
Malam Jum'at Legi yang dinanti kini sudah tiba.Mbah Simah memandikan Sherly menggunakan bunga tujuh rupa dengan disertai rapalan mantra.Setelah itu ia meminta Sherly meminum sedikit sisa air bunga tujuh rupa tersebut.
Sherly patuh,ia menegak tanpa canggung.Setelah itu,Mbah Simah menuntut Sherly ke bawah pohon beringin besar yang tak jauh dibelakang gubuknya.Sherly diminta untuk duduk bersimpuh disana dengan didampingi Mbah Simah.
Si Mbah merapal mantra sambil lalu menabur kemenyan ke dalam bara yang sejak tadi disiapkan dibawah pohon tersebut.Lalu ia menjimpratkan darah ayam segar menggunakan daun pandan ke badan pohon.Beliau juga menjimpratkan ke bagian tubuh SHERLY yang masih menggunakan kain sampir yang dililitkan ke tubuhnya.
Mbah Simah tersenyum,ia kembali merapalkan mantra dengan mata tertutup.Bacaannya semakin cepat sampai mulutnya komat-kamit tak beraturan.
Tiba-tiba terdengar derheman menggelegar terasa menggetarkan bumi.Sherly bergidik ngeri,ia memegang erat ujung kain pelikat yang digunakan Mbah Simah.
"Jangan takut,,,,dia tidak akan menjahati mu"Ucapan Mbah Simah sedikit menenangkan hati.
Saat itulah muncul sesosok tubuh tinggi besar dengan badan berbulu berwarna hitam pekat.Ia merangkak menjilati darah segar yang terciprat kemana-mana termasuk ke tubuh Sherly.
HEMMMMM
"Kenapa kau memanggilku ??"Suaranya menggelegar kuat, Sherly memejamkan matanya rapat-rapat karena ketakutan.
"Kami butuh bantuan mu, wanita ini telah di zalimi oleh beberapa orang.Sampai ia terdampar disini.Sudikah kau membantu nya?"tutur sapa Mbah Simah terdengar sangat akrab sekali dengan makhluk tersebut.
HEMMMMMM
"Apa yang aku dapatkan jika aku bisa membantunya?"
Mbah Sima mengalihkan perhatiannya kepada Sherly, Sherly sendiri bingung harus menawarkan apa?
"Kami tidak mempunyai apapun kecuali tubuh, jiwa dan raga ini"Mbah Sima menjawab. Makhluk itu menyeringai, menampakan deretan gigi gigi runcing di rongga mulutnya.
"Aku menginginkan bayi itu untuk ku santap"
Mbah simah dan Sherly saling berpandangan satu sama lain.
"Ambillah jika memang kamu mau, aku tidak peduli dengan anak ini"
Jawaban dari Sherly membuat Mbah Sima terbelalak. Ia tidak menyangka Sherly sanggup memberikan bayi itu sebagai tumbal untuk mencapai niatnya membalas dendam.
HAHAHAHA HAHAHA
"Baiklah akan aku tunggu bayi itu lahir setelah itu kau bisa balas dendam"
Sherly mengangguk patuh bibirnya tersirat senyuman iblis. Makhluk itu berbalik ,lalu melangkah memecah hutan belantara dalam kegelapan.
"Kamu serius Ndok? mau memberikan bayi itu sebagai tumbal?"Mbah Sima ingin meminta kepastian dari Sherly. Karena ia masih tidak percaya, ada seorang ibu yang mau menumbalkan anak yang baru dilahirkannya sebagai upah balas dendam.
"Iya Mbah.... lagi pula tidak ada yang menghendaki kehadirannya. Ayahnya pun tidak mengharapkannya"
"Tapi itu anakmu lho nduk..."
"Aku tidak punya apa-apa lagi Mbah untuk membiayai bayi ini ,jadi lebih baik dia mati saja daripada dia harus sengsara di hutan ini"
"Iling Ndok iling.... kasihan anakmu... Bagaimanapun juga dia adalah darah dagingmu"
"Dulu aku memang sangat mengharapkannya Mbah, karena dengan punya anak... aku bisa menjadi ahli waris dari semua harta warisan Papaku. Aku lakukan segala cara untuk bisa hamil karena suamiku tidak mau menggauliku ,dia tidak pernah mencintaiku Mbah"
"Tapi ternyata Apa yang kulakukan justru membuat suamiku menceraikan aku Mbah. Tapi aku tidak kehilangan akal ,aku sudah mengandung jadi tinggal aku menemukan seorang suami . Aku menikah dengan selingkuhanku itu Mbah, ternyata papaku tahu dan mengusirku Mbah. Bukan hanya itu Mbah... suamiku justru berselingkuh karena menganggap aku sudah tidak berguna"
"Karena itulah aku dendam dengan mereka... dengan mereka yang sudah membuatku hidup terlunta-lunta seperti ini mbah. Aku sudah tidak peduli lagi dengan anak ini ,yang aku perdulikan sekarang hanyalah balas dendam"
Mbah Sima manggut-manggut memperhatikan kisah hidup wanita di depannya itu.
