
Sementara di kediaman kekuarga Sandy.
"Assalamu'alaikum Om" sapa Disil ketika memasuki rumah Ditha.
"Wa'alaikumsalam, eh Disil mari masuk. Mau cari Ditha kan? Tha... ada Disil nih datang" teriak Sandy memanggil putri sulungnya.
"Nggak kok Om, kedatangan saya malam ini untuk menemui Om" ucap Disil.
"Kamu ada perlu sama Om? Perlu apa Dis? Apa masalah kantor?" tanya Sandy.
"Bukan Om. Bukan masalah kantor. Tapi tentang Ditha Om" jawab Disil.
"Ditha? ada apa dengan Ditha?" tanya Sandy bingung.
"Maksud kedatangan Disil kesini adalah meminta izin dan restu Om untuk melamar Ditha Om" ucap Disil.
Sontak Sandy terkejut mendengar perkataan dari anak sahabatnya itu.
"Apa? kamu mau melamar Ditha Dis? Kamu serius?" tanya Sandy terkejut.
"Saya serius Om. Saya tidak main-main. Makanya saya datang kemari untuk mendapatkan restu dari Om. Sudah beberapa bulan ini saya dan Ditha menjalin hubungan yang lebih dari seorang sahabat. Kami tidak mau berlama-lama dalam hubungan pacaran Om. Oleh sebab itu saya ingin segera melamat Ditha dengan izin Om" pinta Disil.
"Kamu sudah bicarakan hal ini sama papa kamu?" tanya Sandy.
"Belum Om. Rencana saya setelah menemui Om malam ini baru saya akan bilang ke Papa dan Mama Om" jawab Disil.
"Sebentar Om panggil Ditha dulu ya. Om tidak bisa langsung memberi jawabannya sebelum Om tanyakan perasaan Ditha pada kamu" ucap Sandy.
"Dithaaaa" panggil Sandy.
"Ya Pa" jawab Ditha dari ruang keluarga.
"Kemari dulu sayang, Papa mau bicara sama kamu" ucap Sandy.
Tak lama Ditha sudah datang dan duduk di sofa ruang tamu dihadapan Papanya.
"Barusan Disil menyampaikan maksud kedatangannya malam ini kesini. Dia ingin melamar kamu. Apa benar kalian sudah menjalin sebuah hubungan yang lebih dari sekedar sahabat?" tanya Sandy to the point.
Ditha menganggukkan kepalanya malu.
"Apa kamu serius dengan perasaan kamu? Coba tanya lagi hati kamu. Rasa sayang kamu memang benar-benar rasa sayang seorang wanita kepada pria atau hanya rasa sayang sebagai sahabat? Dalam pernikahan harus ada rasa cinta nak. Kalau kalian tidak merasakannya nanti Papa takut ditengah jalan akan ada rasa bosan pada pasangan kalian" nasehat Sandy pada Ditha dan Disil.
Tak lama Mitha datang membawa teh untuk suaminya dan Disil.
"Diminum Dis" Mitha mempersilahkan Disil minum.
"Iya Tante" jawab Disil.
"Ada apa Pa. Apakah ada masalah, sepertinya kalian serius sekali?" tanya Mitha yang baru saja ikut nimbrung bersama mereka. Dia tidak mendengar pembicaraan suaminya dengan Disil dan ditha sebelumnya.
"Ini Ma Disil meminta izin Papa untuk melamar Ditha" jawab Sandy.
"Serius Dis?" tanya Mitha terkejut.
"Iya Tante, saya serius ingin melamar Ditha" jawab Disil tegas.
"Jadi Ditha sudah kamu fikirkan apa yang Papa bilang tadi? Apakah kamu memang mencintai Disil atau hanya sayang padanya sebagai sahabat? Kamu harus bisa membedakannya sayang. Ini sangat penting dalam hubungan kalian" Sandy melanjutkan nasehatnya pada anaknya.
"Iya Pa, Ditha sudah memikirkannya jauh sebelumnya. Ditha memang mencintai Disil lebih dari rasa sayang seorang sahabat" jawab Ditha sambil tertunduk.
Disil melirik kearah Ditha.
Terimakasih atas jawaban kamu Tha. Aku mencintai kamu. Sorak hati Disil.
"Apakah kamu bahagia pada keputusan kamu ini?" tanya Sandy pada putri sulungnya itu.
