
"Papaaaaaaaaaaa" teriak tujuh anak itu bersama - sama.
"Papa?" tanya wanita yang ada di hadapan Disil.
"Yup" jawab Sitha.
Disil tersenyum menganggukkan kepalanya.
"Kamu sudah menikah?" tanya wanita yang bernama Bella.
"Sudah Bella, bukannya tadi aku sudah cerita sama kamu tapi kamunya aja yang gak percaya" jawab Disil.
"Terus semua ini anak kamu?" tanya Bella masih tidak percaya.
"Iya" jawab Disil masih tetap tersenyum.
"Aku gak percaya. Mana mungkin kamu bisa punya anak tujuh sekaligus. Dan gak mungkin juga kamu punya anak kembar tujuh, secara wajah mereka berbeda-beda. Paling tiga anak ini yang mirip sepertinya mereka kembar" ucap Bella.
"Kamu masih gak percaya? Mau berkenalan dengan istriku?" tanya Disil.
Bella masih menunjukkan wajah tidak percayanya.
"Mamaaaa" panggil mereka kepada Ditha, Ela, Sintia, Keysha dan Catherine.
Masing-masing anak memeluk Mama mereka.
"Kamu punya istri lima?" tanya Bella bingung.
"Iya kenapa, kamu mau jadi yang ke enam?" tanya Ela.
"Gila kamu Dis, dari tadi aku kira kamu masih single gak taunya malah punya banyak istri. Dasar ya kamu playboy dari dulu gak pernah berubah" ucap Bella kepada Disil.
"Udah tau begitu masih juga mau dekat-dekat. Hello... apa gak ada cowok lain di luar sana yang bisa kamu godain. Kalau emang kamu udah gak bisa nemuin Cowok itu ya sini berbagi dengan kami. Kami masih mencari dua kandidat lagi biar bisa digilir sesuai hari" jawab Catherine.
"Iiiih amit-amit jadi madu kalian" balas Bella.
"Ya sudah kalau gak mau huss.. huss.. sanaaaaaa" usir Catherine.
Bella langsung berdiri dan meraih tasnya kemudian meninggalkan meja dimana dia dan Disil duduk tadi.
"Tembak monsteeeer" teriak Fathir.
"Tererereeeeeeet... dreeeet.. " Elfa menarik pelatuk pistol airnya, seketika air keluar dari dalam pistolnya dan menyemprot ke wajah Bella.
"Sialan anak - anak kamu Dis" teriak Bella.
"Sorry, mereka hanya anak - anak. Tapi hati anak - anak sangat murni, mereka mungkin tahu kebahagian Ibu mereka sedang terancam" ucap Ditha.
Dengan wajah kesal Bella pergi meninggalkan mereka semua yang ada di Restoran Hotel.
"Horeeeee..... monsternya pergi" teriak tujuh kurcaci menang.
Setelah Bella pergi sontak para emak - emak sejati tertawa menang.
"Pasti ini ide si Ela kan?" tanya Disil.
"Ya habis kamu lama banget selesainya Bambaaaang. Tau modus kali ya, sekalian cuci mata" sindir Ela.
"Sorry yank kamu gak marah kan. Aku gak enak hati nolak dia mentah-mentah. Lagian tadi katanya dia mau minta tolong sesuatu padaku. Tapi lama amat minta tolong nya harus muter - muter dulu. Untung kalian datang menyelamatkanku" ucap Disil pada Ditha.
"Kemarahanku sudah diwakilkan oleh mereka semua" jawab Ditha.
"Jadi anak - anak kalian mau apa ke sini?" tanya Disil pada tujuh kurcaci yang imut - imut.
"Kami lapor Pa" jawab Sitha.
"Ya sudah kalian pesan apapun yang kalian mau, lagian ini juga hotel kalian Fael, Fela, Elfa, Ryntia dan Shaby pasti semua gratis" ucap Disil.
"Iih si Bambang peliiit. Nanti malam kamu yang traktir ya. Kami mau makan di luar" protes Ela.
"Oke My honey bunny sweety" jawab Disil.
"Ih Om gak boleh panggil Mama kami seperti itu" protes Fela.
Fajar yang datang menyusul mereka bersama Aby, Ryza dan Rafa langsung ikut nimbrung.
