
Keluarga Rafa sudah tiba dirumah Ela untuk melamar Catherine. Keluarga Ela bersedia menjadi tuan rumah demi melangsungkan acara lamaran Rafa dan Catherine.
Semua keluarga besar Geng ERASADIS ditambah keluarga Barrakh sudah berkumpul di rumah orangtua Ela dan Aby.
"Mr dan Mrs. Wolter kedatangan kami ke sini adalah untuk melamar Catherine Wolter secara resmi sekaligus ingin menentukan kapan waktu pernikahan mereka" ucap Reza.
"Kami menerima niat baik keluarga Bapak Rahardian, dan semuanya kami serahkan kepada seluruh keluarga di Indonesia ini. Karena maaf kami kurang mengerti adat istiadat dan kebiasaan di sini. Intinya kami ikut saja semua keputusan kalian malam ini. Mungkin Bapak dan Ibu Gunadi bisa menjadi perwakilan kami pada malam hari ini" pinta Mr. Wolter kepada orangtua Ela.
"Baiklah kalau begitu kami akan menjadi perwakilan dari Catherine untuk menerima lamaran Catherine sekaligus menentukan tanggal pernikahannya" Ucap Aditya.
"Kalau begitu langsung saja kita tentukan kapak waktu pelaksanaan akad nikahnya?" Tanya Reza.
"Maaf Mr. Rahardian kalau boleh kami minta jangan terlalu lama waktunya, karena kami tidak bisa berlama-lama di Indonesia. Ada pekerjaan yang harus saya kerjakan" jawab Mr. Wolter.
"Bagaimana kalau dua minggu ke depan aja Dad" potong Ela.
"Boleh juga tuh El" jawab Mr. Wolter.
"Gak kecepatan El?" tanya Rafa.
"Kamu kan yang terakhir nikah, kita udah punya WO langganan yang sudah ngerti ngurusin permintaan kita untuk sebuah pesta pernikahan, gedung juga selalau ready kan Pa?" Ela melirik mertuanya.
Omar mengacungkan jempolnya pada Ela.
"Ya sudah beres kan?" tanya Ela.
"Gaun pengantin gimana El?" tanya Catherine.
"Gaun kamu kita kejar 1 minggu, seminggu lagi gaun Mommy, Tante dan Auza. Klo bridesmaid nanti aku buat model yang gampang. Lagian Kak Key dan Ditha juga perutnya udah kelihatan kita buat gaun yang gak banyak model aja. Gimana?" ide Ela.
"Setuju" jawab Keysha, Sintia dan Ditha.
"Istriku emang TE OP EE" puji Fajar.
Semua tertawa mendengar perkataan Fajar yang terakhir.
"Ya sudah kalau begitu Mr. Wolter kita sepakat pernikahannya akan dilaksanakan dua minggu ke depan" tegas Reza.
"Baik Mr. Rahardian" balas Mr. Wolter.
Setelah acara lamaran Catherine di rumah orangtua Ela selesai setelah itu semua keluarga sibuk mengurus semua perlengkapan pesta.
Semua bahu membahu untuk terlaksananya pesta mewah seperti yang mereka inginkan.
Di ADS Butik.
"Ket lihat ni gaun kamu aku gambar tadi malam, suka gak?" tanya Ela sambil memperlihatkan hasil gambarannya.
"Nih tampilan depan, yang ini dari belakang" Ela menjelaskan.
"Saat nikahan kamu pakai baju yang baru kita lounching kemarin aja ya, ukurannya sepertinya pas deh sama badan kamu. Kamu kan pengen pakai kebaya muslimah modern biar gak kelihatan bulenya" ucap Ela.
"Yang ini?" Catherine menunjuk gaun putih yang baru saja selesai dijahit sebelum Catherine berangkat ke London minggu lalu.
"Yup, coba deh. Biar kalau kurang pas langsung di benerin. Lumayan hemat waktu kita" balas Ela
"Oke El" Catherine masuk ke ruang ganti pakaian kemudian mencoba gaun yang putih
"Tuh benerkan prediksi aku, kamu cantik pakai gaun ini. Tinggal kita buat gaun yang biru untuk resepsi ya. Nih kamu pilih sendiri bahannya trus kirim ke bagian jahit biar langsung di potong dan di jahit sama mereka" perintah Ela.
