SERUNI

SERUNI
Seruni Bab 23



Sesuai janji yang diucapkan tadi siang, setelah sholat Isya, Sayaka mendatangi rumah dinas Seruni dengan sangat bersemangat. Pakaian yang dikenakannya pun begitu rapi dan juga wangi. Seruni sendiri agak berbeda dengan hari-hari sebelumnya saat Sayaka datang. Biasanya dia hanya mengenakan legging dan kaos rumahan yang santai. Kali ini, dia memakai dres hijau bermotif dedaunan yang sangat segar. Dia juga memoles tipis wajahnya agar lebih menawan.


"Baiklah, Ser. Tunjukkan kebetinaanmu. Sudah waktunya kamu menikah. Tahun depan kamu sudah genap 31 tahun. Sudah menolong ratusan kelahiran. Saatnya dokter lain menolong kelahiran bayi mungilmu." Seruni berbicara dengan pantulan dirinya di depan cermin.


Saat mendengar suara pintu di ketuk, mendadak Seruni menjadi deg-deg'an. Jantungnya berdegup lebih cepat. Dokter cantik itu menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan.


"Kamu bisa, Ser. Jangan tunda lagi." Seruni sedang menyemangati jiwa dan raganya sendiri.


Saat Seruni membuka lebar pintu rumahnya, wangi lembut langsung menerpa hidung Sayaka. Semilir angin, semakin mengantarkan wangi itu lebih kentara di indra penciuman pria itu.


"Ya Allah, Ndhuk, bajumu terlihat segar sekali. Kalau Siti, Soko, Sutrisno dan yang lainnya tahu, pasti akan mengejarmu. Mereka akan mengira kalau tumpukan daun itu makanannya," ucap Sayaka begitu melihat penampilan Seruni.


Seruni tersenyum tipis, dalam hati mengucap kata 'sabar' berulang-ulang. Ini bukan yang pertama kalinya, Sayaka mengaitkan obrolan mereka dengan aneka fauna yang dipelihara pria itu dengan penuh kasih sayang.


"Masuk, Bang!" Ajak Seruni. Dia tetap membuka pintu rumahnya selebar mungkin untuk menghindari prasangka warga.


Sayaka pun mengikuti langkah Seruni dengan perasaan yang campur aduk. Melihat kursi kayu yang ada di ruang tamu, membuat Sayaka teringat akan mimpinya tadi. Seketika dia memegang bibirnya sendiri.


"Silahkan duduk, Bang!"


Sayaka tetap berdiri di tempatnya tadi, jemarinya juga masih menyentuh bibirnya sendiri. Sementara mata pria itu terus memandang lurus pada bibir Seruni yang sudah duduk di kursi di seberang tempatnya terdiam.


"Bang, Kenapa bibirnya? Abang sariawan?" tanya Seruni dengan raut wajah khawatir dan agak mengeraskan suaranya agar pria itu bisa mendengar dengan jelas ucapannya.


Sayaka nampak gugup, dia buru-buru menjauhkan tangan dari bibir kemerahan miliknya. Sembari menggelengkan kepala, dia duduk di kursi di sampingnya persis.


"Tidak mengapa, Ndhuk. Bibirku baik-baik saja. Cuma tadi tidak sengaja dicium sama Mpus." Sayaka menjawab dengan jujur.


"Astaga, sayang banget. Mana itu first kiss pasti," gumam Seruni, tapi masih bisa didengar oleh Sayaka.


"First kiss itu apa, Ndhuk?" Sayaka yang tidak paham bertanya agar tidak sesat dijalan.


"Ciuman pertama, Bang,"


"Oh begitu." Sayaka mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.


"Abang minumnya air putih ini saja ya? Biar sehat. Jangan banyak minum manis, Bang. Sekarang orang mudah terkena diabetes." Seruni menunjuk deretan air mineral botol kecil yang ada di atas meja tamu.


"Tidak haus kok, Ndhuk. Lihat kamu seger begini. Jadinya ingat Siti sama Soko" Lagi-lagi Sayaka menyebut nama hewan peliharaan kesayangannya.


"Iya, mereka selalu tenang dan mesra kalau lagi ada dedaunan hijau di depannya. Ternyata aku pun mengalami, jiwa ragaku tentram saat melihat Ndhuk Seruni," tambah Sayaka.


Seruni melemparkan senyuman manisnya. "Bang, boleh tidak aku mengungkapkan sesuatu sama Abang?"


"Bang, kan bang Sayaka belum punya kekasih hati, kira-kira, kalau ada yang menginginkan Abang jadi kekasihnya mau tidak?" Seruni berusaha setenang mungkin saat mengucapkannya.


