SERUNI

SERUNI
DOKTER PSIKIATER HANTU BAB 15



Reyhan membuka pintu kamarnya perlahan.Saat terbuka lebar,Uzma sudah menatap ke arahnya.Sepertinya gadis itu sudah menunggu sejak tadi.


Melihat sorot mata yang begitu bening ,Reyhan kikuk sendiri.Ia menelan saliva, badannya panas dingin.Reyhan menarik kursi kerjanya,ia memilih untuk tidak berdekatan dengan gadis itu.


"Sebenarnya apa yang terjadi ? tolong jelaskan"Uzma tidak mau berbasa-basi lagi.Perasaannya seperti mengatakan ada sesuatu yang besar yang disembunyikan dari nya.


"Kamu tadi bilang,mau ke acara pernikahan saudara mu?"


Uzma mengangguk.


"Lebih tepatnya, saudara kembar mu?"


Uzma mengangguk lagi.


"Aku minta maaf...karena..."


"Kamu salah orang "potong Uzma cepat,Reyhan mengangguk pelan.


"Kenapa kamu main paksa agar Kak Izma menikah dengan mu?? Seberapa pun Kecewa mu kepada perempuan yang meninggalkanmu untuk menikah dengan laki-laki lain,kamu tidak patut memaksakan kehendak mu.Karena semua ada takdirnya masing-masing "Uzma tetap bertahan dengan keyakinannya.


"Bu-bukan begitu...aku memaksamu menikah dengan ku,bukan karena aku patah hati atau apa?"


"Terus???"


"Emmmm, calon suami Kakakmu itu adalah kekasih adikku.Kakakmu merebutnya menggunakan jimat pemikat pengantin.Adikku ingin mematahkan kekuatan jimat itu,dengan cara Izma harus menikah dengan pria lain"


"Apa?"Uzma kaget tak percaya, matanya berputar ke kanan dan kiri.Seperti panik akan sesuatu hal.


"Kamu tahu jimat itu??"


"Sekarang aku harus menemui Kakakku"Uzma bingkas bangkit"Tolong antarkan aku"


"Izma sudah meninggal "


Dua bola mata Uzma membesar.Tiba-tiba ia meluruh ke lantai.Mulutnya menganga dengan nafas yang memburu.


"Ada dimana?Ada dimana Kakakku sekarang ??"


"Pasti sedang berada di Rumah Sakit,ayo aku antar"


Uzma mengangguk setuju.


___


Dilain tempat,Livia tidak semangat kerja karena Reyhan tidak datang ke Rumah Sakit.Monolog-monolog negatif muncul dalam benaknya.


"Mungkin kah Reyhan enggan datang karena ilfill dengan ulahku semalam??ahhhh kenapa aku bodoh sekali"


Livia memukul kepalanya sendiri.


"Kamu kenapa Liv?"tanya seorang suster teman Livia .


"Kepala ku sakit "jawab Livia berbohong.


"Sudah minum obat ?"


Livia menjawab dengan anggukan kepala.


"Ya udah kamu pulang aja,toh Dokter Reyhan nggak masuk"


Livia menatap teman yang memberinya usulan.Ia pun mengangguk setuju.Rasanya ia tidak ada gunanya berlama-lama di Rumah Sakit jika tak ada Reyhan .


Livia berkemas,ia ganti baju lalu keluar dari Room.Belum lagi sampai di pintu utama ,Livia melihat Reyhan berjalan dengan tergesa.Ia tidak menyadari jika didepan Reyhan ada seorang gadis yang berjalan cepat mendahului.


"Rey..."Seru Livia menghentikan langkah pria itu.


"Livia ...kamu mau kemana ?"Reyhan heran melihat Livia sedang tidak berpakaian almamater nya.


"A....aku mau pulang,kepalaku sakit "


"Ohhhh "


"Ka-kamu kenapa cuty ?"


"Emmm aku lagi bantu menyelesaikan masalah adikku.Jadi aku tidak bisa datang ke rumah sakit "


"Ooohhh...terus kesini ngapain ?"


"Emmm ???"Reyhan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, apalagi saat itu ia sudah tidak melihat keberadaan Uzma . Apakah ia harus jujur atau menyembunyikan pernikahannya ??


"Kenapa Rey??"


"Emmm aku...aku kedalam dulu,nanti aku jelaskan.Sekarang aku harus ke dalam dulu ok"


Livia mengangguk saja meskipun hatinya penasaran.Pria itu berlari kecil tanpa menoleh lagi ke belakang.


