
Kedua bola mata Excel membulat sempurna, deru nafasnya mulai cepat. Dadanya naik turun, ia tercekat mematung.
Tiba-tiba tapak kaki berair itu berhenti tepat di hadapannya.Nafas Excel semakin cepat,ia tidak sanggup mengangkat pandangannya karena takut melihat sosok asli di depannya itu.
"Excel ... tolong aku..."suara seperti desauan angin membuat Excel semakin pias.Tapi kenapa makhluk itu tahu namanya ?
Didorong oleh rasa penasaran, perlahan Excel memutar bola matanya naik ke atas.
"Hah???-K-k-kak Wan-da??"Dua biji mata Excel seperti hendak melompat keluar melihat perwujudan makhluk tersebut.
Wanda terlihat basah kuyup,ia menggigil kedinginan.Bibirnya membiru, wajahnya pucat seputih kapas.
"Tolong aku... temukan Excel ...aku kedinginan"
Excel menelan saliva,ia masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat.Gemetar tangan Excel terangkat,ia ingin menyentuh makhluk tersebut untuk memastikan bahwa itu adalah roh dari Wanda ,teman se kamarnya.
Benar...itu bukan manusia,tapi roh.Tangan Excel hanya menyentuh kebasahan.Bukan lagi kulit bertulang.
"Kak??? kenapa ??kamu kenapa??"
"Temukan aku Excel ...hanya kamu yang bisa menolong ku"
Excel mengangguk pelan...
"Aku akan berusaha menemukan mu Kak, tolong beri aku petunjuk "
Roh Wanda tersenyum disertai anggukan pelan.Lalu lenyap tak berbekas.
"Tak ada bau darah ,berarti kak Wanda tidak terluka tapi kemungkinan dia tenggelam karena tubuhnya basah"
Excel bermonolog sendiri.Ia menoleh melihat jam dinding.Jam 02.15 pagi,Apa Ba'im saat ini sedang tidur ??
Thing...
Terdengar suara piring berdenting dengan sendok.
"Ah jangan ada lagi penampakan deh, please"Gumam Excel .Ia tak kuat mental jika harus menghadapi makhluk astral terus menerus.
Tapi suara dentingan itu berketerusan, membuat Excel merasa penasaran.Ia pun mengendap-endap keluar dari kamarnya.
Eh ternyata Ba'im sedang makan, barulah Excel menghela nafas lega.Ia mendekati Ba'im lalu duduk di kursi kosong disebelah Ba'im .
"Kenapa makan pagi buta begini??kayak bulan ramadhan aja"Excel mencomot anggur yang berada di atas meja.Ba'im tak menjawab,ia terus saja menikmati makanannya.Tiba-tiba Excel terpegun,ia menatap Ba'im dengan lekat.
"Apa Ustadz sedang sahur ??"
Ba'im menjawab dengan anggukan.
"Loh, ustadz kan lagi sakit... ngapain maksa puasa,? perasaan puasa ramadhan aja nggak wajib buat orang yang lagi sakit"
"Jangan bawel,,,nih"Ba'im menunjukkan beberapa butir obat lalu ia makan itu obat.Excel tersenyum lebar...
"Ihhhh ternyata Ustadz nurut juga ya sama aku?"Excel bertopang dagu menatap Ba'im penuh haru.Ba'im mencebikkan bibirnya,
"Jangan gitu ah,,,bikin pengen digigit aja tu bibir"
"Huuuuuuuu"Ba'im bersorak sambil meraupkan telapak tangannya ke wajah Excel .
"Sadar kalau masih mimpi..."
Ba'im bangkit mengemasi piring dan gelas kotor lalu mencucinya di wastafel.Excel mengekor di belakangnya.
"Ustadz,,, barusan aku lihat penampakan"
"Siapa?"tanya Ba'im sambil lalu mencuci piringnya.
"Kak Wanda ,ketua di kamar aku"
Setelah mengelap kering tangannya,Ba'im berbalik menghadap lawan bicaranya.
"Dia minta tolong agar mayatnya ditemukan, kemungkinan Kak Wanda mati tenggelam,soalnya tubuhnya basah kuyup "
Ba'im berpikir sejenak.
"Dia nggak ngasih petunjuk mati kenapa?dan dimana?"
Excel menggeleng.
"Nanti setelah sholat subuh aku mau ke kamar ku, untuk bertanya sama teman-teman tentang Kak Wanda "
Ba'im mengangguk setuju.
"Ustadz "
"Hem??"
Ba'im geleng-geleng kepala,tapi ada sekelumit senyum yang ditahan.
"Ciyeeee suka ya aku bilang ganteng"
"Udah sana cuci muka gosok Gigi, mulutnya bau"Ba'im mengalihkan pembicaraan menutupi rasa groginya.
