Find The KEY

Find The KEY
Ep. 10



Sesuai rencana mereka hari sebelumnya, hari ini setelah sepulang sekolah mereka akan menginap dirumah Aby dan Ela selama seminggu.


Ditha dan Sintia sudah menitipkan tas mereka di mobil Disil, sedangkan Rafa rumahnya memang satu komplek dengan Aby dan Ela jadi sepulang sekolah dia akan singgah kerumah untuk mengambil tasnya.


Setelah pulang sekolah mereka pulang bersama kerumah Aby dan Ela dengan menaiki mobil Disil. Disil memang sudah diizinkan Papanya Dimas untuk membawa mobil sendiri sejak dia mempunyai KTP dan SIM. Karena Disil selalu merengek kepada Dimas untuk mengendarai mobil sendiri ke sekolah.


Saat ditanya apa alasannya, jawab Disil biar keren aja dilihat cewek-cewek. Dan karena Dimas juga mantan casanova dia sangat mengerti keinginan anaknya tersebut.


Sisil yang menentang keras keinginan Disil tapi apalah daya karena izin sudah dikeluarkan oleh Dimas, Sisil tidak bisa mencegahnya lagi.


Walau pakai aksi mogok selama seminggu Dimas tidak gentar malah dia selalu menggoda istrinya dengan makan makanan favourite Sisil. Alhasil aksi mogok Sisil gagal total.


Disil dan Aby duduk didepan, Ditha dan Sintia duduk ditengah sedangkan Ela dan Rafa duduk dibelakang. Mobil melaju santai menuju rumah Aby dan Ela.


"Dis singgah kerumahku ya ngambil tas" pinta Rafa.


"Oke Raf" jawab Disil.


Disil memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah Rafa.


"Zalya sudah pulang Raf?" Disil menanyakan keberadaan adik Rafa yang terpaut usia lima tahun dari mereka.


"Udah lah, dah jam berapa nih juga" jawab Rafa sambil turun dari mobil Disil.


"Salam buat Zalya ya Raf, pacar babang Disil dimasa depan" ucap Disil.


"Gak sudi gua punya adik ipar kayak elu" umpat Rafa.


"Kamu Dis, Zalya masih dua belas tahun pun mau di embat. Dia itu masih kecil" ucap Aby.


"Kalau gitu aku jadi adik ipar kamu aja deh By" oceh Disil.


"Tanya noh sama yang dibelakang, dia mau apa kagak" elak Aby.


"Big No" jawab Ela singkat.


Ditha dan Sintia tertawa mendengar jawaban Ela.


"Sekarang emang bilang No, nanti-nanti kan bisa berubah jadi Yes" jawab disil.


"No.. no.. no.. Sekali no tetap no" jawab Ela lagi.


"Sakitnya tuh disini El" ucap Disil sambil menusuk-nusuk dadanya.


"Gak asik lagu dangdut, mending lagu Rossa. Ku menangiiiiis" ledek Ela.


Tawa Ditha dan Sintia semakin keras melihat wajah kecut Disil.


Tak lama Rafa sudah keluar dari rumahnya dengan membawa tas yang berisi perlengkapannya selama seminggu dirumah Aby dan Ela.


Rafa naik ke dalam mobil Disil kembali.


"Walau rumah kamu dekat Raf, peraturan tetap berlaku. Gak boleh pulang kerumah selama masa karantina" perintah Aby.


"Oke Bos" jawab Rafa.


Sampailah mereka dirumah Aby dan Ela.


"Assalamu'alaikum Tante..." sapa mereka satu persatu ketika memasuki rumah dan melihat Alexa sedang mempersiapkan meja makan untuk mereka makan siang.


"Wa'alaikumsalam. Sudah pulang sekolah ya... Bawa tas kalian ke atas, ganti baju trus makan siang dulu ya. Setelah itu baru kalian mulai kegiatan belajar bersamanya ya" perintah Alexa.


"Baik Tante" jawab mereka serentak.


Anak-anak manut secara teratur naik ke lantai dua letak kamar Aby dan Ela yang bersebelahan. Anak laki-laki masuk ke kamar Aby sedangkan yang perempuan masuk ke kamar Ela.


Setelah berganti pakaian mereka kembali turun kebawah dan langsung menuju meja makan untuk menimati hidangan makan siang yang sudah dipersiapkan Alexa.


