
Sintia masuk kedalam mobil Aby.
"Siapa tu Sin?" tanya Aby penasaran, karena tadi saat dia meninggalkan Sintia, Sintia hanya sendiri.
"Salah satu karyawan Barrakh Corp, tadi dia kasihan melihat aku menunggu kamu sendirian. Karena sudah larut malam dia temani aku di loby" jawab Sintia.
"Sorry tadi meninggalkan kamu sendirian, aku kasihan kalau lihat kamu jalan terlalu jauh sampai parkiran" Ucap Aby merasa bersalah.
"Gak apa-apa By, santai aja" jawab Sintia.
Mobil terus melaju menuju rumah Sintia.
******
Di dalam mobil Disil.
"Dis, aku perhatikan dari tadi kamu lebih banyak diamin aku, kenapa sih? Aku ada salah ya sama kamu?" tanya Ditha.
"Haa... nggak Tha, perasaan kamu aja kali" balas Disil.
Kesalahan kamu, kamu cantik sekali malam ini Tha. Batin Disil.
Ditha kembali memperhatikan jalanan. Disil mencoba berulang kali melirik kearah Ditha tanpa Ditha sadari.
Aku kenapa ya malam ini, padahal sering aku ketemu dan mengajak Ditha pergi ke acara seperti ini tapi hari ini kok terasa berbeda ya. Rasanya Ditha semakin cantik. Ada apa dengan isi kepalaku ya? Disil bertanya dalam hati.
"Dis awas ada kucing di depaaaaan" teriak Ditha.
Ciiiiiit.........
Disil memijak rem mobil mendadak.
"Huuuuuh hampir saja" ucap Disil.
"Kamu kenapa sih Dis, rasanya kamu beneran aneh malam ini? Kebanyakan diam dan melamun. Kamu sakit ya?" tanya Ditha.
"Eh nggak Tha, aku tadi memang sempat memikirkan sesuatu. Sorry jadi buat kamu gak nyaman di mobil" jawab Disil.
"Pasti mikirin cewek kan? Ini kan malam minggu. Pasti malam minggu gini udah banyak cewek-cewek yang lagi nungguin kamu" sindir Ditha.
"Banyak sih tapi males aku ngeladeninnya" balas Disil.
"Tuh kan dari dulu sifat kamu gak perbah berubah, dasar playboy cap biawak bin buaya" ejek Ditha.
"Lah gak salah aku donk Tha, aku kan hanya berkenalan dan berteman dengan mereka, gak lebih. Kalau mereka mengharapkan sesuatu dari aku ya gak salah aku donk. Aku gak pernah menjanjikan sesuatu pada mereka" Disil membela diri.
"Emang kamu sukanya tebar pesona, cewek-cewek ya pada klepek-klepeklah. Jangan suka kasih harapan palsu sama mereka. Sakit tau di PHP-in" oceh Ditha.
"Kog kamu tahu Tha rasanya sakit di PHP-in sama cowok. Emangnya kamu udah punya cowok?" tanya Disil.
"Gimana aku mau punya cowok, aku gak bisa lepas dari kamu. Hampir tiap hari datang ke butik trus malam minggu gini sering ajak aku acara kesanalah acara kesinilah. Aku jadi gak ada waktu dan kesempatan buat cari cowok" jawab Ditha.
Syukurlah kamu belum punya cowok Tha. Aku masih punya kesempatan untuk mendapatkan kamu. Lho... lho... apa yang baru saja aku fikirkan. Perang batin Disil.
"Sorry Tha, habis si Ela kalau gak melalui hp kamu gak mau terima video call dari aku. Ya terpaksa deh aku ke butik kamu" balas Disil.
"Dasar bucin akut sama Ela" ejek Ditha.
"Eh siapa yang bucin, aku tu cuma kangen aja sama dia. Gak ada teman berantem yang sepadan selama lima tahun ini. Dia juga lama banget pulangnya. Aku udah gak sabar jitak kepalanya" ucap Disil kesal.
"Iya tuh anak betah banget di luar negeri. Apa gak cukup waktu lima tahun lari" ucap Ditha tanpa sadar.
