
Setelah lelah berenang mereka masuk ke kamar masing-masing untuk mandi dan berganti pakaian.
Pukul satu siang semua sudah berkumpul di meja makan besar yang cukup untuk lima pasang pasutri yang siang itu baru selesai melakukan pemotretan maternity.
Fajar sudah memesan beragam menu makan untuk mereka semua. Dan karyawan hotel sudah mempersiapkan semuanya dengan baik untuk pemilik hotel tersebut.
Ela, Keysha, Ditha, Sintia dan Catherine menatap semua makanan yang tersaji di atas meja dengan mulut terbuka.
"Mulut pada di tutup, air liur kalian udah mau jatoh tuh" sindir Disil yang mengerti bahwa emak- emak comingsoon lapar berat.
"Kamu yang pesan semua makanan ini yank?" tanya Ela.
"Iya" jawab Fajar singkat.
"Makasih sayang kamu memang suami kesayanganku. Kamu ngerti banget kalau aku dan anak-anak kamu sudah lapar dari tadi" ujar Ela senang.
"Sama - sama sayang, yuk kita makan" ajak Fajar.
Mereka mengambil posisi duduk masing-masing. Meja berukuran besar cukup untuk sepuluh orang. Dengan bantuan beberapa pelayanan hotel siap menyajikan makanan terbaik hotel siang itu.
Bukan hanya emak - emak yang kelaparan, para pria juga sudah lapar berat. Apalagi tadi tenaga mereka terkuras habis untuk mengangkat istri mereka saat pemotretan.
"waaah enak semua Fa makanan ini" puji Disil.
"Enak apa lapar?" sindir Aby.
"Ya dua - duanya By" jawab Disil.
"Yank kamu kok serius banget makannya sampai gak ngomong dikitpun?" tanya Ela pada suaminya.
"Aku lapar baget yank, sebentar ya.. isi tangki dulu" jawab Fajar lembut.
"Gimana gak lapar, habis angkat gentong" ledek Disil.
"Sirik amat si Bambang, suami aku aja gak keberatan. Mau badanku segede apa juga dia asik - asik aja. Ya kan yank?" balas Ela.
Fajar hanya mengacungkan jempolnya sambil terus makan.
"Fotografernya udah pulang El? karena lapar banget kita kok jadi lupa sama mereka ya.. Mereka pasti udah lapar juga" ucap Ditha.
"Iya, mereka kan basah - basahan juga tadi di kolam pas motret kita" sambung Sintia.
"Iya ya.. aku kok lupa, kasihan mereka" ujar Keysha.
"Maaaas" panggil Ela.
"Udah yank, udah aku suruh makan di restoran hotel. Mereka bebas pesan dan makan menu apa saja sebagai ucapan terimakasih kita" jawab Fajar.
"Makasih yank, kamu emang the best.
Mereka melanjutkan makan siangnya.
" Aaaaaw.... " Ela berteriak kesakitan.
Membuat semua menghentikan makannya dan menatap ke arah Ela.
"Kamu kenapa El?" tanya Aby yang notabene kakak kembar Ela. Dia terlihat berhitung khawatir.
"Ada apa yank, perut kamu sakit?" tanya Fajar dengan wajah lebih khawatir.
"Maaasa anak kamu.. " ucap Ela.
"Iya kenapa anak kita?" tanya Fajar semakin takut melihat istrinya kesakitan.
"Anak kita nendang Mas" jawab Ela.
"Oh ya?" Fajar terkejut dan langsung memegang perut Ela.
"Ya Allah... kuat banget tendangan mereka" ucap Fajar.
"Ya iyalah Fa, anak kamu tiga lho di dalam" balas Keysha.
"Alhamdulillah gak ada apa - apa. Aku kira tadi kamu kontraksi El kesakitan gitu" ucap Aby lega.
"Masih lima bulan By kok udah kontraksi" sambut Disil.
"Yah siapa tau kenapa- kenapa, si Ela jeritnya gitu. Udah kyak orang yang mau melahirkan" sambung Rafa.
"Syukurlah gak kenapa - kenapa" ujar Aby.
Fajar dan Ela lagi asik dengan perut dan tendangan bayi mereka. Sedangkan yang lain melanjutkan makan siangnya.
"Voldemort? Siapa Voldemort?" tanya Rafa penasaran.