"Iya, ini memang masakan Medan Raf sambel teri medan. Papa kamu suka itu" ucap Alexa.


"Papa aku juga lho Tante" Disil gak mau kalah.


"Iya Dis, dulu Papa kamu sering minta sambel teri Medan setiap Opa dan Oma Aby dan Ela datang ke Jakarta" jawab Alexa.


"Ini masakan favourite Papa kami" jawab Ela bangga.


"Itu mah gak diragukan lagi El, kata Papaku gara-gara sambel teri ini mereka pernah berantem" balas Disil.


"Sudah... sudah.. kalian makan dulu. Jangan ngobrol sambil makan ntar kacangnya masuk kehidung lho" Alexa mengingatkan.


"Ih Tante seram banget doanya" celetuk Ditha.


"Makanya makan yang tenang ya, jangan sambil ngobrol" ucap Alexa.


Aby and the geng makan siang bersama setelah itu mereka melanjutkan belajar bersama ruang TV lantai dua.


Sesuai komitmen bersama tidak ada yang boleh main-main dalam belajar atau masa karantina dibubarkan. Itu ucapan Aby sebelum mereka tiba dirumah Aby dan Ela.


Mereka belajar dengan serius, setiap ada soal yang sulit akan dipecahkan bersama. Masing -masing dalam tim mempunyai tugas dan keahlian masing-masing.


Eksakta Tim Utama ahlinya adalah Aby, di Tim cadangan adalah Ditha. IPS di Tim Utama dipegang Rafa sedangkan di Tim Cadangan Sintia dan Bahasa dan Umum di Tim Utama dipegang Ela sedangkan di Tim Cadangan dipegang oleh Disil.


Jadi mereka bisa saling berbagi dan bekerjasama dalam belajar. Aby dan Ditha juga Rafa dan Sintia belajar dengan akur dan tenang tapi tidak dengan Ela dan Disil.


Seperti biasa ada aja yang membuat mereka berantem. Hanya gara-gara nama Taj Mahal.


Disil ngotot kalau Taj Mahal itu diberi nama Mahal karena mewahnya bangunannya. Sedangkan Ela berkata bahwa kata Mahal itu berasal dari nama istri Kaisar yang membangun bangunan itu.


Dan akhirnya mereka berantem karena tidak ada yang mau mengalah.


"Dis, Ela udahan berantemnya?" ucap Sintia.


"Disil nih Sin ngotot banget, dikasi tau gak terima" bela Ela.


"Yah benar kan Taj Mahal. Maaaa haaal.. itu karena bangunannya mewah, mahal buatnya Ela" jawab Disil ngotot.


"Emangnya Taj Mahal itu ada di Indonesia? Taj Mahal itu di India Disiiil. Orang India gak tau arti Mahal yang kamu maksud" bela Ela.


"Ya taulah, kan banyak orang India yang tinggal di Indonesia" balas Disil gak mau kalah.


Rafa, Ditha dan Sintia sontak tertawa mendengar jawaban Disil.


"Disil.. Disil... heran gua, napa Ibu Wali Kelas milih elo ikut cerdas tangkas. Jawab soal gitu aja ngawur" ejek Aby.


"Noh lihat ini sejarah berdirinya Taj Mahal" Ela menunjukkan hp nya yang sudah tertera sejarah berdirinya bangunan Taj Mahal di layar monitor hp Ela.


Disil meraihnya dan membacanya. Tapi ya tetap aja Disil gak mau kalah. Walau dia salah tapi setidaknya dia tidak mau terlihat kalah telak.


"Nih lihat bangunannya dibangun selama 22 tahun, dibutuhkan 20.000 pekerja, 1.000 gajah ikut berpartisipasi. Kamu hitung berapa biayanya. Mahal kan?" tanya Disil.


"Ye maksa kamu. Kalau udah salah ngaku aja jangan ngotot pakai ngegas lagi. Semua yang kamu bilang benar tapi gak ada hubungannya antara nama Mahal dengan mahalnya biayanya. Jaka sembung bawa golok. Gak nyambung goblok" jawab Ela.


Aby, Rafa, Ditha dan Sintia makin keras ketawanya.


"Hahahahaha....Dasar Disil" ucap mereka.


.


.


BERSAMBUNG


Teman-teman jangan lupa like dan commentnya ya biar aku lebih semangat.