
"Lari? Lari dari apa kak? Aku gak mengerti pertanyaan kakak itu" jawab Ela.
"El please jangan berbohong lagi, kamu tidak bisa menyembunyikannya dari kakak. Aku adalah kakak kamu, kita berbagi makan yang sama saat dalam kandungan Mama, berbagi ASI dan kasih sayang serta perhatian Papa dan Mama. Aku tau kamu El. Cerita semua sama kakak, jangan kamu pendam sendiri. Aku tau perasaan kamu selama hampir setahun ini" Desak Aby.
Ela hanya bisa diam.
"Kamu tidak mempercayai kakak lagi untuk menyimpan semua isi hati kamu?" Aby mencoba meyakinkan Ela agar mau bercerita.
Ela menarik nafas panjang.
"Aku kira aku kuat kak. Selama ini aku coba bertahan dan berharap, mungkin suatu hari Rafa akan melirik kearahku. Tapi semakin hari aku semakin tau apa kekuranganku. Aku tidak bisa bersaing dengan Lisa untuk menarik perhatian Rafa" ucap Ela putus asa.
"Hey.. mengapa kamu menyerah. Kamu kuat El, kamu punya kelebihan yang banyak tidak dimiliki wanita lain" Aby memegang bahu Ela memberi semangat.
Ela menarik nafas panjang.
"Terkadang ada pria yang tidak membutuhkan wanita yang kuat kak, termasuk Rafa. Dia mencari wanita yang lemah agar dia lebih berarti di dekat Lisa. Dia merasa dibutuhkan dan bisa melindungi. Dia mencari wanita yang lemah lembut dan manja bukan wanita berlagak superhero seperti aku. Dia butuh fisik wanita cantik bukan wanita jadi-jadian seperti aku kak" ucap Ela lirih. Air matanya mulai mengalir membasahi pipi.
"Kamu juga cantik El, sangat cantik. Lebih cantik dari Ditha, Sintia dan Lisa" puji Aby.
"Kakak kan bilang begitu karena aku adikmu" ucap Ela.
"Tidak, aku melihatnya dari sudut pandang laki-laki. Hanya saja selama ini kamu sembunyikan dari sikap cuek kamu untuk memoles wajah kamu. Kamu lebih suka terlihat apa adanya dari pada berdandan" balas Aby.
Aby menghapus air mata adiknya. Melihat Ela menangis membuat hatinya perih. Pasti adiknya sangat sedih sekali saat ini sehingga meneteskan air mata. Selama ini Aby mengenal Ela yang kuat dan tidak cengeng baru kali ini dia melihat sisi lemah adiknya itu.
Ternyata sakit jika melihat saudara kita terluka. Rasanya hati ini juga ikut tersakiti. Batin Aby.
"Mungkin aku memang tidak pantas untuknya kak. Mungkin dia memang bukan untukku. Aku bahagia melihat dia bahagia. Melihat dia menemukan wanita yang lebih segalanya dari aku" isak Ela.
Aby memeluk adiknya erat saat tangis Ela pecah.
"Cup.. cup.. cup... sudah jangan nangis lagi. Kamu tau, bukannya aku berbahagia diatas penderitaan kamu. Entah mengapa saat melihat kamu menangis jujur.. aku bahagia. Ternyata adikku memang wanita. Selama ini aku sering bertanya kamu ini beneran wanita atau wanita jadi-jadian ya" Aby menghibur adiknya.
"Aku bahkan lupa kapan terakhir kamu menangis, mungkin dulu saat kita masih bayi. Kamu jatuh dari pohon, jatuh dari tangga dan terluka sekalipun kamu tidak pernah menangis seperti ini. Hebat banget ya si Rafa bisa buat kamu menangis" goda Aby.
"Apa sih kak" Ela memukul dada kakak kembarnya.
"Gimana sekarang hati kamu sudah lega?" tanya Aby.
Ela menganggukkan kepalanya.
"Tolong rahasiakan alasan kepergianku ini dari siapapun ya kak, termasuk Papa dan Mama dan juga dari teman-teman yang lain" pinta Ela.
Aby memberi isyarat untuk mengunci mulutnya.
"Apapun untuk kamu adikku. Asal kamu senang, carilah kebahagiaan kamu disana, kamu harus pintar jaga diri dan kejarlah cita-cita kamu. Jangan lupa nikmati hidup ya, berbahagialah. Mungkin benar kamu bilang Rafa bukan laki-laki yang pantas untuk kamu. Kakak yakin akan ada laki-laki istimewa yang nanti akan datang dihadapan adikku yang cantik ini" hibur Aby.
