Find The KEY

Find The KEY
Ep. 296



Triplet sudah mengambil oleh - oleh mereka di dalam kamar kemudian kembali ke lantai dasar dan masuk ke ruang kerja Jimmy.


Tok.. Tok..


"Masuk... " ucap Jimmy dari dalam.


"Maaf Uncle apakah kami terlalu lama?" tanya Fela sopan.


"Tidak Nona manis, aku masih bersiap - siap" jawab Jimmy.


Fela memberikan oleh-oleh yang dia bawa khusus untuk Jimmy dari Jakarta.


"Uncle Jimmy, ini oleh-oleh dariku" Fela memberikan bungkusan yang dia bawa.


Jimmy membukanya.



"Mie Instan?" tanya Jimmy terkejut.


"Iya Uncle, di Indonesia makanan ini sangat terkenal. Enaaak banget, uncle boleh deh cari informasinya di internet" jawab Fela.


"Tambah enak kalau dimasak pakai ini Uncle" Elfa menyerahkan oleh-oleh yang dia bawa.


Jimmy kemudian membuka bungkusan yang dia bawa.



"Ini apa?" tanya Jimmy.


"Ini namanya sambal terbuat dari cabai" jawab Elfa.


"Dan untuk penutupnya aku kasih ini Uncle" sambung Fael.


Fael memberikan bingkisan terakhir yang mereka bawa.



"Waaah kopi" ujar Jimmy senang saat melihat bingkisan terakhir yang diberikan Fael.


"Terimakasih anak - anak, kalian memang sangat perhatian pada Uncle" sambung Jimmy.


"Tapi ini tidak gratis Uncle, harus ada balasannya?" oceh Fael.


"Uncle mengerti, kalian ingin balasan apa?" tanya Jimmy.


"Sesuai dengan yang Papa Mama katakan tadi, kami ingin membeli coklat untuk kami makan sekaligus untuk oleh-oleh buat teman - teman kami di Jakarta" jawab Fael.


"Sekalian ajak Celine ikut ya Uncle, aku udah kangen banget sama Celine" sambung Fela.


"Baik Uncle akan ajak Celine besok ya" balas Jimmy.


"Oh iya, kalau Uncle bingung memasak mie instan ini, aku bersedia memasakkannya untuk Uncle. Uncle tinggal tentukan harinya dan berikan aku satu kompor di dapur Hotel ini. Aku akan buatkan mie instan spesial untuk Uncle" ujar Elfa.


"Kamu bisa memasak?" tanya Jimmy.


"Bisa donk, aku kan sudah belajar memasak dari Oma Jasmine. Makanya tadi saat makan malam aku katakan pada Uncle kita akan bicarakan menu makanan paling ueeenak sedunia" jawab Elfa.


"Kamu memang berbakat Elfa, benar - benar perpaduan Papa dan Mama kamu. Kalau Fael jelas seperti Papa dan Fela bakatnya seperti Mama kamu perancang busana" puji Jimmy.


"Siapa dulu kami... Tripleeet" sambut mereka bertiga.


"Terimakasih ya, sekarang kalian bisa kembali ke kamar kalian dan beristirahat. Besok pagi Uncle akan jemput kalian bersama Celine. Kita keliling London, jalan - jalan dan berbelanja. Besoknya lagi baru kita bermain ya" ujar Jimmy.


"Asiiiiiiik...... " jawab Triplet.


"Terimakasih Uncle, kamu ke kamar dulu ya. Salam buat aunty di rumah" ujar Fael.


"Oke Tuan kecil" balas Jimmy.


Triplet meninggalkan ruang kantor Jimmy. Kini tinggal Jimmy sendirian sambil menatap tiga bungkusan yang diberikan anak - anak Bosnya dengan senyuman.


Haaah... aku saja yang terlalu tegang menghadapi mereka padahal mereka anak - anak yang baik dan pintar. Aku tidak menyangka mereka mempunyai perhatian khusus padaku sampai membawakanku oleh-oleh seperti ini.


Jimmy menatap mie instan dan sambal. kemudian Jimmy meraih ponselnya dan melakukan pencarian untuk mie instant yang dia pegang.


"Benar kata mereka, ternyata makanan ini cukup terkenal di Indonesia. Aku jadi tidak sabar menyicipi masakan Elfa. Sepertinya aku harus mengatur jadwal Elfa di dapur dengan kepala Koki Hotel" ucap Jimmy sambil tersenyum.


Jimmy menyimpan oleh-oleh yang diberikan Triplet kepadanya dan dia menaruhnya di lemari yang ada di belakang meja kerjanya.


Setelah selesai membereskan berkas - berkasnya Jimmy bersiap - siap hendak pulang.


"Uncleeeee.... " panggil Shaby yang datang tergesa-gesa.


