
Sabtu siang di rumah kediaman Satria.
Seluruh keluarga besar Barrakh sudah tiba di rumah Satria dalam rangka melamar Sintia untuk Ryza anaknya August dan Oryza.
Mereka disambut hangat oleh keluarga Satria juga para sahabatnya. Karena mereka sudah saling terikat dengan pernikahan Abyasa dan Keysha sebelumnya membuat mereka terlihat semakin akrab.
Para orangtua mengambil tempat duduk yang telah disediakan untuk mereka sedang para anak muda berkumpul di belakang mereka.
"Jadi kapan ini kita resmikan acara akad nikah anak kita?" tanya August pada Satria.
"Kalau kami pada dasarnya setuju saja, semua hari adalah baik asal di awali denga niat yang baik" jawab Satria.
"Bagaimana kalau bulan depan saja?" desak August.
"Coba kita tanya pada yang bersangkutan ya?" sambung Satria.
"Bagaimana Sintia, Ryza? Apakah kalian setuju?" tanya Satria.
"Setuju Om eh Pa" jawab Ryza yang mulai membiasakan diri memanggil Satria dengan sebutan Papa.
Sintia hanya tersenyum malu.
"WO kenalan kita kan sudah ada, sudah dua kali juga mereka membantu kita menyelenggarakan pesta pernikahan anak - anak kita. Pasti akan lebih mudah" sambung Aditya.
"Iya benar itu, bisa minta discount juga tuh" canda Dimas.
Semua tertawa mendengar perkataan Dimas.
"Kalau gedung aku rasa disamakan aja dengan tempat Aby dan Keysha menikah kemarin, bagaiamana?" tanya Kevin.
"Setuju, jadi lebih mudah lagi kan?" sambung Omar.
Semua akhirnya setuju kalau pernikahan Ryza dan Sintia akan dilaksanakan bulan depan.
"Kalau soal gaun kita minta bantuan Ela saja ya" pinta Cinta.
"Iya Mbak, aku suka rancangan Ela" sambut Oryza.
"Iya donk, Ela kan designer terkenal lho di London" ungkap Jasmine.
"Benar El?" tanya Sisil dengan terkejut
"Benar Ma, Ela itu Princess designer terkenal di London. Waktu kami di London kami sempat melihat peragaan busana rancangan Ela. Bagus - bagus banget Ma" ucap Ditha.
"Oh ya, kamu kok gak pernah cerita San, kalau anak kamu sehebat itu?" tanya Lidya.
"Aku saja baru tau beberapa hari yang lalu. Kalau Geng ERASADIS ini gak ngasih tau aku mungkin aku sama terkejutnya seperti kalian" jawab Alexa.
"Kok bisa?" tanya Mitha.
"Biasalah si Ela suka buat sensasi, alasan privasi sok misterius. Pakai main rahasia - rahasiaan jadi ya gitu gak ada yang tau" oceh Alexa.
"ih Mama..." potong Ela.
"Kamu kok gitu sayang, itu kan prestasi yang bagus? Om bangga lho mendengarnya" puji Reza. Dari dulu Ela emang kesayangannya Reza.
"Biar kelihatan lebih keren aja Om hehehe... " jawab Ela sesukanya.
"Ada - ada saja kamu" Aditya menggelengkan kepalanya.
"Dia merendah untuk menaikkan mutu tuh Om" celetuk Disil.
Rafa dan Fajar menatap Ela dengan tatapan memuja. Mereka tersenyum melihat tingkah Ela yang cuek itu.
"Berarti semua sudah bereskan?" tanya August
"Iya semua kita jalankan sesuai rencana" jawab Satria.
"Ya sudah Mas ajak semuanya makan siang, hidangan sudah siap dari tadi, nanti keburu dingin" ucap Cinta.
"Kalau begitu mari kita makan, yuk silahkan semuanya" Satria mengajak semua tamu untuk menyantap hidangan makan siang.
Saat semua sedang sibuk hendak menuju ruang makan Ela berjalan mendekati Fajar.
"Hey pria menyebalkan.." panggi Ela.
"Aku?" Fajar balik bertanya.
"Iya kamu. Kamu kan cowok pendendam yang sangat menyebalkan" ucap Ela.
