Find The KEY

Find The KEY
Ep. 126



Keesokan harinya tepat jam 10 pagi mobil Fajar sudah sampai di depan halaman rumah Ela. Fajar turun dan ingin berpamit pada kedua orangtua Ela.


"Assalamu'alaikum" sapa Fajar ketika masuk


"Wa'alaikumsalam. Lho nak Fajar silahkan masuk" jawab Aditya.


Fajar menjabat tangan Aditya dan duduk di sofa ruang TV bersama Aditya.


"Ada apa nak Fajar datang ke sini? Keysha dan Aby kan ada di apartemennya?" tanya Aditya bingung mengapa pagi - pagi Fajar sudah tiba di rumahnya.


"Saya bukan mencari mereka Om, saya mau menjempu Ela. Kami janjian mau pergi pagi ini. Tante mana Om, kok sepi?" Fajar balik bertanya.


"Biasa, kalau pagi Tante pergi berbelanja sama Bi Siti" jawab Aditya.


"Ooo" sambut Fajar.


"Sebentar ya, Om panggil Ela dulu. Takutnya habis shalat subuh dia molor lagi, belum bangun sampai sekarang" Aditya berdiri hendak naik ke lantai atas ke kamar Ela.


Tiba - tiba Ela baru saja turun dari tangga.


"Eh anak Papa panjang umur, baru juga mau Papa jemput ke atas" ucap Aditya.


"Pa, Ela pergi dulu sama Fajar ya Pa" Ela mencium tangan Papanya berpamitan.


"Kalian hati - hati ya" ucap Aditya.


"Yuk Om" sambung Fajar.


Aditya melambaikan tangannya ke arah Fajar dan Ela yang berjalan meninggalkan rumahnya.


Di dalam mobil.


"Kita mau ke mana nih?" tanya Fajar.


"Ke dufan yuk" ajak Ela.


"Kamu serius?" tanya Fajar tak percaya.


"Serius, kenapa. Kamu takut?" tanya Ela.


"Siapa yang takut, aku itu cuma takut dekat wanita aja. Kecuali kamu wanita di hatiku" goda Fajar.


"Eueeek.. mual aku" jawab Ela.


"Lho kamu belum di apa - apain udah mual duluan El" ucap Fajar.


"Mual denger gombal receh kamu" elak Ela.


"Bersiaplah My Princess.. akan banyak gombalan lain yang aku berikan pada mu. Bukan hanya gombalan saja, seluruh dunia beserta isinya pun akan aku berikan" sambung Fajar.


"Eueeeek.. ueeeeek..." jawab Ela.


"Hahahahah" Fajar tertawa bahagia.


Fajar meluncurkan mobilnya ke arah Dufan, mereka langsung memesan tiket terusan dan masuk ke dalam dengan semangat.


"Aku mau naik jetkoster" pinta Ela.


"Ayuuuuuk" sambut Fajar.


Mereka naik bersama - sama. Sebelum permainan di jalankan Fajar mengambil foto mereka berdua.


"Ngapain ambil - ambil foto?" tanya Ela kurang suka.


Jetkoster mulai bergerak Ela dan Fajar sama - sama tertawa dan berteriak. Mereka sangat menikmati permainan di dalam Dufan.


Sial, niat di awal pengen ngerjain dia ternyata dia gak takut. Ya sudah aku nikmati sajalah semua permainan di Dufan ini. Batin Ela.


Setelah naik Jetkoster mereka naik kora - kora. Lagi - lagi mereka menjerit lepas mengeluarkan kepenatan seminggu bekerja, saatnya mereka liburan.


Kemudian mereka masuk rumah hantu, istana boneka, dan berbagai permainan lainnya. Tanpa terasa waktu sudah hampir senja.


Ela dan Fajar mengerjakan shalat maghrib di mushalla Dufan setelah itu baru mereka naik ke permainan terakhir Bianglala.


Mereka sengaja menyusun rencana permainan seperti itu. Bianglala adalah permainan terakhir yang mereka naiki sebelum pulang.


Karena Bianglala itu asiknya dinikmati saat hari sudah gelap. Mereka lebih bisa menikmati pemandangan Jakarta pada malam hari di atas ketinggian Bianglala.


Jakarta malam hari di penuhi dengan kelap kelip lampu. Menambah romantisme di atas Bianglala berdua.