"Baiklah... jika itu sudah menjadi tekadmu Ndok. Tapi kalau kamu sudah membuat perjanjian dengannya, semua tidak bisa dibatalkan dengan mudah. Jangan menyesal ya nduk"
Sherly mengangguk yakin...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Namun ternyata semua itu tidaklah mudah. Bayi itu tidak langsung keluar seperti yang dibayangkan oleh Sherly. Mbah Sima membantu persalinan Sherly dengan telaten dan sabar.
Suara tangisan bayi melengking memecah keheningan malam. Mbah simah tersenyum bahagia melihat bayi perempuan yang mungil sehat dan sangat gemuk.
"Ndk bayi perempuan cantik loh..."Mbah simah menimang-nimang dengan penuh rasa yang sangat bahagia. Sampai-sampai ia tidak sadar, bahwa Sherly sudah tidak memiliki daya dan upaya untuk menggerakkan jemarinya.
"Ndok bangun...coba lihat anakmu"
Tak ada respon, Mbah simah mulai panik ia meletakkan bayi mungil itu di sebelah ibunya. Lalu ia menggoyang-goyangkan tubuh ibunya perlahan ,tetap saja tak ada respon .Tubuh itu sudah dingin dan kaku.
Mbah simah memeriksa lubang hidung Sherly, sudah tidak ada udara yang terhembus.
"Ya ampun Gusti ternyata dia sudah meninggal"
Mbah simah membelai pucuk kepala Sherly, lalu mencium keningnya dengan begitu mendalam. Air matanya menetes lolos dari pelupuknya.
Tangisan bayi Sherly semakin nyaring saja. Seolah-olah ia tahu bahwa ibunya telah meninggalkannya selamanya.
Mbah Sima memungut bayi Sherly dan menggendongnya dengan hangat. suara derheman menggelegar menjadi tanda bahwa makhluk itu akan mengambil haknya.
Mbah simbah segera keluar menemui makhluk tersebut.
"Mana makananku?"suara makhluk itu menggelegar meremangkan bulu Roma.
"Ini...Ini dia bayi itu . Sangat cantik, matanya indah, bibirnya mungil ,tapi apakah kau tahu? bahwa ibunya telah meninggal dunia saat melahirkannya"
"Lalu sekarang ??siapa yang akan balas dendam kepada para biadab itu ??"
HEMMM
"Itu bukan urusanku, dia mati Bukan aku yang membunuhnya. Tapi memang sudah waktunya ajalnya tiba"ujar makhluk tersebut tenang.
"Tapi Bukankah kau sudah berjanji untuk membalaskan dendam wanita itu?"
"Yah benar"jawab makhluk menyeramkan itu.
"Jadi kamu tidak berhak atas bayi ini, jika kamu tidak membalaskan dendam wanita itu"
HEMMMMMM
"Bagaimana caranya aku membalaskan dendam wanita itu? Sedangkan aku sendiri membutuhkan tangan manusia untuk melakukannya"
"Itulah kesepakatan yang ingin aku buat denganmu"Timpal Mbah Simah.
"Kau ingin membuat kesepakatan apa?"
"Biarkan anak ini membesar dengan sempurna .Di saat waktunya yang tepat Kau ajari dia ilmu sihir dan terapkan kebencian di hati ibunya kepada hatinya ,sehingga dia akan membalas dendam dengan sendirinya"
Makhluk hitam berbulu besar itu terdiam, tangisan bayi Sherly menggugah hati nya.
"Bukankah kamu sama sekali tidak mempunyai seorang murid manusia? sekaranglah saatnya!! Akan aku besarkan dia sebagai muridmu"
"Tapi aku lapar sekarang"Makhluk itu mengerang.
"Makanlah ari-ari nya... Habiskan darahnya dan resapilah ingatan wanita itu agar mudah bagimu memindahkan kebencian Sherly kepada anaknya"
HEMMMMM
"Baiklah..."
Makhluk itu merangkak ke arah gubuk Tua milik Mbah Simah. Iya menelan bulat-bulat ari-ari yang tersimpan di kendi sebelah mayat Sherly. Ia juga menjilati darah yang menggenang di balai-balai bambu tersebut.