SERUNI

SERUNI
DOKTER PSIKIATER HANTU BAB 83



Yas melangkah masuk, suasana di ruang tamu sudah gelap gulita.Ia berusaha untuk berhati-hati agar tidak menimbulkan suara.


KLIK


Tiba-tiba lampu menyala terang benderang.Yas memicingkan matanya, rupanya Seruni dan Steven sedang duduk di ruang tamu menunggu Yas.


"Aunty ??"


Yas meluruh menyalami dua orang yang sudah seperti orang tuanya.


"Aunty dan uncle belum tidur ??"


"Kami menunggu mu Yas... akhir-akhir ini kamu sangat sulit ditemui "jawab Seruni .


"Maafkan Yas aunty..."


"Duduk lah...ada yang ingin Aunty bicara kan"


Yas mengangguk setuju,ia pun duduk berhadapan dengan pasutri itu.


"Kau kemana saja ?apa kamu sedang menyelesaikan sebuah projek ?"Sambung Seruni mendeteksi.


Yas menatap dua orang itu secara bergantian.


"Aaa emmmm pembicaraan Aunty menjurus kemana?"Yas berhati-hati dalam menjawab karena takut ia salah ucap.


"Berarti ada sesuatu yang kamu lakukan, yang tidak ingin kami tahu"Terka Seruni ,Yas tahu jika Bibiknya ini memang susah dibohongi.Dan Yas memilih untuk diam.


"Kau tahu Yas...kau sudah mengaktifkan kekuasaan mu"


Yas mengangguk,ia tidak dapat memungkiri.


"Dan hal itu,akan memperkokoh tahtamu sebagai pewaris sah..Apa kamu sudah memikirkan nya?"


"Bukankah tahta sudah diduduki oleh Zubair Aunty?Yas hanya meminta pertolongan sedikit saja.Itu pun mereka hanya berjaga di rumah itu tanpa ada sebarang penyerangan "


"Sepupumu Zubair hanya duduk di tahta agar tahta itu tidak kosong tanpamu.Jika kamu kembali ke Brunei,kamu akan tetap menjadi Raja"


"Yas tidak akan pernah kembali kesana Aunty, tempat Yas disini!bersama Aunty "


Seruni menghela nafas panjang...


"Maafkan Aunty Yas... Aunty hanya takut mereka akan berusaha merebut mu lagi dari Aunty "


Yas tersenyum tipis..


"Itu tidak akan pernah terjadi Aunty "


Seruni mengangguk pelan, Steven menggenggam tangan istrinya.Ia tahu jika Seruni sedang tidak baik-baik saja.


"Ya sudah Yas... pergilah ke kamar mu, istirahat lah.Besok kamu harus sekolah"Ucap Steven,Yas mengangguk.Ia pun bangkit dan masuk ke dalam.


"Sayang..."


Seruni menarik nafas dalam-dalam,ia menyeka air matanya.


"Aku takut sayang..."


"Jangan takut,Yas kita sudah besar.Sudah dewasa...jadi kamu tidak perlu terlalu khawatir"bujuk Steven,Seruni mengangguk setuju.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi ini digegerkan oleh berita tentang kematian Lucas.Seluruh siswa siswi berkumpul di halaman sekolah untuk melakukan doa bersama.


Banyak karangan bunga berukuran jumbo terpacak memenuhi area sekolah.


"Yas..."Emil berlari kecil begitu melihat sosok yang ia tunggu sejak tadi.Yas diam menunggu gadis itu mendekat.


"Apa yang sebenarnya terjadi ?Apa ini ulahmu ?"


Yas menggeleng pelan...


"Apa kamu melihat Rifka ?"


Emil menggeleng..


"Ayo kita ke Rumah nya sekarang !"


"Kenapa ?-"


"Dia membutuhkan kita"


Tanpa menunggu persetujuan Emil,Yas langsung menarik tangan gadis itu.Emil terkesiap,tangan hangat itu mampu menggetarkan jiwanya.Ia diam-diam tersenyum bahagia.


*


*


"Rumah ini tidak berpenghuni Yas... untuk apa kita datang ke sini ?Rifka tidak mungkin ada disini "Ucap Emil.Meskipun hari sudah pagi,tapi Emil merasa tidak nyaman karena suasana rumah Rifka begitu mencekam.


Yas terus melangkah tanpa memperdulikan ucapan Emil.Ia mendorong pintu yang tidak terkunci.Emil mengekor meskipun ia merasa bulu kuduknya meremang.


Rupanya Rifka sedang berbaring di kursi panjang.Yas langsung menghampiri, begitupun dengan Emil.


"Rif..."Pekik Emil,ia terbelalak melihat kondisi sahabat nya itu.Rifka terbatuk-batuk tersedak oleh belatung yang mengerumuni mulutnya, melompat keluar masuk di lubang hidungnya.


