
Esok harinya Catherine sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat inap. Seluruh keluarga menyambutnya dengan penuh suka cita. Tetapi bayi mungil mereka belum bisa dibawa bersama Ibunya karena masih di rawat didalam inkubator.
Catherine hanya bisa memompa asinya dan menitipkannya kepada perawat untuk diberikan kepada putri kecilnya melalui dot
"Alhamdulillah sayang, akhirnya kamu bisa dibawa ke ruang rawat inap. Kami sudah menunggu kamu dari tadi malam tapi dokter bilang lebih baik kamu istirahat dulu satu malam di ruangan pemulihan" ungkap Rafa.
"Aku juga sudah tidak sabar untuk bertemu dengan kalian Mas. Rasanya satu malam sangat lama kulalui" jawab Catherine.
"Mommy.... aku sayang Mommy, terimakasih sudah berjuang untuk kami" Fathir memeluk Mommynya.
"Mommy juga sayang kamu nak" balas Catherine.
"Hai sayaaang... akhirnya kamu berhasil melaluinya. Selamat sayang, kamu melahirkan putri yang sangat cantik" ucap Mrs. Wolter.
"Kami semua menunggu kamu di sini" sambut Lidya.
"Terimakasih semuanya... " balas Catherine haru.
"Kekeeeeet kita gak jadi janjian melahirkannya" ujar Keysha sambil memeluk Catherine.
"Maaf Key, semua memang tidak bisa kita duga. Allah yang merencanakannya" jawab Catherine.
"Tidak apa, yang penting kamu dan anak kamu sehat. Aku sampai mules kemarin nungguin kamu operasi" balas Keysha.
"Apa sih Keet yang kamu fikirin sampai tekanan darah kamu naik?" tanya Sintia.
"Gak tau, aku juga gak tau apa penyebabnya" ungkap Catherine.
"Kamu takut ya di tinggal Mommy dan Daddy?" selidik Ela.
"Aku cuma mikir saat Mommy dan Daddy mau pulang. Kalau aku melahirkan pasti untuk yang ke dua kalinya Mommy dan Daddy tidak ada di rumah sakit menungguiku melahirkan.
" Honeeeeeey.... kan mommy udah bilang. Kalau kamu mau melahirkan mommy pasti akan datang" balas Mrs. Wolter.
"Aku sudah yakini hatiku seperti itu Mommy tapi entah mengapa fikiran - fikiran lain terus bermain di dalam benakku" ungkap Catherine.
"Sudah.. sudah.. yang penting sekarang semua sudah terlalui. Kamu juga masih dalam masa pemulihan jangan berfikiran macam - macam. Kami semua ada di sini mendukung kamu dan bayi kamu sampai sehat" sambut Reza.
"Iya Pak, terimakasih semuanya" balas Catherine.
Rafa menggenggam tangan istrinya mesra.
"Mas kapan aku bisa melihat bayi kita?" tanya Catherine.
"Nanti kita tanya Dokter ya sayang, yang penting kamu fokus untuk pemulihan pasca operasi dulu ya. Kalau kamu sudah bisa berdiri dan berjalan aku rasa pasti bisa melihat putri kita" jawab Rafa.
"Oh iya siapa nama bayi mungil itu?" tanya Ditha.
"Siapa yank, kali ini kamu ya yank kasih nama putri kita?" tanya Rafa.
"Mmm.... bagaimana kalau kita kasih nama Cathifa? Selebihnya kamu yang tambahin namanya ya Mas" lempar Catherine kepada Rafa.
"Bagus sayang. Bagimana kalau Cathifa Aulia Rahardian. Artinya anak perempuan mulia Catherine dan Rafa dari keluarga Rahardian" ucap Rafa.
"Aku setuju Mas. Kita panggil dia Thifa ya" sambut Catherine.
"Iya sayang" balas Rafa.
Semua sangat bahagia melihat Catherine sehat pasca melahirkan hanya tinggal pemulihan. Walaupun begitu kesehatan nya tetap di pantau.
Menjaga terjadinya kenaikan tekanan darah pasca lahiran. Untuk sementara Dokter bilang keadaan Catherine stabil. Dukungan keluarga sangat membantu dalam masa pemulihan.
Tak lama seorang perawat datang ke kamar Catherine untuk mengukur tekanan darah Catherine.
"Maaf ya Bapak Ibu, tolong di jaga waktu istirahat Ibu Catherine. Kalau terlalu banyak tamu takutnya Ibu Catherine tidak bisa istirahat yang cukup dan tenang" Perawat mengingatkan.