"Si Rudy. Maksud Si Keket dia yang tak boleh disebutkan namanya di sini" jawab Ela.
"Yaaah sebutlah namanya Voldemort" sambung Catherine.
"Iya Ket, kok tau?" tanya Fajar.
"Ya iyalah.. kan aku tukang bangunannya" canda Catherine.
"Hahahaha... asiiiiik... gua suka canda lo" puji Ela yang sudah melupakan tendangan di perutnya.
"Aku lihat lukisan - lukisan Ela di hotel ini" ucap Catherine.
"Opoo kirain beneran kamu tukang bangunan disini. Aku hampir aja mau kasih kamu penghargaan karena udah buat bangunan hotel ini kokoh" sindir Fajar.
"Aaah kamu bisa aja" balas Catherine.
"Trus waktu kejadian kalian dulu, udah sampai mana pembangunan hotel ini? Bukannya kalian memutuskan kerjasama dengan perusahaan di Voldemort?" tanya Rafa.
"Kamu Raf, ikutan istri kamu aja bilang Voldemort" ledek Ryza.
"Yah mending nyebut Voldemort lebih terkenal dari pada Rudy" balas Rafa.
"Lebih terkenal Rudy lah. Dari nenek kita sekolah si Rudy udah terkenal bro" potong Disil.
"Oh ya, terkenal gimana Dis?" tanya Aby penasaran.
"Ini Ibu Rudy... " oceh Disil.
"Budi Bambaaaaang. Ih lemes aku lihat suami kamu Tha" ujar Ela kesal sambil melempar kentang ke arah Disil.
"Gemes El bukan lemes" goda Disil.
"Ogah aku gemes sama kamu ueeeeek..." balas Ela.
Mereka semua tertawa dengar pertengkaran Ela dan Disil karena dari dulu mereka yang tak pernah akur, bahkan sejak mereka kecil selalu bertengkar.
"Setelah ini kita istirahat ya, nanti malam kita makan malam di bawah, aku udah pesan tempat yang bagus untuk kita makan malam" perintah Fajar.
"Dress codenya yank? " tanya Ela.
"Kali ini gak ada kostum - kostuman atau ide aneh - aneh lagi ya. Kita cukup pakai baju santai dan sopan. Kalau para wanita mau pakai gaun - gaun sederhana juga boleh. Aku rasa tempatnya mendukung untuk pakaian seperti itu" ungkap Fajar.
"Jadi penasaran kita mau makan dimana El" sambut Catherine.
"Tenang Ket, aku yakin pasti tempatnya bagus. Kalau masalah begituan mah suami aku yang jadi JUARA.. " ucap Ela sambil memperagakan gaya bicara mili di AADC 2.
"Hahaha..." tawa Keysha pecah. Memang kalau sedang bersama mereka ada saja pembicaraan yang upnormal. Lain dari yang lain. Bahkan belum pernah sama sekali Keysha dengar.
"Tawa kamu ceria banget yank" Aby memeluk tubuh istrinya.
"Iya Mas, aku senang banget hari ini" jawab Keysha.
"Oh ya? anak kita gak nakal kan hari ini" Aby mengelus perut istrinya.
"Dia sangat aktif Mas nendangin aku terus" balas Keysha.
"Hey sayaaang.. kamu mau jadi pemain bola ya?" bisik Aby ke arah perut istrinya.
"Nggak Papa" jawab Keysha tersenyum.
"Jadi mau apa?" tanya Aby lagi.
"Aku sukanya jalan - jalan" jawab Keysha lagi.
"Jadi apapun kamu dan apapun keinginan kamu selama itu untuk kebaikan Papa setuju dan akan mendukung kamu" tegas Aby penuh kasih sayang.
"Terimakasih Papa" balas Keysha.
Akhirnya semua selesai menyantap hidangan makan siang yang telah disiapkan koki hotel.
Mereka mengiring istrinya untuk masuk ke dalam kamar kemudian beristirahat. Khusus Ela siang itu dia minta kakinya di pijit karena berat perutnya semakin terasa membuat kakinya lebih cepat pegal.
Dengan penuh kesabaran Fajar memberikan pijatan di kaki Ela sampai Ela tertidur baru kemudian Fajar menyusul istrinya berbaring di samping Ela dan tidur.
.
.
BERSAMBUNG