"Lho Tuan Muda, mengapa kamu datang sendirian?"Tanya Jimmy terkejut.


" Aku lupa tadi mengatakan pada Triplet untuk menungguku turun. Saat aku ke kamar mereka ternyata mereka sudah kembali dari ruangan Uncle" jawab Shaby.


"Ada apa Tuan mencari saya?" tanya Jimmy.


"Aku mau memberikan ini pada Uncle" Shaby memberikan bingkisan yang dia bawa dari Jakarta.


Jimmy menerimanya dan membukanya.



"Apa ini Tuan Muda?" tanya Jimmy bingung.


"Ini patung wayang golek" jawab Shaby.


"Bagaimana cara menggunakannya?" tanya Jimmy polos.


"Kalau itu tanya kan saja pada Elfa" balas Shaby.


Waduh gawat nih, kenapa perasaanku gak enak ya. Mengapa harus Nona Elfa yang mengajariku? Dia Nona cantik yang usil. Ada saja idenya yang selalu membuat aku panas dingin. Padahal baru saja aku memuji bakat bisnis dan memasaknya. Sekarang aku malah takut menanyakan padanya bagaimana cara menggunakan patung ini. Batin Jimmy.


"Baiklah Tuan Muda, besok akan saya tanyakan pada Nona Elfa. Terimakasih atas pemberian Tuan" balas Jimmy.


Tiba-tiba Ryntia datang ke ruang kerja Jimmy.


"Kamu kenapa meninggalkanku Shaby? Padahal aku sudah menelpon aunty Keysha dan menyuruhnya untuk menungguku" ucap Ryntia yang datang dengan wajah kesal.


Sontak Shaby dan Jimmy terkejut dengan kedatangan Ryntia yang tiba-tiba. Mereka sedang asik berbincang dan tidak menyadari kedatangan Ryntia masuk ke dalam ruang kerja Jimmy.


"Nona, kamu juga datang ke sini. Ada apa?" tanya Jimmy penasaran.


Mengapa tamuku malam ini semuanya anak - anak? tanya Jimmy dalam hati.


"Aku ingin memberikan oleh-oleh untuk Uncle. Ini, tolong di terima ya Uncle. Kami pergi bersama - sama untuk membelikan oleh-oleh buat Uncle" Ryntia menyerahkan bingkisan yang dia bawa.


"Terimakasih Nona" Jimmy membuka bingkisan yang dibawa Ryntia.


"Ini apa lagi Nona?" tanya Jimmy semakin penasaran.



"Ini baju adat Jawa. Kalau uncle mau memainkan wayang ini harus memakai baju dan blangkon ini" Ryntia menjelaskan.


"Benarkah?" tanya Jimmy serius.


"Benar, dan maukah uncle memakai pakaian ini di malam perayaan ulang tahunku dan Fathir dua hari lagi?" tanya Ryntia.


"Kalau itu permintaan kamu Nona, aku akan memenuhinya" jawab Jimmy.


"Tapi sekalian Uncle memainkan wayang golek itu untuk kami" punya Ryntia lagi.


Jimmy terlihat sedang berfikir keras.


"Ada apa Uncle, apakah Uncle keberatan?" tanya Ryntia.


"Eh.. oh nggak - nggak... Uncle tidak keberatan. Tapi Uncle kan gak tau cara memainkan patung ini?" tanya Jimmy balik.


"Kan tadi aku sudah bilang, Uncle bisa belajar cara memainkannya dari Elfa. Dia sangat pintar main drama" sambut Shaby.


"Seperti drama?" tanya Jimmy bingung.


"Iya sebuah drama yang dilakonkan oleh wayang golek" sambung Shaby.


"Begitu ya... Baiklah Uncle bersedia" tegas Jimmy.


"Asiiik... Terimakasih Uncle" jawab Ryntia.


"Kalau begitu kami pamit dulu ya Uncle. Kalau kelamaan kami takut Papa dan Mama nyariin kami" ucap Shaby.


"Iya Tuan Muda, Nona. Selamat beristirahat" balas Jimmy.


Shaby dan Ryntia keluar dari ruangan Jimmy. Jimmy kembi merasa resah.


Aku kok merasa mereka sedang merencakan sesuatu ya? Apakah aku akan dikerjain beramai-ramai? Akh... pusing. Kalau aku tolak mereka adalah cucu dari pemilik Hotel ini. Bisa - bisa aku di pecat.


Haaaah.... Jimmy menghembuskan nafasnya kasar.


Apa boleh buat, aku harus menjalaninya. Semoga saja mereka tidak membuat aku menjadi orang yang paling sengsara di muka bumi ini. Apeees nasibku kali ini di tangan tujuh anak kecil.


Jimmy merasa nelangsa dan segera berlalu dari ruangannya menuju mobilnya dan pulang ke rumahnya.


.


.


BERSAMBUNG