
Ela, Ditha dan Sintia berkeliling lantai empat.
"Nih El ruangannya" Sintia memperlihatkan ruang jahit kepada Ela, ruangan yang luasnya hampir setengah lantai empat ini.
Ela melihat beberapa peralatan menjahit, bordir dan peralatan pendukung lainnya.
"Jadi lantai satu isinya bahan dasar seperti kain dan lainnya. Lantai dua gaun-gaun sederhana dan pakaian kerja sedangkan lantai tiga rancangan gaun-gaun pernikahan?" tanya Ela.
"Yup betul. Setelah ini nanti kita turun ke lantai tiga dan dua ya" jawab Ditha.
"Nanti aja Tha, aku mau atur barang dulu di ruang kerjaku. Okeeey aku suka dengan tata letak Butik kita. Sin lukisan aku masih ada sama kamu kan?" tanya Ela.
"Masih El, aku pajang di ruang kerjaku" jawab Sintia.
"Aku ambil ya, aku mau pajang di ruanganku" pinta Ela.
"Silahkan, kan tugas aku sudah selesai menjaganya" balas Sintia.
Mereka berjalan kembali ke ruang kerja Ela ternyata sudah ada Aby dan Keysha di sana plus satu lelaki yang Ela belum kenal.
"Eh kakak ipar sudah datang rupanya?" sapa Ela ramah pada Keysha.
Keysha tersenyum ramah.
"Terimakasih El kamu mau bersedia merancang gaun pernikahan untukku. Kata Aby hari ini mau ukur badan ya" ucap Keysha.
"Iya, santai aja kakak ipar. Kak Aby udah bayar mahal, tiga kali lipat. Bukan kayak si bambang ini minta diskon" sindir Ela pada Disil.
"Namanya usaha my honey bunny sweety.. siapa tau kamu kasi gratisan" jawab Disil.
"Aduh Tha calon kamu ini gak ada modal. Masih ada waktu kayaknya untuk batalin rencana kalian yang masih tiga minggu lagi" ucap Ela.
"Enak aja kamu, kalau sampai batal pernikahanku, aku akan bilang kamu pepenor" balas Disil.
"Apa tuh pepenor?" tanya Sintia penasaran.
"Perusak pernikahan orang" jawab Disil singkat.
"Hahaha... ada-ada saja si bambang ini" balas Ela.
"Babang Ela. Baa.. bang" Disil langsung mengunci leher Ela.
"Ampun bang .. ampun" Ela mengangkat kedua tangannya.
"Maaf Key, kalau sudah ngumpul yang dua ini pasti jadi perusuh" ucap Aby.
"Gak apa-apa By, aku malah senang jadi rame" jawab Keysha sambil tertawa melihat tingkah Ela dan Disil.
"Eh ada babang tampan, kok aku belum di kenalin?" tanya Ela sambil melirik ke arah Ryza.
"Sssst... yang ini gebetan Sintia" bisik Disil.
"Ow yah.. Babangnya Sintia" teriak Ela.
Alhasil semua bisa mendengar pembicaraan mereka.
"Ihs.. Ela..." ucap Sintia.
Ryza tersenyum melihat persahabatan mereka.
"Kenalkan aku Ryza, sepupu jauhnya Keysha. Lebih tepatnya Mamaku yang sepupuan sama Papanya Keysha" Ryza mengulurkan tangannya ke arah Ela.
Ela menyambut tangan Ryza dan mereka berjabat tangan.
"Ela, ketua Geng ERASADIS" Ucap Ela.
"ERASADIS?" tanya Ryza.
"Iya Geng yang berisikan Ela, Rafa, Aby, Sintia, Ditha dan Disil. Dan saya adalah ketua gengnya dan ketepatan saya juga adik kembarnya kakakku tertampan Aby" jawab Ela.
Yang lain senyum-senyum melihat kepercayaan diri Ela.
"Aku baru ingat, kamu dulu juga adalah salah satu yang ikut kan tanding taekwondo di Dojang kami kan saat SMU. Temannya si cowok pendendam itu kan?" tanya Ela.
"Iya, aku salah satu peserta pertandingan persahabatan dan saat itu lawanku Aby. Dan cowok pendendam yang kamu maksud itu adalah sepupuku yang bernama Fajar" ungkap Ryza.
"Nah mana dia cowok pendendam itu?" Ela terlihat seperti mencari sesuatu.
"Dia gak ikut, dia sudah pulang ke London tadi pagi karena sedang mencari antimonya" jawab Ryza.
"Maksud Ryza dia sedang mencari seseorang nanti kalau sudah dekat hari H dia akan pulang" potong Keysha.
"Oooh... itu lebih baik, aku juga gak mau ketemu sama cowok pendendam itu" ucap Ela.
