
Dengan jelas Excel mendengar suara Ba'im saat mengucapkan Ijab qobul, karena mereka menggunakan pengeras suara.Langkah yang tadi segak dan sigap tiba-tiba melambat seperti tak bertenaga.Excel memejamkan matanya, berusaha menguatkan hati dan jiwanya.Ia pun mempercepat langkahnya melebihi sebelumnya, karena ia ada janji temu dengan Dokter Dirga.
Yah!!! setelah mendapatkan ponselnya kembali, orang pertama yang dihubungi oleh Excel adalah Dokter Dirga,pamannya. setelah membuat Janji temu, Excel segera meminta izin kepada pengurus kantor untuk ia bisa keluar sebentar.
"Selamat siang Om"Excel menyapa seorang Dokter yang seumuran Papanya.Pria yang masih tampak ganteng diusianya itu tersenyum manis.
"Lama sekali kamu yang mau datang"Ucap Dokter Dirga setelah keduanya cipika-cipiki.
"Excel sibuk Om,kan baru saja ujian kenaikan kelas"Excel duduk di depan Dokter Dirga,mereka hanya tersekat meja kerja sang Dokter.
"Oh begitu rupanya, berarti Kalau Om tidak salah perhitungan tahun depan kamu sudah lulus?"
Excel mengiyakan.
"Jadi kuliah di Jepang ??"
Wajah yang semula dihiasi senyuman langsung berubah masam.
"Eh kenapa?? jangan bilang kamu nggak jadi ikut jurusan kedokteran di Jepang?"
"Nggak tahu lah Om... lihat saja nanti "
"Ex...kau adalah pemilik rumah sakit ini,Kau harus mewujudkan impian Papamu "
"Insyaallah Om... doakan saja yang terbaik,Ohya gimana hasil pemeriksaan medis tentang pasien yang bernama Muhammad Ibrahim Om??Apa ada pendonor untuk tulang sumsumnya ??"
Dokter Dirga menghela nafas panjang.
"Sepertinya akan sulit Ex... golongan darah dan genetiknya termasuk langka. Mungkin dari keluarganya bisa ,tapi tidak sepenuhnya menjamin bahwa akan cocok dengan genetik sumsum tulangnya pasien. Dia sama seperti kamu, genetiknya sangat langka sama seperti kamu"
"Maksud Om,Sel Genetik ku sama dengan nya??"
Dokter Dirga mengangguk pelan.
"Tapi jangan berpikir kamu akan mendonorkan sumsum tulang mu Ex"Dokter Dirga cepat memberikan peringatan.Excel tersenyum hambar.
"Aku takkan mati hanya karena mendonorkan sumsum tulangku Om"
"Tapi akan ada efek samping yang besar bagimu"
Excel tersenyum kecut...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari sudah menjelang sore, namun Ba'im tak melihat kelibat Excel sama sekali.Dia juga tidak hadir di jam sekolah.
Ba'im terlihat sangat khawatir,ia berjalan mondar-mandir di teras rumah menunggu kedatangan gadis itu.
"Mas..."Nagita datang menghampiri.
"Kamu sedang menunggu siapa ??"
Ba'im sama sekali tak merespon.
"Mas..."Nagita ingin menyentuh lengan pria itu,namun suara derheman seseorang mencegahnya.
Seruni berdiri dengan tangan terlipat di dada dan punggung bersandar ke daun pintu.
"Nagita... untuk malam nanti dan seterusnya kamu bisa istirahat di kamar Ismail.Dan Ismail akan tidur sekamar dengan Ba'im "
"Apa???tapi Tante saya kan suami istri dengan Ba'im ?? kenapa harus tidur di kamar yang berbeda ??"
"Apa kamu lupa apa kata Ba'im kemarin??kamu istri yang haram disentuh!!"
"Tapi bukan berarti kami harus tidur di kamar yang berbeda kan Tante?"Bantah Nagita tidak mau kalah.
"Ini untuk mengantisipasi kejadian hal yang terburuk bagi keluarga kami,Ba'im sudah mengorbankan segalanya demi nama baik Yayasan.Jadi aku tidak ingin putraku melakukan kesalahan yang akan membuat dia lebih terlihat bersalah jika tinggal sekamar dengan mu"
Nagita ingin menjawab tapi Ba'im segera menyela.
"Jangan membantah lagi,aku tidak suka perempuan yang tidak sopan kepada Bundaku"
Nagita langsung ciut,ia sudah diskak mate oleh Ba'im sendiri.
