Find The KEY

Find The KEY
Ep. 22



"Lho Raf kamu belum tidur?" tanya Disil.


"Eh udah tadi tapi aku terbangun karena haus. Aku mau keluar mengambil minum" jawab Rafa.


Rafa keluar dari kamar Aby dan dia melihat Ela sedang memainkan gitarnya disudut ruangan dekat jendela dan sambil menatap langit diluar sana.


Ela bernyanyi sambil memainkan gitarnya.


Bulan terdampar di pelataran


Hati yang temaram


Matamu juga mata-mataku


Ada hasrat yang mungkin terlarang


Satu kata yang sulit terucap


Hingga batinku tersiksa


Tuhan, tolong aku jelaskanlah


Perasaanku berubah jadi cinta


Tak bisa hatiku menafikan cinta


Karena cinta tersirat bukan tersurat


Meski bibirku terus berkata tidak


Mataku terus pancarkan sinarnya


Kudapati diri makin tersesat


Saat kita bersama


Desah napas yang tak bisa dusta


Persahabatan berubah jadi cinta


Satu kata yang sulit terucap


Hingga batinku tersiksa


Tuhan, tolong aku jelaskanlah


Perasaanku berubah jadi cinta


Tak bisa hatiku menafikan cinta


Karena cinta tersirat bukan tersurat


Meski bibirku terus berkata tidak


Mataku terus pancarkan sinarnya


Apa yang kita kini tengah rasakan


Mengapa tak kita coba persatukan


Mungkin cobaan untuk persahabatan


Atau mungkin sebuah takdir Tuhan


Tak bisa hatiku menafikan cinta


Karena cinta tersirat bukan tersurat


Meski bibirku terus berkata tidak


Mataku terus pancarkan sinarnya


Apa yang kita kini tengah rasakan


Mengapa tak kita coba persatukan


Mungkin cobaan untuk persahabatan


Atau mungkin sebuah takdir Tuhan


Rafa mendengar jelas syair lagu yang dinyanyikan Ela dan dari suaranya sepertinya Ela benar-benar menghayati lagu itu.


Mengapa Ela nyanyi lagu itu ya. Persahabatan berubah menjadi cinta? Apakah itu isi dari suara hatinya sendiri? Tapi mengapa dia menolak perasaan Disil tadi, padahal kan Disil udah ngungkapin perasaannya ke Ela tapi malah ditolak sama si Ela.


Atau Ela sedang menyanyikan lagu untuk Disil kali ya? Tapi kog perasaanku jadi gak enak ya, rasanya Ela nyanyinya sedih banget. Batin Rafa.


Ceklek... suara pintu yang dibuka membuat Ela menghentikan petikan gitarnya.


"Lho Raf kamu belum tidur?" tanya Ela.


"Udah tadi El tapi aku terbangun dan haus" jawab Rafa.


"Tuh masih ada minum di teko, bawa aja masuk ke kamar. Nanti kalau kalian haus gak susah lagi keluar ngambil minumnya" perintah Ela.


"Iya, nih mau aku bawa ke dalam. Kamu belum tidur?" tanya Rafa.


"Ni juga udah mau masuk ke kamar, udah ngantuk. Tidur yuk" ajak Ela.


Dikamar Aby, Rafa melihat Disil sudah terlelap. Rafa jadi ingat pembicaraan antara Disil dengan Ela tadi.


Siapa cowok yang disukai Ela ya? Rasanya diantara aku dan Disil Ela itu paling dekat sama aku, selain rumah kami dekat, kami juga paling sering jalan bareng sama dia dan Aby. Tapi Ela kok gak pernah cerita ke aku ya? Dan juga selama ini aku gak pernah lihat Ela sering memperhatikan seseorang atau dekat dengan cowok lain selain aku dan Disil? Kenapa perasaan aku jadi gak enak gini ya?


Aku kog ngerasa Ela menyembunyikan sesuatu dariku? Apa Aby juga mengetahui isi hati Ela? Atau mungkin Ela sengaja mengarang cerita seperti itu agar Disil gak sakit hati karena telah di tolak Ela? Haaaa... aku rasa ini alasan yang paling tepat. Apa besok aku tanya sama Disil ya?


Tapi aku jadi gak enak udah nguping pembicaraan serius mereka. Lagian aku gak enak sama Disil sudah mendengar penolakan cintanya sama Ela.Ya sudahlah, mending aku diam aja, pura-pura gak dengar apa yang mereka bicarakan tadi. Batin Rafa.


Pagi harinya mereka shalat subuh berjamah dikamar masing-masing. Aby bersama para anak lelaki sedangkan Ela bersama para anak perempuan.


