Find The KEY

Find The KEY
Ep. 6



"By, El, nanti kita latihan gak?" tanya Rafa.


"Latihan donk Raf" jawab Aby dan disambut anggukan Ela.


"Ya udah nanti jam 3 aku jemput kerumah ya" balas Rafa.


"Oke.." jawab Ela sambil makan merayakan keberhasilan mereka ngeband dan menikmati penghasilan mereka ngamen.


"Emang enak ya makan hasil jerih payah kita sendiri" ucap Sintia.


"Iya Sin, makanannya jadi tambah rasa ya?" tanya Disil.


"Tambah rasa gimana menurut kamu Dis?" tanya Ela


"Kalau rasa makannya sama sih seperti terakhir kita makan disini tapi kali ini ditambah dengan rasa sayang-sayange El" gombal Disil.


"Mulai kumat lagi nih anak" balas Ela.


Disil tersenyum nakal pada Ela.


"Minggu depan kita tanding Raf di Dojang. Katanya ada Dojang lain yang ngajak tanding persahabatan" ucap Aby kepada Rafa.


"Oh ya, aku belum dengar By?" tanya Rafa terkejut.


"Maksud kakak kita bertarung?" tanya Ela semangat.


"Kalau soal taekwondo pasti kamu semangat banget ya El?" ucap Disil yang merasa dicuekin.


"Ssst.... bukan anak dojang gak boleh ikut campur" sindir Ela.


"Yeee mentang-mentang aku gak ikut taekwondo, sombong kamu" ledek Disil.


"Sorry Dis kalau urusan Dojang ini harga diri. Aku gak mau kalah" sambut Ela antusias.


"Iya deh... aku mundur kalau urusan taekwondo. Mending bareng Sintia dan Ditha bahas soal cewek, siapa tau aku dapat target baru" balas Disil gak mau kalah.


"Ups... kami lagi bahas toko baju kami Dis, kamu mau ikutan?" tanya Ditha.


"Yup betul. Nih lagi itung pembukuan" sambung Sintia.


"Ya salaaaam, yang ini Dojang, yang itu Toko Baju. Jadi aku ngapain donk?" ucap Disil kesal.


"Mending kamu bayar nih semua makanan kita" ucap Ela.


Dengan kesal Disil melangkah ke meja kasir untuk menghitung Bill makanan mereka.


"Jadi kita seminggu ini latihan setiap hari Kak?" tanya Ela melanjutkan pembicaraan yang tertunda tadi karena Disil protes dia dicuekin.


"Iya, harus lebih giat. Karena yang aku dengar lawan kita ini jago dan kuat. Harus extra latihan kita" jawab Aby


"Wuiiiih jadi makin semangat nih" ucap Ela bersemangat.


Disil kembali ke meja teman-temannya.


"Udah kelar Dis?" tanya Aby.


"Udah bro, kembali goceng udah aku infakkan tadi ke kotak amal. Mau aku tukar seribu-ribu gak cukup untuk kita bagi berenam. Biar adil semuanya gak dapat kembalian" jawab Disil masih kesal.


"Ya ampun segitunya lo" sindir Ela.


"Habis gak enak banget lihat kalian, gak asik. Aku dicuekin" jawabnya.


"Kita pulang yuk" ajak Aby.


"Lo mau kemana habis ini Dis?" tanya Rafa.


"Aku pulang aja deh Raf, kalian mau ke dojang kan? Ditha dan Sintia juga mau ke toko pastinya. Mending aku pulang main PS. Udah sebulan PS ku tinggal karena latihan ngeband. Kasian nanti dia ngambek" jawab Disil.


"Emangnya elo suka ngambekan" sindir Ela.


"Apaaan sih" Ucap Disil rada tinggian.


"Ye ngegas dia, minta diberi nih anak" umpat Ela.


"Diberi apa El? Kiss?" tanya Disil ceria.


"Diberi tonjokan lah, mual gue kiss elo" tolak Ela.


"Ya ampuuun kalian gak ada capeknya berantem mulu" lerai Rafa.


"Udah yuk pulang aja" ucap Ditha.


Ditha dan Sintia pulang ke toko pakaian mereka dijemput supir Sintia. Aby, Rafa dan Ela udah dijemput supir keluarga Aditya sedangkan Disil pulang sendiri naik mobilnya.


Sore hari di Dojang.