Disaat itulah Excel datang, langkahnya memelan begitu melihat Nagita ,Ba'im dan Seruni berada di teras rumah.
"Assalamualaikum..."seru Excel .
"Excel ..."Ba'im menuruni tangga teras menyambut kedatangan gadis itu.
"Dari mana saja kamu? aku dari tadi menunggumu ,kamu juga tidak datang ke sekolah. Kamu pergi ke mana?"
Excel melihat sepintas reaksi Nagita dengan sikap Ba'im terhadap dirinya.
"Aku pergi ke dokter Ustadz"
"Ke Dokter ???kamu sakit ?? sakit apa?"Ba'im tidak bisa menyembunyikan kegusarannya.Seruni langsung datang menghampiri.
"Excel kamu sakit nak?? sakit apa?"Ibu dua anak itu juga mengkhawatirkan Excel .
"Emmm hanya sakit tenggorokan saja Tante"Excel menjawab sekenanya saja.
"Kamu jangan bohong Ex.. nggak mungkin kalau hanya sakit tenggorokan kamu akan pergi ke dokter"
"Aku hanya tes PCR kok aku takut terkena Corona"
Nagita diam-diam mencebikkan bibirnya.Tapi Excel melihat hal itu.
"Ya udah....aku ke kamar dulu Ustadz...Tante... Sebentar lagi kan mau sholat Maghrib berjamaah"
"Ya udah... sayang..."Jawab Seruni dengan tepukan hangat di pundak Excel .Gadis itu tersenyum lalu melangkah panjang masuk ke dalam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Excel diam-diam menyelidiki tentang Nagita kepada teman-teman sekamarnya.Karena mustahil Nagita hamil kalau tidak berhubungan intim dengan seseorang.
"Kalau pulang sih Nagita nggak pernah ijin pulang,tapi dia sering ijin keluar dengan alasan mau beli sesuatu"Ketua kamar Nagita menjawab pertanyaan Excel .
"Sama siapa dia keluar Kak?"
"Entah ..aku kurang tahu itu"
"Aku pernah melihat Nagita bersama seorang pria yang pantas di panggil Om sih,pas ditanya katanya itu pamannya "Seorang teman ketua Kamar Nagita menjawab.
"Kamu yakin ??"Ketua kamar Nagita ikut penasaran.Yang ditanya menjawab dengan anggukan kepala.
"Saat itu dia ijin keluar mau belanja keperluan sekolah.Dan saat dia datang memang dia belanja banyak banget,tidak hanya keperluan sekolah sih"
"Kakak masih ingat wajah Om itu ?"tanya Excel .
"Emmmm entahlah, mungkin kalau ketemu ingat "
Excel manggut-manggut pelan,rasanya Nagita mempunyai misteri yang besar dengan kehamilannya.
"Eh Excel ... ngapain disini ??"
Excel menoleh saat ada yang menyebut namanya.Ternyata Nagita ada disini juga.Excel tersenyum,ia melipat tangan di dada menghampiri istri dari Muhammad Ibrahim itu.
"Aku disini sedang menyelidiki Siapa yang telah menghamili kamu ?"
Wajah Nagita langsung berubah.
"Jangan kamu pikir aku akan diam saja melihat ketidak adilan menimpa Ba'im . Akan Aku pastikan semua akan terbongkar sebelum bayi itu lahir"
Nagita menelan saliva, wajahnya mengeras mendapatkan intimidasi dari Excel .
"Kau sepertinya tidak bisa menerima kekalahan ,karena akhirnya aku yang menikah dengan ustadz Ba'im bukan kamu"
"Jika saja anak itu adalah anak Ustadz mungkin aku bisa menerimanya, tapi aku yakin 100% bahwa anak itu bukan anak Ustadz "
Nagita menarik sebelah sudut bibirnya.
"Anak dia atau bukan ,yang jelas sekarang kamu kalah Excel . Pria yang kamu puja-puja akhirnya menikah dengan wanita lain"
Excel tersenyum kecut...
"Jangan bangga dulu Nagita, Kamu tidak tahu siapa aku? Aku tidak akan pernah membiarkan apa yang kamu inginkan dengan mudah tercapai. Akan aku cari tahu siapa om-om yang bersamamu?"
Dua bola mata Nagita membulat sempurna.Melihat reaksi itu Excel tersenyum tipis.Hal ini sudah mendekati kebenaran, pasti pria yang disebut Om-om itulah yang telah menghamili Nagita.
"Akan Aku cari tahu siapa pria itu?"