
"Kini pengantin wanita sudah bisa dibawa masuk ke ruangan ini" perintah Kadi nikah.
Jantung Fajar tak henti - hentinya berdetak rasanya sudah seperti mercu suar dan pesta kembang api yang sangat besar di dalam jantungnya.
Perasaan ini tak bisa dia gambarkan. Rasa rindu seminggu tidak bertemu terbayar dengan sangat indah. Kini Ela sudah menjadi istrinya yang sah.
Perasaan menggebu ingin segera melihat wajah ayu wanita yang sudah menyandang sebutan sebagai istrinya Fajar Pratama Barrakh.
Perlahan Ela ditemani Catherine dan Sintia berjalan menuju kearahnya. Fajar memandangi wajah cantik Ela. Senyum di bibirnya tak pernah surut.
Benar kata Mama semuanya terasa begitu indah. Kamu cantik sekali hari ini istriku, My Princess. Teriak batin Fajar.
Kini Fajar dan Ela berdiri sejajar di depan meja akad nikah. Fajar memasangkan cincin nikah mereka di jari manis tangan sebelah kanan Ela setelah itu Ela mencium tangan Fajar yang sudah sah menjadi suaminya dengan sangat takjim.
Setelah itu bergantian Ela memasangkan cincin ke jari tangan kanan Fajar. Fajar mengecup lembut kening Ela untuk pertama kalinya. Kemudian mereka menandatangani surat pernikahan mereka.
Fajar tak henti - hentinya menatap wajah cantik Ela, sedangkan Ela tersipu malu.
Kemudian acara berlangsung dengan sungkeman kepada orangtua dan meminta izin doa restu.
Acara ini berlangsung sangat khidmat dan syahdu. Fajar dan Ela sungkeman dengan kedua orangtuanya.
Jasmine, Alexa dan Ela ikut meneteskan airmata. Begitu juga Aditya, ternyata sangat berat untuk melepas anak perempuan menikah dari pada anak laki-laki.
Saat Aby menikah Aditya tidak seharu biru seperti ini. Ela adalah permata hatinya, penghibur nya di kala lelah. Dari kecil Ela memang sudah terlahir dengan penuh ceria dan bisa menghibur semua orang.
"Sayang jadilah istri yang sholehah, belajar menggantungkan hidupmu pada suami ya. Kamu tidak sendiri lagi, walaupun kamu mandiri tapi kini kamu sudah mempunyai suami. Semua yang kamu lakukan harus dibicarakan dulu dengan suami kamu, jangan memutuskan sendiri" nasehat Aditya.
"Iya Pa" jawab Ela.
"Selesaikan masalah kalian dengan kata mufakat ya. Kuncinya adalah komunikasi. Semua bisa selesai kalau dibicarakan dengan kepala dingin. Ingat surga kamu kini berpindah pada suami kamu" tegas Aditya.
"Iya Pa. Doakan rumah tangga kami menjadi rumah tangga yang sakinah mawaddah warrahmah" pinta Ela.
"Iya sayang, Papa akan selalu berdoa untuk kebahagiaan kalian" balas Fajar.
"Untuk kamu Fajar tolong cintai putriku, jaga dan lindungi dia seperti saya melindungi dan menyayanginya sampai dia sebesar ini. Satu permintaan saya jangan sekalipun kamu pernah bermain tangan ataupun kasar padanya. Dia... " Aditya terisak.
"Dia sudah ku besarkan dengan tanganku ini sedari kecil, seekor nyamuk pun tidak pernah aku biarkan menggigitnya apalagi jika dia kamu sakiti, aku tidak akan ikhlas. Tuntunlah dia menjadi istri yang sholehah, istri yang mengerti tugasnya di rumah dan bisa menjaga dirinya saat dia berada di luar. Hanya itu yang aku pinta pada kamu. Sekarang tanggung jawabku sudah pindah kepada kamu suaminya. Kamu bukan hanya mempertanggung jawabkannya kepada kami orangtuanya tetapi yang lebih penting adalah kamu bertanggungjawab kepada Allah sebagai suaminya" nasehat Aditya.
"Iya Pa, InsyaAllah akan saya ingat semua pesan Papa" jawab Aditya.
Setelah itu mereka sungkem kepada orangtua Fajar.
"Fajar saat ini status kamu sudah menjadi suami, jadilah suami yang bijaksana, penyabar dan penyayang. Bangunlah rumah tangga kalian sesuai dengan impian kalian bersama. Rumah tangga yang bahagia itu adalah rumah tangga yang tidak saling memaksakan kehendak masing-masing. Kalian harus berjalan seiring sejalan, bukan kamu harus ada di depan tapi tidak juga kamu di belakang. Berjalan lah sejajar dan saling bergandeng tangan. Kalian harus saling menguatkan karena di depan sana akan banyak rintangan yang akan kalian hadapi. Berfikir secara dewasa dan jangan egosi menjadi seorang suami" nasehat Omar.
