Find The KEY

Find The KEY
Ep. 81



"Apa TBF Hotel Om?" tanya Ela tak percaya.


"Iya, kenapa El?" tanya Keysha penasaran.


"Aku sering ke TBF Hotel, sering lho diadakan peragaan busana di sana. Gak nyangkan ternyata GM nya dia. Kok aku gak pernah lihat dia ya?" tanya Ela.


"Kan tadi aku udah bilang El, dia itu males banget dekat-dekat cewek" jawab Keysha.


"Atau mungkin dia gay kali Key?" oceh Ela.


"Deeek" lagi - lagi Aby mengingatkan. Adiknya ini kalau ngomong suka lepas kendali. Kayak peluru ketapel, begitu lepas dari induk ketapelnya langsung melejit tanpa arah menembus batas, halaaaah....


"Maaf.. maaf... keceplos" ucap Ela.


Kevin tersenyum melihat tingkah Ela yang bocor halus dan lepas kalau ngomong. Tapi Ela memang terlihat apa adanya dan jujur tidak dibuat - buat.


Sepertinya benar juga kata Aladin, aku harus bekerjasama dengannya untuk mengerjain si Lampu Aladin. Batin Kevin.


"Sepertinya kami harus pulang dulu Pa, tadi Mama ada pesanan yang mau di beli sebelum kami pulang" ucap Aby.


"Ow yah Kak? Kok gak bilang sama aku?" tanya Ela heran.


"Hp kamu tadi sibuk terus saat di telepon, jadi Mama telepon ke hp kakak" jawab Aby.


Ela bingung dengan jawaban Aby tapi dia tetap diam dan menahan diri untuk bertanya pada Aby. Mereka undur diri dari rumah Keysha dan kembali pulang.


Saat di mobil Ela heran mengapa mobil melaju menuju rumah mereka.


"Katanya Mama mau titip beli sesuatu Kak, kok kita menuju jalan ke rumah ini?" tanya Ela bingung.


"Kakak sengaja buat alasan habis kamu ngomongnya semakin ngawur di sana" ucap Aby kesal.


"Kamu kayak gak tau Ela aja By, kalau udah ngomong kayak mercon roket. Bagitu gagangnya di lepas langsung terbang bebas, kencang dan akhirnya meledak. Duaaaar" ledek Rafa.


"Yeeee... enak aja. Habis aku ngerasa aneh sama cowok pendendam itu. Wajah oke, jabatan oke, masak gak punya pacar. Pasangan bridesmaidnya aja adik sendiri" komentar Ela.


"Yah mungkin dia punya alasan sendiri" sambut Aby. Sebenarnya Aby ingin cerita mengenai penyakit Fajar tapi dia udah janji pada Keysha untuk merahasiakanny.


"Tapi wajar juga sih gak ada cewek yang mau. Orangnya ngeselin, iiiiih amit - amit deh di sana ketemu sama dia. Lagian gak ada manfaatnya juga kenal sama dia di London. Toh aku tetap harus pakai pasport masuk London. Kalau kenal yayank William sih bisa jadi aku akan jadi ratu cooming soon saingan sama Kate Middleton" canda Ela.


"Mimpi kamu" potong Aby.


Akhirnya mereka sampai rumah juga. Malam harinya saat mereka selesai makan malam bersama, Aditya mengajak istrinya untuk berbincang - bincang dengan anak - anaknya di ruang keluarga.


"El, ada yang Papa ingin katakan pada kamu" ucap Adity.


"Ada apa Pa, sepertinya serius?" tanya Ela.


"Ini mengenai kamu" jawab Aditya.


"Aku? Kenapa dengan aku?" tanya Ela bingung.


"Sayang seminggu lagi kakak kamu akan menikah. Nanti setelah dia menikah tentu saja dia akan meninggalkan rumah ini dan hidup bersama istrinya membangun rumah tangga bersama. Rumah ini pasti akan semakin sepi, hanya tinggal kami berdua" ungkap Aditya.


"Iya sayang.. Papa Mama punya satu permintaan kepada kamu" sambung Alexa.


Ela dengan serius mendengarkan Papa dan Mamanya berbicara.


"Kami ingin kamu pulang dan menetap di Indonesia. Cukup sudah waktu enam tahun kamu di sana. Kapan lagi Papa dan Mama bisa berkumpul dan tinggal bersama dengan kamu lagi" pinta Aditya.


Ela seketika terdiam.