"Iya Sus, kami terlalu bahagia melihat istri saya bisa keluar dari ruang pemulihan sehingga semua keluarga ingin segera bertemu dengannya" Ucap Rafa merasa bersalah.
"Maaf Suster kalau kehadiran kami sedikit membuat keributan" ujar Reza.
"Iya Suster kami mengerti" balas Rafa.
"Tekanan darah Ibu normal. Tolong selama di rawat makan makanan yang di sediakan dari rumah sakit ya Bu, kalau dibawa dari rumah juga boleh tapi tolong di jaga kadar garamnya" ujar Perawat.
"Baik Suster. Terimakasih sudah mengingatkan kami" balas Lidya.
"Kapan saya bisa melihat putri saya Suster?" tanya Catherine.
"Setelah Ibu sudah bisa belajar duduk dan berjalan ya. Kan kita akan sulit membawa Ibu kalau Ibu masih terbaring di tempat tidur. Kalau Ibu sudah bisa duduk, nanti bisa kita bawa ke ruang bayi menggunakan kursi roda. Oleh sebab itu Ibu harus semangat untuk cepat sembuh biar bisa secepatnya juga ketemu sama bayinya" jawab Perawat memberi semangat.
"Baik Suster, terimakasih ya" balas Catherine.
"Sama - sama Bumi Saya pamit dulu ya Bu, Pak. Permisi semua" ujar Perawat ramah.
"Iya Suster" jawab mereka semua.
"Yuk kita ngobrolnya di luar saja biar para ibu - ibu saja yang nungguin di dalam" ajak Reza.
Semua para lelaki keluar dari kamar rawat inap dan menunggu di ruang tamu kamar Super VIP rumah sakit.
"Mr. Wolter tambah lagi liburnya ya" ujar Aditya.
"Iya Mr. Aditya. Tidak masalah asalkan Catherine dan bayinya sehat. Kalau di fikir - fikir mungkin cucu kecilku itu memang tidak setuju grandpa dan grandmanya pulang sehingga dia protes dengan mempercepat kelahirannya" canda Mr. Wolter.
"Aku juga sempat berfikiran seperti itu" sambut Dimas.
"Sekalian hemat ongkos Uncle. Kalau Uncle sudah sempat terbang ke London terus besok harus balik lagi ke Indonesia kan namanya pemborosan" goda Disil.
"Tidak ada kata boros untuk cucu Bambaaaang" potong Ela yang keluar dari kamar Catherine di rawat.
"Kamu kali Mas yang pelit" goda Ditha.
"Sudah selama ini kita menikah kamu baru tahu kalau aku pelit yank" balas Disil
"Iya kalau aku tau, dari dulu aku tidak mau sama kamu" ejek Ditha.
"Hahaha... kamu tidak bisa lepas dariku yank. Aku kan cinta pertama kamu" rayu Disil.
"Udah tua Bambang. Rayuan kamu baseeeee" ejek Ela.
"Husss... ini Rumah Sakit. Becandanya jangan kelewatan. Nanti yang lain terganggu karena kamar kita terlalu ribut" ucap Aditya mengingatkan putrinya.
"Habis si bambang ini Pa, udah tua tapi sifatnya gak berubah juga" jawab Ela.
"Kamu juga sama. Udah tua masih tetap berantem sama Disil. Udah tau dari dulu Disil pedenya selangit" sindir Aby.
"Gatel Kak kupingku dengar jawaban si Bambang" balas Ela.
"Kamu kapan nambahnya El, semua udah dua kali hamil" ucap Disil.
"Aku satu kali hamil saja masih belum ada yang mengalahkanku. Mungkin sebentar lagi baru aja yang seimbang karena Kak Key hamil baby twins. Lah kalau aku hamil lagi, kalian semua jelas kalah. Jadi aku ngalah deh, biar seperti ini saja. Takut ternyata anakku kembar kuartet bisa rame bocah kalau kita ngumpul" jawab Ela.
"Ya gak apalah kan suami kamu Sultan dan kamu anak raja minyak dari Medan" goda Disil.
"Emangnya hamil itu gampang bambaaaang... " jawab Ela kesal.
Semua tertawa melihat Ela dan Disil bertengkar. Itu adalah tontonan yang sudah biasa bagi mereka dan mereka sangat menikmatinya.
Walau sudah semakin tua tapi keakraban dan persaudaraan mereka tidak akan pernah pudar bahkan semakin akrab.
.
.
BERSAMBUNG