Find The KEY

Find The KEY
Ep. 32



Setelah selesai melaksanakan shalat maghrib Ryza dan Keysha turun kelantai bawah sambil menunggu kedatangan Sintia yang sedang bersiap-siap diruangannya.


Ditha juga sudah siap hendak pulang karena sebentar lagi Disil akan menjemputnya.


Sintia dan Ditha sama-sama turun menaiki lift menuju lantai satu. Setelah itu mereka menemui Ryza dan Keysha.


"Maaf Sin aku mau ke toilet, dimana ya?" tanya Keysha.


"Oh ada di belakang, mari aku tunjukkan tempatnya" ajak Sintia.


Sintia membawa Keysha ke toilet yang letaknya ada di bagian belakang gedung ini. Meninggalkan Ditha dan Ryza berdua di depan.


"Kata Sintia pemilik ADS Butik ini adalah anak-anak dari pemilik ADS Corp, kecuali dia. Benar begitu Ditha?" tanya Ryza memulai percakapan.


"Iya aku dan sahabat aku yang di London adalah anak dari pendiri ADS Corp. Kalau Sintia anak dari sahabat orangtua kami saat mereka kuliah" jawab Ditha.


"Oooh.. ternyata kalian adalah anak-anak yang hebat ya" puji Ryza ramah sambil tersenyum.


"Kamu terlalu berlebihan Ryza" balas Ditha sambil tersenyum ramah.


Saat mereka sedang tersenyum sambil bercanda tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang panas menyaksikan dari luar keakraban diantara mereka.


Siapa lagi kalau bukan Disil yang malam itu berjanji untuk menjemput Ditha untuk makan malam dan menemani Disil mencari beberapa kebutuhannya.


Disil masuk kedalam Butik, karena sedang asiknya ngobrol mereka gak sadar kalau ada orang yang masuk dan mendekati mereka.


"Ehm... apakah aku mengganggu" sapa Disil.


"Eh Dis kamu sudah datang?" tanya Ditha terkejut.


"Baru saja" jawab Disil.


"Kenalkan Dis ini Ryza dari Barrakh Corp datang bersama saudaranya untuk memesan gaun di Butik kami" Ditha memperkenalkan Ryza kepada Disil.


"Ryza"


"Disil"


Mereka berkenalan dan saling berjabat tangan. Tak lama Sintia dan Keysha muncul dari belakang.


"Lho Disil udah datang rupanya" sapa Sintia.


"Iya Sin" jawab Disil.


"Kita berangkat yuk. Katanya kamu mau cari sesuatu, ntar kemalaman lho" ajak Ditha.


"Ok, kalau begitu kami duluan ya. Permisi semua" pamit Disil.


"Silahkan" jawab Ryza.


Disil dan Ditha keluar Butik dan melangkah menuju mobil Disil yang di parkir di depan Butik.


"Siapa pria itu Tha, teman kamu?" tanya Disil penasaran.


Ditha melihat sesuatu yang aneh dari wajah Disil.


Apakah dia cemburu, lebih baik aku tes deh. Mudah-mudan feelingku gak salah. Batin Ditha.


"Kasi tau gak ya? Mau tau aja apa mau tau bangeeet" goda Ditha.


"Ya udah kalau gak mau kasih tau. Gak usah main tebak-tebakan" jawab Disil kesal.


"Uduuuh ngambek baaaang?" Ditha semakin senang menggoda Disil.


Disil menekan remote mobil, mereka masuk ke dalam mobil Disil. Mobil mulai melaju menuju Mall terdekat. Disil minta temani Ditha untuk mencari kado pernikahan teman kuliahnya yang ketepatan juga client ADS Corp.


"Ryza itu salah satu karyawan Barrakh Corp, dia menemani saudaranya untuk mencari gaun ke Butik kami" ucap Ditha memulai pembicaraan.


"Itu aku sudah tau, kan tadi kamu sudah mengenalkan dia padaku. Yang aku tanya dia itu siapa? Teman kamu atau..." ucap Disil.


"Calon target aku" potong Ditha.


Sontak Disil kaget mendengar Ditha berkata seperti ini. Baru kali ini Disil melihat Ditha sangat antusias membicarakan seorang pria.


"Keren kan Dis? Wajahnya tampan dan pekerjaannya juga bagus. Bekerja di perusahaan besar seperti Barrakh Corp" puji Ditha.