"Kalau begitu kita harus buat pesta perpisahan sama anak-anak. Kapan kamu akan memberi tau mereka niat kamu untuk kuliah keluar negeri?" tanya Aby.
"Kalau aku sudah pasti diterima di universitas mana kak. Secepatnya aku akan mengumpulkan mereka disini dan aku akan menceritakan rencana aku ini" jawab Ela.
"Kamu yang kuat ya, kakak yakin kamu bisa melewati semua cobaan ini. Mungkin ini pembelajaran kita menuju dewasa. Yakinlah kita akan semakin kuat jika berhasil melalui semua rintangan hidup. Saat ini kamu yang berjuang mungkin hari esok kakak yang akan berjuang. Dan kakak harap kita akan saling mendukung seperti ini sampai kita tua nanti" Aby mengelus lembut kepala adiknya.
"Aamiin.. Terimakasih ya kak, kamu sudah menjadi penyemangatku. Jangan lupa, walaupun aku nanti jauh disana, kakak harus melaporkan semua kejadian disini" perintah Ela.
"Siap nyonya besaaaar" jawab Aby sambil tertawa.
Akhirnya mereka sama-sama tertawa mengakhiri pembicaraan penting mereka malam ini. Tanpa mereka sadari kedua orangtua mereka menyaksikan dan mendengar pembicaraan mereka sejak awal dari balik pintu yang sedikit terbuka.
Alexa menghapus air mata yang menetes di pipinya.
"Anak kita sudah remaja sayang, dia sudah merasakan jatuh cinta dan patah hati" ucap Aditya sambil memeluk tubuh istrinya dari belakang.
"Pasti sangat sakit Mas, persis seperti yang aku rasakan saat dulu kamu pergi kuliah ke Bandung tanpa berpamitan denganku dan saat aku melihat kamu di mesjid kampus kamu, berduaan dengan Cinta dan terlihat sedang berbincang bahagia" balas Alexa.
"Duh kenapa kamu malah mengorek luka masa lalu yank. Semua kan sudah berlalu dan berakhir dengan bahagia. Sekarang aku sudah menjadi suami kamu bahkan kita mempunyai sepasang anak kembar yang pintar, tampan dan cantik. Lengkap sudah rumah tangga kita yank" hibur Aditya sambil mengecup lembut pipi istrinya.
"Tapi tetap sedih melihat anak gadisku menangis seperti itu, dari kecil kita kan tau Mas, Ela tidak cengeng dan jarang menangis walau dia dalam keadaan sakit sekali pun" ucap Alexa.
"Itu proses pendewasaan dirinya sayang, dan kalau dia berhasil melalui semua ini aku yakin dia akan tumbuh menjadi gadis yang kuat" sambung Aditya.
"Aku sempat terkejut tadi mendengar curhatan isi hatinya. Aku kira aku akan berbesan dengan Reza dan Lidya" tutur Alexa.
"Jodoh siapa yang tau, semua rahasia Allah sayang. Saat ini bukanlah akhir bahkan awal perjalanan panjang anak-anak kita untuk meraih cita dan cinta mereka. Mereka harus menjadi anak-anak yang kuat dan hebat" jawab Aditya.
"Iya Mas, biarlah mereka bebas menentukan kemana arah mereka melangkah meraih masa depan. Selama untuk kebaikan kita siap mendukung mereka" sambung Alexa.
"Kamu benar sayang. Eh ayo cepat kita kebawah sebelum mereka mengetahui kalau kita mengintip dan mendengar pembicaraan rahasia mereka. Sebaiknya kita pura-pura tidak mengetahuinya. Biarlah mereka mencoba menyelesaikan masalah mereka sendiri agar mereka dewasa" ujar Aditya.
Aditya menarik lembut tangan istrinya dan menuntunnya berjalan turun ke bawah melalui tangga.
.
.
BERSAMBUNG
Ada yang nangis???? Begitulah lika-liku hidup. Tak selamanya kita senang terus tapi juga tak selamanya berurai airmata. Hidup pasti ada naik dan turunnya agar tidak bosan. Ya nggak para readers...
Jangan lupa like, vote, kembang dan komentarnya ya...
(banyak banget ya permintaan aku 😂😂)