Find The KEY

Find The KEY
Ep. 42



"Berteriaklah... agar semua orang tau betapa jalan*nya kamu. Kamu ingin mempermalukan diri kamu sendiri, silahkan berteriak" bentak Rafa yang sudah sangat dikuasi amarah.


"Rafa.." ucap Lisa terkejut.


"Kenapa? Kamu terkejut melihat aku disini hah? Aku sangat bersyukur mendengar perkataan kamu secara langsung dengan begitu aku sangat ikhlas mengakhiri hubungan kita. Sebenarnya sudah lama aku merasa ada yang salah dengan hubungan kita. Sudah lama aku merasa sikap kamu yang semakin aneh. Kini aku tau apa jawabannya" teriak Rafa.


"Maaf Raf, sepertinya kalian harus menyelesaikan masalah kalian berdua saja" Aby menepuk bahu Rafa dan melangkah meninggalkan mereka berdua.


"Lebih baik dibicarakan diluar Raf, gak enak kalau orang lain tau masalah kalian dan selesaikan dengan baik-baik dan dengan kepala dingin. Jangan pakai emosi. Aku yakin kamu bisa" Disil memberi semangat pada sahabatnya itu kemudian menyusul Aby masuk ke dalam ruangan pesta.


Rafa menatap mata Lisa tajam.


"Kamu mau terus disini atau ikut aku?" ajak Rafa.


Rafa melangkahkan kakinya menuju pintu keluar disusul Lisa yang berjalan dibelakangnya masih dengan tangisannya.


Mereka masuk ke dalam mobil Rafa, kemudian Rafa melajukan mobilnya menuju sebuah taman yang sepi. Rafa mengehentikan mobilnya di pinggir jalan. Hari sudah malam tidak baik rasanya menyelesaikan masalah mereka diluar pasti udaranya sangat dingin.


Tidak mungkin juga membicarakan masalah mereka di rumah, pasti akan ada yang ikut campur. Lebih baik dibicarakan di mobil saja. Fikir Rafa.


"Bisa kamu jelaskan apa yang terjadi" ucap Rafa memulai pembicaraan. Memecah kebisuan diantar mereka.


"Maafkan aku Raf, a.. aaku tidak sengaja. Aku khilaf" jawab Lisa.


"Apa yang tidak sengaja Lisa? Kamu memang sudah merencanakannya kan?" desak Rafa.


"Aaku hanya terbujuk rayuan setan. Aku tidak bermaksud mengkhianati kamu" ucap Lisa.


"Kamu fikir aku percaya. Aku masih ingat apa yang kamu ucapkan pada Aby. Aku mendengar semuanya Lis, sangat jelas tidak ada satupun yang terlewatkan" ucap Rafa tegas.


"Aku salah Raf maafkan aku. Sebenarnya aku masih mencintai kamu. Saat ini aku sangat takut kehilangan kamu" ujar Lisa.


"Cih.. bohong. Kamu sangat pintar berbohong Lisa. Aku tidak menyangka selama ini kamu hanya berpura-pura berada disampingku. Aku hanya kamu jadikan batu loncatan untuk mendekati Aby kan? Dan kalau Aby tadi mau menerima kamu dengan mudahnya kamu akan mencampakkanku" Rafa mencoba tenang walau sebenarnya kepalanya sudah sangat panas menahan emosi.


"Ti... tidak Raf. Aku mungkin hanya merasa jenuh akan hubungan kita" jawab Lisa.


"Trus kamu mencoba mencari target untuk melepaskan kejenuhan kamu. Kamu fikir aku dan Aby sebuah barang yang bisa kamu permainkan segampang itu?" tanya Rafa marah.


"Maaf Raf aku khilaf. Aku masih mencintai kamu. Maafkan kesalahanku" ucap Lisa sambil terisak


"Maaf Lisa aku tidak bisa menerimanya. Sudah lama sebenarnya aku merasa ada yang salah pada hubungan kita. Kamu berubah dan selalu terpaksa setiap pergi bersamaku hanya saja aku menghargai lamanya waktu kita pacaran. Tapi ternyata enam tahun bukanlah waktu yang cukup untuk kita saling mengenal. Aku benar-benar tidak mengenal kamu. Dulu aku takut melukai kamu tapi sekarang aku sangat yakin lebih baik hubungan kita berakhir sampai disini. Kita putus" tegas Rafa.


"Jangan Raf aku tidak mau kita putus, pleaseeee" tangis Lisa kembali pecah.