"Haaa... eh lari dari kamu lah. Kamu kan suka buat dia kesal" jawab Ditha.
Ups... hampir saja aku keceplos. Aku kan sudah janji sama Ela untuk menjaga rahasia hatinya yang terluka karena si Rafa. Batin Ditha.
Tak lama mereka sudah masuk kedalam halaman rumah Ditha.
"Makasih ya Tha, kamu udah mau menjadi pasangan aku malam ini" ucap Disil tulus.
"Iya... iya... udah biasa. Aku langsung masuk ya. Hati-hati di jalan" balas Ditha.
"Daaah Ditha, selamat malam. Semoga mimpi indah. Mimpiin aku ya" ucap Disil setengah berteriak.
"Gombal kamu. Bosan tauk gak di alam nyata ataupun alam bawah sadar ketemu kamu melulu. Udah kayak makhluk gaib selalu menghantuiku hiiii..." balas Ditha.
"Haaaa.. aku pulang ya. Wassalam" ucap Disil mengakhiri perdebatan mereka.
"Wa'alaikumsalam" jawab Ditha.
Benar-benar aneh anak itu malam ini, kesambet kali ya dari tadi gombal receh. Pipiku jadi panas karenanya. Seandainya kamu tau Dis, kamu memang sering muncul dalam mimpiku. Pasti kamu puas ngetawain aku.
Kapan kamu menyadari perasaanku yang tulus kepada kamu Dis. Sampai kapan aku sabar menunggu kamu membalas perasaanku. Batin Ditha.
Ditha mengusap dadanya untuk meredakan perasaan yang menyesak di dadanya. Perasaan yang sudah bertahun tahun di pendamnya. Hanya Ela dan Sintia yang mengetahuinya.
El, aku sudah lakukan semua yang kamu katakan tapi dia masih belum menatapku El. Dia mungkin masih mengharapkan kedatangan kamu. Masih berharap kamu membalas perasaannya. Ucap Ditha sedih di dalam hati.
Ditha kemudian masuk kedalam rumahnya dan langsung menuju kamarnya. Dia berganti pakaian dan membersihkan diri kemudian segera istirahat tidur dan berharap malam ini Disil hadir kembali di dalam mimpinya.
Sementara di dalam mobil Disil.
Kenapa aku kefikiran Ditha terus ya?
Disil memutar ulang memory di kepalanya. Bagaimana selama lima tahun ini dia lebih dekat dengan Ditha. Ditha yang dengan sabarnya selalu menemani dan menghiburnya saat kesepian karena kepergian Ela.
Perlahan Ditha yang selalu menyemangatinya saat dia merasa sedih ataupun mengalami masalah. Ditha yang selalu setia menasehati dan memberi saran jika dia menemukan jalan buntu.
Ditha yang sabar menunggu kedatangannya setiap hari di butik tanpa pernah merasa sekalipun terganggu atas kedatangannya yang sering membuat rusuh dan memporak porandakan ADS Butik.
Ditha juga yang selalu mau diajak kemanapun menemaninya dalam acara-acara seperti malam ini.
Benar yang Ditha ucapkan tadi, gara-gara dia Ditha tidak punya kesempatan untuk berkenalan ataupun dekat dengan pria lain selain dia.
Bahkan sering malam minggu begini Disil membajak waktu akhir pekan Ditha untuk menemaninya dalam acara-acara yang tidak penting bagi Ditha.
Tapi Ditha tidak pernah mengeluh setiap diajak keacara manapun. Dia melakukannya dengan ikhlas, sabar dan penuh senyuman.
Oh Tuhaaan mengapa baru kali ini aku berfikir tentang semua pengorbanan Ditha untukku. Aku terlalu semena-mena pada hidupnya. Aku sudah mengganggu hampir sepenuhnya kehidupannya.
Betapa selama ini aku tidak pernah memikirkan perasaan Ditha. Apakah dia terpaksa atau terganggu atas kehadiranku.
Sepertinya aku harus bicara dari hati ke hati padanya mengenai hal ini. Agar tidak ada yang dirugikan. Aku tidak mau bersalah pada hidupnya.
Secepatnya aku harus membicarakan semua ini.
.
.
BERSAMBUNG