Find The KEY

Find The KEY
Ep. 24



Sudah sebulan keberangkatan Ela ke London. Kini Geng ERASADIS minus Ela kembali berkumpul di warung bakso langganan mereka saat libur akhir pekan.


"Lho neng kok cuma datang berlima. Neng Ela nya mana?" tanya Si Bapak Tukang Bakso.


"Ela sudah pergi Pak" jawab Disil sedih.


"Innalillahi... yang sabar ya den" ucap si Bapak.


"Ya ampun neng Ela, masih muda juga udah meninggal, padahal anaknya cantik dan ceria lagi" jawab istri si Bapak Tukang Bakso sedih.


"Bapaaaaak Ela bukan meninggal, Ela pergi jauh kuliah ke luar negeri" teriak Disil.


"Huft..... hihihi" tawa yang lain mendengar pembicaraan Disil dan Bapak Tukang Bakso.


"Habisnya den Disil bilangnya neng Ela udah pergi dengan wajah sedih gitu, Bapak kira neng Ela sudah meninggal den" jawab si Bapak.


"Bukan, Si Ela pergi sendiri ninggalin kami semua kuliah ke luar negeri gak ngajak-ngajak" ucap Disil kesal.


"Ya disusul kan bisa den" jawab si Bapak.


"Emangnya London - Jakarta dekat apa, main susul susul aja" balas Disil.


"Udah ah Dis jangan sedih berkepanjangan. Aku aja saudara kembarnya gak sedih seperti kamu" ucap Aby.


"Lho den Aby saudara kembarnya neng Ela ya? pantesan wajahnya mirip" tanya si Bapak.


"Iya ya Pak, pantesan neng Ela sering panggil kakak sama den Aby rupanya saudaranya toh" sambung istrinya.


"Pak pesan seperti biasa ya" ucap Sintia.


"Ge Pe El ya Pak" teriak Ditha.


"Apa tuh neng?" tanya si Bapak.


"Gak Pakai Lama" jawab enam anak manusia itu bersamaan.


"Oooooh" jawab pasutri penjual bakso.


"Ge pe el pak, ibu kira tadi merk minyak gosok pak" bisik si istri.


"Itu GPU bu" jawab suaminya.


Pasutri itu segera menyiapkan pesanan geng ERASADIS minus Ela. Kalau minus Ela namanya bukan ERASADIS lagi donk, tapi harusnya RASADIS.


Tapi karena rasa kesetia kawanan mereka tidak ada yang berani merubah nama geng tersebut karena takut disembur sama ketua gengnya dari London.


Eh ngapain juga mereka takut disembur, mana sampai semburan Ela dari London ke Jakarta. Mungkin kalau ada gempa bumi kali baru nyampe semburannya. Batin Author.


"Sepi ya gak ada Ela" ucap Ditha.


"Iya, aku jadi gak semangat hidup, rasanya hatiku hampa. Makan tak enak tidur tak nyenyak dan aku kesulitan bernafas saat aku flu" oceh Disil.


"Yeeeey aku kira beneran. Ya iyalah kalau lagi flu berat ya susah nafas bang makan dan tidur pun tak enak" sambut Sintia.


"Iya By gak enak banget, setiap ke rumah kamu rasanya sepi. Gak ada lagi yang teriak-teriak manggil-manggil namaku. Di Dojang juga gak semangat latihan, bosan tanding sama kamu melulu" ungkap Rafa.


Sontak Ditha dan Sintia saling pandang dan kasi kode ketika mendengar ungkapan hati Rafa.


l


Rasain lo Raf, kalau sudah tiada baru terasa kayak syair lagu dangdut. Batin Sintia.


"Iya sih Mama dan Papa juga sering terlihat sedih dan kesepian dirumah. Biasanya ada Ela yang selalu buat keributan di rumah" balas Aby.


Aby menarik nafas panjang.


"Yaaah mau gimana lagi itu sudah keputusan Ela, kalian kan tau kalau Ela sudah punya keinginan gak ada seorangpun yang bisa mencegahnya termasuk Papa dan Mamaku" sambung Aby.


"Gimana hubungan kamu sama Lisa Raf?" tanya Disil.