"Kerenan juga aku dan bagusan pekerjaan aku. Aku ini wakil CEO ADS Corp lho. Jangan lupa kamu" ucap Disil semakin merasa panas.


Ditha tersenyum melihat wajah kesal Disil. Kena kamu kali ini, rasain. Umpat Ditha dalam hati.


"Iya.. iya.. kamu keren. Tapi kamu kan cuma sahabat aku. Rumput tetangga lebih hijau Dis" balas Ditha.


"Kamu itu ya gajah dipulupuk mata tak tampat tapi semut diseberang lautan nampak. Aneh" umpat Disil kesal.


"Lah apa coba salah aku sampai aku tidak melihat gajah di pelupuk mata?" tanya Ditha pura-pura gak ngerti.


"Aku yang tampan di depan mata kamu gak nampak. Eh ada semut haluuuuus di seberang lautan malah kamu nampak tampan lagi. Kan aneh?" jawab Disil kesal.


"Hahahahaha.... kalau itu aku tau Dis. Tau banget kalau kamu tampan tapi kamu kan cuma sahabat aku. Sekarang aku sedang menikmati rumput tetangga yang lebih hijau my meeen" goda Ditha.


Rasain lu, kesal kan? tau gini dari dulu aja kali aku cari pria untuk manas-manasin Disil. Bisik hati Ditha.


"Cih... hijau hijau ulat bulu kali hijau. Hati-hati kamu salah sentuh gatal seluruh badan kamu" umpat Disil semakin kesal.


Si Ditha ini muji cowok kamfretto itu terus. Panas hatiku jadinya. Umpat Disil dalam hati.


"Enak donk gatal-gatal. Sepertinya sesekali perlu juga tuh aku kegatelan biar dapat cowok tampan kayak Ryza" balas Ditha.


"Ah sudahlah kalau kamu gak mau aku ingatkan. Aku cuma mau bilang kamu hati-hati saja sama dia siapa tau aslinya dia itu buaya" ucap Disil.


"Lho yang mana nih sebenarnya, dia itu ulat bulu atau buaya?" goda Disil.


"Ulat bulu titisan buaya darat" jawab Disil asal.


"Hahahaha.. jadi lucu ngebayangin gimana bentuk ulat bulu titisan buaya darat. Kok aku ngebayangin wajah Ryza jadi warna hijau ya. Kayak hulk, kan keren badannya kekar" Ditha semakin asik menggoda Disil yang terbakar api cemburu.


"Kamu gak takut Tha? Aku udah ngingatin kamu ya, ntar kalau kamu terluka jangan ngadu ke aku dan salahain aku gak coba ngelarang kamu. Jauh-jauh hari sudah aku ingatkan" Ucap Disil mengingatkan.


"Ngapain aku takut Dis. Kamu sang ketua geng playboy cap biawak bin buaya aja sudah sering aku hadapin. Kalau cuma ulat bulu titisan buaya darat kecil itu mah. Aku sudah hapal trik-trik casanova yang doyan menggoda wanita. Kalau bahasa anak kecilnya aku udah gumoh dengar gombalan receh seorang buaya darat. Sudah tamat dari A sampai Z. Kan aku sudah belajar dari kamu" sindir Ditha.


"Bedalah Tha, kamu kan sahabat aku mana pernah aku gombal receh sama kamu. Masak sahabat sendiri mau dimainin. Rusak nanti dunia persilatan" balas Disil.


"Jadi kalau sahabat enaknya mau diapain donk?" tanya Ditha menjebak.


Seketika Disil bingung untuk menjawab pertanyaan Ditha.


Diapain ya, mampu* aku kejebak sendiri sama kata-kataku. Mati kamus kan jadinya. Umpat Disil sendiri.


"Ya kalau sahabat jangan dimainin lah Tha tapi di seriusin" tanpa sadar kata-kata itu mengalir begitu saja dari bibir Disil.


Membuat jantung Ditha semakin berdebar. Serius kamu Dis? Benarkah? tanya Ditha dalam hati.


"Udah ah dari tadi bahas apa coba, gak penting. Mending fokus aja nyetirnya biar cepat sampai" ucap Ditha mengalihkan pembicaraan.


.


.


BERSAMBUNG