
Dua minggu setelah foto maternity Catherine dan Keysha. Jadwalnya mereka cek kandungan lagi.
Keysha sudah diperiksa lebih dahulu. Semua hasil pemeriksaannya bagus dan tidak ada keluhan apapun.
Kini giliran Catherine yang di periksa.
Catherine dan Rafa masuk ke ruang pemeriksaan setelah sebelumnya nama Catherine di panggil oleh seorang perawat.
Catherine sudah berbaring di atas tempat tidur dan sedang di periksa Dokter.
"Ibu Catherine ada merasa pusing?" tanya Dokter.
"Nggak Dok, emang kenapa?" tanya Catherine bingung.
"Tekanan darah ibu sedikit lebih tinggi dari bulan kemarin" jawab dokter serius.
"Apakah berbahaya Dok?" tanya Rafa.
"Untuk saat ini tidak Pak, tapi kalau terus naik bisa - bisa Ibu Catherine harus melahirkan prematur" ungkap Dokter.
Deg.... jantung Rafa berdetak kencang.
"Saya kasih obat tambahan utk Ibu ya Pak. Ibu jangan takut ya. Semua pasti bisa Ibu lalui" ucap Dokter menenangkan.
"Iya Dok, saya gak takut kok. Saya sudah siap dengan semua resiko yang terjadi. Saya ikhlas" balas Catherine.
Hari ini Fathir tidak ikut karena sedang mempersiapkan ujian kenaikan kelas.
"Baiklah Pak, Bu. Ini saya kasih resep dan dua minggu lagi Ibu dan Bapak datang lagi ya. Kita akan cek lagi. Kalau Ibu merasa tidak enak badan, Ibu bisa segera menghubungi saya" ujar Dokter.
"Baik Dokter" sambut Catherine.
"Terimakasih Dokter, kalau begitu kami pamit ya" ucap Rafa.
"Gimana hasil pemeriksaannya?" tanya Aby. Karena hari ini hari jumat, rumah orang tua mereka berada di komplek yang sama, mereka memutuskan untuk pergi bersama - sama menggunakan satu mobil saja.
"Tekanan darah Catherine sedikit naik tapi Dokter bilang tidak apa - apa. Catherine juga sudah dikasih obat untuk penurunnya" jawab Rafa.
"Keadaan bayinya gimana?" tanya Keysha.
"Dokter bilang untuk saat ini tidak masalah tapi kalau naik terus baru berbahaya mungkin harus lahir prematur" jawab Catherine.
"Keeet, kamu yang kuat ya... " Keysha menggenggam tangan Catherine.
"Iya Key, InsyaAllah aku kuat. Saat memutuskan untuk hamil lagi aku sudah ikhlas dan sudah tau resiko yang akan aku hadapi" jawab Catherine.
"Jangan terlalu di fikirin Ket, nanti malah tambah naik" sambung Aby.
"Iya By" balas Catherine.
Kabar berita naiknya tekanan darah Catherine sudah sampai ke seluruh keluarga dan orangtua Catherine di London.
Karena berita ini Mr dan Mrs. Wolter segera terbang ke Indonesia untuk memberikan dukungan kepada putri mereka.
"Mommy... Daddy... kenapa gak bilang - bilang kalau mau datang?" ucap Catherine terkejut melihat satu minggu kemudian setelah pemeriksaan dokter terakhir Mommy dan Daddynya datang ke Indonesia.
"Kami ingin buat kejutan untuk kamu sayang. Mudah - mudah dengan kedatangan kami membuat kamu lebih tenang" jawab Mrs. Wolter dengan lembut.
"Mommy aku baik - baik saja kok. Kalian tidak usah cemas dan mengkhawatirkan aku" balas Catherine.
"Sayang namanya orangtua lebih tenang kalau kami bisa melihat kamu secara langsung. Kami lega melihat kamu baik - baik saja" ucap Mr. Wolter.
"Kan sudah aku bilang, aku baik - baik saja. Kalian juga sudah lihat waktu kita video call kemarin" ujar Catherine.
"Bu.. bukan begitu Daddy. Aku hanya tidak mau kalian repot karena aku" jawab Catherine.
"Tidak sayang... untuk kamu tidak ada yang repot. Malah Daddy minta maaf karena setelah satu minggu baru Daddy dan Mommy bisa datang ke sini. Maklumlah Daddy harus menyelesaikan pekerjaan Daddy dulu sebelumnya" ujar Mr. Wolter.
