SERUNI

SERUNI
Seruni Bab 29



Setelah memberikan Sayaka arahan agar terbiasa dengan kamar hotelnya, Shakala berniat untuk segera kembali ke rumah sakit. Namun, Sayaka tampaknya enggan untuk ditinggal sendirian. Seperti yang terlintas dipikiran Shakala sebelumnya, Seruni salah memilihkan hotel tempat Sayaka menginap.


"Kalau kamu tidak nyaman di sini. Kamu sementara tinggal sama aku aja, Ka. Nanti biar aku yang jelaskan pada Seruni. Aku menginap di tempat saudaraku. Kita bisa sekamar di sana. Tidak jauh dari sini, kok," tawar Shakala yang tidak tega melihat raut kebingungan Sayaka.


"Terimakasih, Pak Mayor. Ini terlalu bagus buat saya. Nanti saya malah tidak bisa tidur," sambut Sayaka dengan senang hati.


"Ya sudah, kita ke sana sekarang. Nanti kamu istirahat di sana saja. Besok baru ke rumah sakit."


Sayaka dan Shakala akhirnya kembali meninggalkan hotel. Tidak ada pilihan lain bagi Shakala selain memberikan tawaran tersebut. Membiarkan Sayaka berada di hotel sendirian, sama saja menyiksa pria tersebut secara terang-terangan. Meski hati kecil Shakala merasa kesal karena mendapati kenyataan bahwa dia harus kalah dengan Sayaka dalam hal mendapatkan hati Seruni, tetapi pikiran dan hati nuraninya masih mampu berpikir dengan baik.


Di lain tempat, Seruni tampak duduk melamun di bangku tidak jauh dari brankar di mana Subroto sedang tertidur pulas. Sedikit banyak, jelas dia sedang memikirkan pembicaraannya dengan sang ayah tadi. Semua memang masuk diakal. Cepat atau lambat, Seruni pun harus membicarakannya dengan Sayaka.


Lama kelamaan, Seruni merasakan kantuk. Dia pun memilih berpindah ke brankar khusus untuk penjaga pasien yang terletak dua meter dari brankar sang ayah. Seruni membaringkan tubuhnya di sana. Memejamkan mata dan sejenak melupakan segala kekhawatiran yang tengah menyelimuti pikirannya.


****


Beberapa saat berada di rumah saudara Shakala, Sayaka lebih merasakan ketenangan. Suara kicau burung yang menjadi peliharaan sepupu Shakala membuat Sayaka seakan tidak jauh dari suasana alam yang dicintainya. Di tambah lagi di halaman belakang rumah tersebut, ada rusa dan kelinci yang dijadikan sebagai hewan peliharaan di sana.


"Jadi ingat Siti dan yang lainnya. Mereka sudah makan belum, ya?" gumam Sayaka.


Shakala yang mendengar ucapan lirih Sayaka tersebut hanya bisa menarik senyuman tipis sembari menggelengkan kepalanya. Sama sekali dia tidak meragukan kepolosan dan ketulusan seorang Sayaka. Namun, tanpa merendahkan pria tersebut---untuk melangkah pada hubungan yang lebih serius dengan Seruni jelas juga tidak akan mudah bagi Sayaka. Sebagai anak tunggal seorang mantan jenderal dan juga pengusaha, ada tanggung jawab besar di pundak Seruni yang pastinya akan membuat Sayaka dalam kesulitan.


"Pak Mayor, rumah Ndhuk Seruni jauh tidak dari sini?" tanya Sayaka tiba-tiba.


"Lumayan, Ka. Rumah Seruni itu besar sekali. Di sana banyak kelinci juga. Bahkan ayam juga ada. Kalau kamu ke sana, bisa lebih kerasan lagi. Ada kolam ikan gurami yang lumayan besar. Sejak ditinggal dinas ke tempatmu, Ayahnya Seruni menyibukkan diri dengan beternak dan berkebun kecil-kecilan. Hanya sekedar untuk mengisi waktu luang," jelas Shakala.


