Find The KEY

Find The KEY
Ep. 220



"Alhamdulillah" jawab Cinta, Satria, August dan Oryza bersama - sama.


"Kamu hamil yank?" tanya Ryza tak percaya.


Sintia menganggukkan kepalanya, airmatanya kembali mengalir deras.


"Iya Mas, aku hamil" jawab Sintia.


"Alhamdulillah.. terimakasih ya Allah.. Terimakasih sayang.. terimakasih.. " Ryza memeluk istrinya erat.


"Mas bersedia menanggung mual dan mabuk karena kehamilan kamu. Mas rela, InsyaAllah Mas kuat" ucap Ryza.


"Iya Mas, kita sama - sama berjuang ya.. " sambung Sintia.


Tiba - tiba perawat rumah sakit muncul untuk memeriksa keadaan Ryza.


"Sus kami sudah tau apa penyebab penyakit saya ini. Tolong katakan pada dokter istri saya sedang hamil muda dan saya yang mengalami mual - mualnya" ucap Ryza bahagia.


Seketika hilang rasa pusing dan mualnya karena rasa bahagia yang dialami keluarga besarnya.


"Baik Pak, akan saya sampaikan pada dokter ya Pak. Tapi sebelumnya selamat atas kehamilan istri Bapak. Selamat ya Bu, semoga ibu dan dedek bayi yang ada dalam perut sehat - sehat sampai lahiran" ucap perawat.


"Aamiin..." sambut mereka semua yang ada di dalam ruangan itu.


Setelah perawat memeriksa infus, tensi dan keadaan Ryza, perawat keluar dari ruangan Ryza tak lama perawat itu kembali bersama dokter yang menangani Ryza di rumah sakit.


"Selamat siang Pak" sapa sang dokter.


"Siang dok" jawab Ryza.


"Gimana keadaan Bapak siang ini?" tanya dokter itu lagi.


"Alhamdulillah agak segaran dok, tadi saya bisa makan walau sedikit dan tidak muntah" jawab Ryza.


"Saya baru dapat kabar dari perawat, katanya istri Bapak lagi hamil ya?" dokter bertanya kembali.


"Iya, Mama saya curiga karena mengetahui hasil CT scan saya yang baik-baik semua tapi saya tetap pusing dan mual apalagi kalau mencium bau yang menyengat. Di tambah istri saya yang selera makannya meningkat. Akhirnya Mama dan mertua saya menyuruh istri saya utk test kehamilan dan Alhamdulillah istri saya hamil. Mama saya bilang dulu waktu beliau hamil, Papa saya juga mengalami hal yang sama seperti saya. Apa benar bisa begitu dok?" tanya Ryza.


"Benar Pak itu namanya kehamilan simpatik. Istri Bapak yang hamil tapi Bapak yang mengalami ngidam, mual - mual dan muntah. Walau kita sudah mengetahui penyebab sakitnya Bapak tapi untuk sementara Bapak masih tetap opname ya karena kondisi Bapak masih lemah butuh istirahat. Untuk Ibu sebaiknya periksa ke dokter kandungan ya" perintah dokter.


"Nanti aja dok, tunggu suami saya sudah baikan biar sama - sama periksa kandungan saya. Gak asik kalau periksa sendiri. Lagian kasihan suami saya sendirian di rumah sakit gak ada yang jaga dan dia juga gak bisa lihat pemeriksaan calon bayi kami" jawab Sintia.


"Baiklah kalau itu keputusan Ibu tapi jangan lupa istirahat yang cukup, makan makanan bergizi dan minum susu hamil ya. Kalau vitamin nanti biar dokter kandungan saja yang kasih resep" ucap dokter.


"Iya dok, terimakasih" balas Sintia.


"Kalau begitu saya pamit undur diri ya. Selamat untuk Bapak dan Ibu atas kehamilan anak pertamanya" ucap sang dokter.


"Terimakasih dokter" jawab Ryza dan Sintia.


Kini Ryza dan Sintia merasa lega karena kabar bahagia untuk keluarga kecil mereka.


August, Oryza, Cinta dan Satria yang barus saja selesai makan siang di sofa kamar rawat inap Ryza segera merapikan dan membersihkan ruangan tersebut, takut kalau - kalau Ryza mual lagi karena mencium bau makanan.


