Find The KEY

Find The KEY
Ep. 234



Setelah kejadian malam itu sepulang mereka periksa ke dokter kandungan semua anggota Geng ERASADIS selalu waspada dan kompak saling menjaga.


Terlebih Catherine, Sintia dan Ditha yang ditugaskan oleh suami mereka masing-masing untuk mengawasi gerak - gerik Ela selama di Butik. Mereka takut Ela akan menemui Lisa dan menyelesaikannya sendiri.


Begitu juga Fajar yang sudah menugaskan anak buahnya untuk menjaga dan mengawasi istrinya selama jauh darinya.


Dikamar Fajar dan Ela.


"Gimana hari kamu sayang?" Fajar memeluk istrinya dari belakang. Tentu saja karena perut Ela sudah semakin besar tangan Fajar tidak bisa lagi melingkari perut istrinya.


"Biasa Mas gak ada masalah yang berarti. Tumben tanya - tanya?" tanya Ela heran.


"Lho gak boleh aku tanya begitu pada istriku? Aku kan pengen tau keadaan istriku di Butik" Jawab Fajar lembut.


"Boleh sih cuma tumben kamu sok manja dan perhatian gitu" balas Ela sambil kegelian karena Fajar menghembus - hembuskan nafasnya ke arah telinga Ela.


"Aku kan kangen kamu dan anak-anak kita sayang. Dari tadi kerjaan aku numpuk rasanya capek banget dan pengen cepat - cepat pulang. Pengen lihat kamu dan sapa anak - anak aku semua. Hai sayang, anak - anak Papa, kalian baik - baik dan akur kan di dalam sana" Fajar mengelus lembut perut istrinya.


"Kami baik dan selalu kompak Pa" jawab Ela menirukan suara anak - anak.


"Syukurlah, jaga Mama kalian ya sayang dan jangan nakal sama Mama. Kasihan tuh Mama kalian berat bawa kalian bertiga kemana-mana" ucap Fajar.


"Maaas gak boleh mengeluh seperti itu. Emang sudah tugas aku sebagai seorang ibu membawa anak-anakku yang masih di dalam perut ini kemana- mana tanpa harus merasa terbebani dan merasa keberatan. Justru aku sangat bahagia mereka ada bersamaku, menemaniku setiap hari selama sembilan bulan sampai mereka lahir nanti" ungkap Ela bahagia.


"Iya.. Iya sayang.. Dengerkan anak - anak Papa sayang. Mama kalian hebat dan kuat. Kalian juga harus jadi anak yang kuat seperti Mama ya" ucap Fajar lagi.


"Oke Papaaaaa... " balas Ela dengan suara anak - anak.


"Yank" panggil Fajar


"Heeem.... " jawab Ela sambil menikmati elusan tangan Fajar di perutnya.


"Kamu sadar gak punya hutang cerita padaku?" tanya Fajar


"Nggak" jawab Ela cuek karena memang dia merasa tidak ada yang perlu diceritakan ataupun di rahasiakan dari suaminya. Sepertinya semua sudah dia bongkar habis dan tuntas.


"Tuh kan, kamu belum sadar. Masih ada kisah yang belum kamu ceritakan padaku" ucap Fajar.


"Apaan. Kok malah main teka - teki gitu. Aku lagi malas mikir Mas" balas Ela.


"Waktu di praktek dokter kemarin. Si Bambang itu suka bilang kamu itu my honey bunny sweetynya dia, itu bukan tanpa alasan kan? Pasti ada cerita di balik semua itu. Apalagi kamu bilang sama suster kalau Si Bambang adalah penggemar lawas kamu. Ayo ngaku???" Fajar menggelitik pinggang istrinya.


"Maas geli ah. Udahan atau aku gak mau cerita nih" ancam Ela.


"Oke.. aku berhenti. Sekarang kamu cerita" Fajar menarik tubuh istrinya ke tempat tidur dan mereka berbaring sambil berpelukan romantis.


"Dulu waktu SMU si Bambang pernah nembak aku. Dia ungkapin perasaannya padaku saat kami semua nginap bareng di rumah Papa Mama saat perpisahan aku mau pergi ke London" ungkap Ela.


"Terus?" tanya Fajar penasaran.