Aby, Ela dan Rafa memulai pemanasan sebelum berlatih agar tidak terjadi cidera.


Pelatih memberikan informasi lengkap tentang pertandingan persahabatan antara dua dojang. Kali ini pertandingan bebas tidak ada pemisahan antara perempuan dan laki-laki.


Selama pertandingan bersih dan adil dibebaskan kepada siapa saja ikut bertanding. Pertandingan seperti ini yang Ela suka karena dia lebih suka bertanding dengan pria dari pada wanita.


Menurutnya bertanding dengan pria lebih seimbang kekuatannya dari pada dengan wanita. Maklumlah kekuatan Ela sama bahkan lebih sering dia yang menang bertanding dengan Aby dan Rafa juga teman-temannya yang lain.


"Ela persiapkan diri kamu untuk pertandingan minggu depan. Kamu salah satu unggulan" ucap sang pelatih.


"Baik sabeum (pelatih) " jawab Ela semangat.


"Mari kita mulai latihan hari ini" teriak Pelatih.


"Siap" jawab anak didik Dojang tersebut.


Latihan berjalan selama satu jam. Setelah itu diadakan pertarungan bebas antar sesama anak didik.


"Yuk Raf kita bertanding?" ajak Ela.


"Siapa takut" jawab Rafa.


"Kak, kamu jadi wasit ya" pinta Ela.


"Oke" balas Aby.


Pertandingan dimulai. Aby dan melakukan tendangan dan pukulan. Mereka saling menyerang dan menangkis serangan.


Pertandingan berjalan sangat ketat belum ada tanda-tanda siapa yang akan kalah. Baik Rafa ataupun Ela saat ini sama-sama bersemangat sehingga mereka sama kuat.


Dengan tendangan akhir tepat di perut Rafa membuat Rafa tersungkur dan terjatuh. Pertandingan akhirnya dimenangkan oleh Ela.


"Makin kuat aja kamu El" puji Rafa.


"Aku biasa aja kok, kamu aja yang pura-pura mengalah padaku. Apa karena aku perempuan? Aku gak suka kalau itu alasannya" ucap Ela.


"Nggak kok, aku gak mengalah. Emang beneran kamu tadi kuat banget. Aku sampai kewalahan menangkis setiap serangan kamu" ucap Rafa jujur.


Aby, Ela dan Rafa menyudahi latihan taekwondo mereka sore itu. Setelah itu mereka pulang dijemput supir.


"Pak singgah di depan sebentar ya, aku laper" pinta Ela kepada Pak Supir, singgah di warung bakso pinggir jalan.


"Oke Non" jawab Pak Supir.


Pak Supir kemudian menepikan mobil dan parkir di pinggir jalan


"Kakak dan Rafa ikutan makan gak? yuk Pak kita turun makan bakso" ajak Ela.


"Bapak tunggu di sini aja Non, tadi sebelum jemput Non baru makan gorengan dan minum kopi dibiatin bibi dirumah" Tolak Pak Supir.


"Yuk Raf kita turun. Aku juga laper" ucap Aby.


"Okey" jawab Rafa.


Mereka bertiga turun dari mobil dan duduk di tenda biru pinggir jalan.


"Pak, baksonya tiga mangkok ya. Tiga-tiganya pakai mie putih, tapi yang satu gak pakai bawang goreng banyakin mienya, yang satu gak pakai daun sop tapi banyakin bawang gorengnya, yang satu lagi gak pakai kerupuk tapi...." ucap Ela tanpa jeda.


"Sabar neng, pesannya satu-satu. Bapak suka lupa kalau neng pesannya kencang gitu" potong si tukang bakso.


Sontak Aby dan Rafa tertawa melihat tingkah Ela yang ditegur tukang bakso.


"Kebiasaan kalau udah laper suka kalap" ledek Aby.


"Ye aku kan juga pesanin sesuai selera kalian" bela Ela.


"Oke neng Bapak siap buatin untuk kalian. Bisa neng sebutin satu-satu dan pelan-pelan ya" pinta si Tukang Bakso.


Ela menyebutkan kembali pesanan mereka tapi kali ini dengan pelan-pelan agar si Bapak ingat.


Rafa tersenyum melihat sahabatnya itu ingat setiap detail pesanan mereka satu persatu tanpa ada salah sedikitpun.


.


.


BERSAMBUNG