"Masak sih??hah??"Excel menghembuskan nafasnya ke telapak tangannya.
"Ih bo'ong,Excel tu kalau mau tidur ngunyah permen mint,jadi bangun tidur mulut nggak bau,ada-ada aja ih"
Ba'im hanya tersenyum tipis.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Excel mempercepat langkahnya menuju kamar B nomor 2.Biasanya jam segini teman-temannya lagi sarapan sebelum beraktivitas.
Excel celingukan kesana kemari mencari Wanda , padahal ia sudah melihat sendiri roh temannya itu.Tapi Excel hanya ingin memastikan saja bahwa Wanda benar-benar tidak ada.
"Cari siapa Ex?"Sapa seorang temannya.
"Kak Wanda "
"Dia pamit pulang, katanya ada kepentingan keluarga"
"Hah?? kepentingan keluarga ??sama siapa dia pulang ??"
"Sendiri "
"Kamu tahu alamat rumahnya nggak ?"
Teman Excel menggeleng.
"Tapi Ustadzah Muna tahu, karena dia yang selalu menjadi wali Kak Wanda dulu kalau ada acara disini "
"Oh... sekarang Ustadzah Muna dimana?"
"Nggak tahu, mungkin di rumahnya.Tapi nanti kan dia kesini pas jam sekolah "
"Aku pengen cepat-cepat menemui dia...ya udah makasih ya "
Excel tak menunggu Jawa dari temannya,ia gegas berlari untuk mencari keberadaan Ba'im .Karena Ba'im pasti tahu dimana rumah Ustadzah Muna.
Excel berkeliling mencari Ba'im ,di rumah,di Musholla,di taman,tapi pria itu tak nampak batang hidungnya.Hampir saja Excel putus asa, hingga akhirnya ia melihat kelibat Ba'im sedang bersama beberapa pria bersarung dan peci.Ganteng-ganteng lagi...
Excel tak menunggu,ia cepat menghampiri Ba'im meskipun terlihat Ba'im sedang bercengkrama dengan hangat bersama pria-pria itu.
"Eh???"Ba'im kaget tiba-tiba saja Excel datang langsung menarik bahunya.
"Ada apa ?"tanya Ba'im tidak bisa menyembunyikan kekesalannya.
"Ada hal penting,darurat..."
Ba'im berusaha tersenyum kepada rekan-rekannya yang menatapnya penuh tanda tanya.Excel menariknya lagi dengan paksa agar Ba'im melihatnya.
"Iya iya... sebentar...aku lagi ada tamu ,apa kamu nggak lihat?"
"Iya aku lihat kok... ganteng.. ganteng lagi tamunya.Sayangnya aku udah cinta sama kamu jadi tenang aja,aku tetap mencintai kamu kok"
Para pria-pria itu langsung tersenyum menahan tawa mendengar selorohan Excel yang bar-bar.
"Apa-apaan sih kamu ?"Ba'im menekan gerahamnya,tapi bibirnya tetap tersenyum karena tidak ingin marah-marah di depan teman-temannya yang dulu seangkatan dengan nya di Kairo.
"Ibrahim... lebih baik kau temui dulu gadismu, sepertinya dia memang punya kepentingan mendesak"seseorang dari mereka bertutur kata penuh kelembutan.
Excel mengangguk membenarkan.
"Baiklah...saya permisi dulu sebentar"
Langsung ditanggapi dengan anggukan kepala yang hampir bersamaan oleh rekan-rekan Muhammad Ibrahim.
Ba'im mencengkram lengan Excel lalu diheretnya gadis itu menjauh dari teman-temannya.
"Ayo cepat katakan ada apa?"Ba'im bertanya dengan nada tegas setelah ia berada di tempat yang agak sepi.Excel tak segera menjawab,ia mengelus-elus lengannya.Bekas cengkraman Ba'im yang kuat.Namun ia tak mengeluh sakit sedikit pun.
"Kok malah diem sih??"Ba'im mulai hilang sabar.
"Kak Wanda pulang,,, katanya ada kepentingan keluarga.Hanya ustadzah Muna yang tahu dimana rumahnya.Aku ingin mengajak Ustadz menemui Ustadzah Muna hari ini "Excel menjawab dengan pandangan ke tanah.
"Hanya itu??hanya itu yang kamu bilang darurat?"Ba'im mencemooh, ia geleng-geleng kepala tak percaya.Excel hanya diam, tatapannya tetap menunduk.
Pada akhirnya Ba'im pergi begitu saja meninggalkan Excel tanpa kata.Gadis itu menarik nafas dalam-dalam,lalu ia pun pergi dari tempat itu dengan tekad akan melakukannya ini sendiri.