Setelah selesai shalat subuh Ela, Ditha dan Sintia berbincang santai sambil tiduran di atas tempat tidur. Biasalah curhatan anak remaja, apalagi coba kalau bukan soal hati.


"El sebentar lagi kan kamu mau pergi jauh. Curhat donk? kamu pernah gak suka sama cowok?" tanya Ditha.


"Eh iya... bener-bener aku pengen tau dan penasaran cewek tomboy seperti kamu sukanya sama cowok atau malah sama cewek" goda Sintia.


Ditha dan Sintia berbaring miring menghadap Ela yang tidur telentang diantara mereka.


"Yeee... enak aja kamu, gini-gini aku wanita tulen ya, ya sukalah sama cowok. Masak iya jeruk makan jeruk" elak Ela.


"Penasaran aja El, gimana kalau kita jujur dan saling terbuka ngungkapin isi hati kita. Kita suka sama siapa?" ajak Sintia.


"Trus kalau seandainya kita suka sama satu cowok gimana Sin?" tanya Ditha.


"Yah bersaing aja secara adil, kita kan bersahabat sudah dari orok. Masak gara-gara cinta bisa rusak persahabatan kita" jawab Sintia.


"Oke, aku sih gak masalah. Tapi janji ini hanya pembicaraan anak cewek ya. Jangan sampai bocor sama anak cowok yang ada dikamar sebelah" ancam Ela.


"Sep...sep... aku setuju" jawab Ditha dan Sintia barengan.


"Siapa duluan nih yang mulai?" tanya Ela.


"Kamu aja deh El, kamu kam gentlewoman" desak Ditha.


"Gentlewoman ya Tha?" tanya Ela.


"Hihihihi...." Ditha hanya bisa nyengir.


Ela menarik nafas panjang dan mulai berkata jujur.


"Baiklah... aku suka sama Rafa" ungkap Ela duluan.


"Apa?" teriak Ditha.


"Serius lo El?" tanya Sintia.


Ditha dan Sintia terkejut mendengar perkataan Ela.


Ela menganggukkan kepalanya.


"Ye tadi katanya harus jujur, giliran aku jujur pada gak percaya" ucap Ela.


"Bukan gitu El, kami gak nyangka aja ternyata selama ini kamu memendam perasaan kamu sama Rafa sampai serapat ini?" tanya Ditha.


"Bahkan tak seorangpun dari kami mengetahuinya" sambut Sintia.


"Hanya Kak Aby yang tau, sejak awal. Dia gak sengaja baca diary aku" jawab Ela.


"Trus dia setuju?" tanya Sintia penasaran.


"Dia mendukung apapun keputusan aku" jawab Ela.


"Tapi bukannya kamu yang ngebuka jalan Rafa mendekati Lisa? bahkan sampai sekarang mereka udah pacaran?" tanya Ditha tak percaya.


"Iya, Rafa bilang dia suka melihat Lisa. Selama delapan belas tahun usia kita, aku gak pernah melihat dia antusias mendekati seorang cewek. Jadi gitu dia bilang suka sama Lisa ya aku bantu" jawab Ela.


"Dengan mengenyampingkan perasaan kamu El? Hebat banget kamu El?" tanya Sintia.


"Sakit banget tuh kan El?" Ditha bertanya dengan wajah sedih.


"Awalnya iya sampai aku mengambil sebuah keputusan berat untuk menghindarinya. Aku gak kuat melihat kebersamaan mereka" jawab Ela.


"Makanya kamu kuliah ke luar negeri?" tebak Sintia.


"Iya... itu salah satu alasannya. Tapi aku ingin mandiri dan meraih cita-citaku disana. Aku sudah belajar mengikhlaskan perasaanku. Kalau memang dia jodohku kelak pasti akan bersatu, kalau tidak mungkin aku akan mendapatkan lelaki lain yang memang hanya untukku" ucap Ela.


"Uh dewasa benget sohib aku yang satu ini. Gak nyangka aku dibalik ke gesrekannya ternyata bisa juga berfikir jauh ke depan" puji Sintia.


"Nah sekarang kamu Tha, ayo siapa cowok yang kamu suka?" tanya Ela.


eng.. ing.. eng... siapa ya?


.


.


BERSAMBUNG


Please... jangan ada yang minta visualnya ya. Aku kapok di novel sebelumnya. Selera kita beda2 nanti aku buat gambar yang aku suka kaliannya gak suka.


Mending ngehalu sendiri, kalian bayangkan aja visualnya artis2 kesayangan kalian.


Terimakasih