Find The KEY

Find The KEY
Ep. 268



Ditha dan Disil sudah pulang sekitar jam dua siang. Mereka tak bisa berlama-lama di Rumah Sakit karena Mitha, Mamanya Ditha baru saja menelpon kalau Sitha rewel padahal sudah di putar rekaman lagu, suara Catherine bernyanyi dangdut.


Mungkin anak kecil itu bisa merasakan apa yang saat ini sedang dihadapi Catherine. Dia seperti ikut bersedih dengan keadaan Catherine saat ini.


Ela dan Fajar juga tak bisa lama di Rumah Sakit karena baby triplet sangat aktif dan lasak. Kasihan Mama Jasmine menjaga mereka walau sudah dibantu oleh baby sitter tapi tetap saja Ela tak tega meninggalkan anak-anaknya lebih lama.


Kedua orangtua Rafa pergi ke apartemen Rafa untuk mengambil beberapa keperluan Rafa selama di rumah sakit. Rafa tidak bisa meninggalkan rumah sakit, karena istri dan anaknya ada di sini sedang di rawat.


Kini hanya tinggal Aby bersama kedua orang tuanya. Kemudian orangtua Ryza dan mertuanya.


Fathir sudah dikembalikan ke ruang bayi agar dia lebih tenang beristirahat dalam pengawasan para perawat.


Mr dan Mrs. Wolter istirahat sebentar di dalam kamar yang dipesan untuk Catherine. Dari subuh begitu mereka sampai Indonesia, mereka belum istirahat.


Setidaknya mereka sudah merasa sedikit lega karena sudah bisa bertemu dengan Catherine dan putranya Fathir. Dokter juga sudah memeriksa keadaan Catherine stabil walau dia belum sadarkan diri.


Apalagi tadi saat mereka menjenguk Catherine, Rafa dan Ditha menyaksikan kalau tangan dan jari - jari tangan Catherine bergerak.


Rafa sedang berbincang-bincang dengan Ryza, Aby, Aditya, Satria dan August, di ruang tamu kamar VVIP yang dipesan untuk Sintia dan Catherine.


Sedangkan para wanita sedang menemani Sintia mengurus putrinya di kamar.


"Apa rencana kamu selanjutnya Raf?" tanya Ryza.


"Kalau sampai beberapa hari ini Catherine belum sadar dan keadaannya stabil. Aku berencana akan membawanya ke London. Disana adalah kampung halamannya tempat dia dilahirkan. Kedua orang tuanya juga tinggal di sana dan di sana aku rasa tim medis mereka lebih lengkap dibanding di sini. Sebenarnya aku sangat berharap dia segera sadar karena aku juga berat meninggalkan Indonesia. Kalau di sini kan aku sudah mendapatkan Ibu Susu untuk Fathir. Kalau Fathir aku bawa ke London tentu agak sulit, selain di sana belum menemukan donor ASI Fathir juga masih terlalu kecil untuk melakukan perjalanan jauh" ungkap Rafa.


"Bagaimana kalau Fathir tinggal saja dulu di Indonesia Raf?" Ryza memberi ide.


"Itu pilihan yang sangat sulit Ry, aku akan berpisah dengan putraku" jawab Ryza.


"Hanya untuk sementara Raf sampai Catherine sembuh atau sampai Fathir siap untuk melakukan perjalanan jauh" sambung Aby.


"Iya Raf, Om rasa itu ide yang baik. Fathir kamu titip sama Mama kamu. Pasti Mama kamu tidak keberatan malah dia akan sangat senang sekali mengurus cucunya. Ditha juga masih bisa tetap mendonorkan ASI nya untuk anak kamu" Aditya menimpali.


"Bicarakan lah dulu dengan Papa, Mama dan mertua kamu. Kalau mereka setuju dan semua sudah diputuskan Om akan bantu keberangkatan kalian. Kalian bisa memakai pesawat keluarga Barrakh untuk terbang ke London" sambut August.


"Terimakasih Om. Aku akan membicarakan hal ini nanti malam kepada Papa, Mama, Mommy dan Daddy.


"Mudah-mudahan rencana kita dan dokter sore ini untuk merangsang kesadaran Catherine dengan membawa Fathir masuk ke ruang ICU berhasil. Hanya itu satu-satunya ide yang terfikir di otakku saat ini" ucap Rafa.