"Iya Pa" jawab Fajar.
"Ariella, Papa titip Fajar ya. Layanilah suami kamu dengan penuh lemah lembut, tidak perlu berteriak untuk mengatakan kalau kita benar. Adakalanya diam itu adalah emas. Semua masalah bicarakan dengan baik - baik dan saling terbuka agar tidak ada buruk sangka ataupun praduga. Dan ingat jangan biarkan masalah berlarut - larut, segeralah selesaikan. Mungkin kalian saling mengenal belum cukup lama tapi Papa yakin kalian bisa terus untuk sama - sama saling belajar mengenal pribadi masing - masing" nasehat Omar.
"Iya Pa" jawab Ela.
Fajar dan Ela sungkem kepada Omar dan Jasmine.
Setelah selesai acara sungkeman kini sepasang pengantin sudah berdiri di atas pelaminan dan semua keluarga memberikan selamat secara bergantian.
Proses akad nikah selesai hingga pukul satu siang. Seluruh keluarga bersiap - siap untuk acara resepsi yang akan dimulai tepat pukul satu siang.
Masih ada waktu beberapa jam lagi dan mereka manfaatkan untuk istirahat sebentar di kamar dan setelah itu berganti pakaian untuk acara selanjutnya.
Begitu mereka masuk ke kamar Fajar langsung memeluk Ela dari belakang setelah dia selesai membuka pintu dan Ela masuk ke kamar terlebih dahulu.
"Maaaas" ucap Ela.
"Sebentar saja sayang, biarkan seperti ini. Aku kangen banget sama kamu. Hampir satu minggu kita gak ketemu dan juga tidak boleh teleponan" ujar Fajar.
Ela berdiri dan diam pasrah dipeluk suaminya. Sebenarnya dia juga merasakan hal yang sama tapi dia sangat malu untuk mengatakannya.
Setelah merasa puas memeluk istrinya baru Fajar melepaskan pelukannya.
"Kita punya waktu sekitar empat jam" ucap Fajar.
"Trus?" tanya Ela jantungan. Apakah waktu empat jam ini akan dia gunakan untuk membantaiku? Omg... Batin Ela.
"Ya kita harus istirahat sayang, tadi pasti kamu capek kan kelamaan berdiri. Nanti malam juga akan lebih lama karena tamu undangan banyak. Setelah itu kita mau langsung pergi jadi mari kita manfaatkan waktu yang tinggal sedikit ini untuk mengisi ulang tenaga kita" ungkap Fajar.
Fiuuuuh.. syukurlah. Aku kira dia akan menuntut haknya. Ela bernafas lega.
"Kenapa wajah kamu seperti itu? Kamu kecewa? Atau kamu mau kita melakukan hal yang lain?" goda Fajar dengan senyuman jahilnya.
"Nggak.. nggak Mas. Aku mau istirahat. Aku masih ngantuk karena tadi malam cuma sebentar tidurnya. Tadi pagi saja untung dibangunin Mama, kalau nggak telat deh acara akad nikah kita" jawab Ela.
"Ya sudah, kamu ganti baju dulu gih biar nyaman tidurnya" Fajar mengelus lembut kepala istrinya.
"Makasih ya Mas" ucap Ela tulus.
"Makasih atas apa sayang?" tanya Fajar.
"Makasih atas kesabaran kamu" jawab Ela tertunduk.
"Aku tau kamu belum siap, dan waktu kita juga tidak akan cukup untuk melakukan itu. Kalau kejar tayang pasti tidak akan nyaman apalagi ini pengalaman pertama bagi kita berdua" balas Fajar tersenyum lembut.
Ela melepas semua hiasan jilbabnya yang melilit di sekitar kepalanya. Saat hendak membuka gaunnya Fajar melihat Ela sedikit kerepotan.
"Mau aku bantu?" Fajar menawarkan diri.
Ela menganggukkan kepalanya dan tertunduk malu.
"Istriku kok jadi berubah pendiam gini ya.. Ini beneran istriku atau nggak ya, apa aku salah kamar?" goda Fajar.
"Maaaaas" Ela mencubit pinggang Fajar karena malu.
"Aduh.. duh.. sakit yank hahahaha kamu lucu malu - malu gitu" Fajar kembali menggoda istrinya.
"Maaaaaaaass... " balas Ela manja.
"Hahahahaha.... " Fajar memeluk istrinya kembali.
Mereka tertawa bahagia siang itu. Perasaan rindu dan tegang sebelum pernikahan sudah berhasil mereka lalui. Saat ini mereka tinggal menikmati manisnya pernikahan.
.
.
BERSAMBUNG