"Kamu Dis, Om sudah mengenal kamu sejak kecil dan Om sudah banyak mendengar tentang kamu yang punya banyak fans diluar sana. Om tidak mau mendengar kalau kamu hanya mempermainkan dan menyakiti Ditha. Walaupun kamu anak dari sahabat Om, Om tidak akan segan-segan menghajar kamu" ancam Sandy.
"Iya Om, saya serius mencintai Ditha, tidak akan mempermainkan Ditha dan menyakitinya. Aku bisa pastikan itu Om" janji Disil.
"Baiklah kalau begitu Om akan merestui kalian. Kapan Papa kamu datang Dis. Om sudah gak sabar mau main catur sama dia" ucap Sandy.
"Kog main catur sih Pa?" tanya Mitha.
"Yah sekalian Ma membicarakan kapan waktu yang tepat untuk melaksanakan niat mereka. Niat baik tidak boleh di perlama nanti banyak godaan yang datang. Apalagi di keliling Disil banyak setannya" sindir Sandy.
Disil menelan salivanya mendengar ocehan dari calon mertuanya.
Apa salah aku sih Om mempunyai banyak fans? Kan bukan salah aku sendiri. Salahkan Papaku yang telah menurunkan wajah yang tampan ini kepadaku dan menitiskan darah leboynya kepadaku Om. Sehingga kemanapun aku pergi banyak wanita yang ngintilin aku. Batin Disil.
"Aku akan bilang ke Papa secepatnya datang ke sini untuk melamar Ditha secara reami Om. Segera setelah pulang dari sini akan aku ceritakan pada mereka niatku untuk melamar Ditha" ucap Disil tegas.
"Bagus. Jadi laki-laki ya harus begitu. Serius menata masa depan. Jangan main-main karena menyesal dibelakang hari tidak ada guna" pesan Sandy.
Ya iyalah om kalau di depan namanya pendaftaran. Gemes aku lihat calon mertuaku ini, jadi pengen cium anaknya. Lho..lho.. lho... Disil tertawa dalam hati.
"Kalau begitu kita makan dulu yuk Pa, ajak Disil juga Tha, kita makan bareng. Sebentar lagi kan Disil akan jadi anak Ibu juga" ajak Mitha.
Malam itu Disil makan malam bersama dengan keluarga Ditha. Hatinya lega sekali akhirnya lamaran tak resminya diterima oleh calon mertuanya.
Walau seperti yang diketahui semuanya Disil dekat dengan para wanita tapi baru kali ini dia serius menjalin hubungan dengan seorang wanita. Walau dia sudah mengenal Sandy dan Mitha sejak kecil tetap saja saat seperti ini dia merasa grogi dan deg-degan.
Namanya acara sakral sekali seumur hidup dan Disil sangat bersyukur rencananya melangkah menuju hubungan yang serius berjalan lancar tidak ada rintangan apapun.
Tinggal memberitahu kedua orangtuanya mengenai rencananya setelah pulang dari rumah Ditha ini.
Disil pulang dari rumah Ditha dengan membawa pulang izin dan restu kedua orangtua Ditha.
"Kok tumben kamu pulang cepat malam minggu gini Dis, biasanya lama pulang atau nginap dirumah sahabat kamu?" tanya Dimas.
"Iya Pa, ada yang mau aku sampaikan sama Papa dan Mama" jawab Disil.
"Kamu mau bicara apa Dis? Kelihatannya serius sekali?" tanya Sisil.
"Mengenai masa depan aku Pa, Ma" Disil menatap kedua orangtuanya.
"Wah Pa, sepertinya anak kita sudah dewasa sekarang, tumben-tumbenan dia mau cerita masa depan" goda Sisil.
"Iya sudah waktunya Ma, kan umurnya juga sudah banyak. Masak mau main-main lagi kyak anak ABG" Ucap Dimas.
"Jadi apa yang mau kamu bicarakan tentang masa depan kamu?" tanya Dimas
"Disil mau menikah Pa, Disil mohon bantuan Papa dan Mama untuk melamarnya secara resmi kepada orangtuanya" pinta Disil.
"Kamu mau menikah dengan siapa? Selama ini Papa malah bingung siapa pacar kamu. Terlalu banyak wanita yang ada disekitar kamu sehingga Papa tidak bisa menebak siapa yang kamu seriusin" tanya Dimas.
"Disil mau menikah dengan Ditha Pa" jawab Disil.
"APAAAAA....?"
.
.
BERSAMBUNG
Selamat long weekend. Mohon maaf hari ini Upnya dikit ya teman-teman. Saya lagi dalam perjalanan ke luar kota. Harap maklum.. sabar ya.