dokter.
Lidya dan Mrs. Wolter saling berpelukan. Ela juga masih memeluk Fathir dengan penuh kasih sayang.
"Kamu dengar sayang Mommy dan Adik kamu selamat. Kamu jangan menangis lagi ya" ucap Ela.
"Iya Aunty" jawab Fathir.
Rafa berjalan ke ruangan bayi dan menatap lembut wajah putrinya. Dia tak kuasa membendung air matanya.
Dengan suara yang pelan Rafa kemudian mengazankan dan mengkomatkan putrinya.
"Terimakasih ya Allah KAU telah menyelamatkan istri dan bayiku. Jadikanlah anak ini menjadi anak yang solehah penyejuk hati setiap orang" doa Rafa setelah dia selesai mengkomatkan anaknya.
Setelah itu Rafa mengintip ke ruangan pemulihan. Dia melihat istrinya terbaring lemah dan masih tidak sadarkan diri.
Rafa menyentuh dinding kaca sambil menatap lembut wajah istrinya.
"Terimakasih sayang kamu sudah sangat kuat berjuang menghadirkan putra putri kita. Kamu adalah istri terbaikku dunia dan akhirat. Cepatlah sadar agar kamu bisa memeluk putri kita" ujar Rafa dari luar.
Dua jam kemudian Catherine perlahan-lahan mulai sadar dari obat biusnya. Tapi masih belum diperbolehkan pindah ke ruangannya.
Mungkin malam ini dia akan bermalam di ruang pemulihan, besok baru bisa dipindahkan ke ruang rawat inap.
Hati itu Mr. dan Mrs. Wolter tidak jadi kembali ke London tapi mereka sangat bersyukur bisa menemani dan menyaksikan putri mereka melahirkan bayinya dengan selamat.
.
.
BERSAMBUNG