SERUNI

SERUNI
DOKTER PSIKIATER HANTU BAB 86



Nicta mencari sosok tubuh satu-satunya orang yang dia kenal di sekolah ini.


"Cepat sekali dia pergi"Gerutu Nicta,helaan nafas kecewa menderu.


"Hey...cari siapa?"


Nicta menoleh, rupanya Nicky yang menyapanya.


"Emmm Yas...yah namanya Yas kan? yang duduk di belakang ku"


"Rupanya kau benar-benar kepincut dengan Yas...Yah nggak heran sih,dia memang idol di sekolah ini.Apalagi setelah diangkat menjadi ketua tim basket"


"Ketua tim basket ??masak sih??"


Nicky mengangguk yakin..


"Dia kan baru kelas X?"


"Emang...tapi dia memang jawaranya"


Nicta mengangguk mengerti.


"Kalau kamu kepincut sama Yas? siap-siap dah ya..."


"Siap-siap apa?"


"Kamu bakal banyak saingan "


Nicta terkekeh..


"Aku tidak begitu,kamu sudah salah sangka.Sebelumnya kami sudah pernah bertemu "


"Ohya???"


Nicta mengangguk yakin.


"Dimana?"


"Di kuburan,dan..."


"Kuburan ???"Keterkejutan Nicky memotong kalimat Nicta.Gadis itu mengangguk ragu.


"Ngapain dikuburan?kau ni aneh-aneh aja"


"Bukan...bukan gitu maksud aku,emmm kami bertemu saat pemakaman Ibuku"


"Ooohhh aku pikir ???"Nicky menggantung kalimatnya.


"Hemmm pasti pikirannya traveling kemana-mana nih ?"


"Ah nggak kok"


"Ya udah aku pergi dulu ya "Tanpa menunggu jawaban dari Nicky,Nicta langsung berlari pergi.


*


Rupanya Yas sedang bermain basket,Nicta memperhatikan bagaimana para gadis-gadis mengelu-elukan namanya.Dia baru yakin jika Yas memang populer di sekolah ini.Dan Nicta tidak menampik hal itu,karena Yas memang sangatlah tampan.Nicta baru menyadarinya, diam-diam ia bangga dengan dirinya sendiri yang mampu dekat dengan Yas tanpa saling mengenal nama satu sama lain.


Yas terlihat berjalan ke pinggir lapangan,ia mengambil handuk lalu duduk seraya menegak minumannya.Tanpa sengaja kedua tatapan mereka beradu, Nicta melambaikan tangan.Namun Yas tak merespon,ia justru berpaling dan ngobrol dengan teman disampingnya.


"Sombong..."Gumam Nicta,ia pun memutuskan pergi saja.


*


Saat jam istirahat sudah berakhir, Nicta yang sejak tadi duduk di dalam kelas sambil belajar mendadak ingin ke toilet.Ia pun bangkit dan melangkah cepat, hingga tanpa sengaja menabrak Yas yang akan masuk kelas.


"Aduh"tubuh Nicta yang lebih kecil terdorong hingga menyandar ke dinding.


"Sorry..."ucap Yas,dan tanpa bertahan lebih lama pria itu masuk ke dalam kelas.Nicta terpelongo, Apakah itu benar pria yang selalu ikut campur ?? Nicta tidak ingin berpikir lebih lama karena ia sudah kebelet sekali.


*


Pulang sekolah, tanpa sengaja Yas melihat Nicta masuk ke dalam mobil mewah yang menjemputnya.Dia tidak memperhatikan lebih lama lagi, karena ia harus segera pulang setelah mendapat telepon bahwa Seruni pingsan saat menjamu tamu makan siang.


*


"Uncle..."seru Yas saat baru saja ia membuka pintu ruang tempat Aunty nya dirawat.Rupanya disana sudah ada kedua orang tuanya dan adiknya Putri Kirana.


"Kak..."Putri sumringah sekali melihat Kakaknya yang sangat tampan dan memang diidolakannya datang.Yas tersenyum tipis, ia ingin memeluk adiknya tapi tidak bisa.Yas hanya mencium telapak tangan sang Ayah.Reyhan mengusap punggung putranya dengan lembut.


"Aunty kenapa uncle ?"tanya Yas dengan khawatir.


"Tidak apa-apa.."jawab Steven dengan senyuman yang merekah,Yas merasa ada yang tidak beres.Kenapa sama sekali tidak ada riak kekhawatiran ?Sedangkan Seruni masih belum sadarkan diri.