Ela dan Fajar sudah masuk dalam antrian permainan selanjutnya. Mereka sudah berada di atas Bianglala dan duduk berseberangan.


Perlahan - lahan Bianglala naik menuju atas, sesampainya di atas seperti yang mereka bayangkan indahnya kota Jakarta di malam hari.


"Waaaah... akhirnya setelah enam tahun aku bisa menikmati pemandangan Jakarta seperti ini lagi" ucap Ela.


"Emangnya selama enam tahun kamu gak pernah pulang ke Indonesia El?" tanya Fajar.


"Nggak. Papa, Mama dan Kak Aby yang gantian jenguk aku ke London" jawab Ela sambil asik melihat sekelilingnya.


"Kenapa? Kamu gak kangen Jakarta, gak kangen teman - teman kamu?" tanya Fajar Penasaran.


"Kangen tapi aku sibuk di London" jawab Ela.


"Iya ya kamu sibuk jadi Princess dan melukis sampai danau Windermere kan?" tanya Fajar.


"Lho kamu kok tau aku suka melukis di sana?" Ela terlihat terkejut.


"Kamu tau gak El, entah itu ketepatan atau sudah takdir kita. Beberapa bulan yang lalu aku juga jalan - jalan ke sana sambil membawa kameraku. Biasanya aku ke sana bersama Keysha dan Ryza tapi saat itu Keysha sudah pindah tugas di Indonesia sedangkan Ryza sudah menemukan Sintia. Jadi dia tidak mau lagi berjauhan dengan Sintia. Alasannya karena rindu itu berat" Fajar menarik nafasnya panjang.


"Waktu itu aku tidak tau kamu siapa dan juga belum mengenal kamu. Aku berjalan di pinggiran danau sambil memotret pemandangan di sekitar danau sampai kesibukanku terhenti pada satu objek. Aku melihat ada wanita yang sedang melukis dengan sangat serius. Aku mengambil beberapa foto kamu" Fajar meraih hp dari saku celananya dan menunjukkan kepada Ela foto Ela yang dia minta Jimmy sang asisten pribadinya untuk mengirimkannya lewat email.


"Setelah selesai melukis wanita itu tersenyum dan terlihat sangat bahagia. Saat itu aku hanya menyukai ekspresi wajah kamu yang sedang tersenyum. Sepertinya kamu benar - benar sedang menikmati hidup. Yang aku sendiri jarang sekali merasakannya. Kamu hebat El, ditengah - tengah kesibukan kamu sebagai Princess kamu masih menyempatkan diri untuk hidup bebas sesuai keinginan kamu. Aku iri pada semangat hidup kamu. Makanya aku tertarik untuk mengambil foto kamu" Ungkap Fajar.


"Sampai pada suatu malam, aku terkejut. Seperti diberi petunjuk di dalam mimpi. Aku melihat kamu di dalam mimpiku itu. Itu malam saat aku mendapatkan informasi alamat apartemen Catherine. Sebenarnya Allah sudah kasih petunjuk melalui mimpi bahwa kamu lah Princess hanya saja aku mengacuhkannya. Saat itu aku masih menganggap kamu sebagai wanita jadi - jadian. Maaf..." ucap Fajar tulus.


Mungkin karena keadaan sedang mendukung Fajar, Ela seperti terhipnotis mendengarkan penjelasan Fajar.


"Sudahlah Fa, semua itu kan masa lalu. Aku sudah memutuskan untuk berdamai dengan kamu. Tapi maaf kalau mungkin aku belum bisa membalas perasaan kamu padaku. Setidaknya saat ini kita bisa memulai hubungan baru sebagai teman bukan sebagai musuh. Kamu setuju?" Ela memberi penawaran.


Langsung saja Fajar tersenyum bahagia, walau hanya baru sebagai teman ini sudah langkah yang bagus. Fikirnya.


Fajar mengulurkan tangannya sembari tersenyum menatap Ela.


"Setuju. Mulai hari ini kita berteman" ucap Fajar.


Ela menyambut uluran tangan Fajar dan mereka saling berjabat tangan. Tiba - tiba lampu mati dan Bianglala terhenti tepat saat mereka berada di puncak.


"Toloooooooong...."


.


.


BERSAMBUNG