"Ada apa dengan Reyhan ???"


Reyhan langsung menuju kamar mayat,benar saja.Uzma sudah berada di sana,ia seperti meminta kepada semua staf yang ada didalam agar meninggalkannya sendiri.Para staf mengangguk setuju,lalu meninggalkan Uzma seorang diri dalam kamar mayat itu.


Reyhan yang sedang mengintip dari kaca jendela, berniat ingin masuk menemani sang istri.Namun langkahnya tertahan karena sekilas melihat sesuatu yang dilakukan Uzma .Reyhan tidak jadi masuk,ia memilih untuk mengintip dulu.


Terlihat Uzma memegang kening mayat Izma.Kedua matanya terpejam,dan bibirnya komat-kamit seperti sedang membaca sesuatu.


Tetiba kening Izma bersinar,dan Uzma menangkap sesuatu yang bersinar itu keluar dari kening saudara kembarnya.Uzma menyimpan barang yang ada dalam genggaman tangannya tersebut ke dalam sakunya.


Reyhan gegas masuk,ia penasaran apa yang dilakukan oleh Uzma .


"Apa yang kamu lakukan ??"


Uzma kaget,ia menoleh ke arah pintu.


"Mengambil jimat pengantin yang kamu maksud"


"Kamu bisa??"Reyhan sungguh tak percaya.


"Jimat itu milikku,Kakakku mencurinya saat ia hendak diadopsi dan pergi dari rumah.Sekarang bagaimana aku bisa membawa pulang jasad Kakakku?aku akan mengebumikannya dengan layak "


"Aku akan urus semuanya...kamu akan membawa jasad Izma kemana?"


"Pulang..."


"Rumah mu dimana?"


"Yogja"


"Hah??kamu bawa pulang naik apa??"


Uzma mulai berpikir,iya juga ya??


"Terus gimana ?"


"Kita kubur di area pemakaman rumah sakit saja"


"Emang boleh ??"


"Iya boleh lah..."


"Baiklah... tolong lakukan yang terbaik untuk saudara ku"


Reyhan mengangguk pasti.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Livia gelisah,ia takut dan khawatir.Reyhan sengaja menghindar karena ia akan menikah.


"Aku harus menemui Reyhan ,aku harus bicara dengan nya.Dia tidak boleh menghindari ku,akan aku yakinkan dia bahwa meskipun aku sudah menikah.Hati dan cintaku tetap untuk nya"Livia mondar-mandir di kamarnya.Setelah mantap,ia menyandang kembali tasnya lalu melangkah keluar.


"Ehhhh kau mau kemana ?"Seruan Ibu tirinya menghentikan langkah Livia .


"Emmm mau ketemu teman Bu.."


"Kau tidak boleh pergi kemana-mana,kau akan segera menikah.Pamalih"


"Tapi Bu..."


"Kapan sih kamu bisa patuh kepada Ibu? Apa karena aku Ibu tirimu jadi kamu tidak mau patuh??"Ibu tiri Livia memotong kalimat Livia .Livia tercekat, apalagi saat itu Ayahnya muncul.


"Bu-bukan begitu Bu .."


"Liv... kamu patuhilah Ibumu,dia begitu karena perduli dengan mu"sambung Ayah Livia.


"Pingitan itu tradisi dari turun temurun, misalnya Ibumu masih hidup.Ia juga akan melakukan hal ini kepadamu "Tambah Ibu tiri Livia .


"Livia kan harus kerja Bu ."


"Ibu sudah mengirimkan surat permohonan cuti pra nikah dan honeymoon kepada Kepala Rumah Sakit hari ini.Jadi kamu tidak punya alasan lagi untuk keluar "


"Sampai segitunya Ibu melakukan ini?"


"Yah... kalau aku menunggu mu, takkan pernah kamu lakukan.Sudah sekarang kamu masuk kamar,tidak perlu melakukan apapun.Mulai sekarang kamu tidak perlu lagi bersih-bersih rumah,masak atau pun mencuci pakaian kami.Kamu cukup menenangkan diri di kamar"


"Tuh lihat,,, Ibumu sudah begitu baik padamu Liv...sudah sana masuk kamar, istirahat yang banyak "sambung Ayah Livia.


"Dan satu hal lagi,nanti sore Khusairi akan datang untuk mengajak mu mencoba baju pengantin "


Livia semakin tersudut,tapi ia seperti tidak berdaya untuk membantah.Langkahnya gontai menuju kamarnya ,ia masuk kemudian mengunci pintu kamar dari dalam.