Find The KEY

Find The KEY
Ep. 237



Weekend yang ditunggu - tunggu para emak - emak comingsoon akhirnya tiba juga. Kostum Mermaid sudah sampai kemarin sore dan mereka sudah menyimpannya dengan sangat rapi agak para suami tidak mengetahuinya.


Jumat siang setelah para lelaku shalat Jumat bareng dekat ADS BUTIK. Lima pasang pasutri yang saling bersahabat berangkat dengan mobil Mini Bus Exclusive dari Toyota Hiace.



Fajar sengaja membawa mobil tersebut agar mereka bisa berangkat dengan satu mobil, bisa santai dan bercanda sepanjang perjalanan.


Fajar sengaja membawa supir untuk membawa mereka ke Bogor. Benar - benar liburan dengan perencanaan yang matang.


Mewahnya Mini Bus yang bisa menampung dua belas orang penumpang plus supir di dalamnya.


Di kursi paling depan ada supir dan supir cadangan. Di belakangnya Ela dan Fajar, setelah itu Keysha dan Aby, kemudian Ditha dan Disil dan paling belakang pasangan Sintia dan Ryza juga Catherine dan Rafa. Karena perut Catherine dan Sintia belum sebesar perut teman - temannya yang lain jadi mereka bisa duduk berempat di kursi paling belakang.


Walau begitu mereka tetap merasa nyaman dan longgar, tidak sempit - sempitan.


Beginilah penampakan di dalam Mini Bus Toyota Hiace.



"Sultan mah bebas mau pakai mobil apa aja" ucap Disil.


"Yoi Bambang, kerenkan suamiku" sambut Ela bangga.


"Iyalah asal kamu senang My honey bunny sweety" balas Disil.


"Bisa gak kamu bilang sama Disil gak usah panggil kamu seperti itu lagi?" bisik Fajar.


"Maaf yank, sepertinya untuk yang satu itu kamu harus merelakannya. Dari kecil dia sudah memanggil aku seperti itu. Susah ngerubahnya, bertahun tahun aku udah berusaha tapi tetap aja bibirnya yang tipis itu seenaknya saja berucap" ungkap Ela.


"Tapi kamu kan hanya milikku yank" balas Fajar.


"Kenapa, kamu cemburu?" tanya Ela.


"Ya aku kan suami kamu" jawab Fajar.


"Ditha aja udah ikhlas Mas, si Bambang manggil aku seperti itu. Udahlah Mas, hatiku hanya milikmu. Anggap aja si Bambang panci bocor nyaring bunyinya" sambung Ela.


"Ck.." Fajar menggerutu karena kesal.


"Ayo semua kita berangkaaat, jangan lupa baca doa ya... Bismillahirrahmanirrahim" ujar Ela.


Mobil melaju menuju Bogor. Maklumlah yang di dalam adalah rombongan emak - emak comingsoon. Semuanya hamil jadi pada cepat lapar.


Sepanjang perjalanan ada saja makanan yang mereka konsumsi. Para suami jadi ikutan makan bareng mereka.


"Gawat nih kalau gabung sama team drum band, kita bisa jadi ikutan buncit makan terus" oceh Disil.


"Hey Bambang sibuk banget sih, kalau gak mau buncit ya gak usah ikutan mangap. Ni dari tadi malah ngunyah terus, malah dia yang paling semangat buka kotak bekal berisi cemilan kami" protes Ela kesal.


"Habis rasa laparnya menular El, lihat kalian makan kok kayaknya enak banget ya pada lahap. Aku jadi latah ikutan makan" jawab Disil.


"Udah bro nikmati aja, besok kita lari pagi di hotel" ujar Rafa.


"Ogah ah, mending olahraganya nanti malam. Aku harus sering - sering ajari anakku di dalam perut jalan keluar yang benar agar nanti saat lahiran dia gak kesasar" jawab Disil seenaknya.


Ditha mencubit lengan suaminya.


"Sorry yank Papa keceplosan" ucap Disil


"Dasar omes lo, gak kasihan lihat istri buncit gitu, mana capek lagi duduk di obok - obok di mobil" protes Ela.


"Hehehe... " Disil hanya tersenyum manyun karena tangannya masih terasa perih bekas cubitan Ditha.


Setelah melalui perjalanan yang tidak membosankan karena Rafa membawa gitar dan sepanjang jalan mereka bernyanyi di dalam mobil. Akhirnya sore hari mereka sampai di Hotel Bogor.


