Find The KEY

Find The KEY
Ep. 229



"Maaaaas... " ucap Catherine mengingatkan suaminya.


"Kalau sebesar ini dan usia seperti ini belum bisa Pak. Jenis kelamin pada bayi yang ada dalam kandungan bisa di lihat pada umumnya, antara minggu ke 7 dan minggu ke 12 kehamilan, organ sek* bayi berkembang. Pada sekitar minggu 9, alat kelamin bayi laki-laki memulai berkembang membentuk kelaminnya. Namun, kelamin pria dan kelamin wanita sebenarnya tetap berukuran sama sampai sekitar usia 14 minggu kehamilan. Jadi sekitar usia kandungan 4 bulan lebih baru bisa kita lihat jelas Pak " Dokter menjelaskan.


"Oooh begitu ya Dok, maaf saya gak ngerti" jawab Rafa.


"Gak apa - apa Pak sudah biasa" balas sang Dokter.


"Bapak dan teman-temannya semua lucu - lucu ya, terlebih suaminya Ibu Ditha" celetuk Perawat.


"Emang kenapa dengan teman saya itu?" tanya Rafa penasaran.


Dokter tersenyum mengingat tingkah Disil.


"Bapak Disil juga gak jauh beda sama Bapak, dari awal sangat antusias ingin tau jenis kelamin anaknya. Pas usia kehamilan istrinya empat bulan dia sangat menantikannya hanya saja saat itu si anak malu- malu dan tidak mau menunjukkan jenis kelaminnya. Nah tadi pas di periksa bisa terlihat jelas tapi begitu saya tawarkan mau lihat jenis kelaminnya malah Bapak tersebut menolak. Alasannya mau buat kejutan aja pas lahir" ungkap Dokter.


"Teman saya yang satu itu emang suka usil Dok, sama tuh sama si Ela. Usilnya level tinggi kerjanya bertengkar terus. Pusing kalau mereka udah ketemu persis Tom and Jerry" balas Rafa.


"Hahaha.. asik ya Pak sahabatannya rame. Salut saya bisa terjalin sampai saat ini" puji Dokter lagi.


"Karena orangtua kita juga sahabatan Dok, makanya kita juga sahabatannya sudah sejak dalam kandungan" ujar Rafa.


"Waaah sama donk dengan anak - anak Bapak nanti. Hamilnya bareng gini" potong Perawat.


"Btw Dok, ada sesuatu yang ingin sekali saya tanyakan. Sebenarnya saya tau sedikit jawabannya tapi saya belum yakin sampai Dokter yang jawab langsung" ucap Rafa.


"Bapak mau tanya apa?" tanya Dokter penasaran.


"Apa benar kalau istri hamil saya harus puasa sembilan bulan Dok?" tanya Rafa malu - malu.


"Maaaaas" cegah Catherine karena malu.


Dokter langsung mengerti kemana arah pembicaraan Rafa.


"Siapa yang bilang begitu Pak?" tanya Dokter sambil tersenyum.


"Tuh si Sableng Disil" jawab Rafa singkat.


"Bapak sudah di isengin sama Bapak Disil. Boleh - boleh aja dilakukan asal Bapak melakukannya dengan hati- hati dan pelan - pelan ya. InsyaAllah bayinya akan aman di dalam" jawab Dokter dengan jelas.


"Alhamdulillah saya lega. Sebenarnya udah di jawab sama Aby dan Fajar tapi mereka kan bukan Dokter, siapa tau kondisi istri saya sedang tidak baik kan bisa bahaya" jawab Rafa.


"Kalau kondisi istri Bapak tidak baik tentu akan saya informasi kan Pak dan Bapak akan saya beri peringatan untuk tidak melakukannya" jelas sang Dokter.


"Terimakasih Dok, sekarang saya sudah mengerti dengan jelas. Ada pantangan makanan Dok untuk istri saya?" tanya Rafa.


Dokter selesai memeriksa perut Catherine dan kembali ke mejanya.


"Tidak ada Pak, hanya sementara saat hamil muda begini jangan makan nenas, durian dan tape ya Pak. Makanan itu panas untuk perut takutnya bayinya terganggu. Walau tidak semua wanita seperti itu. Ada juga kandungannya yang kuat bisa makan semua yang saya sebutkan tadi" ucap Dokter.


"Untung suami saya bule Dok, dia gak tau durian dan tape. Paling nenas lah, itupun bisa saya ingatkan. Ya kan yank?" ucap Rafa.