"Jarang ketemu, kita kan sibuk tugas di awal kuliah gini. Dia juga lagi sibuk belajar. Kan sudah kelas tiga sebentar lagi juga mau tamat dan persiapan masuk kuliah. Lagian entah mengapa aku malas banget ketemu dia akhir-akhir ini" ungkap Rafa.


"Lho kenapa Raf? Kamu naksir cewek lain?" tanya Ditha penasaran.


"Gile lu Raf ngalah-ngalahin aku yang playboy. Masih punya pacar udah ngelirik cewek lain. Awas karma bro" nasehat Disil.


"Nggak, bukan karena ada WIL. Males aja ketemu dia. Gak semangat lagi seperti dulu. Rasanya ada yang hilang aja tapi gak tau apa ya" jelas Rafa.


"Tau rasa lo, kehilangan Ela kan? Biasa juga Ela sering lu ajak nemenin lu pacaran" bisik Ditha pada Sintia.


"Betul" balas Sintia sambil berbisik.


"Woy ngapain kalian bisik-bisik?" tanya Disil.


"Mau tau aja urusan wanita" jawab Ditha.


"Aku curiga kalian sedang membicarakan sebuah rencana. Kalian mau menyerang negara api ya?" canda Disil.


"Apaan sih Dis lebay" bantah Sintia.


"Tuh kan kalian gak asik. Gak ada yang bisa diajak berantem. Elaaaa aku kangen kamu" Disil meletakkan kepalanya diatas meja.


Kalau bertemu begini rasanya memang sepi, semua merasa kehilangan atas kepergian Ela. Biasanya pasti ada saja canda tawa cerianya yang meramaikan suasana. Apalagi kalau sedang berkolaborasi dengan Disil menciptakan candaan-candaan baru yang lucu.


Akh... sepinya gak ada lo El. Batin mereka semua.


"Sudah-sudah jangan pada sedih semua, Ela juga pergi sementara kok bukan selamanya. Biarlah dia tenang disana belajar. Kalian gak usah nyebut-nyebut namanya terus entar dia bersin-bersin lagi disana. Ada atau tanpa dia hidup terus berlanjut kan? Dia meraih cita-citanya disana kita juga meraih cita-cita kita disini. Kalian mau gara-gara mengenang dia terus rusak semuanya. Entar beberapa tahun lagi dia pulang dengan membawa segala kesuksesannya kalian disini tertinggal jauh. Nggak kan??? Oleh sebab itu mari kita sama-sama bekerja keras untuk meraih cita-cita kita agar kelak kita sama-sama sukses. Gimana, setuju gak?" ajak Aby sembari memberi semangat pada teman-temannya. Padahal dia juga berusaha memberi semangat pada dirinya sendiri.


Diantara mereka dialah yang lebih merasa kehilangan karena Ela adalah saudara kembarnya. Saudara plus sahabat terdekatnya. Berbagi bersama sejak mereka dalam kandungan. Tentu saja dia sangat kesepian dan kehilangan tapi Aby tidak mau menunjukkan perasaan sedihnya dihadapan orangtua dan teman-temannya.


Aby ingin terlihat tegar dan kuat. Dia sudah berjanji pada Ela sebelum keberangkatan Ela akan terus semangat mengejar cita-cita mereka bersama walau berbeda tempat.


Mereka berikrar saat nanti Ela pulang kembali ke Indonesia Aby sudah siap menggantikan posisi papanya sebagai CEO di Perusahaan ADS Corp. Ela juga akan pulang kalau dia sudah sukses menjadi fashion design sesuai cita-cintanya.


Setiap hari Aby dan Ela tetap saling memberi kabar melalui pesan, email, telephone atau video call. Begitu juga dengan orangtuanya.


Dengan begitu rasa rindu kepada keluarga dan kampung halaman akan terobati. Ela disana terlihat baik-baik saja.


Dia sedang berjuang menjadi wanita yang mandiri dan feminim. Percuma donk kuliah bagian design kalau gak bisa merubah gayanya.


Tapi semua itu dirahasiakan oleh Aby, biar aja teman-temannya nanti terkejut kalau melihat Ela pulang.


.


.


BERSAMBUNG