"Tidak apa - apa Daddy. Aku sangat senang kalian ada di sini" balas Catherine.
"Ayo Dad, Mom aku antar kalian ke kamar" ucap Rafa.
Mr dan Mrs. Wolter masuk ke kamar yang sudah disediakan oleh keluarga Rafa.
"Mommy dan Daddy istirahat saja dulu. Nanti kalau sudah waktu makan siang akan aku panggil. Terima kasih sudah datang untuk mendukung dan memberi semangat pada istriku" ucap Rafa.
"Catherine adalah putri kami satu - satunya. Apapun akan kami lakukan untuknya nak. Kamu juga sudah sangat baik menjaga dan mengurusnya. Kami sangat bahagia mempunyai menantu seperti kamu" balas Mrs. Wolter.
"Terimakasih Mom. Aku tinggal dulu ya. Selamat beristirahat" Ucap Rafa meninggalkan kedua mertuanya istirahat di kamar.
Setelah Mommy dan Daddy nya tiba di Indonesia Catherine terlihat lebih semangat dan ceria. Rafa bisa merasakan itu.
Sebenarnya sejak pemeriksaan terakhir Catherine terlihat lebih banyak diam. Walau Catherine mengaku tidak memikirkan masalah kehamilannya tapi Rafa yakin Catherine tidak bisa berbohong.
Perasaan Rafa pun sama. Setiap malam setelah dia memijit kaki istrinya sampai Catherine tertidur. Rafa selalu menatap wajah istrinya.
Mengucapkan kata ikhlas lebih gampang dari pada mengikhlaskannya. Walau beribu kali Rafa berkata dia sudah siap dan ikhlas tapi hatinya mengatakan tidak.
Dia tidak sanggup kalau harus berpisah dengan istrinya. Tapi apa yang bisa Rafa lakukan selain berusaha kuat di depan istrinya dan selalu memberikan semangat dan dukungan untuk istrinya.
Catherine adalah cinta terakhirnya. Tak pernah dia membayangkan akan menggantikan orang lain dihatinya. Catherine adalah wanita terbaik yang di kirim Allah untuknya.
Walah dua tahun pertama pernikahan mereka, mereka masih banyak beradaptasi. Maklum pernikahan dua negara yang mempunyai latar belakang yang sangat berbeda.
Tapi cintalah yang membuat mereka kuat dan bertahan sampai selama ini. Catherine dengan segala keceriaannya bisa menghibur Rafa yang sudah letih setelah pulang dari kantor.
Catherine yang selalu sabar mengurusnya dan anaknya dan dia tidak mengeluh walau mungkin dia letih. Catherine juga yang sangat pintar membuatnya terus jatuh cinta dan jatuh cinta kepada istrinya itu.
Berbagai kejutan yang Catherine ungkapkan dan lakukan untuk membuat Rafa semakin jatuh kedalam cinta yang sangat dalam.
Tibalah jadwal pemeriksaan Dokter. Untuk membuat Catherine lebih semangat seluruh keluarga memutuskan untuk ikut menemani Catherine memeriksakan kandungannya.
Reza, lidya, Mr dan Mrs Wolter berada di mobil yang sama sedangkan Rafa bersama istri dan anaknya naik di mobil Rafa.
"Maaf Dok kali ini pemeriksaan nya ramai-ramai karena mereka ingin melihat istri saya di periksa" Rafa menunjuk ke arah orang tua dan mertuanya.
"Oh tidak apa - apa Pak. Saya mengerti. Mungkin dengan begitu Ibu Catherine jadi lebih semangat. Ya kan Bu?" balas Dokter dengan ramah.
"Iya Dok" jawab Catherine.
Reza, Lidya, Mr dan Mrs. Wolter duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Dokter sedangkan Catherine terbaring di tempat tidur dan Rafa juga Fathir berdiri di dekat Catherine.
Dokter mulai melakukan pemeriksaan kepada Catherine.
"Naaah sudah normal kembali tekanan darah Ibu tapi obat yang saya kasih tetap di makan ya" ucap Dokter.
"Alhamdulillah..... " jawab semua yang ada di dalam ruang praktek Dokter.
.
.
BERSAMBUNG