Catherine yang sudah selesai di periksa duduk di samping Rafa.


"Iya Dok, akan saya ingat" jawab Catherine.


"Ini saya kasi resep vitamin dan penguat kandungan ya Bu untuk tahap awal kehamilan. Sama seperti Ibu Sintia karena usia kehamilan kalian sama. Jangan terlalu banyak fikiran dan pekerjaan. Banyak istirahat tapi bukan berarti tidak ada pergerakan. Olahraga boleh tapi jangan terlalu di paksakan. Jangan lakukan yang berat - berat" nasehat Dokter.


"Iya Dok" jawab Catherine singkat.


"Akan saya pantau istri saya seperti yang Dokter peringatkan" sambut Rafa.


"Sekali lagi selamat ya Pak, Bu atas kehamilan pertamanya" ucap Dokter.


"Terimakasih, kalau begitu kami undur diri Dok. Selamat sore" Rafa dan Catherine pamit dan keluar dari ruang pemeriksaan.


Sesampainya di luar mereka disambut oleh teman - teman yang lain yang sedang asik ngobrol.


"Gimana udah selesai semua kan?" tanya Aby.


"Udah, seeep" balas Rafa.


"Gak ada masalah kan Ket?" tanya Ela perhatian.


"Kalau begitu kita ke mushola dulu yuk, sholat maghrib, sebentar lagi adzan. Habis itu baru kita cari makan malam. Udah lama kan gak makan bareng di luar rame - rame begini" ajak Rafa.


"Betul itu, yuuuuk" sambung Ryza.


"Cieeee... yang udah enak makan" goda Keysha.


"Mumpung malam Key, selera makanku membara. Kalau pagi baru deh uek - uek" jawab Ryza.


"Itu namanya morning sickness Mas" sambung Sintia.


"Iya deh yank, apalah namanya itu. Yang penting kalau malam aku mau isi tangki full" balas Ryza.


Mereka bergegas menuju musholla rumah sakit karena suara adzan sudah terdengar. Setelah mereka selesai mengerjakan shalat berjamaah akhirnya mereka melanjutkan perjalanan mencari rumah makan untuk tempat mereka makan malam.


Mereka masuk ke dalam mobil masing-masing. Lima mobil terlihat beriringan keluar dari rumah sakit.


Sintia mengirimkan pesan ke group.


Sintia


Guys... please ya malam ini kami yang pilih rumah menu makan. Kasihan Mas Ryza hanya bisa makan dengan lahap saat malam hari. Jadi dia pengen mencari makanan yang sesuai seleranya malam ini 🙏🙏


Ela


Terserah kamu Sin, aku mah oke - oke aja yang penting makan. Lapaaaar 🤤🤤


Sintia


Yang lain?


Keysha


Oke Sin


Catherine


Kami ikut


Ditha


Idem


"Gimana yang, mereka mau ikut?" tanya Ryza.


"Mau Mas, mereka semua setuju" jawab Sintia.


"Ya udah kalau gitu kita langsung tancap gas" ucap Ryza.


"Emang kita mau makan dimana Mas?" tanya Sintia penasaran.


"Kamu tenang aja di samping Mas, pokoknya Mas tidak akan mengecewakan kalian" jawab Ryza.


Ryza melajukan mobilnya ke arah ancol. Ryza membuka jendela mobilnya. Mulai tercium aroma laut.


"Waaah yank membayangkan makanannya saja air liurku udah ngalir. Mmm.. pasti sedaaap" ucap Ryza.


"Ternyata kamu ngajak makan seafood ya?" tanya Sintia.


"Makanan laut tinggi gizi yank, kamu boleh pesan ikan atau seafood apa aja. Bagus untuk pertumbuhan bayi kita di dalam perut kamu" jawab Ryza.


Sintia tersenyum melihat tingkah suaminya. Ternyata suaminya ini sedang ngidam.


Hahahaha lucu juga ternyata melihat laki - laki ngidam. Aneh tapi nyata, selama ini aku sama sekali tidak pernah tau atau pun melihat ada kisah seperti ini dan ternyata aku dan suamiku sendiri yang mengalaminya. Batin Sintia.


Sampai lah mereka di sebuah Restoran besar dan terkenal di tepi laut. Restoran tersebut bernama Bandar Djakarta.


.


.


BERSAMBUNG