"Ya aku tolak karena... " jawaban Ela menggantung.


"Karena saat itu kamu menyukai Rafa dan lagi patah hati sampai harus lari ke London" jawab Fajar.


"Nah udah tau malah nanya" balas Ela.


"Yah siapa tau ada cerita lain yank, kamu terima dia dan kalian pernah pacaran terus putus. Aku kan gak tau" ungkap Fajar.


"Aku tau sayang kamu adalah wanita yang baik. Kamu malah lebih memilih menderita dari pada harus menyakiti orang yang kamu sayangi" balas Fajar sambil mengecup puncak kepala Ela.


"Yaaah begitulah istri kamu Mas. Aku menyatukan Lisa dan Rafa dan memilih lari dari mereka karena tidak sanggup melihat mereka bersama. Seandainya aku tau Lisa itu jahat pasti sejak awal aku tidak akan membantunya" ucap Ela geram.


"Waooow bisa lain ceritanya yank. Jangan doooonk" potong Fajar.


"Lain cerita gimana?" tanya Ela bingung.


"Kalau Lisa gak pacaran sama Rafa bisa jadi kamu yang pacaran sama si Rafa trus gak ketemu aku donk. Malah kalian yang nikah sama dia secara aku lihat Om Reza sayang banget sama kamu. Pasti dia sangat setuju kalau kamu jadi menantunya" protes Fajar.


"Iya juga ya Mas atau malah kalau aku pacaran sama Rafa terus putus kan bisa jadi hubungan persahabatan kami jadi rusak. Soalnya kan jodoh itu sudah pasti dan jodoh aku adalah kamu" ungkap Ela.


"Naaah kata- kata itu yang aku suka. Jodoh aku adalah kamu" puji Fajar.


"Rencana Allah ternyata lebih indah ya Mas, walau dulu rasanya berat banget menjalani enam tahun sendirian di London untuk melupakan perasaan aku pada Rafa. Allah menggantinya dengan bertemu kamu di hari pertama aku kembali ke Indonesia. Walaupun saat itu pertemuan kita adalah pertarungan kita yang ke dua" ungkap Ela.


"Dan berakhirnya dengan permusuhan" Fajar tertawa mengenang kisah masa lalu mereka.


"Habisnya kamu cowok pendendam sih. Masak kalah bertarung gak mau jabat tangan. Itu berarti tidak profesional dan gak legowo. Tidak berjiwa besar" ucap Ela dengan semangat membara.


"Aku kan gak tau yank kalau kamu itu penawar alergiku saat itu. Aku takut alergiku akan kumat kalau bersentuhan dengan wanita" jawab Fajar.


"Tapi kan saat itu kamu tidak menganggap aku sebagai wanita. Kamu selalu menyebutku wanita jadi - jadian" protes Ela.


"Habis kamu kuat dan tomboy abis sih. Aku sampai kewalahan melawan kamu. Sebenarnya kalau aku sadar alergiku tidak kambuh saat menyentuh kamu, pasti saat itu kamu akan aku kalahkan" ungkap Fajar.


"Jangan donk, kalau aku kalah Kak Aby gak bisa nikah sama Kak Keysha" potong Ela.


"Iya ya.. kamu benar yank" Fajar semakin mempererat pelukannya.


"Semua sudah disusun Allah dengan sebaik mungkin Mas, mengapa bisa seperti itu agar jadi seperti ini. Kalau tidak begitu maka tidak akan jadi begini" jelas Ela.


krucuk.. krucuk...


"Perut kamu bunyi yank. Kamu laper?" tanya Fajar terkejut.


"Nggak, mungkin cacingnya kejepit anak kamu" jawab Ela asal.


Fajar mendekatkan telinganya ke perut Ela.


"Apa sayang... kalian minta di jenguk?" ucap Fajar menggoda Ela.


"Yank mereka bisikin ke aku, mereka pengen di jenguk" Fajar tersenyum sambil mengedipkan matanya nakal.


"Haalaaaah Mas.. Maaaas.. anak dijadikan alasan padahal kamu yang mau" jawab Ela tertawa.


"Tapi kamu suka kaaaaaan" goda Fajar.


Akhirnya pembicaraan ringan mereka kini berubah menjadi panas.


.


.


BERSAMBUNG