
Keesokan harinya rumah Ela dan Aby sudah ramai sejak sore. Aditya dan Alexa menyururuh anggota geng ERASADIS untuk mengajak keluarga mereka semua datang. Sekalian ngumpul karena orangtua mereka sudah lama tidak bertemu.
Anak-anak sudah sibuk dari sore mempersiapkan panggangan, rencananya nanti malam mereka akan bakar-bakar.
Sementara para orangtua jam 7 malam baru mulai berdatangan. Reza, Lidya dan Zalya anak mereka paling kecil tiba duluan karena rumah mereka yang paling dekat.
Tak lama Dimas dan Sisil datang bersama Desi adik Disil. Sandy datang bersama istrinya Mitha dan anak mereka Deo dan Theo. Terakhir Satria datang bersama Cinta istrinya.
Selepas maghrib Aby and the geng sudah mulai menghidupkan api untuk panggangan dan mereka mulai memanggang ayam dan ikan. Sambil bercanda riang di taman belakang rumah Ela dan Aby.
"Gak kerasa ya anak-anak kita udah pada gede" ucap Alexa.
"Iya, alhamdulillah selalu kompak" jawab Lidya.
"Walau yang dua itu selalu bertengkar" tunjuk Sisil kepada anaknya Disil dan Ela anak Alexa.
"Dim sepertinya anak kamu naksir sama anaknya Adit. Siap-siap kalau kalian akan besanan" ledek Sandy.
"Aku sih gak keberatan kalau memang anak-anak maunya begitu" jawab Dimas.
"Sama, semua biarlah pilihan anak-anak. Kita sebagai orangtua hanya melihat dan merestui. Tidak ada paksaan" sambut Aditya.
"Betul itu kak, jangan sampai gara-gara anak-anak hubungan orangtuanya rusak" ucap Reza nimbrung.
"Jangan sampai lah Za, mereka kan anak-anak. Kita sebagai orangtua harus dewasa menanggapinya. Apapaun yang terjadi dengan mereka InsyaAllah tidak akan merubah apapun. Kita tetap bersahabat dan bersaudara" balas Alexa.
"Aku sangat bersyukur mereka tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas dan ceria" timpa Cinta.
"Bersaing untuk yang baik itu sangat penting yank. Pasti malu kan kalau kalah dari teman-temannya" sambung Satria.
"Betul Sat, aku sangat bersyukur Disil dikelilingi teman-teman seperti mereka. Kalau tidak mungkin anak aku sibuk main game sampai lupa pelajaran. Untung yang lainnya berlomba-lomba untuk berprestasi sehingga Disil tidak mau kalah dan berpisah dengan mereka" ucap Dimas.
"Iya jadi ingat ya Mas gimana Disil serius belajar agar masuk kelas unggulan. Sampai minta dicarikan guru les privat dirumah untuk mengejar ketinggalannnya" sambung Sisil.
"Syukurlah anak-anak kita terhindar dari pergaulan remaja yang sangat bebas sekarang ini" ucap Aditya.
"Yaaah walau playboynya Disil tetap menurun dari kamu sang mantan casanova" ledek Sandy.
"Darah itu mengalir bro, kemana lagi coba sifat itu diturunkan kalau gak ke anaknya" goda Satria.
"Hahaha... dasar kalian" Dimas tertawa mendengar ocehan teman-temannya.
"Untung anakku seperti Mamanya, gak mempan kena rayuan anak kamu" puji Aditya.
"Sifatnya juga persis sama kak sama mamanya" ledek Reza.
"Lebih parah Za, campur sifat papanya cepat emosian. Kalau aku dulu kan suka jahil tapi gak emosian" sambut Alexa.
"Iya, pantang lihat yang gak beres langsung main hajar tuh anak. Benar-benar gak ada feminim-feminimnya" ucap Aditya.
"Nanti kalau sudah jatuh cinta juga pasti akan berubah kak jadi feminim persis seperti Mamanya" sindir Lidya.
"Kalau sudah suka sama cowok pasti akan berusaha jadi lebih cantik" sambung Sisil.
"Mudah-mudahan ya Lid, Sil. Padahal aku udah capek dari kecil nyuguhin semua pernak pernik dan mainan cewek tapi tetap aja tertarik mainan kakaknya" jawab Alexa.