"Iya senangnya" jawab Satria.


"Mas August dan dek Oryza kalau kalian tidak keberatan kami ingin membawa Ryza dan Sintia ke rumah kami setidaknya sampai mual - mualnya Ryza hilang. Kasihan Ryza sampai lemas begitu dan Sintia lagi hamil muda. Takutnya mereka kewalahan kalau menghadapinya berdua" pinta Cinta.


"Kami gak keberatan kok Mbak, tanya aja langsung anaknya. Tapi menurut saya saran Mbak tadi emang yang terbaik. Agar mereka berdua sama - sama bisa di jaga. Takutnya Ryza pingsan lagi karena mabok darat sementara Sintia yang sedang hamil gak kuat jaga dia Bisa bahaya terhadap kehamilannya. Kalau mereka tinggal sama Mbak kan setidaknya ada yang ngurus dan memperhatikan keadaan mereka. Ya kan Mas?" tanya Oryza pada suaminya.


"Iya yank, Mas juga setuju. Dulu waktu kamu hamil bulan - bulan pertama kehamilan kamu kita pasti tinggal di rumah Mama dan kakak kamu karena aku lemas, gak kuat muntah dan mual terus. Jadi Ryza juga sebaiknya juga begitu. Lebih baik tinggal sama Satria dan Cinta" jawab August.


"Gimana Ryza dan Sintia?" tanya Satria.


"Iya Ma, Pa. Kami mau tinggal di rumah Mama" jawab Ryza sambil melirik ke arah istrinya.


Sintia tersenyum lembut membalas lirikan suaminya.


"Alhamdulillah syukurlah, Mama jadi lega. Dari tadi Mama kefikiran gimana cara kalian melewati kehamilan simpatiknya kamu Ry" ungkap Cinta.


"Nanti setelah Ryza sudah bisa pulang dari rumah sakit langsung aja ke rumah Papa ya, soal pakaian kalian nanti bisa kita kirim Bik Suti yang ambil ke apartemen kalian" ucap Satria.


"Iya Pa" balas Ryza.


"Kamu beneran gak ngerasa apa - apa yank?" tanya Ryza penuh kelembutan.


Sintia menggelengkan kepalanya.


"Nggak Mas, aku cuma gampang ngerasa lapar" jawab Sintia.


"Mungkin karena sudah ada bayi kita di dalam. InsyaAllah aku akan semangat melewati ini semua biar cepat keluar dari rumah sakit dan kita segera periksakan kehamilan kamu ke dokter kandungan. Aku udah gak sabar ingin melihat anak kita. Siapa tau anak kita kembar juga seperti anak Fajar dan Ela" ucap Ryza semangat.


"Di keluarga aku gak ada keturunan kembar Mas. Gak tau di keluarga Mas?" tanya Sintia.


"Gak ada juga yank. Tapi Fajar bisa kok" jawab Ryza.


"Fajar kan dari Ela Mas, Mas lupa kalau Ela itu kembar" balas Sintia.


"Iya, aku lupa. Gak kembar juga gak apa - apa yang penting anak kita sehat. Ya kan sayang" Ryza membelai lembut perut istrinya.


Kedua orangtua mereka sangat senang menyaksikan kebahagiaan anak - anak mereka. Mereka juga sangat bahagia karena sebentar lagi akan mendapatkan seorang cucu yang telah mereka nantikan.


Terlebih kedua orangtua Sintia yang juga sempat khawatir kalau anak mereka juga akan mengalami hal yang sama seperti yang mereka alami yaitu sulit untuk mendapatkan keturunan tapi ternyata kekhawatiran mereka tidak terbukti. Hanya beberapa bulan saja Sintia sudah hamil.


Puji syukur tak henti - hentinya mereka ucapkan atas karunia yang telah Allah berikan kepada keluarga mereka.


Kini hati Sintia sangat lega, akhirnya dia bisa hamil juga. Sintia terlihat sering sekali mengelus perutnya yang masih rata. Mungkin itu wujud dari rasa bahagianya karena saat ini dia sedang mengandung.


.


.


BERSAMBUNG