"Alhamdulillah sampai sebelum maghrib. Masih sempat nih shalat ashar. Yuuk" ajak Aby.


"Oke Mas" jawab Keysha.


Mereka segera naik ke lantai paling atas. Benar kata Keysha kemarin di lantai paling atas ada kamar yang sangat besar malah lebih besar dari apartemen.


Di dalamnya terdiri dari lima kamar dimana di dalamnya ada kamar mandinya masing-masing, ruang TV merangkap ruang santai yang besar menghadap ke arah kolam renang, ruang makan, dapur dan di teras luar ada kolam renang dan tempat berjemur.


"Shalat dulu, keburu habis waktu. Berjamaah aja yuk biar sama selesainya" ajak Aby.


"Oke" jawab yang lainnya.


Semua masuk ke kamar masing-masing untuk berwudhu dan mengambil perlengkapan shalat kemudian mereka berkumpul di ruang santai.


Shalat ashar di pimpin oleh Rafa sebagai imamnya. Mereka shalat bersama dengan khusyuk.


Setelah selesai shalat para lelaki berencana untuk berenang menjelang maghrib. Semua sudah siap dengan pakaian renangnya.


Sedangkan para bumil tiduran santai di kursi santai yang ada di pinggir kolam.


"Hati - hati jalannya ya yank, awas licin. Nanti kamu jatuh" ucap Fajar mengingatkan istrinya.


"Iya Mas" jawab Ela.


"Guys lomba renang yuk" ajak Ryza.


"Boleh" jawab Disil dan Rafa.


"Siapa takut" ujar Aby.


"Setuju" balas Fajar.


"Ini baru tontonan seru, kami sebagai wasit ya di atas" teriak Ela.


"Banyak banget wasitnya, dimana - mana wasit cuma satu El" protes Disil.


"Suka - suka aku donk, aku ketua wasit, Kak Key wasit garis lurus, Sintia wasit sudut, Ditha wasit waktu dan Ditha wasit urusan gaya. Jadi peraturannya aku jelaskan" teriak Ela.


Para lelaki kini mendengarkan peraturan dari Ela, walau kebayakan peraturan tapi mereka mematuhinya. Susah melawan Ela, gak hamil aja susah menang apalagi lagi hamil gini.


Tingkat kecerewetannya lima kali naik level. Dari pada kuping panas mending diikutin. Batin mereka semua.


"Pertama perenang harus berenang dengan lurus walau kolam renang tak bersekat, pemenang akan di hitung waktu dan kecepatannya. Perenang harus sampai ujung kemudian balik lagi ke tempat semula. Terakhir harus pakai lima gaya" ujar Ela.


"Ada juga empat gaya El" protes Aby.


"Tenang Kak, gayanya aku tambahin" jawab Ela.


"Banyak gaya lu" teriak Disil.


"Biarin, sirik amat. Dengar pertama gaya kupu - kupu, kedua gaya dada, ketika gaya punggung, ke empat gaya bebas dan terakhir gaya yang ke lima adalah gaya apung" ucap Ela memutuskan sendiri peraturannya.


"Apalagi tuh gaya apung?" tanya Ryza.


"Jadi yang menang adalah orang yang pertama kali sampai ke tempat semula kemudian dia tidak berhenti melainkan langsung ngapung di atas kolam renang" perintah Ela.


"Ya elah El mau berenang aja ribet amat. Gak sekalian aja gaya batu" protes Disil.


"Enakan kamu donk, kamu bisa menang kalau gaya batu. Secara kamu tadi banyak makan pasti perut kamu berat amat. Nah langsung deh tenggelam pakai gaya batu" ungkap Ela.


"Gila Fa istri kamu segitunya mengukur berat isi perut si Disil" puji Ryza.


"Itulah hebatnya istriku pinter menaksir sesuatu. Hati - hati bro jangan curang nanti di hajar istriku" ancam Fajar pada Disil dan Ryza.


"Ciiih... bisanya pakai algojo, mana algojonya kayak gentong gitu. Coba kalau dia yang kita suruh ngapung pasti seru" oceh Disil.


"Wkwkwk.. jadi lucu ngebayangin mereka berlima ngapung di kolam" sambung Rafa.


"Hahahaa.." tawa para lelaki pecah membayangkan apa yang barusan mereka bicarakan.


"Heeey... kalian sedang mentertawakan kami ya" teriak Catherine.


.


.


BERSAMBUNG