"Aunty Seruni sedang mengandung Kak"Putri dengan semangat menjawab.


"Apa??"Yas langsung menghampiri katil dimana Seruni sedang terbaring.


Perlahan Seruni membuka kelopak matanya,Ia tersenyum karena wajah pertama yang ia lihat adalah wajah Yas.


"Uncle... Aunty sudah siuman"Seru Yas semangat.Semua meluruh mendekat mengitari katil.


"Sayang...makasih ya..."Steven menggenggam hangat tangan istrinya.Seruni menautkan kedua alisnya.


"Makasih ?? makasih buat apa?"


"Aunty..."


Seruni mengalihkan perhatiannya kepada sang ponakan.Yas memeluk Seruni yang terbaring.


"Aunty hamil..."


Seruni terpelongo tak percaya.


"Iya dek...kamu sekarang hamil"tambah Reyhan ,Seruni langsung terjaga.Ia seperti tak percaya.


"Be-benarkah??"Seruni masih kurang yakin.


"Hadooooh"


Kujang tepar di atas meja besar ruang VIP itu.


..."Sepertinya akan bertambah lagi bebanku"...


...Yas ,Seruni dan Reyhan bisa melihat kehadiran Kujang....


"Kau jangan begitu Kujang... seharusnya kau bahagia karena Aunty hamil"tukas Yas.


"Yah kau bahagia, karena kau tidak pernah diposisi ku"Kujang menjawab.


"Kujang jangan begitulah"Seruni menyela.


"Apa?jangan merayulah...aku tahu apa yang ingin kamu katakan"


Kujang melompat turun dari atas meja.


"Bunda... Putri pengen banget bisa melihat Kujang"Ujar Putri Kirana.


"Jangankan kamu Put, uncle juga pengen banget lihat Kujang"Steven pun sepemikiran.


"***Hehehe belum tahu mereka"Kujang menutup mulutnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ***...


"Hemmmm sang princess sudah pulang"Sindir Erika begitu melihat Adik bungsunya beda Ibu itu datang.Tamara hanya menjeling sembari terus mengupas buah apel.


"Tidak usah hiraukan dia Erika,anggap saja kita melihat hantu"Seloroh Tamara yang disambut tawa oleh putrinya.


Nicta tersinggung,tapi ia menahan perasaannya dan terus saja masuk ke dalam.


"Woy... kalau numpang di rumah orang jangan berlagak seperti tuan putri.Pulang sekolah kerja, biar tidak rugi kita menyekolahkan anak haram seperti mu"Seru Tamara lantang.Langkah Nicta terhenti saat hendak menaiki tangga.Ia pun memutar arah kembali ke ruang tamu.


"Nicta bukan anak haram Tante,Nicta anak sah.Karena Ibu punya surat nikah"


"Yah...dia menikah dengan merebut suami orang"Balas Tamara.


"Hem"Nicta tersenyum ketus,ia sudah tidak ingin menghindar lagi dari perseteruan ini.Karena meskipun ia menghindar,Tamara akan tetap menindasnya.


"Bukannya Tante yang merebut Papa dari Ibu?setahu Nicta,Papa pernah bilang jika dia tidak pernah mencintai Tante.Dia menikah hanya karena hubungan bisnis, sehingga mengorbankan perasaannya kepada Ibu "


"Ohya??"Tamara bangkit lalu mendekati anak tirinya itu"Sejauh mana kamu tahu cerita dongeng itu?jika itu benar, seharusnya Ibu kamu pergi sejauh mungkin.Karena pria yang dia cintai sudah memiliki keluarga "


"Bagaimana Ibu bisa pergi?jika Papa sendiri yang mencarinya lalu menahannya dengan sebuah pernikahan "


Tamara terbungkam..


"Kau sudah berani melawan ya"pekik Erika.


"Semut jika terus diinjak,dia akan menggigit juga"


Tamara menarik sebelah sudut bibirnya mendengar jawaban Nicta.


"Seberapa besar perlawanan seekor semut, paling hanya bentol saja"


"Hahahahahaha"Erika tertawa ngakak.


"Meskipun semut itu tahu akan kalah, melawan lebih baik daripada menyerah dan mati tanpa perlawanan seperti mendiang Ibuku"balas Nicta,ia kemudian melangkah pergi menuju kamarnya.


"Iiihhhh gemas deh,dia sudah berani melawan loh Ma"


Tamara diam tak menanggapi ucapan putrinya.Ia seperti memikirkan sesuatu.