"Abang? Mana berani perempuan mengatakan cinta terlebih dahulu pada laki-laki? Kalau di sini ada seperti itu, pasti sudah tidak banyak gadis yang masih belum menikah. Mereka berdiam karena sedang menunggu jodoh menghampirinya."


"Seperti Shanum yang mencintai Abang? Kenapa Abang membiarkan dia menunggu?" Seruni mulai memancing pembicaraan. Karena setahu dia, hanya Shanum saingan terberatnya.


"Tidak mungkin, Ndhuk. Aku tidak ada perasaan apa pun saat berdekatan dengan Shanum," jawab Sayaka dengan polosnya.


"Benarkah? Kalau aku perhatikan, Shanum itu gadis paling cantik dan cekatan di sini lho, Bang." Meski hatinya tidak suka memuji perempuan lain di depan sang pujaan hati, Seruni tetap mengucapkan demi sebuah ungkapan cinta.


"Jika jatuh cinta itu hanya cukup menggunakan mata, apa nanti saat terjadi kegagalan sebuah hubungan hanya mata yang sakit, Ndhuk? Tentu saja tidak, bukan?" Sayaka memberanikan diri menatap Seruni. Kali ini dia tidak malu-malu.


"Mata itu akan mengirimkan pesan ke pikiran, lalu pikiran meneruskannya ke hati. Cinta yang berasal dari mata saja tidak akan bertahan lama. Di atas kecantikan seorang perempuan, masih ada perempuan lain yang lebih cantik darinya. Apa kita harus selalu jatuh cinta tiap kali menemukan kecantikan yang lebih sempurna?" Sayaka semakin tajam memandang Seruni.


Perempuan itu seketika menundukkan wajahnya. Ternyata, ketika Sayaka mulai serius dan berani, tatapan pria itu mampu meluluh lantahkan keberanian dan nyali yang dimiliki Seruni.


"Kenapa diam, Ndhuk?" Sayaka kembali bertanya, tatapannya semakin intens.


Seruni kembali mendongakkan kepalanya, dengan keberanian yang perlahan kembali terkumpul, dia membalas tatapan Sayaka dengan tatapan penuh kekaguman.


"Bang ...." Seruni masih ragu-ragu untuk meneruskan ucapannya.


"Apa, Ndhuk?" Sayaka terus menatap Seruni dengan tatapan yang membuat jantung perempuan itu berdetak tidak karuan ritme-nya.


"Apa Bang Sayaka, saat ini sedang jatuh cinta pada seseorang?" Seruni memajukan duduknya. Ingin lebih dekat dengan Sayaka meski meja berada di antara keduanya.


Sayaka memalingkan wajahnya ke sisi lain sejenak. Lalu dia menelan ludahnya kasar. Setelah mengatur napasnya sejenak, dia kembali beradu pandang dengan Seruni.


"Aku ini cuma apa, Ndhuk. Sebagai laki-laki normal, aku mengalami jatuh cinta sekarang. Tapi aku sadar diri, Aku ini cuma peternak. Itu pun tidak sepenuhnya punyaku."


"Jika cinta hanya memandang harta, tidak ada pengemis jalanan yang menikah, Bang," sahut Seruni.


"Kamu benar, tapi jodoh mereka tidak jauh-jauh status sosialnya dari mereka. Pengamen jalanan berjodoh dengan pemilik perusahaan, itu hanya ada di televisi. Nyatanya, yang pengusaha, pasti pilihnya juga pengusaha," kilah Sayaka.


"Tidak juga, Bang. Kisah seperti itu pasti ada di dunia nyata."


"Iya, bisa jadi ada. Tapi itu kebanyakan laki-lakinya yang berada dan kaya raya. Kalau keadaan dibalik, apakah ada yang mau? Bagaimana perasaan orangtuanya? Mana ada orangtua yang mengijinkan anaknya menikah dengan laki-laki yang penghasilannya tidak tetap. Mereka pasti khawatir kalau anaknya kekurangan."


Seruni terdiam, apa yang diucapkan Sayaka, semua masuk akal. Laki-laki adalah pemimpin keluarga, jika dia tidak mempunyai kemampuan keuangan yang pasti, rasa rendah dirinya kadang menjadi dominan. Mungkin saat ini, hal itulah yang dialami Sayaka.


"Bang ... aku bukannya gede rasa sama tatapan dan perlakuan Abang yang berbeda padaku. Mengabaikan hal itu, biarkan aku saja yang mengungkapkan perasaan ini. Aku jatuh cinta sama kamu, Bang. Apakah Abang bersedia jadi kekasihku?"