"Masa bodoh, sejak Om lahir dan kamu juga belum lahir Mama kamu sudah lebih dulu menjadi My honey bunny sweetynya Om jadi kalian gak boleh protes. Kalau mau protes, protes tuh sama Tuhan kenapa kamu duluan lahir dari pada Om" jawab Disil kepada Fael.
"Dasar Bambang sableng, ya kalau Fael duluan lahir dari pada Kamu aku nih setua apa lagi. Gedek hatiku lihat suami kamu Tha" ucap Ela kesal.
"Iya siapa tau dia menyesal dilahirkan jauh setelah aku El" balas Disil.
Ditha mencubit Disil dengan keras.
"Aaaaw sakit yank, kamu udah KDRT nih sama aku" ucap Disil.
"Apa tuh KDRT?" tanya Catherine ingin tau.
"Kerinduan dalam rumah tangga. Sabar yank nanti malam ya setelah Sitha bobok" Disil mengedipkan sebelah matanya dan melakukan kecupan nakal dari jauh.
Kali ini bukan Ditha yang mencubit Disil tapi Ela. Cubitan dengan capit kecil dan menarik kulit perut Disil dengan kerasnya. Kebayangkan sakitnya cubitan Ela.
Sontak Disil teriak keras.
"Aaaaw... ya Allah Eeeeeel sakit bangeeeet" teriak Disil.
"Kok aku ngerasa dejavu ya?" tanya Sintia.
"Dejavu Ela mau lahiran dan Disil teriak - teriak kesakitan" Keysha dan yang lainnya tertawa mengingat kejadian yang menyedihkan itu.
"Ayo anak-anak kalian sudah lapar kan, pesan makanan yang banyak biar Papa kalian tumpur" ucap Disil.
"Kalau cuma itu kagak akan tumpur Dis tapi kamu siap - siap, giliran kamu yang gulung tikar nanti malam" balas Fajar.
Disil menelan salivanya, sekerika dia lupa kalau dia sudah berjanji nanti malam dia yang akan mentraktir semuanya makan malam di luar hotel ini.
Mampu* deh gue kalau sempat si Sultan sama anak dan bininya beserta semua dayang - dayangnya ini minta makan di restoran mewuaaaah. Mati aku, umpat Disil menyesal.
******
Malam harinya di sebuah restoran mewah dimana tersedia taman bermain untuk anak-anak.
Semua anggota Geng F3STER sangat senang mendapati tempat bermain lengkap untuk mereka.
"Mama kami boleh main di situ?" tanya si Kembar Triplet kepada Ela.
"Boleh sayang tapi ingat jangan bertengkar, jangan main yang berbahaya dan perhatikan saudaranya yang lain ya, jangan keasikan main kalian kehilangan salah satu saudara kalian" Ela mengingatkan. Sejak kehilangan Elfa saat kecil Ela memang sedikit trauma. Dia tidak mau kehilangan untuk yang kedua kalinya.
Rasanya hampir mati saat mengetahui salah satu anaknya hilang. Ela yang terkenal kuat tak kuasa menahan kesedihan dan keterkejutannya. Dia bahkan pingsan begitu mendengar anaknya hilang.
"Iya Ma" jawab si Kembar Triplet.
Tujuh kurcaci itu langsung bergegas pergi setelah mereka mendapatkan izin dari orangtua masing - masing.
Mereka segera mengambil tempat sesuai keinginan mereka, Fael dan Shaby naik enjotan. Sitha dan Rynda masuk ke dalam istana Barbie, Elfa dan Fela naik prosotan sedangkan Fathir duduk di dalam ayunan.
Tepat di samping Fathir duduk seorang perempuan dewasa yang usianya hampir sama dengan orangtua mereka.
"Hai anak tampan kamu kok main sendirian?" sapa wanita itu kepada Fathir.
"Teman-temanku sedang bermain permainan lain" jawab Fathir.
"Wajah kamu tampan sekali mengingatkan tante pada seseorang. Siapa nama kamu sayang?" tanya wanita itu.
"Fathir Juang Rahardian" jawab Fathir.
"Rahardian? Kamu memakai nama keluarga Rahardian? Kalau Tante boleh tau siapa nama Papa kamu?" tanya wanita itu penasaran.
"Rafa Rahadian" jawab Fathir.
"Siapa???? "
.
.
BERSAMBUNG