"Sebenarnya dia gak pendendam Ela tapi..." ucap Ryza.
"Eh dia kemarin lagi gak enak badan masih jetlag" potong Keysha lagi.
"Kalau itu sih aku maklum karena aku juga masih ngerasain yang sama tapi ya sudahlah ngapain juga bicarain orang yang gak ada. Itukan namanya gosip. Ya gak?" ucap Ela.
"El lukisan kamu jadi gak dipindah ke mari?" tanya Sintia.
"Jadi Sin, bambang tolongin donk" pinta Ela memelas.
"Capek aku benahin bibir kamu serah lu deh El mau panggil babang atau bambang. Males aku berantam sama kamu, takut anak aku mirip kamu" ucap Disil sambil berdiri.
"Woi... emangnya lu udah pom-pom, kok cerita anak nih. Masih juga tiga minggu lagi nikahnya" ucap Ela.
"Pom-pom lu kate, kiss aja gak dikasih jatah El sama si Ditha" jawab Disil kesal.
"Muantaaaab... Jangan kasih kendor Tha, hajar aja kalau dia main sosor" sambung Ela.
"Bebek kali El main sosor" balas Disil.
"Udah yuk ke ruangan aku angkat lukisannya" ajak Sintia.
Disil dan Sintia berjalan ke ruang Sintia yang ada di sebelah. Ela duduk di meja kerjanya dan mulai mengambil buku dan alat gambarnya.
"Jadi kakak ipar kamu mau aku gambar sketsa baju pengantin yang seperti apa? Kalau Ditha udah selesai aku gambar, tinggal proses gunting dan jahit trus finishing" ucap Ela pada Keysha.
"Aku terserah kamu aja El, kamu kan lebih tahu model gaun pengantin masa kini. Aku hanya pengen itu adalah rancangan terbaik kamu. Jujur aku suka semu rancangan kamu selama ini" jawab Keysha.
"Baiklah akan aku gambar hari ini. Kalau begitu kita ukur badan kamu aja dulu ya. Sketsanya menyusul, biar aku cari inspirasi dulu" sambung Ela.
Ela berdiri membawa meteran jahit dan mengukur badan Keysha. Sintia dan Disil masuk kembali ke ruangan Ela dengan membawa lukisan kesayangan Ela dan memajangnya di dinding ruang kerja Ela.
"El ini lukisan kamu?" tanya Disil.
"Bukan... bukan lukisan aku. Itu lukisan yang aku beli disebuah pameran dan aku kenal sama pelukisnya" jawab Ela.
"Aku sangat suka lihat lukisan itu, rasanya wanita yang ada di dalam lukisan itu sangat misterius. Memakai topeng" ucap Keysha sambil menatap lukisan kesayangan Ela.
"Makanya karena itu juga aku menyimpannya. Setiap melihatnya ada aura misterius dan rasa penasaran kan?" tanya Ela.
"Iya benar yang kamu bilang. Kamu bisa melukis El?" tanya Keysha.
"Cuma sekedar hobby" jawab Ela sambil terus melakukan pekerjaannya.
"Bohong tuh, Ela emang pinter banget melukis dulu waktu SMU dia ikut klub melukis dan di London juga kamu masih sering kan melukis?" tebak Disil.
"Yaaah begitulah" jawab Ela.
"Pantesan waktu aku melihat beberapa sketsa rancangan kamu gambarnya bagus. Terlihat lebih hidup bukan cuma oret-oretan saja" puji Keyhsa.
"Ela itu lebih unggul dariku soal kesenian dan olahraga. Dia jago taekwondo, melukis dan bermain gitar" puji Aby.
"Waooow... hebat kamu El" puji Keysha.
"Lebih hebat kakak aku, dia pinter dalam eksakta dan semua mata pelajaran. Diantara kami berenam dia yang selalu ranking kelas" Ela balas memuji kakaknya.
"Enak ya kalian bertemannya rame, kalau kami cuma bertiga dan Fajarlah yang paling hebat diantara kami bertiga" ucap Keysha.
"Cih apa hebatnya sih cowok pendendam itu" umpat Ela.
"Kamu karena belum kenal dekat dengannya El, aslinya Fajar itu hebat lho dan yang jelas dia itu masih jomblo" bisik Keysha kepada Ela.
"Kenapa kamu bisikkan itu kepadaku, emangnya aku mau apa sama cowok pendendam seperti itu. Cih apa kata dunia" tolak Ela.
"Husss... Jangan terlalu benci El, benci bisa berubah jadi cinta lho. Awas kamu termakan cakap" Balas Keysha.
Ela jadi terdiam karena mendengar ucapan Keysha.
.
.
BERSAMBUNG