"Kamu harus kuat Raf, Allah akan memberi cobaan kepada kita karena Allah tau kita bisa melewatinya. Tetap berusaha, berdoa dan ikhlas pada semua ketentuan Allah" nasehat Aditya


"Iya Om, aku yakin juga begitu" balas Rafa sambil menunduk.


Raut wajah mengantuk, lelah, letih dan tegang jelas terlihat dari wajah Rafa. Sungguh sangat berat cobaan untuk keluarganya ini.


Jam setengah lima sore seorang perawat datang ke kamar mereka.


"Bapak Rafa Rahardian" panggil Sang perawat.


"Ya Sus, saya" Rafa langsung berdiri dan menghampiri perawat yang baru tiba di depan pintu kamar VVIP Rumah Sakit itu.


"Tapi dokter pesan, anak Bapak Fathir diperbolehkan masuk ke ruang ICU tapi harus digendong oleh salah seorang anggota keluarga ya Pak, untuk masuk ke dalam ruang ICU" ucap perawat.


"Iya Sus saya mengerti. Kami sudah mempersiapkannya. Nanti Mama saya yang akan menggendong putra saya" jawab Rafa.


"Iya Sus, kami akan bersiap - siap" balas Rafa.


Rafa, mertua dan kedua orangtuanya sudah bersiap - siap menuju ruang ICU karena waktu besuk sore sudah hampir tiba.


Tepat jam lima sore Fathir dibawa seorang perawat menggunakan box bayi yang di dorang pakai roda.


"Bapak Rafa, ini bayi Bapak" ucap seorang perawat.


"Terimakasih Suster" balas Rafa sambil mengambil alih box bayi.


Jam besuk sudah tiba, Rafa di perbolehkan masuk dengan Mamanya yang sedang menggendong Fathir.


Dengan jantung yang berdetak kencang Rafa berjalan mendekati tempat tidur istrinya.


Terlihat istrinya sedang terbaring seperti sedang tidur. Banyak kabel dan selang juga alat cek kesehatan yang terpasang di tubuh istrinya.


Tit... tit.. ti..


Bunyi salah satu alat yang memantau detak jantung dan tekanan darah Catherine.


"Assalamu'alaikum sayang, Mas datang lagi. Apakah kamu sudah menunggu? Kali ini Mas datang tidak sendiri, Mas bersama Mama daaaaan anak kita Fathir" Rafa melihat dan memandangi seluruh tubuh istrinya untuk melihat reaksi Catherine.


"Assalamu'alaikum Sayaang, ini Mama nak. Maaf Mama baru bisa lihat kamu langsung hari ini. Tadi pagi Mama ada di luar tapi gak sempat masuk karena waktu besuk yang terbatas. Sayaaaang, ini Mama bawa Fathir dalam gendongan Mama. Fathir ingin ketemu kamu nak. Fathir ingin di gendong kamu. Bangun naaaak, bangun sayaaaang. Kami semua menunggu kamu sadar" ucap Lidya sambil menangis. Dia tak dapat membendung air matanya.


Air mata juga menetes dari sudut mata Catherine.


Lidya mengangkat tubuh Fathir dan meletakkan pipi Fathir tepat ke pipi Catherine.


"Assalamu'alaikum Mama... ini aku Fathiiir. Mama aku kangen Mama... pengen di peluuuk" ucap Lidya sambil terisak.


Rafa melihat jari - jari tangan Catherine mulai bergerak.


"Ma lihaaat" ucap Rafa pada Mamanya.


Lidya melihat reaksi tangan Catherine akibat sentuhan pipi Fathir.


"Ma.. boleh aku tidur disamping Mama...?" tanya Lidya, seolah - olah Fathir yang sedang berbicara dengan Mamanya.


Lidya meletakkan tubuh Fathir di dekat lengan kiri Catherine yang terbebas dari jarum dan selang infus.


Tiba-tiba Fathir menggerakkan kepalanya refleks mulut seorang bayi yang ingin mencari air susunya.


Oeeeeek.... oeeeeeek.....


Tangis Fathir pecah karena ia tak kunjung menemukan minumannya. Walau mulutnya sudah mulai mengisap lengan Catherine mencari air susunya.


"Sayaaaaang....... "


.


.


BERSAMBUNG