"Tenang San, pada akhirnya dia akan kembali ke kodratnya sebagai wanita. Kita hanya tinggal menunggu waktu" ucap Mitha.
"Gak sabar lihat dia menjadi wanita yang cantik" ujar Alexa.
"Sabar sayang, semua usaha kamu selama ini aku yakin akan membuahkan hasil. Anak kita pasti akan seperti kamu yang sadar dengan kodratnya sebagai wanita" Aditya memeluk tubuh istrinya Alexa.
"Yang jelas kita harus memberikan apresiasi kepada keberhasilan mereka kemarin. Mereka telah berhasil memenangkan lomba cerdas tangkas mewakili sekolah mereka" ucap Satria.
"Tapi kita harus segera mendidik mereka sebagai penerus perusahaan kita Dit. Umur kita terus bertambah, gak selamanya kita bisa menjalankan perusahaan. Kita butuh penerus" Dimas mengingatkan.
"Kalian sih enak, anak-anak kalian cowok, lah anak aku cewek" ucap Sandy.
"Hey San, kan masih ada Deo dan Theo. Gak harus Ditha yang menjadi penerus kamu di perusahaan" ucap Aditya.
"Tapi kalau Rafa mau ikut bergabung bersama Aby dan Disil aku tidak keberatan" ucap Sandy.
"Kalau aku terserah Rafanya aja Kak, mau bareng teman-temannya boleh, mau kerja di tempat lain juga boleh" jawab Reza.
"Gak nyangka ya kita sudah semakin tua" ucap Cinta.
"Eh siapa bilang kita tua Cin, aku masih muda nih. Masih joss..." ucap Dimas.
"Ih Mas ini" Sisil menyubit pinggang suaminya.
"Aaaww... sakit yank" jawab Dimas.
Mereka menyaksikan bersama anak-anak kesayangan mereka tumbuh dan besar bersama. Saling dukung, berlomba dan bersaing dalam kebaikan.
Sudah lama mereka tidak ngobrol serius mengenai perkembangan anak-anak mereka. Malam ini sangat tepat untuk membahas masa depan mereka karena momentnya memang sangat pas.
Saat mereka sedang serius berbincang di teras belakang rumah Aditya tiba-tiba.
"Disiiiiiiil ikannya dibalik donk, jangan dikipas terus. Gosongkan jadinya" teriak Ela.
"Sorry hon... aku keasikan ngipas. Habis aku terlalu semangat menghidupkan api yang membara di hatiku" gombal Disil.
"Lebay lo" jawab Ela.
"Tuh lihat sebentar aja akurnya dua anak itu, dah mulai ribut tuh" ucap Dimas.
"Mereka lucu Kak, kemarin aja pas belajar berantem sampai bibirnya Disil kena tinju Ela. Aku mau melerai tapi lucu lihat tingkah mereka. Maaf ya Kak, sepertinya anakku suka menyiksa anak kalian" sambung Alexa.
"Biar aja San, aku gak marah. Biar tuh anak tau rasa. Jangan seperti papanya yang suka gombalin cewek. Perlu juga tuh kena bogem sekali-sekali" sambut Sisil.
"Sadis kamu ya yank, gak kasihan lihat anak kita di bully sama putri mereka" ucap Dimas.
"Gak apa-apa Mas dia kan cowok harus kuat dan tahan banting. Sebenarnya dari dulu aku pengen ikutin dia latihan taekwondo seperti Aby, Ela dan Rafa tapi apa daya Disilnya gak mau" jawab Sisil.
"Ya gimana dia mau, baru pertama latihan udah kena hajar sama si Ela. Ya traumalah dia. Besoknya langsung kapok latihan. Alasannya capek dan gak mau kena pukulan nanti wajahnya rusak dan ketampanannnya berkurang" balas Dimas.
"Hahahaha... persis kamu banget ya Dim. Dulu juga waktu kuliah aku ajak latihan taekwondo jawabnya sama banget" ledek Aditya.
Sandy, Satria dan Cinta tertawa mendengar ucapan Aditya karena mereka dulu satu kampus jadi sangat tau gimana dulu kelakuan Dimas saat muda.
"Buah jatuh tak jauh dari pohonnya" sindir Satria.
.
.
BERSAMBUNG
Hai teman-teman dukung terus ya novel ini..
Jangan lupa like dan komentnya agar aku lebih semangat up dengan cerita yang seru.
Terimakasih