Emil berlari keluar,ia merasa mual.Semua isi perutnya keluar habis.


Yas melutut di sebelah Rifka,ia genggam tangan yang sebagian sudah terkelupas menampakkan tulang jari-jemarinya.


"Apa aku bilang ?kau harus berpikir ulang tentang semua tindakan yang kamu ambil"


Rifka tersenyum ketir....


"Aku hanya ingin menuntut balas atas kematian keluarga ku yang terlampau sadis"


"Tapi kamu akan menderita"


Rifka menggeleng pelan..


Yas terdiam,


"Terimakasih Yas... sayang kita bertemu disaat yang kurang tepat"


Yas mengangguk kecil.


"Pergilah Yas...aku akan menghadapi sakaratul mautku sendirian"


Yas menggeleng cepat


"Aku akan menemanimu"


Rifka menolak...


"Ini urusan ku,kau pergilah..."


Yas terdiam, digenggamnya erat jari-jemari Rifka dengan lembut.Setelah itu ia bangkit perlahan.


"Aku pergi..."


Rifka tersenyum sebisanya.Yas melangkah keluar,ia menutup pintu perlahan.Saat ia berbalik,nenek yang Yas jumpai tempo hari sudah berada di belakangnya.


Beliau tersenyum tipis,Yas membalas dengan anggukan kecil.Lalu Yas melangkah pergi,Emil sudah menunggu di luar pagar rumah Rifka.


"Yas... kenapa Rifka bisa begitu ?"


"Dia menukar jiwanya dengan iblis untuk bisa membalas dendam"


"Apa?-"


"Sebenarnya Rifka sudah mati,namun karena jiwanya diambil oleh iblis.Ia bisa hidup,tapi bukan sebagai manusia.Melainkan mayat hidup "


"Dia pasti menderita Yas"


Yas tak menjawab,tatapan iba terpancar ketika melihat rumah Rifka.


"Ayo kita pergi "


"Kemana lagi?"


"Ke rumah Lucas...kita lihat bagaimana kondisi Ayahnya sekarang?"


"Rifka tidak membunuhnya ?"


Yas menggeleng..


"Ia menyiksanya "


Hah???? Emil menakup mulutnya.


Yas naik ke atas sepeda motornya,lalu Emil berbonceng di belakang.


*


*


Baru saja Yas turun dari sepeda motornya,ia sudah mendengar teriakkan kuat dari arah rumah Lucas.Teriakan menyayat hati dari Ayah Lucas yang tersiksa oleh gigitan-gigitan belatung di bagian burungnya🐦.


"Suara siapa itu?"tanya Emil.


"Ayah Lucas"


"Kok sampai menyedihkan begitu sih?"


"Itulah yang Rifka lakukan padanya"


"Emang Rifka ngapain dia?"Emil jadi penasaran.


"Ayo kita cari tahu "


Yas mendekati pos satpam.


"Assalamualaikum..."sapa Yas.


"Waalaikumsalam "jawab pak satpam yang sedang berjaga.


"Cari siapa?"


"Kami teman sekolahnya Lucas Pak"


"Oohhh mau apa ya datang kemari ?"


"Kami mau melayat"


"OH maaf ya dek ,keluarga den Lucas tidak menerima tamu di sini. Kalau mau melayat Silahkan ke TPU saja langsung"


"Gitu ya pak...emmm itu suara siapa ya Pak?...kok jeritannya sangat memilukan sekali "tanya Yas.


"Emmm Maaf dek, saya nggak bisa jawab "Pak satpam itu terlihat takut.


"Kok gitu Pak, padahal kami berniat untuk menolong. Kebetulan Kami adalah pelajar jurusan keperawatan"Yas membuat alasan.


"Terima kasih Dek atas niat baik adik. Tapi semua itu percuma karena setahu saya sudah sejak semalam beberapa dokter datang untuk ngobatin Tuan besar .Agar tidak kesakitan, tapi sepertinya tidak ada yang bisa mengobatinya.Ia terus melolong kesakitan sepanjang malam "


Emil bergidik ngeri...


"Emang sakit apa sih Pak?kok sampai nggak ada obatnya gitu"ucapnya.


"Saya juga kurang tahu Dek, tapi katanya ******** Tuan terbelah jadi dua. Itupun saya dengar dari dokter yang bicara melalui telepon ke temennya, dia kayak cerita gitu kondisi Tuan saat ini"


Emil menakup mulutnya... ngebayangin aja Emil sudah mau muntah.


"Ya sudah Pak kalau emang kita nggak boleh bantu, kita pamit pulang dulu"Yas akhirnya pamit undur diri.


"Silahkan Dek"


Yas mengajak Emil untuk pulang.Emil mengangguk setuju.