"Semua tidak bisa kembali lagi Lisa, hubungan kita ini seharusnya sudah lama berakhir tapi aku masih menghargai kamu dan orangtua kamu sehingga aku berat untuk berpisah. Kini semua sudah jelas. Keputusanku tidak bisa dirubah lagi" ungkap Rafa.


"Maafkan aku Raf, tolong kasih aku kesempatan sekali lagi" Lisa memohon kepada Rafa.


"Hiks..hiks.." Lisa masih menangis.


"Sekarang sudah malam, lebih baik kamu aku antar kerumah dan aku harap kamu bisa menjelaskan dengan baik keadaan kamu juga hubungan kita pada keluarga kamu. Aku juga akan menjelaskan yang sebenarnya pada orangtuaku" Rafa melajukan mobilnya menuju rumah Lisa.


Inilah akhir dari kisah cintanya bersama Lisa. Ternyata memang ini keputusan terbaik yang harus diambil Rafa. Walau ada rasa sakit karena dikhianati tetapi lebih besar rasa lega dihati Rafa karena akhirnya dia bisa memutuskan permasalahan hatinya.


Selama beberapa bulan ini dia sempat galau memikirkan kelanjutan hubungannya dengan Lisa. Disil juga pernah menasehatinya untuk segera mengambil keputusan tapi Rafa masih enggan memutuskannya karena takut membuat Lisa terluka.


Akhirnya Lisa sendirilah yang menyebabkan putusnya hubungan mereka. Hati Rafa sangat lega karena dia tidak menyakiti perasaan siapapun disini malah sebaliknya Lisa lah yang menyakiti perasaannga.


Itu semua tak mengapa, Rafa yakin sakitnya pasti akan sembuh, toh dia juga tidak sedang dalam keadaan yang benar-benar sangat mencintai Lisa.


Tak lama mobil Rafa sampai dihalaman rumah Lisa. Rafa menghentikan mobilnya.


"Turunlah Lis, ini kali terakhir aku datang kemari. Sampaikan salamku pada orangtuamu dan tolong ceritakan kenyataan yang sebenarnya pada mereka. Aku tidak mau ada sandiwara lagi dikemudian hari" pinta Rafa.


"Raf apa tidak bisa masalah ini kita bicarakan esok saja saat kita berdua sama-sama merasa sudah tenang?" Ucap Lisa memelas.


"Tidak Lis, jawabanku akan tetap sama. Aku memilih mengakhiri hubungan kita. Mau hari ini ataupun esok hati tidak akan berubah" tegas Rafa.


"Kamu jahat Raf, tidak memberiku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku" Lisa kembali memancing emosi Rafa.


"Jahat kamu bilang? Kamu sadar tidak, kamulah yang jahat disini. Tidak berfikir dulu sebelum bertindak. Setelah hubungan ini berakhir bisa-bisanya kamu malah menuduhku jahat. Seolah-olah aku yang jahat dalam hubungan kita. Fikirkan Lis, kalau seandainya aku melakukan hal yang sama pada kamu. Apa hati kamu tidak sakit? Apa kamu tidak terluka? Apalagi Aby itu sahabat aku, harga diriku sudah terinjak-injak. Fikirkan seandainya aku yang melakukannya apakah kamu mau tetap menerima aku kembali? Tidak kan? Sama aku juga tidak. Aku tidak bisa menerima kamu kembali" Rafa menarik nafas panjang.


"Sudah lah Lis, tidak ada yang perlu kita bicarakan. Hari sudah semakin larut, aku capek dengan semua ini. Aku ingin segera pulang dan beristirahat. Sebaiknya kamu turun, aku ingin pulang" perintah Rafa.


Lisa menghapus airmata yang jatuh di pipinya. Kemudian dia membuka pintu mobil Rafa.


"Selamat tinggal Lisa, semoga kamu mendapatkan pria lain yang lebih baik lagi dari aku" ucap Rafa mengakhiri pertemuan terakhirnya dengan Lisa.


Lisa tidak bisa berkata apapun lagi. Dia menutup pintu mobil Rafa dengan sedikit membanting karena kesal Rafa tetap pada pendiriannya untuk memutuskan hubungan mereka malam ini.


Sial, aku malah kehilangan keduanya. Aby yang jual mahal dan tidak mau menerima perasaanku dan Rafa yang tidak mencintaiku lagi. Kita lihat saja apa yang akan terjadi kedepannya. Batin Lisa.


Rafa melajukan mobilnya keluar dari area rumah Lisa dan melaju menembus malam yang dingin pulang kerumahnya.


Haaaaah lega sekali rasanya..... Heran putus cinta malah membuat aku sangat lega. Rasanya dadaku sangat plong, semua sudah berakhir. Batin Rafa.


.


.


BERSAMBUNG