Dia tidak menyangka Ela akan menyapanya. Hatinya rasanya berbunga - bunga.
"Aku mau bicara empat mata sama kamu di teras belakang" ajak Ela.
"Ayook siapa takut" jawab Fajar
Fajar mengikuti Ela berjalan ke arah teras belakang. Rafa menatap kepergian mereka, ada nyeri di dadanya saat melihat mereka semakin dekat.
Sesampainya di teras belakang.
Fajar memperhatikan tampilan Ela dari atas sampai bawah.
"Kamu cantik hari ini" puji Fajar
"Tiap hari juga aku cantik, kamu aja yang baru nyadar kalau aku ini wanita. Selama ini menurut kamu aku wanita jadi - jadian. Gak ada cantik - cantiknya" protes Ela.
Fajar memperhatikan pergelangan tangan Ela ternyata Ela memakai jam tangan couple mereka sama seperti yang saat ini sedang di pakai Fajar.
"Katanya jam tangannya udah dijual di pasar loak. Kok masih dipakai?" goda Fajar.
"Gak jadi aku jual. Gak ada yang sanggup beli padahal uangnya mau aku sumbangin ke panti asuhan" jawab Ela.
"Duh jadi cewek jangan jutek gitu ah, makin cantik lho" Fajar semakin menggoda Ela.
"Sudah.. sudah... aku ngajak kamu ke sini bukan mau dengerin gombalan receh kamu tapi aku mau menantang kamu tanding di Dojang tempat biasa aku latihan. Hanya kita berdua, jangan ada yang tau. Aku tidak mau jadi rame" Ela memberikan penawaran.
"Untuk apa kamu mengajak aku bertanding. Apakah ini sebuah negosiasi?" tanya Fajar dengan cermat.
"Anggap saja seperti itu" jawab Ela.
"Trus apa imbalannya kalau aku menang?" desak Fajar
"Kalau aku menang kamu harus menjauh dariku. aku tidak mau mendengar kamu memanggilku dengan sebutan My Princess" pinta Ela.
"Okey... trus kalau aku yang menang?" tanya Fajar.
"Kalau kamu yang menang mmm...."
"Kamu harus membiarkan aku mendekati kamu, jangan menghindar dan bebaskan aku juga beri aku kesempatan untuk mencuri hati kamu. Bagaimana?" Fajar memberikan penawaran.
Lebih baik dari pada dia meminta aku menerima lamarannya. Batin Ela.
"Baik, tapi kamu janji tidak memaksaku harus menerima kamu ya" pinta Ela.
"Okey aku setuju. Deal?" Fajar mengulurkan tangannya.
Ela menyambut tangan Fajar dan mereka saling berjabat tangan.
"Deal" jawab Ela tegas.
"Nah begitu donk, jadi aku masih punya kesempatan untuk mendekati kamu, jangan langsung main tolak - tolak aja My Princess" ucap Fajar.
"Eits sebelum jelas siapa yang menang kamu tidak boleh memanggil aku sebagai My Princess. Gelay gue" balas Ela.
"Iya deh sesuka kamu saja. Asalkan kamu senang" sambung Fajar.
"Ya sudah nanti aku kirim pesan sama kamu kapan kita tandingnya" ucap Ela.
"Aku tunggu dengan senang hati" jawab Fajar
"Kalau begitu kita masuk lagi. Aku gak mau yang lain curiga kita menghilang. Aku gak suka mereka berfikiran macam - macam pada kita" oceh Ela.
"Tidak apa, paling mereka mikirnya aku yang ngajak kamu ke sini. Kamu nya kan tetap bebas dari bulyan. Kan kamu sudah nolak aku terang - terangan di depan orang ramai. Jadi mereka tidak akan berfikiran jelek pada kamu. Biarlah semua tuduhan itu hanya untukku. Aku rela" goda Fajar.
"Cih belagu banget. Gak usah cari empati deh" balas Ela kesal.
Fajar tertawa ringan mendengar jawaban Ela.
Mereka kembali ke ruang makan dan bergabung dengan yang lain. Untung saja tidak ada yang curiga dengan kepergian mereka sesaat tadi.
Hanya Rafa yang mengetahui kepergian mereka tadi ke teras belakang tapi Rafa tidak bisa berbuat apapun.
.
.
BERSAMBUNG