"Oke El" Catherine membawa kertas gambar yang telah dibuat Ela ke lantai bawah bagian bahan dasar. Dia memilih bahan kainnya kemudian membawanya kembali ke lantai empat ruang jahit.
Setelah Catherine selesai di ukur dan bahan di potong, Catherine kembali ke ruang kerja Ela.
"Kamu gambar apa lagi El?" tanya Catherine.
"Lagi gambar gaun untuk keluarga dan bridesmaid. Nih lihat, ini untuk Tante Lidya dan Auza" ucap Ela.
"Bagus El" puji Catherine.
Tak lama Ditha dan Sintia masuk ke ruang kerja Ela.
"Hai guys, lihat nih baju bridesmaid untuk kita, kalian suka?" tanya Ela.
"Selain simple, menghemat waktu nyaman dipakai untuk bumil" ungkap Ela.
"Setuju El" jawab Ditha dan Sintia.
"Oke, coba kamu pilih bahannya di bawah Sin untuk bridesmaid, untuk gaun keluarga kamu yang pilih ya Ket" perintah Ela.
"Beres" jawab Sintia dan Catherine.
Kini tinggal Ditha dan Ela yang ada di ruangan tersebut. Ela melihat Ditha seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Kamu kenapa Tha, ada masalah? Kok keningnya berkerut gitu, seperti mikirin yang berat?" tanya Ela.
"Mmm.. El tadi Sintia curhat ke ruangan aku tentang kehamilan" jawab Ditha.
"Sintia hamil?" tanya Ela penasaran.
"Belum, justru itu yang membuat dia resah. Dia curhat kalau Mamanya dulu juga susah hamil bahkan setelah tiga tahun dan melakukan program kehamilan ke dokter baru berhasil mengandung Sintia dalam perut Mamanya. Setelah itu Mamanya gak pernah hamil lagi makanya Sintia jadi anak tunggal" ungkap Ditha.
"Teruuus?" tanya Ela penasaran.
"Dia takut nasibnya juga akan sama seperti Mamanya, bahkan dia lebih takut kalau dia gak bisa hamil" curhat Ditha.
"Huuusss.. pamali ngomong gitu. Omongan adalah doa jadi ngomong dan mikir yang baik - baik aja. InsyaAllah harus selalu berdoa dan berusaha. Dan jangan terlalu di fikirin nanti jadi beban itu yang membuat dia jadi stres. Stres juga bisa menyebabkan terhambatnya kehamilan" jelas Ela.
"Aku juga bilang begitu El tapi Sintia terlalu khawatir" sambut Ditha.
"Ngapain khawatir kan dia juga baru beberapa bulan menikah. Nikmati aja, kalau Allah beri rezeki kapan aja bisa terjadi. Mungkin harus pacaran halal dulu baru punya momongan, puas - puasin aja" ujar Ela.
"Nanti siapa tau dia ada curhat sama kamu kasi dia semangat ya biar gak terlalu di fikirin. Kasihan lihat dia tadi, wajahnya sedih banget. Mungkin dia tertekan. Kalian kan sekarang sudah jadi keluarga, suami kalian sepupuan" pinta Ditha.
"Nanti kalau ada kesempatan aku cerita sama dia. Klo perlu sekalian aku ruqyah" oceh Ela.
"Husss.. emangnya dia kemasukan" sanggah Ditha.
"Ya emang kemasukan, kemasukan barang uenaaak" senyum nakal Ela.
"Dasar kamu sableng. Fikirannya gak jauh - jauh dari yang itu" umpat Ditha.
"Hahaha... namanya baru dapat mainan baru, kalau kata orang lagi anget - angetnya. Maunya main itu melulu" jawab Ela cuek.
"iiiiih Ela udah ah, aku jadi ngilu ngebayanginnya" bantah Ditha.
"Ya jangan di bayangin, langsung praktek" sambung Ela.
"Nih anak kesambet jin genit nih kali, kamu yang sepertinya butuh di ruqyah" Ditha menepuk kepala Ela.
"Hahahahaha... si Ditha pake malu - malu mau, tuh bukti nyata langsung tekdung" goda Ela.
"Udah ah cari topik yang lain" ujar Ditha.
"Si topik lagi enak - enak neng" goda Ela.
"Elaaaa... " Ditha mau memukul kepala Ela lagi tapi Ela dengan cepat mengeleak dan tertawa.
"Hahaahaha.... "
.
.
BERSAMBUNG