"Deek Kakak juga merasa sudah cukup waktu kamu bermain di sana. Kalau untuk berkarya, di mana pun kamu berada, kamu masih bisa tetap berkarya. Kalau memang ada event di sana kamu bisa pergi ke sana tapi hanya untuk bekerja bukan untuk tinggal" sambung Aby.


"Ingat sayang rumah kamu di sini. Keluarga kamu di sini. Papa Mama sangat merindukan dan membutuhkan kamu di sini" Alexa mulai meneteskan air matanya.


"Mama..." Ela memeluk Alexa.


"Papa harap kamu bisa memikirkan dan mempertimbangkan permintaan kami ini sayang. Papa dan Mama sudah semakin tua. Kami tidak ingin kalau anak - anak kami berada jauh dari kami. Kami tidak ingin membatasi keinginan kamu. Kamu tetap boleh berkarier dan berkarya tapi tolong fikirkan permintaan kami" ucap Aditya serius.


"Boleh Ela memikirkannya dulu Pa, Ma, Kak Aby. Ela tidak bisa secepat itu memutuskan. Karena di sana Ela sudah mempunyai jadwal dari jauh - jauh hari. Tidak mungkin Ela meninggalkannya begitu saja" jawab Ela.


"Kami mengerti sayang. Kami juga sadar, permintaan kami ini juga tidak bisa secepat itu terkabul. Tapi kalau tidak Mama dan Papa utarakan sekarang kapan lagi kamu akan berfikir untuk pulang?" ungkap Alexa.


"Iya Ma. Ela janji akan memikirkannya dan sebisa mungkin Ela tidak akan mengecewakan kalian semua" balas Ela.


"Syukurlah. Terimakasih sayang" ucap Alexa sambil memeluk Ela.


"Jangan berkata seperti itu Ma, sudah kewajiban Ela membuat Papa dan Mama bahagia" sambung Ela.


Setelah selesai mengutarakan permintaan mereka akhirnya merek memutuskan untuk kembali ke kamar mereka masing - masing untuk beristirahat.


Ela masuk ke kamarnya dan berbaring telentang menatap langit - langit kamarnya. Dia mencoba memikirkan kembali permintaan Papa dan Mamanya.


Selama ini Ela bebas menentukan keinginannya. Papa dan Mamanya tidak pernah memaksakan kehendak mereka kepada Ela.


Papa dan Mamanya juga jarang meminta sesuatu kepadanya. Mungkin baru kali ini mereka meminta sesuatu hal yang besar bagi Ela.


Rasanya tak mungkin untuk menolak permintaan orangtuanya. Lagian sudah kewajiban anak untuk patuh pada perintah orangtua.


Kedua orangtuanya sudah memenuhi semua kewajiban mereka sebagai orangtua. Membesarkannya, menyekolahkannya, melindungi dan menyayanginya dengan segenap jiwa raga mereka.


Sudah saatnya kini Ela yang harus berbakti kepada orangtuanya. Lagian ini adalah kesempatan Ela untuk menjaga Papa dan Mamanya sebelum kelak Ela menemukan pendamping hidupnya yang akan menjadi imam dan bertanggung jawab pada hidupnya dunia akhirat.


Ela membuka agenda kerjanya dan melihat jadwal kerjanya ke depan. Ela membaca semua kontrak kerja yang sudah dia tanda tangani.


Memang tak banyak kontrak kerja yang sudah di setujui karena sebelumnya Ela memang sengaja mengosongkan beberapa jadwalnya untuk beberapa bulan ini dengan alasan dia memang berjaga - jaga siapa tau dia masih rindu tinggal bersama orangtuanya dan masih enggan pulang ke London jadi dia bisa menambah waktu liburannya.


Ternyata ada juga manfaatnya merencanakan ini sebelumnya. Jadi Ela tidak perlu repot - repot lagi untuk membatalkan kontrak kerjanya.


Ela sudah mengambil keputusan malam ini. Bagaimanapun membahagiakan dan memenuhi permintaan orangtua adalah hal yang wajib Ela laksanakan. Tidak ada artinya jika semua dunia ini bisa digenggam tapi menyakiti dan mengecewakan hati orangtua.


Diluar dari semua itu sesuatu yang dihindari Ela selama ini perlahan sudah bisa diatasi. Dulu dia pergi ke London untuk lari dari Rafa. Tapi saat ini dia sudah bisa menghadapi itu semua.


Ela sadar tak mungkin dia terus lari dari Rafa. Perasaan itu harus bisa Ela lawan dan sepertinya rasa itu perlahan sudah menepi.


Mungkin ini memang waktunya untuk Ela kembali..


Pa.. Ma.. Kak Aby.. Ela akan pulang.


.


.


BERSAMBUNG