Hanya mendengar seperti itu saja, Sayaka kembali merasa kalau dirinya memang tidak ada seujung kuku jika dibandingkan dengan Seruni. Apa yang dimilikinya jelas hanya cukup saja, tidak lebih-lebih seperti yang kekasih hatinya miliki.


"Kata Ndhuk Seruni, kalau nanti sudah jadi istri, Ndhuk Seruni tidak akan dinas lagi," timpal Sayaka.


Shakala tersenyum mendengar ucapan Sayaka. "Kenapa harus berhenti? Menolong kelahiran itu sebuah tugas mulia, apalagi kalau kalian nantinya menetap di daerahmu. Pasti kehadiran Seruni cukup membantu. Masalahmu cuman satu. Jika Seruni harus kembali ke sini untuk meneruskan perusahaan ayahnya. Bisakah kamu ikut ke sini? Itu harus kamu pikirkan, Ka. Kalau kamu memang serius, tidak ada salahnya kamu memikirkan hal ini sekarang. Lebih baik kita tidak terbiasa dihadapkan dengan impian yang indah-indah saja di depan," tuturnya.


Sayaka terdiam. Apa yang dikatakan Shakala ada benarnya. Hubungan bersama Seruni mungkin masih singkat, tetapi keduanya sudah sepakat ingin menjalin hubungan yang tidak sekedar main-main.


"Ka, kamu beruntung karena Seruni menaruh hati padamu. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Menyerah sedikit saja, ada aku yang akan berjuang untuk menggantikan posisimu. Aku tidak main-main." Shakala menepuk pundak Sayaka.


"Tidak akan, Pak Mayor. Saya tidak akan mundur sampai Ndhuk Seruni yang memutuskan hubungan kami."


Shakala mengangguk sembari tersenyum. Dalam hati berharap Sayaka bisa menepati perkataannya sendiri. Bersama Seruni tidak sesederhana yang ada dibayangan Sayaka. Tidak ada yang salah dengan hubungan beda status ekonomi dan pendidikan, hanya saja, antara Seruni dan Sayaka perbedaannya terlalu terjal.


Akhirnya, baik Shakala mau pun Sayaka tidak ada yang kembali ke rumah sakit. Saat hendak berangkat, Seruni mengirimkan kabar bahwa keadaan Subroto sudah sangat membaik. Seruni meminta keduanya untuk tidak datang agar sang ayah mempunyai lebih banyak waktu untuk beristirahat.


Tidak sampai sehari semalam Seruni menjaga sang ayah di rumah sakit, dokter mengijinkan pria lebih paruh baya itu untuk melakukan rawat jalan di rumah. Tentu saja hal tersebut disambut dengan bahagia oleh Seruni. Tidak ingin beramai-ramai saat pulang, dia meminta agar Shakala dan Sayaka menunggu kedatangannya di rumah saja.


Namun semua di luar perhitungan Seruni, kabar kepulangan Subroto terdengar sampai di telinga teman-teman sesama purnawirawan sang ayah. Hingga saat dia memasuki halaman rumah, deretan mobil berjejer bahkan sampai memenuhi jalanan depan rumahnya. Tentu saja mereka ingin melihat keadaan Subroto secara langsung. Karena selama di rumah sakit, pria tersebut tidak bersedia dijenguk oleh siapa pun.


Sayaka tampak duduk tidak nyaman di samping Shakala yang dengan sangat baik menyambut dan menemani teman-teman Subroto yang beberapa datang bersama sang istri.


"Wah, diam-diam Pak Subroto calon menantunya seorang Mayor. Cocok sekali kalau disandingkan dengan Bu dokter cantik ini," puji istri salah seorang teman Subroto tanpa basa basi. Padahal Subroto dan Seruni baru saja menjejakkan kaki beberapa langkah melewati pintu utama.


Sayaka langsung menundukkan kepala. Sedari tadi, keberadaannya bagaikan jarum ditumpukan jerami.